“Selamat pagi dokter...”
“Pagi Zee, hari ini bagaimana jadwalku?”
Tanyaku pada seorang asistenku, yang selalu mengurusi semua jadwal temuku dengan semua klien di klinik ini.
“Ehm, hari ini jadwal dokter hanya dua, satu konsultasi atas nama Jessica Lim, dan satu lagi ehmm...”
Zee terlihat mengambil jeda untuk memeriksa klien keduaku, sampai aku mendekat dan ikut memeriksa laporan administrasi juga janji temu yang harus di lakukan pasien sebelum mendapat treatment dan pemeriksaan maupun konsultasi dariku.
“Oh? Ini...”
Aku mengenali nama pembuat reservasi konsultasi dan treatment klien keduaku itu.
“Bukankah Nn. Viona itu sedang menjalani kemoterapi untuk kankernya... tapi kenapa Pak Rey mendaftarkan konsultasi atas namanya? Apa Nn. Viona mendadak pulih sampai merencanakan ingin melakuakn Facelift??”
Tanya Zee padaku, ia jelas keheranan karena Nn. Viona yang terdaftar sebagai klienku sore nanti kini sedang menderita kanker dan tak mungkin baginya melakukan prosedur facelift.
*(Facelift merupakan salah satu metode bedah plastic, yang di lakukan dengan memotong dan membuang kulit serta lemak yang menggelambir di pipi)
“Mungkin ini reservasi untuk kenalan atau keluarganya...”
Meski kubalas dengan berkata seperti itu, namun logikaku sungguh menyangkalnya, bahkan berkata sebaliknya, sudah bisa kuendus hal yang tidak-tidak, yang akan di lakukan Pria itu.
“Tapi, dokter... kita akan butuh catatan medis dan medical check up dari-“
“Sudah biarkan saja dulu, aku ingin bertemu...”
Balasku,
Jujur aku tak mengerti mengapa Pak Rey mendaftarkan orang lain dengan nama istrinya. Dan sialnya aku cukup dekat dengan Nn. Viona yang kini tengah terbaring lemah di rumah sakit karena kankernya yang sudah memasuki stadium akhirnya itu.
‘Aku... memiliki firasat akan bertemu seseorang yang cukup menarik sore nanti’
“Ah, dokter, aku menemukan ini...”
Ucapnya sambil menyerahkan gelasan nilon tajam yang di bungkus plastik dengan noda darah di dalamnya.
“Apa dokter terluka? Aku ngeri sekali saat menemukan ini...”
“Ah, kemarin aku membantu seorang anak yang terjerat ini saat bermain di taman”
Jawabku, jelas aku berbohong padanya. Itu adalah gelasan nilon yang kupakai untuk membunuh dua k*****t yang sudah berani ingin menyentuh calon istriku kemarin malam.
“Wah, sepertinya kita harus lebih berhati-hati atau setidaknya habis bermain layang-layang sebaiknya talinya ini di gulung dengan benar dan tak di biarkan begitu saja agar tak melukai orang...”
Ucapnya.
“Benar... kita harus lebih berhti-hati sekarang, benda setipis ini saja bisa menimbulkan luka yang cukup dalam...”
Balasku, inilah yang kusukai dari Zee, seberapa sering pun aku teledor atau lupa menyimpan sisa-sisa ‘eksekusi’-ku, dia hanya selalu saja berpikir positif dan tak menaruh curiga padaku.
“Kalau begitu aku masuk ke dalam ruanganku dulu...”
Pamitku.
“Baik dokter”
Dan setelah berada di dalam ruanganku, langsung kubuka laman web suami dari mantan klienku yang baru saja kembali melakukan pendaftaran untuk mendapat treatment dariku.
Dia cukup terkenal, bahkan aku pikir semua orang megenalinya. Dia adalah seorang selebriti yang memiliki nama dan ratting yang cukup bagus saat ini. Ia selalu muncul wara-wiri di berita gossip karena pengabdiannya pada istrinya yang sedang sakit itu.
Jadi mudah bagiku untuk mengakses semua informasi terbarunya.
*Foto
18.00 @Vion44love Bertahanlah, kuatlah, kita percayakan semua pada yang maha kuasa. Genggam tanganku terus seperti ini, aku akan selalu ada dan memapahmu melewati semua ini,
kamu kuat my dear
Comentar
@Winn122** Semoga cepat sembuh yaa, salut banget sama Rey yang udah selalu dampingin istri
@Kev00** Suami terrr.... baikkkk
....
