Saat Psikopat Menyatakan Cinta

2112 Words
Pukul 21.04 Ill dan aku berjalan bergandengan, sudah seperti layaknya sepasang kekasih yang habis pulang berkencan. “Dokter... besok bisa kita ketemu lebih lama, maksud aku... aku- karena aku besok kerja dan pulang sore jadi-“ “Datang ke rumah saya, saya akan masakan makan malam special untukmu” Ucapku, aku tahu Ill kini mulai ketagihan ingin melakukan lebih banyak hal bersamaku. Dan aku pikir langkah yang bagus adalah mengajaknya ke rumahku untuk makan malam bersama. “Boleh?” “Tentu, dan lagi...” Kuhentikan sebentar langkahku, lalu kubuat tubuhnya jadi menghadapku untuk kuperhatikan wajahnya lebih dekat. “Ehm...” Tiba-tiba saja matanya di lirikannya ke kanan dan kiri seperti orang yang sedang memeriksa keadaan sekitar. “Dokter jangan di sini nanti di lihat-“ Kalimatnya itu terhenti begitu kuusapkan ibu jariku pada bibirnya yang jadi sedikit belepotan, karena sisa ciumanku tadi dengannya, yang membuat lip mate peachnya itu kini sampai tak rata di bibirnya itu. Dan aku cukup tahu kalau Ill baru saja berpikir bahwa aku akan kembali memberikan sebuah ciuman di bibirnya itu, sampai sampai kini ia jadi membulatkan matanya, tersirat sedikit wajah malu atas sikapku yang di luar dugaannya. “Ini... besok jangan pakai ini lagi, atau saya akan buat bibir kamu jadi terlihat seperti badut, setelah menciummu...” “Jadi... jadi gak sekarang? Tapi besok dokter akan cium aku laginya gitu?” Aku tergelitik geli mendengar tanyanya itu. Setelah harus selalu berurusan dengan para wanita licik, si pencuri suami orang yang penuh tipu muslihat, rasanya kini berbeda sekali saat aku tengah harus menghadapi kepolosan dan kemurnian hati Ill yang sedang kubuat jatuh cinta. Kudekatkan bibirku pada telinganya, dan ingin kubisikan jawabku di sana. “Ehm, lebih banyak dari yang tadi” Kulihat pipi Ill langsung merona setelah kugoda seperti itu. “Ah, dokter...” Ucapnya sambil memukul pelan dadaku, ia bertingkah seperti tak ingin padahal dalam hati kutebak ia ingin sekali. Berpura-pura di awal hubungan seperti yang Ill lakukan memang normal untuk kebanyakan wanita, katanya. “Besok aku jemput dari café...” “Ehm...” Dan setelah berjanji akan menjemputnya esok hari itu, kulanjutkan kembali langkahku dengan langkahnya yang terlihat begitu ceria. Bahkan kulihat dari bayang hitam yang menemani diriku dengan Ill kini nampak tak kalah gembiranya, seluitnya bahkan seperti sedang menari-nari di bawah cahaya rembulan yang menghiasi kencanku malam ini. Dan setibanya di persimpangan jalan dekat rumahku dan rumah Ill berada. Kulihat ada dua sosok tak asing yang sedang berdiri di depan pintu rumah Ill saat ini. “Oh?? Dokter Boy?” Asisten detektif itu tampak kaget sekali saat melihatku yang sedang berjalan dengan si pemilik rumah tempatnya berdiri menunggu saat ini. “Dokter... Nn. Illana, kalian-“ Dan Det. Ryan pun terlihat memasang wajah yang kurang lebih sama dengan det. Leo padaku sekarang ini. “Kami bertetangga, tapi kalian... apa ada kasus lagi yang terjadi hari ini?” Tanyaku, ingin tahu apa maksud dari kedatangan mereka malam-malam seperti ini. “Aku ingin meminta keterangan dari Nn. Illana Kim” Jawabnya, sedikit aku dibuat bertanya-tanya soal gerangan apakah ini. “Tapi, ini sudah malam, apa kalian tidak-“ “Dokter, gak papa...” Ill meraih tanganku dan mengelus lembut tangannku, seolah ingin berkata tak perlu khawatir padaku. “Oh? Kalian- jangan bilang kalian???” Det. Leo kini melemparkan