M University Pukul 13.56
.
.
“Jadi ada lagi yang ingin di tanyakan sebelum saya tutup kelas hari ini?”
Tanya Boy pada mahasiswanya di ruang kelas tempatnya mengajar hari ini.
Hening.
Tak ada kata yang terucap dari mulut mahasiswa Boy, dan sepertinya saat ini bibir mereka itu lebih betah untuk di lengkungkan saja dalam senyum, terpukau karena ketampanannya dari pada di fungsikan untuk berbicara.
“Tak ada?”
Tanyanya sekali lagi, dan yang di dapatnya malah banyak wajah yang tengah mengulum senyum, terpesona sampai terlihat beberapa ada yang mengoda dengan mengedipkan sebelah matanya pada sang dosen.
“Hhh, kalian ini... Ya sudah kalau begitu kita akhiri saja kelas hari ini”
“Yaaaahhh...”
Suara riuh kecewa para mahasiswa yang sudah seperti penggemar berat dari dosen mereka itu, langsung terdengar menggaduh di ruang kelas fakultas kedokteran siang ini.
Boy memang dosen tertampan se-fakultas, dan kelasnya adalah selalu yang paling di tunggu-tunggu oleh para mahasiswa itu. Sampai sampai tak pernah ada satu mahasiswa pun yang melewatkan kelas mata kuliah Biologi seluler itu.
*(Biology Sel adalah ilmu yang mempelajari sel, salah satu dari cabang-cabang biologi)
Ketampanan Boy selalu menjadi penyemangat, meski terkadang banyak mahasiswa yang jadi gagal focus apalagi saat mendapat pertanyaan atau harus ada obrolan face to face dengan Boy si dosen sejuta pesona.
Ia benar-benar menjelma sebagai Profesor charming di kampusnya, hingga tak pernah ada yang bisa mengelak ketampanan juga karismanya yang siap memanah hati para calon dokter muda di sana.
“Ah, jangan lupa tugas di kerjakan, jaga kesehatan, kemudian persiapkan baik-baik Ujian OSCE kalian”
*(Ujian OSCE adalah ujian keterampilan di mana mahasiswa harus mendiagnosa pasien sandiwara atau manikin di depan dokter penguji, yang di laksanakan di tiap akhir blok/semester di fakultas kedokteran)
“Ya proff...”
Serentak semua mahasiswa langsung membalas meski malas, tapi entah bagaimana nada mereka bisa dibuat sangat bersemangat, sampai Boy puas dan melemparkan senyum manis sebagai balasnya.
“Kalau begitu, terimakasih untuk hari ini dan selamat siang...”
Uacpnya langsung mengakhiri kelas siangnya hari ini. Ia kemudian langsung membereskan beberapa barang yang selalu menemaninya saat mengajar seperti laser pointer presentasi, spidol, juga Macbook Air yang berisikan materi perkuliahan miliknya.
“Profesor...”
“Ya?”
Seseorang mahasiswa cantik kini terlihat tengah berjalan menghampirinya sambil memeluki buku besar berjudul Anatomy di dadanya.
“Oh, Vivi... ada apa?”
Sudah menjadi trik Boy untuk selalu menghapal setiap nama mahasiswanya dan memperlakukan mereka semua dengan sangat ramah. Memang topeng seperti itulah yang di pakainya untuk menyembunyikan sosok gelap di dalam dirinya.
“Ehm... professor...”
“Ada apa?”
Tanyanya sambil menyempatkan diri untuk kembali duduk di kursinya, menegakan tubuhnya, sambil menatap lekat mahasiswa bernama Vivi itu, bersiap untuk mendengarkan perkataannya.
“Itu...”
Mahasiswa itu tampak sangat ragu untuk meneruskan kalimatnya, bahkan ia jadi tertunduk saja menatapi ujung sepatu putih yang di pakainya di bawah sana.
“Itu apa? Katakan saja ada apa? Apa ini tentang mata kuliah atau kamu ada masalah dengan perkuliahanmu?”