Masih banyak lagi komentar pujian atas postingan dengan foto malang dan menyedihkan dari Nn. Viona yang sepertinya hanya di jadikan bahan untuk menarik perhatian dan pujian dari netizen itu.
“Aku penasaran... sampai kapan pria ini akan mendapat pujian jadi suami yang baik seperti ini...”
Gumamku,
“Dokter...”
Pintu ruanganku terbuka dan Zee menyembulkan kepalanya dari sana,
“Iya, ada apa?”
“Ada yang ingin betemu...”
Aku mengangguk saja, memberikan kode untuk mempersilahkannya masuk ke ruanganku. Dan betapa kagetnya aku saat tahu orang yang harus kutemui dan yang kini sudah berada di hadapanku, dengan senyum sapa ramahnya itu adalah orang yang baru saja kulihat akunnya di laman media social.
“Pak Rey...”
“Selamat pagi dokter...”
Kebetulan sekali bagiku, mungkin rasa penarasanku sampai padanya, hingga sudah ada saja sosoknya saat ini di hadapanku.
“Sudah lama tak bertemu dan sepertinya dokter terlihat sudah semakin tampan saja...”
“Ehm, dan Pak Rey juga semakin di cintai saja oleh public belakang ini, ah saya turut mendoakan kesembuhan istri anda Pak...”
Balasku, meski terdengar seperti basa-basi, hal keramah-tamahan seperti ini harus kulakukan dan sudah kupelajari selama berusaha menyembunyikan monster psycho di dalam diriku ini.
“Ehem... Terimakasih”
Ia mengucapkan terimakasih tapi dengan bahasa tubuh yang tak nyaman, bahkan jadi terlihat enggan dan ingin menghindar saat ku bawa topik mengenai istrinya itu.
“Silahkan duduk”
“Ah sebentar, Bell... Bella, kemari masuk”
Ucapnya, dan munculah sesosok wanita muda yang masih memiliki aura segar, bagai bunga yang baru mekar dari balik pintu ruanganku.
“Dokter, kenalkan ini Bella, Bella ini dokter Boy yang akan memberikan treatment untukmu nanti...”
Tak mungkin aku memprotes atas apa yang sedang coba di lakukan oleh suami klienku ini, mendaftar dengan nama istri dan yang datang adalah gadis cantic pengganti sang istri.
“Dokter... aku akan percayakan padamu soal Bella, dia selalu mengeluh tak percaya diri dengan bentuk wajahnya, hingga ingin mendapat bentuk wajah seperti artis-artis korea yang sedang menjadi kiblat standar kecantikan saat ini...”
Aku tersenyum saja sambil mendengarkan pinta selebriti tanah air itu.
“Padahal kamu ini udah cantik banget, aku aja suka kamu yang kaya gini...”
Ucapnya dengan nada menggoda khas pria genit pada wanita bernama Bella itu.
“Ih, Mas, aku kan juga pengen cantic bukan buat orang, tapi buat kamuu...”
Balasnya dengan nada manja yang jauh lebih menjijikan dari yang di katakan oleh si pria di sampingnya itu sebelumnya. Sungguh pemadangan yang menggelikan. Berbeda sekali dengan apa yang tengah terpampang di layar monitorku, yang masih menampilkan sosok pria yang sama namun tengah memasang wajah sendunya sambil memegangi tangan malang dan lemah milik istrinya.
“Dokter, aku mohon bantuannya...”
Ucapnya sekali lagi padaku.
“Tentu...”
Dan dengan segera kupanggil Zee untuk masuk, lalu mempersiapkan semua data dan beberapa catatan kesehatannya untuk rekam medisku lebih dulu.
“Dokter...”
“Ya?”
“Bukankah... dia seharusnya datang sore nanti, kenapa dia datang lebi awal dan tak sesuai jadwal seperti ini?”
Aku terkehkeh saja.
“Apa karena dia datang bersama seorang artis, jadi bisa seenaknya? Tadi dia memperkenalkan diri sebagai siapanya? Keponakannya? bukan kan... dia...”
Kutunggu kelanjutan kalimat Zee yang sepertinya sangat penasaran pada sosok yang datang bersama selebiriti yang sudah membintangi beberapa serial drama itu.
“... Dia pasti wanita simpanannya kan?”
“Sutt...”
Aku hanya bersuara begitu dengan tujuan ingin menghentikan ucapannya yang seperti seorang penggosip itu.
“Benar bukan??? Wahh benar-benar! Dasar Buaya! Padahal tadi pagi aku kasih like buat postingannya, tapi- Waaahhh... sialan banget, padahal istrinya lagi sakit, bisa-bisanya dia-“
“Zee...”