tatapan yang lebih kaget dari yang sebelumnya setelah melihat tingkah manis yang di lakukan Ill padaku. “Ada apa detektif? Dan soal keterangan apa ini?” Tanya Ill langsung pada intinya. “Soal dua orang yang kemarin hampir memperkosa anda, apa anda... tahu kalau saat itu mungkin ada orang yang mengikuti anda?” Det. Ryan langsung bertanya dengan nada juga ekpresi yang sangat seriusnya saat ini. “Maksudnya?” Ill nampaknya tak mengerti dengan pertanyaan dugaan dari detective yang belakangan ini tengah gencar melakukan penyelidikan soal kematian yang sudah kusebabkan. “... Karena ada tanda-tanda kemiripan dengan si pembunuh wanita yang selalu mengenakan miniskirt pada kedua mayat pria yang hampir melakukan pelecehan pada anda itu, jadi saat ini kami sedang melakukan pemeriksaan ulang dan menyelidiki beberapa keterkaitannya...” Ill menatapku, aku tahu ia di buat sangat kebingungan dengan pernyataan Det. Ryan itu. “Apa? Tapi bukannya target dia adalah wanita, dan lagi... kalau benar si pembunuhnya itu sama... lalu kenapa mereka yang di bunuh dan bukan aku?” “Oh, itu... kami sedang mendalami motif yang melatarbelakangi kemungkinan si pembunuh sampai melakukan itu” Det. Leo menjawab dengan gerak canggung, yang itu artinya mereka sama sekali belum menemukan satu titik terang soal motif pembunuhan itu. Dalam diam, aku tertawa saja melihat mereka yang sedang kebinngungan karena teka-teki yang sudah kuciptakan. “Meski begitu dari hasil penyelidikan yang kami lakukan bersama tim forensic, di ketahui bahwa mereka sempat di keroyoki dan di pukuli lebih dulu sebelum kemudian di habisi nyawanya... apa orang yang menyelamatkan anda waktu itu melakukan aksi pemukul...an...” Semakin ujung kalimat yang di ucapkan detektif Ryan, semakin hilang saja suaranya. Dan kini tatapan mereka di alihkannya padaku, karena akulah orang yang sudah membawa Ill pulang malam itu. “Kami... sedang menyelediki soal mungkin saja ada keterkaitan antara anda dengan-“ “Bukankah kita sudah memberikan semua penjelasan hari itu” Kataku langsung memotong kalimat penjelasan Det. Ryan pada Ill. Hingga jadilah kini semua tatapan kembali di lemparkan padaku. Memotong akar rumut yang tak berguna dan akan bisa tumbuh jadi liar itu penting untuk di lakukan, agar kondisi tumbuhan bisa tetap aman dan terkendali. “Harus kukatan ini... tapi tak bisa kah kalian pertimbangkan soal Ill yang mungkin trauma karena kejadian malam itu? Maksud saya... itu adalah malam di mana Ill sampai harus pulang dalam keadaan terluka, dan beruntunglah ia tak sampai di lecehkan... itu bukan kejadian biasa bahkan mungkin akan menyisakan trauma??” “...Tapi kalian malah dengan mudahknya bahkan terlihat seenaknya mengungkitnya seperti ini, dan apa? katerlibatan?? Ahh, yang benar saja...” Kunaikan sedikit nada suaraku, ingin jadi terdengar seperti orang yang sedang kesal dan bersikap seolah tengah di bakar emosi atas perlakuan juga duagaan yang mereka tujukan pada Ill itu. “Dokter...” Ill kini nampak jadi tegang karena sikapku yang jelas tak suka pada kedua detektif itu. “Detektif, sepertinya anda harus pikirkan ulang soal dugaan anda yang satu ini... jika anda mencurigai kalau si pembunuh wanita-wanita itu adalah orang yang menyelamatkan Ill dan memiliki keterkaitan dengan Ill, datanglah kembali lain waktu dengan motif yang jelas beserta buktinya...” “Dan lagi... apa bisa seoarang pembunuh yang selalu mengincar wanita, tiba-tiba saja ia malah berbalik menyelamatkan