Tanya Boy dengan nadanya yang cukup lembut, seolah ingin menunjukan bahwa dirinya bisa menjadi sebuah tempat untuk mahasiswanya yang kini terlihat sedang memiliki ‘sesuatu’ yang sampai jadi sulit untuk di ungkapkan itu.
“Ehmm... begini...”
Boy sudah siap mendengarkan tapi lagi-lagi ucapannya itu terputus dan tak dilanjutkannya.
Tak tahan dengan keraguan mahasiswanya itu, Boy sampai memilih untuk meraih tangan Vivi, agar ia mau membicarakan apa yang tertahan di bibirnya itu.
Ia memang selalu bersikap ramah dan welcome untuk mahasiswanya, karena ia cukup tahu sulit sekali untuk para mahasiswa bertahan di fakultas kedokteran. Tak jarang ia selalu mau ‘berbaik hati’ mendengarkan beberapa keluhan mahasiswanya yang sedang kesulitan dengan masa-masa perkuliahannya. Tapi tentunya semua di lakukannya bukan karena panggilan hatinya yang ingin bersikap baik layaknya manusia berperasaan, tapi untuk citra diri dan beberapa karena ia memang inginkan sesuatu dari para mahasiswanya itu.
“Dokter, bisa ... lakukan oprasi bedah wajah padaku?”
Boy jadi menaikan satu alisnya dengan kening yang juga di kerutkannya, setelah harus mendengar pinta dari mahasiswanya yang sesungguhnya sudah memiliki looking yang cukup sempurna itu.
“Untuk apa? Kamu sudah cantik Vi, kamu sama sekali tak butuh oprasi di wajah kamu”
“Ehm... itu sebenarnya...”
Nada bicaranya kini mulai bergetar, dan bagi siapa pun yang melihat atau mendengar Vivi saat ini, jelas langsung tahu kalau masalah yang cukup besar tengah menghampirinya saat ini.
Boy juga cukup sadar, kalau apa yang akan di bicarakannya itu bukanlah permasalahan yang bisa di bicarakan di depan ruang kelas seperti sekarang ini, sampai akhirnya Boy memilih untuk berdiri dan berniat mengajak mahasiswanya itu pergi menuju sebuah café untuk melanjutkan pembicaraan mereka.
“Kita bicara di tempat yang lebih baik...”
Ucap Boy sambil langsung meraih tangan Vivi dan membawanya pergi berjalan keluar kelas.
.
.
Dan sesampainya di sebuah café yang tak jauh dari lokasi kampus, akhirnya Vivi mau membicarakan semua yang terjadi pada dosennya itu. Mulai dari titik keberangkatan masalahnya sampai pecahnya persoalaan pelik yang kini membuatnya sampai terisak menangis tak bisa tertahankan lagi.
“Aku... aku gak suka ibu, aku benci wajah aku mirip kaya ibu...”
Ungkapnya sambil tersedu-sedu.
“Vi...”
Boy berusaha menenangkannya, dengan mengelusi lembut tangan mahasiswanya yang sedang di penuhi kesedihan dan kekecewaan itu.
“Aku malu dan benci harus punya wajah kaya perempuan bayaran yang kerjanya selalu tidur sama laki-laki nakal di luar sana...”
“Pengen aku hancurin aja wajah aku ini Proff...ahhh”
Ungkapnya, ia benar-benar seperti tengah menumpahkan penyesalan terbesar di hidupnya pada Boy saat ini.
“Suttt Vi, jangan kamu hukum diri kamu itu karena dosa yang sudah ibu kamu lakukan...”
Ucap Boy, kalimat itu di pelajarinya dari salah satu film dokumentasi mengenai bagaimana cara menunjukan sikap simpati juga empati pada sebuah permasalahan yang sedang di hadapi seseorang.
“Vi, kamu gak boleh siksa dan sakitin diri kamu untuk sesuatu yang orang lain lakukan...”
Ucapnya.
Dan ketahuilah, meski kini Boy bertingkah seperti sedang mengkhawatirkan Vivi, namun jauh dalam dirinya, ia mulai penasaran akan sosok ibu dari mahasiswanya yang sedang di banjiri air mata kesedihannya.