Kulemparkan tatapan dalam dan tajamku padanya, untuk menyumpal mulutnya itu agar bisa berhenti.
“Ah, dokter memangnya tak emosi? Nn. Viona itu padahal baik sekali...”
Aku mengerti mengapa Zee bisa sampai seemosi itu,
“Sudah lah... lagi pula dia kan juga sudah di masukan ke dalam daftar klient yang mendapat layanan excusive juga, jadi tugas kita hanya harus memberikan layanan terbaik untuknya”
Balasku, dan kini gilirian Zee yang langsung melemparkan tatapan tajam dan tak sukanya padaku. Ia jelas berpikir kalau kini aku hanya memikirkan uang dan yang penting di bayar saja.
Sesunguhnya ini sudah yang kesekian kalinya aku harus mengurusi seorang wanita dari kekasih pria beristri dan Zee selalu saja menatapku seperti itu.
Tapi kemudian mereka yang mendapat perawatan dari uang pria beristri itu, akhirnya juga lenyap dan berakhir di tanganku, setelah banyak perawatan yang keberikan untuk mempercantik paras mereka. Bahkan kupahat indah rahang dan garis wajah mereka, agar saat menjerit dan tali tajamku menjerat leher mereka, dapat menampilkan pemandangan yang indah, seperti saat kutebas sebuah bunga mawar merah dari tangkainya.
Ssssttttt
.....
“Sakit?”
“Tidak”
Jawabnya saat kusentuhkan tanganku pada wajahnya untuk memeriksa struktur tulang, bentuk wajah, dan kualitas kulitnya sebagai pasien yang akan melakukan prosedur face lift itu.
“Prosedur Face Lift atau tarik wajah ini sebetulnya ada dengan tujuan untuk membuat penampilan wajah menjadi awet muda, mengencangkan lipatan kulit dan kulit kendur di pipi maupun rahang, memperbaiki kerutan dan perubahan wajah karena proses penuaan...”
“... Kulit anda cukup terawat dan sehat, masih muda juga... apa yang memotivasi anda untuk melakukan bedah kosmetik ini?”
Tanyaku di sela-sela pemeriksaan pada wajahnya.
“Ehm, aku dengar istrinya yang sedang sakit itu, dulu bisa cantik karena di berikan prosedur ini oleh dokter, karena itu... aku- ehmm”
Ia terlihat sedikit kesulitan untuk menjelaskannya, sampai mengambil jeda lebih dulu sebelum kembali melanjutkannya.
“.... Karena aku tak lama lagi akan menggantikan posisi istrinya itu jadi... setidaknya aku harus memiliki wajah mulus dan lebih baik dari istrinya bukan?”
“Menggantikan?”
Kutanyakan maksud kata menggantikan yang terselip pada kalimatnya itu. Meski aku tahu itu artinya menggeser posisi istri sebelumnya dan mendapat status ‘istri’ berikutnya.
“Aku... sudah dua tahun menjadi kekasihnya, dan ini adalah waktu yang tepat untuk aku... karena dia juga akan mati, jadi sudah saatnya bagiku untuk mengambil alih posisinya”
“Aku harus cantik saat di kenalkannya pada public”
Tutupnya
“Di kenalkan pada public?”
Tanyaku kembali, sambil terus mencatat dan memeriksa distribusi lemak di wajahnya.
“Ehm, aku lelah berada dalam hubungan diam-diam dan menjadi selingkuhannya, aku ingin menjadi istrinya...”
Ucapnya, akhirnya kalimat itu terucap juga, se-ling-ku-han, ia adalah wanita simpanan yang sudah hadir di antara biduk rumah tangga klienku. Aku jadi gemas padanya, padahal niatku ingin mengambil jeda setelah menghabisi dua nyawa semalam. Tapi dasar jodoh mungkin, aku harus menemukan satu mangsaku lagi ini.
“Maaf... Saya harus melihat lebih dekat, wajah anda”
Kuraih wajahnya untuk kuperhatikan lebih lekat dan seksama.
“Karena akan tampil menjadi sorotan public, dan banyak kamera juga yang akan memoret... sepertinya saya harus membuat anda seperti seorang bintang...”
Ucapku padanya.
“Terimaksih dokter... Aku akan mengandalkanmu”
Ucapnya.
“Tentu...”
Setelah sesi pemeriksaan wajah dan kemudian pengambilan gambar untuk detail wajah yang di butuhkan saat bedah kosmetik nanti selesai, aku kemudian berjalan keluar karena masih ada beberapa hal yang harus kucek dan kusesuaikan.
“Dokter...”
“Ya Pak”
“Bisa kita bicara sebentar, aku pikir ada yang hal yang harus kita bahas”
Ucap Rey yang menghadang dan menghentikan langkahku dengan gentlenya,
“Hal yang harus di bahas?”
Meski aku tahu itu akan kemana arah bahasan itu, aku bertanya demikian berpura-pura tak mengerti.
“Bella... Aku pikir kita harus berbicara karena dokter cukup dekat juga dengan istriku”
“Ah, baik... mari”
Akhirnya Café di samping klinik yang kupilih untuk di jadikan tempat terbaik untuk berbicara dengan Rey. Setelah duduk dan selama menunggu pesanan coffee kami di sajikan, rupanya banyak mata yang melemparkan tatap karena keberadaanku yang sedang bersama dengan selebriti yang satu ini.
“Sepertinya kehormatan sekali bisa duduk besama di kafe dengan artis terkenal seperti anda”
Ucapku, merendah pada pria yang kutahu tengah memiliki hubungan dengan wanita lain itu.
“Aku ragu mereka semua memandang ke arahku, karena sepertinya mereka semua terpesona akan ketampanan dokter Boy...”
Dalam hati tentu aku mengiyakan yang satu itu. Ingin menyangkal pun rasanya percuma, karena aku tahu mereka yang sedang berbisik sambil mengarahkan pandangan mereka ke mejaku itu, sedang mempertanyakan siapa sosok pria berjas putih yang sedang duduk bersama selebriti terkenal di hadapanku ini.
“Bella... Aku ingin dokter memenuhi pintanya dan menjadikan dia wanita paling cantic saat kukenalkan pada public nanti”
“Apa Nn. Viona mengetahui hubungan kalian?”
Berani kubertanya demikian, rasanya itu masih pertanyaan yang normal dan wajar, saat kutanyakan bagaimana soal si pemilik pria yang sedang merencanakan untuk hidup bersama wanita yang telah merebut suaminya itu.
“Dia sudah tak bisa bertahan, dokter pun berkata waktunya sudah tak lama lagi... jadi...”
“Jadi anda memilih untuk memiliki wanita yang baru saat wanita yang lama akan segera pergi?”
Ia tertawa mendengar tanyaku itu.
“Dokter, anda juga seorang pria, jadi anda pasti bisa mengerti kebutuhan kita akan seorang wanita, dan meski enggan ku akui, tapi sepertinya aku lebih bisa mencintainya dari pada Viona”
Aku sedikit kaget mendengarnya, tak kusangka akan mendengar ungkapan cinta yang terdengar seperti seolah-olah ia adalah seorang pujangga dalam kisah cinta lama dan film-film romantis dengan kisah erotis yang di bumbui drama perselingkuhan.
“Benarkah?”
“Ehm... Aku pikir cinta pada selingkuhan pun, juga tetap cinta namanya...”
“Benar cinta...”
Aku tak tahu apa itu, karena aku cacat untuk merasakan hal-hal seperti itu. Tapi dari caranya tersenyum, sudah pasti ia cukup bahagia dengan si cinta bangs*t yang sudah membuatnya melupakan istri setianya yang sedang sakit.
“Ah, boleh saya tahu di mana Bella tinggal? Karena data yang masuk ke klnik adalah alamat istri anda jadi... saya jadi miss information untuk yang satu itu...”
“Untuk apa?”
“Ehm, sepertinya dia harus mengurangi penggunakan pendingin ruangan karena akan buruk pada kondisi kulitnya, karena itu saya menanyakannya untuk bisa merekomendasikan produk perawatan yang baik untuk kecantikannya...”
Kulancarkan satu trikku untuk mengetahui detail mangsaku.
“Ah, apartemen H di persimpangan jalan di jalur selatan kota, di sana memang cukup panas, tak heran dia selalu menyalakan AC-nya”
“Panas? benarkah?”
“Ehm, lantai 9 deretan utara, jadi mataharinya akan langsung mengenai kaca jendelanya, panas jadi terperangkap mungkin...”
Mudah sekali ku dapat alamat rumah mangsaku tanpa perlu mencuri identitas, atau menodongkan sebuah pisau untuk bisa menyelusup tengah malam nanti. Cara cantik dengan pendekatan seperti ini sungguh mudah dan tak perlu kuambil lelah karenanya.
“Ahh... mungkin harus kuberikan produk tambahan untuk kulitnya nanti”
“Terimakasih dokter, telah dengan sangat baik ingin memperhatikan dan merawatnya”
.....