seorang wanita yang hampir di lecehkan oleh dua orang pria? Apa itu masuk akal?” Ucapku panjang dengan masih mempertahankan nada emosiku. Dan kalau mereka bisa mendengarkan baik-baik ucapaku itu, sejujurnya terselip beberapa clue yang kutekankan pada beberapa kalimatku itu. “Benar... mungkin kita harus melakukan penyelidikan lebih lanjut, maaf telah mengganggu malam kalian” Ucap Det. Leo padaku dan Ill akhirnya. Tapi meski pembiacaraan ini seperti telah di bungkus oleh perkataan maaf dari mulut Det. Leo baru saja itu. Namun jelas terlihat sekali dari bidikan mata Det. Ryan, seolah ingin menyatakan kalau ia jutru malah menemukan satu titik baru, yang bisa di tarik garis hubungan dengan beberapa hal yang tengah di selidikinya saat ini. “Sepertinya dokter tampan kita ini... jauh lebih emosi dan seolah... orang yang mendapat trauma atas apa yang telah menimpa Nn. Illana ya?” Ucap Det. Ryan yang jelas menyelipkan kecurigaan beserta sindiran dalam kalimatnya itu padaku. “Ehm, saya sangat emosi dan trauma bahkan tak ingin melihat ataupun mengungkit lagi masalah yang hampir saja mencelakakan wanita yang saya cintai ini...” Sampai diamlah sudah semua mulut dari tiga orang yang ada bersamaku kini, namun jelas kulihat mata mereka beriak-riak tak bisa tenang, kaget, menatapku tak percaya atas apa yang baru saja telah dengan lantangnya megungkapkan cinta pada wanita yang tengah berdiri di sampingku ini. “Dokter...” Ill lagi-lagi hanya bisa memanggil namaku dengan tangan yang semakin di eratkannya dalam genggamannya itu padaku. Jujur saja aku tak rela jika harus sampai kalah bicara darinya. Hingga kubalas saja dengan hal sensitive yang menyangkut soal perasaan, seperti kata cinta yang baru saja terucap dari bibirku ini. Sesuatu yang ambigu seperti cinta, juga beberapa hal yang terkait tentang perasaan, empati, simpati yang melibatkan hati, itu akan sangat sulit untuk di jelaskan, sulit di mengerti dan tak masuk di akal juga logika. Dan lagi itu bukanlah sesuatu yang bisa di jabarkan dengan bukti yang kongkrit. Karenanya itu seperti kartu As yang kumiliki untuk men-skak pembicaraan tak mengenakan dan yang tengah menarketkanku ini. “Ill, kamu gak papa? Kalo gak nyaman dengan pembicaraan ini, kamu bisa menolak untuk memberikan pernyataan atau kesaksian...” Ucapku padanya. Kulihat matanya kini mengeluarkan kilauan kilauan bening, karena bolanya yang sudah mulai berkaca-kaca, jelas terharu karena semua ucapanku untuknya itu. “Ill...” Kuraih tangan yang sedang menggenggam satu tangannku itu, lalu kubenarkankan genggamannya jadi berkaitan, bertalian di antara sela-sela jariku dengannya. “Dokter...” Panggilnya lirih padaku. “Ah, sebaiknya kita pergi sebelum jadi obat nyamuk di sini...” Setelah berkata demikian pada Det. Leo, Det. Ryan akhirnya memilih untuk langsung saja meninggalkanku dan Ill yang sedang saling bertatapan mesra. Sengaja ingin kutunjukan dan kuperlihatkan padanya pemandangan dua mausia yang sedang banyak di tumbuhi beni-benih cinta, agar ia tak tahan dan bisa pergi secepatnya. Dan tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghilang sudah dari pandangan mataku kini. “Ill, jika ada sesuatu yang mengganggumu, atau masalah apapun itu... aku harap kamu mau menghubungi saya, saya... saya pastikan akan selalu ada buat lindungin kamu” Tawarku, ingin menjadi sosok orang yang siap untuk selalu bisa melindungi dan menjadi tempat teraman baginya. Tapi kemudian Ill malah tertunduk dan mulai