Author pov
Café pukul 09.11
.
.
Seperti hari-hari biasanya Ill sudah berada di café tempatnya bekerja, tapi yang berbeda dari hari-hari biasanya adalah kali ini ia memasang senyum cerianya, bahkan di saat langit mendung dan siap menurunkan hujan di pagi ini.
“Ini...”
Ucap Ill sambil menyerahkan cup coffee pada pelanggan yang dalam beberapa minggu ini sudah sangat rajin sekali datang dan duluk berlama-lama di café tempat Ill bekerja itu.
“Terimakasih...”
Dan segera setelah coffee itu sampai di tangannya, pria yang hari ini berdandan sangat rapi itu, langsung menyeruputnya.
“Ehm, benar ini Americano?”
Tanya Boy tiba-tiba,
“Bener kok, kenapa?”
“Ehm, kok rasanya manis ya? Apa karena liat kamu... Americano ini jadi manis?”
Ill langsung di buat tersipu mendengar gombalan pagi dari tetangga sekaligus kekasih barunya itu.
“Dokter...”
“Apa manis...”
Balas Boy yang jelas kini tenggah menggoda kekasihnya itu.
Dan hasilnya Ill sampai jadi menutupi wajah malunya, karena baru saja mendengar panggilan manis seperti itu dari Boy.
Ia juga kemudian melirikan matanya pada wanita muda yang tengah berdiri di sampingnya, dan yang telah menjadi saksi atas apa yang baru saja di lakukan oleh dokter tampan itu pada Ill.
“Apa? Gak boleh saya bilang seperti itu sama pacar sendiri?”
Tanya Boy terdengar sangat bangga juga percaya diri sekali mengatakan istilah ‘pacar’ itu, seolah ia berhak menuntut atas statusnya itu,
“Iya boleh aja tapi... tapi gak waktu pas aku lagi kerja kaya sekarang ini dokter...”
Ucap Ill, meskipun sesungguhnya dalam hati ia senang sekali bisa mendengar kata manis dari pria yang tak di ketahuinya tengah memiliki niat terselubung padanya itu, namun karena ia tetap harus menjaga profesionalitasnya dalam bekerja jadilah ia memperingatkan Boy mengenai hal itu.
“Kalau begitu boleh saya pegang tanganmu sebentar?”
Tanya Boy semakin menjadi tingkahnya. Sampai Ill jadi membulatkan matanya, tak percaya, namun jelas terlihat dari raut wajahnya saat ini bahwa Boy tak sedang bercanda pada dirinya itu.
“Dokter...”
“Setidaknya kita lakukan apa yang biasa orang lakukan saat berkencan...”
Dengan nada memelas kini Boy meminta pada Ill. Ia benar-benar memainkan perannya sebagai kekasih yang sedang sangat tergila-gila pada wanita cantik yang ada di hadapannya itu.
“Dokter tapi...”
“Ill, lakukan saja apa ingin kekasih tampanmu itu, tak apa...”
Tiba-tiba pemilik café muncul dari belakang tubuh Ill dan mengusulkan hal itu. Hingga Boy tersenyum, karena tahu ada satu orang yang mendukung inginya itu saat ini.
“Antar aku sampai kedepan juga...”
Satu lagi pintanya.
“Hhh, okey ayo...”
Akirnya Ill memilih untuk mengindahkan keinginan Boy yang sepertinya akan bisa menangis jika tak segera di kabulkan oleh Ill. Kemudian ia berjalan keluar bagian meja staff barista dan melepas apronnya untuk menghampiri Boy.
“Ill...”
“Apa?”
Boy kemudian menjulurkan tangannya, sampai Ill jadi menatapi tak mengeti tingkah kekasihnya yang mendadak aneh hari ini.
“Apa?”
“Pegang tangan sayaa...”
“Ah, kenapa dokter jadi manja gini...”
Keluh Ill, meski begitu tetap ia segera meraih tangan Boy dan segera menariknya keluar pintu gedung café.
“Dokter...”
“Ya?
“Huffttt.... Kenapa dokter tiba-tiba kaya gini sama aku...”
Wajah Ill benar-benar menunjukan keheranannya yang cukup kental saat ini. Tapi justru itu lah yang sedang di cari dan di inginkan oleh Boy. Ia benar-benar berniat ingin mengganggunya lalu mencuri semua perhatian Ill, dengan bertingkah seperti orang yang tengah di mabuk cinta padanya.
“Kenapa? Karena saya ingin, bahkan tadinya saya mau minta peluk dan cium darimu...”
“Dokter...”
Ill benar-benar di buat sampai menutup mulutnya kaget dengan sikap tak terduga kekasihnya itu. Tak tahu harus berkata apa.
Sampai kemudian...
.
.
“Ahahahah... bercanda Ill, kamu ini lucu sekali saat kubuat kaget seperti ini”
“.... Dan rasanya menjahilimu akan jadi hobi menyenangkan untuk saya, selama kita berkencan”
Dengan senyum juga suara renyah tawannya yang mengalun di telinga Ill, Boy akhirnya mau juga mengakhiri tingkah jahilnya itu dengan berkata begitu pada Ill.
“Dokter...”
Ill sampai lemas jadinya setelah akhirnya tahu kalau sedari tadi ia hanya sedang di jahili oleh kekasihnya itu.
Boy kemudian meraih tangan Ill.
Dan tiba-tiba saja satu tangan Boy merogoh dan mengeluarkan sebuah gelang cantik dari saku mantel yang di pakainya hari ini. Terakhir, dengan sangat lembut ia memakaikan gelang itu pada tangan yang sudah berada dalam genggaman tangannya itu.
“Saya hanya ingin memberikan ini untukmu...”
Ucapnya sambil menatap dalam wajah Ill yang tampak sudah berulang kali mengeluarkan ekspresi terkejutnya pagi ini.
“Dokter i-ini...”
“Ini hadiah, sekaligus tanda kalau kamu sudah menjadi milik saya...”
Sambil membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Ill, Boy mengatakan kalimat itu dengan nadanya yang di buat sangat romantic sampai tersentuhlah sudah kini hati seorang Illana Kim.
“Dokter, ini cantik banget...”
Ill benar-benar sudah di buat semakin jatuh saja kini ke dalam perangkap Boy yang begitu lihai memerankan peran seorang kekasih yang penuh cinta untuk Ill.
“Terimakasih...”
Dengan setulus hati Ill mengungkapkan rasa terimkasihnya itu pada Boy, matanya bahkan sampai berkaca, menampilkan tatapan haru atas hal manis yang baru saja di terimanya itu.
“Saya... pergi ke klinik dulu, terus ke kampus, setelah itu juga ada meeting untuk tawaran iklan...”
Dan karena alasan kesibukan jadwalnya yang padat itulah Boy melakukan hal seperti ini pada Illana. Seharian ini ia tak akan bisa mengawasi Ill seperti yang biasa di lakukannya.
“Saya tidak bisa mampir untuk makan siang atau membeli kopi dan snack sore seperti biasanya, jadi mungkin kita hanya akan bertemu malam nanti...”
“Ehm gak papa...”
Ill mengganguk sambil tersenyum, kini ia merasa telah di perlakukan seperti seseorang yang cukup penting dalam hidup Boy, sampai-sampai ia di beritahu soal jadwal hariannya seperti itu.
“Jangan matikan handphonemu, balas selalu panggilan dan pesan dari saya, mengerti?”
Ucap Boy sambil mencubit gemas pipi Ill yang terlihat lebih merona saat ini.
“Ehm, okey”
Jadilah senyum kini mengembang di wajah sepasang kekasih itu, namun tentu dengan alasan yang berbeda wajah bahagia itu di tampilkan keduanya. Ill yang jelas murni melengkungkan senyum bahagianya itu, namun Boy... senyumnya itu adalah ekspresi wajah puasnya karena telah berhasil melakukan misinya untuk Ill pagi ini.
“Saya pergi...”
“Ehm...”
Tangan yang semula berpegangan itu kini akan tererai, dengan sangat perlahan mulai merenggang, seperti enggan untuk saling melepas.
“Dah...”
Tangan Ill yang sudah terlepas itu kemudian langsung di lambaikannya, ingin menyapa untuk terakhir kalinya kepergian kekasihnya yang sudah mulai masuk ke dalam mobilnya itu.
Dan akhirnya Boy mulai pergi menjauh dengan mobilnya dari area gedung tempat Ill bekerja.
.
.
.
Sampai...
Boy langsung turun dan menyapa Zee seperti biasanya, ia mengecek jadwal harian dan memeriksa rekam hasil pemeriksaan kliennya hari ini.
“Zee, jadwal Nn. Ana hari cancel?”
“Benar dok, dan itu pas sekali dengan jadwal kelas dokter mengajar di kampus hari ini, bukan?”
“Ehm, beruntunglah saya hari ini...”
Jawabnya sambil tersenyum ramah pada asistennya itu.
“Kalau begitu saya masuk ke ruangan saya dulu”
“Baik dok”
Langkah panjangnya kemudian membawanya masuk ke dalam ruangannya dan langsung mendudukan diri di kursinya.
Tapi kali ini, bukan beberapa berkas hasil pemeriksaan kliennya yang pertama kali di sentuh Boy, melainkan handphonenya. Jari-jarinya itu kini tengah di pakainya untuk membuka sebuah aplikasi yang tak di kenal kebanyakan orang di sana.
“Aku harus mengetahui kemana saja langkah kaki wanitaku itu berjalan...”
Gumamnya.
Benar. Boy kini sedang berkutat dengan aplikasi yang bisa menampilkan dimana dan kemana saja langkah kekasihnya itu di bawanya.
Dan sesungguhnya bukan tanpa maksud dirinya tadi pagi bertingkah begitu manis, sampai sampai ia yang tiba-tiba memberikan sebuah gelang cantik pada Ill.
Boy sengaja telah menanamkan sebuah chip pelacak pada bagian permata gelang yang di berikannya tadi pada Ill.
Bagi seorang psycho sepertinya, ketika ia benar-benar sangat menginginkan sesuatu ia harus mendapatkan itu. Dan tentu ia akan sangat tak suka, juga membenci jika ada yang sampai berani mengambil atau menyentuh miliknya itu. Termasuk Ill, wanita muda yang ingin di jadikannya ibu dari penerusnya itu.
“Ill harus selalu berada dalam genggamanku...”
Tekadnya, begitu posesif pada kekasihnya itu.