"Fokus Tsabina, fokus sama apa tujuan lu, kak Arga bilang lu gak harus nyegel makhluk disini," Ucap Tsabina yang terkejut mendengar suara langkah kaki yang mendekat otomatis gadis itu berbalik dan terkejut melihat siapa yang datang
"Rico?!"
"Tsabina?!"
"Lu ngapain disini?!" Tanya keduanya bersamaan dan membuat mereka terdiam.
"Gue kesini karena diajak sama Lita buat bikin konten dia, lu sendiri?" Mendengar penjelasan Rico, Tsabina makin panik dan menatap pria itu dan mendekatinya.
"Lita? Terus siapa lagi?!" Tanya Tsabina dengan ekspresi panik dan cemas.
"Bio, Sigit, sama Lea, Lu kenapa? Muka panik gitu?" Tanya Rico bingung pada Tsabina yang kesal mendengar pertanyaan itu dan berbalik membelakangi pria itu.
"Lu gak tau aja apa yang sebenarnya ada didalam rumah sakit ini, mending lu balik ajak Lita sama yang lain buat segera balik! Disini bahaya," Pesan Tsabina pada Rico yang menatap gadis itu bingung.
"Lu sendiri?" Tanya balik Rico ke Tsabina yang meliriknya dan terkejut melihat sesuatu dan segera berlari menuju Rico dan melompat menabraknya.
"Awas!" Ucapnya sebelum menabrak tubuh Rico hingga terjatuh di sebuah kamar pasien bersamaan dengan sebuah suara benda yang bergerak menabrak dinding.
"Apa itu tadi?!" Tanya Rico yang tengah ditimpa tubuh Tsabina sembari menatap sosok putih yang melayang menuju ke depan pintu kamar inap itu.
"Kuas gue!" Ucap Tsabina ke Rico yang mengambil kuas yang berada dekat dengannya lalu segera memberikannya ke Tsabina yang segera melukis diatas kanvas yang ia siapkan sejak tadi.
"Selesai!" Teriak Tsabina yang menyelesaikan gambarnya dan nampak beberapa rantai menusuk tubuh sang pocong lalu menariknya masuk ke dalam lukisan tadi lalu segera dilempar Tsabina menjauh.
"Pocong!" Teriak Rico histeris yang dibalas tatapan sinis Tsabina.
"Telat!" Ucapnya sembari berjalan keluar dari kamar inap tadi.
"Oh telat ya, eh tungguin dong!" Kata Rico cengengesan dan berlari kecil menyusul Tsabina.
**********
"Agni: devaloka!" Ucap Lea pelan dan sesaat kemudian tubuhnya dilapisi hawa panas lalu segera berlari menuju sang hantu dokter yang terkejut dan langsung hancur terbakar oleh tinju Lea.
"Lemah banget sih!" Kesal gadis itu saat melihat wujud astral yang menguap dan lenyap sembari melihat sekelilingnya, nampak banyak sekali sosok hantu berwujud pasien dengan wajah-wajah pucat dan beberapa mengeluarkan darah dan berwujud menyeramkan.
"Heredis harus dimusnahkan, perintah tuan Rudra sudah jelas!" Ucap salah satu hantu sembari menatap Lea yang malah tertawa melihatnya dan tersenyum senang.
"Ayo buat gue gemetar ketakutan para hantu rendahan!" Tantang Lea pada para hantu yang segera melayang mendekat mencoba menyerang gadis itu.
########
"Gempa?!" Kaget Lita, Sigit, dan Bio yang merasakan getaran pertarungan Lea tadi.
"Lanjut yuk eksplorasinya, ok guys! Kita udah dekat nih ke lokasi yang katanya tempat hilangnya bayi itu, hmm gimana ya? Stay tune guys!" Kata Lita ke kamera lalu segera berjalan diikuti Sigit yang memegang kamera sementara Bio yang gabut berdiri menatap kaca.
"Hua!" Kaget Bio melihat sosok pria dengan baju operasi memegang gunting tengah menatapnya dari cermin tadi namun saat Bio berbalik ia tidak melihat apa-apa.
"Aneh," Gumam Bio yang berbalik menatap cermin dan membuatnya makin terkejut karena melihat sosok tadi kini bersama 3 wanita dengan jubah operasi dengan memegang peralatan medis dan saat Bio melihat kebelakang rupanya sosok itu sudah ada dan malah menyerangnya beruntung dia dapat melompat menghindar dan berlari.
"Hua! Hantu!" Setan!" Teriak Bio yang membuat Lita dan Sigit terkejut mendengarnya.
Bio?!" Heran mereka berdua dan nampak suara tangisan bayi terdengar di ruang bersalin beberapa meter di depan mereka membuat wajah Lita dan Sigit pucat ketakutan.
"Re re rekam git," kata Lita ke Sigit yang mengangguk dan akan masuk ke dalam.
"Hmmm hmmm hmmm bayi mungil jangan menangis," terdengar gumaman seorang perempuan dari dalam ruang bersalin dan begitu mereka berdua masuk nampak sosok suster tengah menggendong bayi itu namun sang bayi tetap menangis.
"Lit... Balik aja yuk?!" Ajak Sigit ke Lita yang mengangguk dan berjalan mundur namun suster itu malah menatapnya tajam dan tertawa cekikikan membuat mereka berdua berteriak histeris dan berbalik lari.
"Huaaaa!" Teriak Sigit dan Lita yang dikagetkan Bio.
"Lu ngapain sih?!" Omel Lita ke Bio yang terengah engah sambil menunjuk ke belakang.
"Ha ha hantu! Setan! Setan rumah sakit!" Kata Bio panik sementara ia kembali ketakutan saat melihat sosok dibelakang Lita dan Sigit dan menarik tangan keduanya agar mengikuti dia mundur.
"Dia ngikutin ya?" Tanya Lita takut ke Bio yang mengangguk dan mereka segera berteriak lari sementara makhluk berwujud suster itu tertawa dan terbang mengejar mereka, namun dari kejauhan terlihat sosok pria dengan jaket Hoodie hitam bercorak merah api nampak merapal mantra lalu mengeluarkan botol air dan ia siram ke arah hantu suster tadi.
"Air penyucian!" Teriak pria tadi yang membasahi tangannya dengan air itu lalu merapal mantra dan mengarahkan tangannya ke depan.
"Hiu air!" Ucapnya pelan dan nampak sosok hiu keluar dan melompat menyerang sang suster tadi yang meraung dan mundur menjauh.
"Andra?!" Kaget mereka bertiga sementara pria yang rupanya Andra tadi menatap mereka bertiga marah.
"Kalian?! Tempat ini bahaya! Ngapain kalian cari mati kesini!" Marah Andra pada mereka bertiga.
"Ki Ki kita cuman mau bantu nyari anak bayi itu kok!" Ucap Lita membela diri ke Andra yang mendekati gadis itu dan menatapnya tajam.
"Biar gue yang nyari! Kalian bertiga pulang aja!" Balas Andra sembari menatap ke depan dan terdengar gema tawa sosok yang terlihat menyeramkan hanya dengan mendengar suaranya saja.
"Kita balik bareng aja Ndra?" Tawar Bio ke Andra yang menggeleng dan menunjuk ke luar.
"Lebih baik kalian bertiga yang pulang, ini bukan taman bermain yang lu dan lainnya bisa kunjungi, lu gak tau tempat ini udah telan berapa banyak korban? Lu pasti gak mau kan jadi salah satunya?" Omel Andra ke mereka bertiga yang segera berbalik pulang sementara Andra kembali bergegas masuk menuju makhluk tadi.
"Woy! Balikin bayi yang kalian ambil kemarin!" Teriak Andra sembari berjalan menyusuri lorong itu.
"Coba ambil kesini heredis!" Ucap suara tadi disusul tangis bayi yang membuat Andra geram.
"b******k! Lu gak tau ya lagi ngomong sama siapa?!" Gumam Andra yang segera bergegas mencari makhluk tadi.
#########
"Ngapain sih masih ngikutin gue?" Tanya Tsabina kesal ke Rico yang tetap ngikutin dia.
"Lu lupa ya? Gue ini ketua kelas lu! Menjaga keselamatan lu adalah tugas gue," jawab Tsabina yang membuat Tsabina kesal namun ia coba tetap bersikap normal dan senyum menatap Rico.
"Rico... Gak usah, gue bisa jaga diri gue sendiri jadi hush balik sono," usir Tsabina yang dibalas gelengan kepala Rico yang tetap ngikutin dia.
"Gue balik, kalau elu balik, deal!" Rico nampak mengulurkan tangan ke Tsabina yang mendengus kesal dan menatap pria itu jengkel.
"Whatever! Jangan nyusahin, jangan jadi beban, kalau sampai kaya gitu lu gue tinggal!" Omel Tsabina yang berjalan cepat maju menyusuri lantai 2 tadi.
"Deal," Jawab Rico yang menjabat tangannya sendiri lalu berjalan cepat menyusul Tsabina.
"Haus! Lapar!" Teriak sebuah suara diatas yang membuat Rico dan Tsabina terkejut dan menatap suara yang tepat berada diatas dan nampak suara langkah kaki yang bergerak turun kebawah membuat mereka berdua bersiap namun rupanya.
"Lea?! Lu kemana aja?" Tanya Rico heran sementara Tsabina tercengang melihat sosok Lea yang dilapisi hawa energi panas yang kuat.
"Kalian berdua ngapain ada disini? Balik gih nanti jadi beban gue lagi," Ucap Lea sinis ke mereka berdua.
"Lu juga balik lah! Kenapa malah merintah gue," Balas Rico ke Lea yang menatap malas lalu berjalan cepat menjauh dari mereka.
"Le?! Lu mau kemana?!" Teriak Rico ke Lea yang menatap mereka.
"Nyari si Rudra!" Jawab Lea yang makin membuat Tsabina terkejut mendengarnya.
"Lu tau dimana Ki Rudra?" Tanya Tsabina yang dibalas tatapan Lea.
"Penting gue jawab pertanyaan lu?" Tanya Lea bodo amat dan jalan cepat meninggalkan mereka sementara Tsabina segera berlari menyusulnya.
"Tunggu?! Rudra siapa?!" Rico yang gak tau apa-apa segera berlari menyusul kedua gadis tangguh itu.
"Lancang sekali kalian menggangu keberadaan ku!" Geram sebuah suara yang perlahan memperlihatkan sosok dokter namun memiliki ekor dan sisik hijau.
"Rudra! Ketemu kau!" Ucap Lea yang tersenyum senang sementara Tsabina dan Rico nampak menatap tajam musuhnya dibelakang.
"Dia sosok yang sering memakan tumbal di rumah sakit ini," jelas Tsabina ke Rico yang mengangguk paham lalu menatap tajam Rudra.
"Kalau begitu dia gak bisa dibiarkan," kata Rico ke Tsabina yang mengangguk dan mengambil kuas cat berwarna hijau, hitam, dan merah lalu segera menaruh di kanvasnya.
"Makhluk ini harus disegel sebelum menimbulkan korban lebih banyak," gumam Tsabina sementara Lea nampak melakukan pemanasan dengan melompat-lompat kecil
"Mana bayi yang lu sembunyikan w hari yang lalu?" Tanya Lea yang dibalas tawa oleh makhluk itu.
"Kenapa tidak tanya pada perutku?" Ucap Rudra yang membuat Rico geram dan berlari menuju makhluk itu membuat Tsabina kaget sama halnya dengan Lea.
"Rico! b**o!" Teriak Tsabina keceplosan sementara Lea terdiam menatap pria itu mencoba mencari celah.
"Bang***! Makhluk terku...," Belum selesai Rico bicara sebuah ekor melayang menghantam tubuhnya hingga membuat tubuh pria itu menghantam dinding dan membuatnya tak sadarkan diri.
"Beban t***l!" Umpat Lea yang segera melompat dan melepaskan tinjunya kearah Rudra yang menangkap dengan tangan bersisiknya namun seketika ia melempar Lea kearah Tsabina dan menatap tangannya yang melepuh.
"Siluman rendahan kaya lu mana bisa tahan sama api Agni!" Ejek Lea sementara Tsabina nampak segera mempercepat lukisannya dan menata Lea.
"Gue bakal segel dia lu buat dia kehabisan tenaga," pesan Tsabina ke Lea yang tertawa mendengarnya.
"Gimana kalau kita kompetisi? Gue bakal serang penuh dia sampai mati, kalau makhluk ini tetap hidup sampai lukisan lu jadi he is yours," Tawar Lea dengan senyum meremehkan ke Tsabina yang terdiam sejenak lalu mengangguk.
"Fine!" Jawab tsabina yang segera melukis sementara Lea bergegas lari menuju makhluk tadi dan kembali menyerangnya.
"Maju lu!" Tantang Lea ke Rudra yang merubah wujud kakinya menjadi iguana dan segera melompat menendang Lea namun dapat dibaca dan terus dihindari oleh Lea yang melepaskan tinju tepat ke perut Rudra.
"Makan nih ho...," Ucapan Lea belum selesai tapi Rudra dengan cepat melompat ke atap bangunan dan menyerang menggunakan ekornya secara brutal dan acak kearah Lea.
"Sial! Dia nyerang pakai benda fisik juga!" Gumam Lea yang mundur beberapa kali karena hantaman benda benda berukuran besar.
"Homu...," Belum selesai Lea merapal jurusnya sebuah lemari besar terlempar kearahnya akibat lemparan ekor Rudra dan sukses membuat Lea terhempas dan jatuh kebawah.
"Lea?!" Teriak Tsabina panik sementara Rudra nampak berbalik menatapnya dengan senyum mengerikan dan nampak lidahnya yang panjang keluar.
**************
5 menit sebelumnya dibawah nampak Lita berhenti di pintu tadi dan berbalik kearah Bio dan Sigit
"Kita gak boleh nyerah disini!" Ucap Lita ke mereka berdua yang terkejut mendengarnya.
"Hah?! Lu gak inget dari tadi kita diserang sama hantu hantu aneh?! Gue ogah mau balik lagi kesana," Sigit menolak usulan Lita namun Bio nampak menepuk pundaknya.
"Kita udah liat bayi itu?! Kalau kita balik sekarang berarti kita udah ngebiarin diri kita dikalahkan rasa takut dibanding hati nurani!!! Pokoknya gue bakal balik nolong bayi itu! Terserah kalian mau ikut atau gak!" Ucap Lita yang bergegas berjalan melewati mereka berdua.
"Aaah okelah!" Ucap Sigit sementara Bio sudah lebih dulu mengikuti Lita sembari mengambil 2 batang kayu satu ia serahkan ke Sigit dan satu ia pegang.
"Tetep didekat gue Lit! Gue bakal lindungin lu," ucap Bio mantap pada Lita yang mengangguk dan tersenyum.
"Thanks," jawab Lita sembari berjalan kedepan dan nampak beberapa meter didepan Andra nampak berdiri didepan sosok genderuwo dan suster yang menggendong bayinya tadi.
"Serahin bayi itu," Ucap Andra yang dibalas tawa cekikikan suster itu yang memeluk erat bayi itu.
"Gak mau! Aku suka bayi ini!" Jawab sang suster yang membuat Andra kesal lalu segera membasahi kedua tangannya dengan air dan segera merapal mantra.
"Pisau air!" Ucap Andra melepaskan tebasan dari tangannya yang dilapisi air dan nampak mengarah ke genderuwo dan suster tadi yang melayang menjauh dan terlihat sang genderuwo geram dan akan meninju Andra.
"Heaaaa!" Terlihat sebuah tinju menghantam tubuh genderuwo hingga membuatnya meraung dan mengayunkan tangannya kearah Lea yang melompat menjauh.
"Cewek bar bar?!" Tanya Andra dengan tatapan kesal sementara Lea nampak menatap Andra tajam lalu tersenyum dan menepuk kepala pria itu.
"Ternyata bocah air, baguslah lu urus tuh si bayi ye," pesan Lea ke Andra yang menepis tangan gadis itu dan menatapnya kesal.
"Ngapain lu perintah perintah gue?!" Marah Andra yang bersiap menyerang genderuwo tadi namun Lea tidak mau kalah dan segera berlari menuju sang genderuwo hingga membuat Andra kesal.
"Emang cewek bar bar kerjanya ngerusuh Mulu!" Kesal Andra yang merapal mantra lalu menaruh tangannya ke tanah dan nampak simbol kerajaan terbentuk dari sana hingga mengeluarkan genangan air yang berkumpul menjadi gumpalan didepan Andra.
"Terimakasih NYI, baiklah waktunya serius Aqua missile!" Ucap Andra seraya memegang genangan air tadi yang berubah menjadi beberapa misil air dan bergerak menuju hantu suster tadi.
"Hihihi!" Nampak sang suster mencoba menghindari rudal itu sambil tertawa cekikikan namun salah satu berhasil menghantam tubuh makhluk itu membuat pegangannya pada sang bayi terlepas dan Andra berhasil menangkap dengan menciptakan sesuatu berwujud tangan yang menangkap dan membawa bayi itu menuju ke tempatnya.
"Kembalikan bayiku!" Ucap hantu suster itu geram sementara Andra segera berlari keluar dari ruangan tadi, membawa bayi itu pergi dari sana.
"Andra!" Teriak Lita, Bio, dan Sigit yang baru tiba dan nampak Bio serta Sigit berlari dan menghantam suster tadi dengan batang kayu namun malah mereka yang terlempar oleh tekanan energi hantu itu.
"Pegang bayinya!" Ucap Andra yang memberikan bayi itu lalu segera berbalik dan menangkap wajah hantu itu seraya merapal mantra.
"Wahai dia yang menguasai kerajaan air, dia yang menjaga, dia yang melindungi laut dari kejahatan dunia, beri aku kekuatan untu memusnahkan eksistensi perusak ini!" Ucap Andra dan seketika tangannya dilapisi air yang berbentuk seperti tangan naga dengan sisik dan cakar.
"Rrrooaaaaargh lepaskan!" Raungan kesakitan makhluk itu pada Andra yang tidak perduli dan kini mencengkram kuat dan perlahan membuat tubuh makhluk itu lebur dan hancur.
"Kalian gak apa?" Tanya Andra ke Lita yang mengangguk sementara Bio dan Sigit terlihat berdiri sambil memegang punggungnya yang sakit.
"Homura tsurugi!" Teriak Lea dari dalam dan sebuah bunyi ledakan nampak terdengar disusul raungan sang genderuwo, beberapa saat kemudian Lea keluar dengan senyum menang.
"Lega akhirnya bisa ngucapin, b******k dari tadi ditahan tahan sama Rudra!" Omel Lea yang membuat Andra tercekat.
"Rudra! b******k dimana dia?!" Tanya Andra ke Lea yang menunjuk keatas dan seketika pria itu berjalan menjauh dari sana menuju keatas.
"Lu gak ikutan?" Tanya Bio heran ke Lea yang tersenyum dan menggeleng.
"Paling dah kelar..."
###########
Ditempat lain nampak Tsabina dengan ketakutan mundur sambil mencoba menyelesaikan gambarnya yang masih setengah jadi.
"Hahaha! Rupanya heredis amatiran ya, kau tahu bukan heredis adalah makanan sempurna bagi para jin untuk mendapatkan kekuatan yang besar, aku jadi ingin tau bagaimana rasanya!" Teriak Rudra yang melompat menyerang Tsabina yang memejamkan mata dan menatap kearah lain.
"Gantian!" Sebuah ucapan terdengar dan seketika Tsabina yang bingung membuka matanya dan melihat Rudra telah menabrak dinding sementara nampak Rico berdiri sambil melihat tangannya.