Dan lagi... jiwa-jiwa hitam dan kejam perlahan namun pasti mulai di bangunkannya kini, siap untuk kembali menghabisi satu perempuan hina yang menurutnya tak pantas lagi untuk berada di dunia ini.
“Aku gak bisa lagi bertahan dengan wajah ini dokter, aku jijik... dan saat aku lihat wajah ini di cermin, wajah ini langsung buat aku inget sama wanita kotor itu...”
“Jadi aku mohon, bantu aku buat lepas dari bayang wajah wanita kotor itu...”
Boy cukup mengerti bahwa apa yang sedang di alami Vivi saat ini sudah sampai kepada permasalahan psikologisnya. Ia benar-benar semakin terpanggil untuk melakukan satu pembantaian pada Ibu dari mahasiswanya ini.
Dan bisa di pastikan kalau waham yang di milikinya sudah semakin kuat saja mengakar, setelah dua tahun pembuhan yang di lakukannya. Ia semakin menikmati dan larut dalam peran yang di anggapnya sesuatu yang mulia, bahwa dengan membunuh berarti ia menyelamatkan satu keutuhan dari suatu hubungan. Seolah dirinya yang membawa misi untuk menghapuskan satu ‘pencuri’ di dunia ini. Hingga di manapun Boy berada, ketika telinganya mendengar bahwa ada seorang ‘wanita hina’ itu ada, hasrat ingin menghabisi itu langsung bangkit bagitu saja.
*(Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang tidak sesuai dengan kenyataan, yang tetap dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran yang tidak terkontrol)
“Vi, pertama saya harus pastikan ada pendampingan psikolog untuk masalah kamu ini, saya tidak bisa memberikan sebuah saran atau keputusan sekehendak saya, karena itu akan berpengaruh buruk pada kondisi mental kamu, karena masalah keluarga kamu ini...”
“Jadi... kalau kamu mau melakukan bedah wajah, pertama bicarakan ini dengan ahli psikologis, dan jika memang baiknya oprasi pembedahan itu baik untuk di lakukan, saya akan lakukan yang terbaik untuk kamu...”
Ucap Boy berucap layaknya seseorang yang cukup bijak.
“Terimakasih banyak Proff...”
Tulus Vivi ucapkan rasa terimkasihnya itu.
“Setelah ini, saya akan antar kamu pulang...”
Ucapnya, dengan wajah yang benar-benar di buatnya terlihat seolah-olah seperti sosok ayah yang begitu mengkhawatirkan dan ingin menjaga putrinya.
“Tapi-“
“Sudah menurut saja, saya gak bisa biarin kamu pulang dalam kondisi seperti ini sendiri”
Ucap Boy memaksa
“Terimaksih Proff, sekali lagi... terimakasih banyak”
Vivi mengucap banyak terimakasih tanpa tahu niat yang kini tengah menghinggapi kepala dosennya itu.
.
.
Boy yang pada akhirnya benar-benar mengantar Vivi pulang dengan menggunakan mobilnya itu, kini sudah berada di area komplek rumah Vivi.
“Ckk... Proff, bisa anter aku ke hotel aja?”
Vivi yang tiba-tiba saja malah meminta di antar ke hotel, padahal hanya menyisakan tiga rumah lagi saja untuk bisa sampai ke pintu rumahnya itu, jelas membuat Boy jadi menatapnya heran kini.
“Loh? Kenapa?”
“Itu...”
Matanya langsung di arahkan pada pemandangan di depan rumahnya, yang saat ini tengah menampilkan pemandangan dua orang pria dan wanita yang baru saja turun dari dalam mobilnya dan terlihat tengah masuk ke dalam rumah Vivi.
“Itu... Ibu kamu?”
Tanya Boy, Vivi menggangguk dengan segan karena sangat enggan menerima kenyataan kalau itu adalah ibunya.
Boy diam-diam mengeluarkan smirknya, tergoda untuk melakukan satu pekerjaan menyenangkan yang selalu bisa memenuhi hasrat gelap nan kejam di dalam dirinya.
....
...