terdengar isakan-isakan pelan darinya. “Ill... apa- apa saya mengatakan kesalahan?” Dengan sangat berhati-hati kutanyakan itu padanya, meski sesungguhnya aku tahu, ia hanya terharu dengan kata-kataku baru saja itu. Ia lantas membalas tanyaku itu dengan menggelekan kepalanya, “Dokter... boleh aku minta di peluk?” Dari caranya menatapku, jelas sekali kini ia tengah sangat meminta peluk itu dariku. “Ehm... tentu” Dan dengan tangan yang rentangkan, kurengkuh dan kubawa dirinya ke dalam pelukanku. Sepertinya Ill benar-benar sudah semakin jatuh ke dalam perangkapku. “Terimakasih dokter...” “Untuk apa?” “Untuk khawatirkan aku...” Lalu kujauhkan sedikit pelukku darinya, ingin kulihat wajahnya, untuk kupastikan bagaimana perasaannya saat ini. Dan begitu kutemukan... Anehnya ini adalah raut pertama yang di tampilkannya dan sangat berbeda sekali dari yang biasanya. Aku tak pernah melihat yang seperti ini. Hingga aku tak tahu, entah apa yang sedang di rasakannya kini. ‘Mungkinkah ini raut wajah orang yang sedang jatuh cinta? Tapi kenapa ia terlihat seperti setengah bersedih, namun juga menampilkan tatapan mata yang nampak seperti sedang berbahagia’ Heranku jadinya, “Aku... mencintaimu Ill” Kuucapkan kalimat itu padanya. Untuk kulihat bagaimana reaksinya. Dan yang kuadapat darinya kini hanya diamnya saja. Bahkan kemudian ia malah mengeluarkan air matanya, namun dengan senyum mengembang di bibirnya. Aku sunggung bingung, kenapa ada banyak sekali emosi yang terlihat dari raut ekpresi di wajahnya itu. Apa yang sebenarnya tengah di rasakannya ketika kuucapkan kalimat itu. Kini ia tertunduk dan menjatuhkan kepalanya di dadaku. Aku tak mengerti dengan sikapnya ini. Terlebih karena aku cacat dan tak bisa merasakan emosi, hingga berakhirlah kini aku terjebak dalam tanda tanya besar, akan perasaan apa yang sedang menghampiri Ill saat ini. Setiap hari kupelajari bagaimana gerak mata, lengkung bibirnya, dan setiap inci perubahan wajahnya, untuk membaca setiap ekspresinya agar bisa mengetahui emosinya. Sampai tadi kubawa dia berciuman, semua masih normal dan ada dalam kendali juga deteksiku. Tentu aku tahu ia menyukai itu. Namun untuk yang sekarang ini, aku sungguh di buat kebingungan, dengan emosi seperti apa yang tengah di rasakannya saat ini. ‘Sepertinya aku harus menambah satu catatan emosi dan reaksi Ill untuk keadaan yang seperti ini, agar aku tahu, aku harus berbuat apa padanya’ Batinku “Ill...” Kubawa wajahnya untuk bertemu dalam tatap bersamaku. Kupandangi lekat-lekat dirinya yang saat ini sedang tak bisa ku artikan dan masih jadi tanda tanya besar, perihal apa yang sedang ada di dalam hatinya, setelah kuungkapkan kalimat cintaku itu. “Mungkin terlalu cepat kukatakan ini, tapi sungguh aku mencintaimu” Ucapku sekali lagi, tapi ia masih diam sambil memasang wajah, yang kutahu kalau itu adalah karakteristik ekspresi wajah sedih. “Ill...” Panggilku sekali lagi, ingin memastikan. “Aku juga mencintaimu...” Akhirnya balasan itu terucap juga dari mulutnya. Sedikit lega aku di buatnya, meski rautnya itu masih saja menggangguku. Ia kemudian berjinjit untuk menyampaikan bibirnya pada bibirku. Dan begitu kurasakan bibirnya itu kembali sampai di bibirku, aku pikir tanda tanya di kepalaku tadi, tentang ekpresinya yang mendadak asing itu, tak perlu kujadikan satu persoalan besar. Karena kini aku tahu kalau cintanya itu juga telah di berikannya padaku. .....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD