Tap
Tap
Tap
Suara heels branded dari Lily Platform Strap Heel Sandal Schutz yang di pakai Bella saat ini, sungguh mengalun indah di telingaku. Aku tahu itu masih baru, bahkan aku menyaksikan sendiri bagaimana dirinya yang merengek ingin di belikan sepatu itu pada Rey hari kemarin.
“Sayang, belikan aku sepatu yang iniiii...”
“Itu 800 ribu won, berarti dalam rupiah hanya sekitar 10 juta saja, ya sudah ambil saja...”
“Serius? Waaahh, aku makin cinta deh sama kamu sayang...”
Ucapnya sambil memeluki suami dari wanita yang sedang terbaring sakit karena kankernya itu. Meski aku tak tahu perasaan kasihan pada seseorang yang sedang sakit kemudian diam-diam malah di hianati suaminya itu seperti apa, tapi sungguh itu bukanlah pemandangan yang bagus untuk di lihat.
“Aku ingin tampil cantik seperti Jennie Blackpink”
Tutupnya dalam percakapan dua hari yang lalu itu.
Dan setelah kuperhatikan Si Bella ini, memang sangat terosesi pada idol korea yang sedang di gilai anak muda masa kini itu. Aku bahkan tahu Bella sering kali meminta pada kekasihnya untuk di belikan semua barang yang di pakai oleh idol, yang memang tengah menjadi Brand Ambassador dari produk Chanel itu.
Ia juga bisa menjadi pengeruk kekayaan dari suami orang rupanya.
“Tchh, mungkin dia pikir, dengan berdandan over juga berpakaian minim seperti itu akan membuatnya menjadi seorang idol K-Pop...”
Gumamku saat kuperhatikan miniskirt yang juga ia dapat dari hasil meminta pada Rey belum lama ini.
Itu adalah Draped cami-dress rancangan Alexander Wang, dengan desainnya yang cukup terbuka. Hasilnya tentu membuat tubuh Bella kini bisa kulihat dengan jelas hinga ke lekuk-lekuk bagian privasinya.
Sudah selalu kupantau seminggu lamanya sejak kedatangannya ke klinik pagi itu. Ternyata dia tak berbeda jauh dengan lumut atau anggrek cantik yang menempeli pohon yang sedanng rindang, hijau nan subur.
Dan rasanya aku tak bisa lagi menunggu lebih lama untuk menghabisinya.
Tepat di pukul 00.30 tadi, ia keluar dari rumah besar Rey yang di tinggalinya bersama kedua anak perempuannya.
Sejujurnya bukankah itu terlalu beresiko, untuk seorang public figure yang membawa wanita masuk ke dalam rumahnya. Terlebih ada satu anaknya yang sudah cukup remaja dan rupanya sudah mulai mengendus juga menaruh curiga pada hubungan orang tuanya itu dengan wanita yang rajin sekali main kerumahnya hingga larut itu.
Tapi mungkin karena rata-rata peselingkuh itu hebat sekali dalam berdalih, jadi mereka lihai merangkai alur cerita yang membuat hubungan terlarang itu tetap aman.
Kini tepat pukul 01.09 dini hari dan tinggal 20 meter lagi saja bagi Bella untuk sampai di apartemen yang biasa di tinggalinya.
Tentu aku sudah siap dengan rencanaku untuknya malam ini. Bahkan tanganku sudah kegelian ingin melihat tetesan darah dari leher jenjang yang sepertinya meninggalkan sisa-sisa jejak kissmark hasil dari aktifitas panasnya tadi bersama suami orang beberapa jam yang lalu.
Sssttttt
Aku pikir suara gelasan tersayangku ini cukup untuk membuat ngilu telinga siapa pun yang mendengarnya. Dan memang dengan sengaja kucoba senjata andalanku ini dengan merentangkannya, membuatnya menegang, ingin memastikan ketajamannya.
“Oh? Siapa itu?”
Sepertinya belum apa-apa aku sudah berhasil membuatnya sedikit ketakutan, dan itu... sangat menyenangkan sekali bagiku.
Dengan masih menjaga jarak aman, kuekori langkah kakinya yang mulai bergetar dan jadi lebih cepat itu. Insting bahaya yang tertanam secara naluriah dalam diri setiap manusia itu, sepertinya cukup berfungsi dengan baik pada diri si pencuri suami orang itu.
“Ah!”
Erangnya, kulihat kakinya sedikit terkilir karena heels tinggi yang di belinya dengan harga yang juga cukup tinggi itu.
‘Cih, padahal menurutku sepatu yang nyaman adalah satu-satunya sepatu yang pantas mendapat harga yang tinggi. Dan tentunya bukan sepatu yang memiliki hak tinggi yang bisa membuat pegal kaki’
Begitu penilaianku, kenapa mereka harus bersusah payah mengenakan heels yang membuat langkah mereka goyah dan betis mereka yang jadi terasa akan patah.
‘Apa karena mereka ingin terlihat menggoda dengan mengenakan sepatu seperti itu?’
Itu yang selalu kupikirkan, dan kalau jawabannya ya, ckk sungguh sangat menyusahkan.
Sssttttt
Sekali lagi kucoba rentangkan gelasan yang akan kupakai untuk mencekiknya.
“Siapa ituuu?? Ahhhh... Jangan menakutiku!!!”
Ia jadi uring-uringan, matanya lalu terlihat tengah di edarkannya ke sekitar, pastinya berniat mencari seseorang yang bisa dimintainya pertolongan. Tapi sayangnya, tak ada siapa pun saat ini yang akan memberikan pertolongan untuknya.
Kulihat tangannya yang panik dan bergetar karena ketakutan itu, kini tengah berkutat dengan handphonenya, berusaha menghubungi seseorang di sana.
“Ah! iya 110, aku hubungin 110”
*(110 adalah nomor darurat kepolisian setempat)
“Hallo!!”
“Halooo! Polisi? Tolong! Tolong akuuuu!!! Cepet ke siniiii!”
“A- ada orang yang- yang mengikutiku... ak-“
“Hhh...”
Kulihat ia berhasil tersambung dengan kantor kepolisian, tapi sungguh itu akan percuma saja.
“Dimana? Ini... di dekat apartemenku...”
“Cepet kesiniiii!!!”
Bip
“Loh kok mati??? Ahhhh... sialan pake acara abis batre lagi”
Umpatnya, cih, sungguh hari yang buruk untuk pelakor menjijijkan itu. Aku terkehkeh saja, lucu melihatnya.
“Ah, sepertinya aku harus sedikit bermain-main dengannya...”
Ucapku saat tiba-tiba terbesit ide, yang sepertinya cukup menarik untuk kumainkan.
Kemudian kubawa kakiku untuk mendekat padanya, tentunya setelah bersiap dengan topi dan lencana polisi, bak seorang detektif, yang kebetulan kedua barang itu selalu kubawa, untuk berjaga-jaga saat harus mendadak melakukan penyamaran.
“Hallo, selamat malam saya Detektif Julian dari kepolisian setempat”
Ucapku setelah berdiri dekat di hadapan Bella yang kini jelas terlihat sekali wajah bingungnya itu.
“Oh? Udah sampe aja?? Itu- tadi... ada yang ikutin akuu...”
“Siapa? Anda liat wajahnya?”
Tanyaku. Dan ia mengeleng sebagai balasnya.
Dia ini bohoh atau apa, kenapa dia tak mengenali diriku yang merupakan dokter, yang sudah merawatnya selama seminggu ini, begitu pikirku. Tapi kumaklumi saja, karena dia sedang di landa serangan panik saat ini, jadi mungkin dia tak mengenali diriku yang sedang mengenakan topi polisi seperti ini.
“Dia- dia keluarin suara aneh, itu- itu kaya...”
“ehmm, itu kaya...”
Sepertinya ia kesulitan untuk menjelaskannya, sampai aku jadi gemas dan tak sabaran di buatnya.
“Kaya?”
“Oh- kaya... dokter B-Boy?”
Dan akhirnya, di tengah-tengah kebingungannya, ia berhasil mengenali wajahku ini.
Ssstttttt
Kukeluarkan gelasan nilon dari saku jaketku dan kubuat itu meregang dan menegang di hadapannya.
“Kaya gini?”
Kuperhatikan kini ia mulai melangkah mundur, ingin menjauh dariku, dengan wajahnya yang mendadak jadi pucat pasi, dengan mulutnya yang terperanga, kaget sudah pasti.
“Padahal saya ini sedang tersenyum kenapa kamu takut seperti itu pada saya Bella? Ehm?”
Ucapku sambil tersenyum dengan wajah ramahku, yang selalu kutampilkan padanya, saat ia datang ke klinikku.
“Kemari...”
Pintaku, lalu sigap kuraih tangannya.
“Aaaaa!!!!!”
***
@Cafe
Drekk
Drekkk
Sepertinya semalam aku terlalu bekerja keras pada wanita itu, sampai-sampai suara patahan di leherku jadi amat keras dan kepalaku benar-benar terasa seperti akan patah terpisah dari leherku.
“Ahh...”
Padahal aku yang sedang pegal-pegal, tapi sayangnya erangan itu bukan bersumber dari mulutku, melainkan dari seorang wanita yang sedang berdiri di depanku, tengah menyiapkan kopi yang baru saja kupesan di cafe ini.
“Kamu sepertinya kelelahan?”
“Oh? Maaf dokter, pasti suara aku barusan ganggu ya? Maaf...”
Ucap Ill sambil menampilkan wajah canggung di tambah suara cengengesan renyahnya itu padaku. Sejujurnya aku mulai terbiasa dengan semua suara-suara aneh yang biasa keluar dari mulutnya selama setahun terakhir ini. Mulai dari suara ah, hingga Omoo, Eotteoke, dan berbagai suara-suara lainnya yang di tirukan Ill hasil dari selalu mengikuti idolanya dari negeri gingseng itu.
“Gak papa, kamu kayanya kecapean ya?”
Tanyaku, dilihat dari lingkar hitam di bawah matanya, sepertinya semalam ia tak tidur. Entah apa yang di kerjakannya semalam selagi kulakukan pembantaian pada satu pelakor yang memiliki satu kemiripan dengannya, yaitu sama-sama terkena demam Hallyu yang sedang booming saat ini.
*(Hallyu atau Korean wafe merupakan istilah yang di berikan untuk budaya popular korea selatan yang tersebar secara global di berbagai negara di dunia)
Aku sampai jadi tersenyum lebih dulu bahkan sebelum ia menjawab tanyaku baru saja itu.
“Ehm? Kenapa? Ada yang lucu ya?”
Tanyanya padaku,
“Tidak, saya hanya teringat pada sesuatu saja yang lucu”
Balasku.
“Semalaman aku juga nonton acara lucu, sampe ketawa semaleman di marahin ayah, terus jadi ngantuk deh sekarang”
Sudah kuduga itu akan terjadi. Kutahu semalam adalah jadwalnya menonton acara variety show si BTS itu. Aku benar-benar tak habis pikir kenapa Ill sampai melakukan hal seperti itu untuk seseorang yang bahkan tak bisa bertegur sapa dengannya.
‘Breaking News... Aktor Rey pagi tadi di ringkus Kesatuan Polisi Reserse Kriminal sebagai tersangka tindak pidana pembunuhan seorang wanita yang di duga sebagai wanita simpanannya.
Polisi menduga pembunuhan di lakukan sang actor setelah pulang dari rumahnya malam pukul 00.30 yang tertangkap CCTV rumah tersangka....’
“Wah, tega banget sih... Padahal istrinya lagi sakit, bisa-bisanyaa...”
Ill langsung merespon dengan wajah tak sukanya, ia juga terlihat jadi menaikan sedikit emosinya kini. Sepertinya Ill juga di buat ikut kesal setelah mengetahui apa yang sudah di lakukan oleh actor yang baru saja di beritakan telah membunuh wanita simpanannya itu, dari siaran berita di layar monitor café tempat Ill bekerja ini.
Ill kini diam, sambil memegangi cup coffee yang sudah siap dan tinggal di berikannya padaku. Aku jadi harus menunggunya menyerahkan kopi pesananku, selagi ia mendengarkan penjelasan soal kronologi pembunuhan wanita yang malah berujung di limpahkan pada Rey itu.
“Oh, jadi dia bunuh perempuan itu abis di tidurin? Gitu?”
Aku jadi terkehkeh, geli mendengar kesimpulan yang di dapatkan Ill itu.
“Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?”
Tanyaku, karena sejujurnya di sinilah, di hadapannya lah si pembunuh sesungguhnya itu.
Dan satu hal yang kini membuatku sampai jadi terheran-heran, padahal pola pembuhan yang kulakukan semalam sama seperti yang selalu kulakukan pada korban-korbanku sebelumnya. Tapi kenapa mereka cepat-cepat menyimpulkan dan menetapkan Rey sebagai tersangka, hanya karena si wanita itu keluar dari pintu rumah Rey semalam.
“Kenapa ya? Mungkin dia gak puas sama hubungannya...”
“Gak puas? Hahahh...”
Aku jadi ingin tertawa mendengar jawabannya itu. Kenapa bisa-bisanya dia berpikir seperti itu.
“Ah! atau mungkin itu hukuman buat perempuan yang udah selingkuh sama laki-laki yang udah bersuami”
Dan akhirnya aku setuju untuk jawabannya yang satu itu. Karena itulah tugasku. Menghukum mereka yang sudah berdosa mencuri dan ingin menghancurkan hubungan orang lain.
“Jadi kamu tak masalah kalau perempuan itu terbunuh dengan tragis seperti itu, karena dia sudah berselingkuh dengan pria bersuami?”
Tanyaku ingin mendengar kepastian dari ucapannya.
“Ehm, engga juga, tapi... entah lah, aku gak tau”
Ill sepertinya kebingungan dengan penilaiannya pada si perempuan yang sudah menjadi korbanku itu. Ia tak bisa memutuskan antara pantas atau tidaknya, kematian tragis si wanita pelakor itu.
“Oh! Ini kopinya maaf, aku jadi lupa pesanana dokter”
“Gak papa”
Dan setelah kudapat kopi yang harus dengan cukup lama kupesan itu, akhirnya aku bisa berangkat bekerja ke klinikku.
“Hhh... sudah kuduga ini akan terjadi”
Gumamku, begitu mobilku sampai dan harus terparkir bersama deretan mobil dari kepolisian yang tentunya ingin memintai keterangan atas pembuhan wanita semalam, yang memang sempat menjadi klien dan mendapat perawatan dariku.
“Dokter! dokter!”
“Ada apa ini Zee?”
“Oh, itu... selingkuhan Rey- itu... Itu- dia meninggal dan jadi korban pembunuhan...”
Balas Zee dengan terbata-bata.
“Benarkan? Gimana bisa? Oh Tuhan, kenapa jadi seperti ini...”
Aku harus berakting seperti itu, agar terlihat sedikit kaget dan seolah tak memiliki hubungan apa pun atas kejadian pembunuhan itu.
“Ngeri, parah sumpah! Dia matinya kaya korban si pembunuh itu dokter, iiih serem...”
“Kaya si pembunuh?”
“Ehm, tadi aku liat di berita, mayatnya di bungkus kresek item, terus mulutnya di masukin CD-nya, pokoknya ciri-cirinya sama percis kaya korban-korban si pembunuh perempuan yang suka pake miniskirt itu...”
“Oh ya?”
Aku terus saja berakting seperti baru mengetahui semua itu, padahal tangankulah yang sudah melakukan sederet perlakuan kejam itu padanya.
“Ehm... apa mungkin Rey terinspirasi dari si pembunuh wanita itu ya? Tapi padahal masih kemarin aku denger niat dia punya selingkuhan itu, biar ada cadangan plus perempuan pengganti kalo istrinya itu sampe mati karena kankernya, ehh malah perempuan pencuri alias selingkuhannya itu yang mati duluan...”
Racau Zee atas kasus yang menimpa klien malangku itu.
“Dokter Boy, saya Ryan Kim, bisa kami minta waktunya untuk meminta beberapa keterangan?”
“Oh, tentu...”
....