"Bilang tuh dari awal, jangan pas dah kena bogem gini," Gumam Rico sendiri sambil mengeluarkan aura terang yang membuat Tsabina tercengang dan bingung.
"Bukannya dia orang biasa? Kenapa tiba-tiba dia punya kekuatan sedahsyat ini?!" Kaget Tsabina pada Rico yang memijat lehernya dan nampak berjalan menuju Rudra.
"Sialan! Kau heredis cahaya!" Marah Rudra ke Rico yang tertawa mendengarnya.
"Bukan! Gue cuman anak SMA doang kok," Jawab Rico yang menghindari terkaman tangan Rudra lalu menatap Tsabina.
"Kau sang pelukis bukan? Cepat selesaikan lukisanmu dan segel makhluk ini," Pesan Rico ke Tsabina yang mengangguk dan segera menyelesaikan lukisannya sementara Rudra mencoba melakukan teknik yang sama dengan saat ia menjatuhkan Lea tadi pada Rico namun semua serangan itu nampak dihindari dengan mudah olehnya.
"Makan ini lemari!" Teriak Rudra yang melemparkan lemari kearah Rico yang memadatkan energi cahaya di tangan kanannya lalu meninju lemari tadi hingga hancur.
"Mustahil!" Kaget Tsabina dan Rudra yang nampak kesal dan meraung lalu berlari dan melepaskan berbagai cakaran dan hantaman ekor kearah Rico yang terus menghindari dan menangkap ekor itu lalu melemparnya hingga menghantam dinding.
"Baiklah terima kasih udah membantu," Ucap Rico tiba-tiba dan nampak matanya yang awalnya bercahaya kini kembali normal namun tangan Rico masih bercahaya.
"Kekuatannya tidak sebesar tadi tapi... Rico lu sebenarnya siapa?!" Bingung Tsabina pada Rico yang menatap Rudra tajam.
"Kurang ajar!!!" Teriak Rudra yang menerkam Rico namun kini ia mengarahkan tangannya ke depan.
"Ledakan cahaya penyucian!" Ucap Rico dan sebuah ledakan cahaya dengan telak menghantam tubuh Rudra bertepatan dengan selesainya lukisan Tsabina dan membuat beberapa benang mulai bergerak keluar dari lukisan tadi menangkap tubuh Rudra dan membawanya masuk kedalam lukisan.
"Rico, sejak kapan dia punya kekuatan sebesar ini?" Heran Andra yang mengintip dari balik dinding dan berjalan menjauh dari sana.
"Kekuatan besar yang tidak bisa ditebak, siapa sebenarnya orang ini?!" Heran Tsabina yang memegang lukisan itu seraya menatap Rico yang terdiam melihat sinar di tangannya yang perlahan meredup dan hilang.
"Lu gak apa kan?" Tanya Rico ke Tsabina yang tersenyum lalu mengangguk.
"Thanks," Ucap Tsabina sembari menerima uluran tangan Rico.
"Gue punya banyak pertanyaan ke lu tapi besok aja," ucap Tsabina ke Rico lalu segera berjalan diikuti Rico dan saat turun nampak disana ia berpapasan dengan Lea, Lita, Bio, dan Sigit.
"Rico?! Gue kira lu langsung balik tadi soalnya Lea udah ketemu disini," heran Lita ke Rico yang cemberut.
"Mana mungkin gue ninggalin sahabat sahabat gue," Ucap Rico ke Lita, Bio, dan Sigit.
"Terserah btw ini anak bayi kita anter langsung ke ortunya apa gimana?" Tanya Bio ke Lita.
"Anter langsung dong, gue udah dapet kontak dan alamat rumah ortu bayi ini," kata Lita yang segera mengajak mereka menuju mobilnya.
"Eh lu gak ikutan tsab?" Tanya Lita ke Tsabina yang menggeleng sambil senyum.
"Gue mau balik aja, titip salam buat ortu bayi itu yah," pesan Tsabina sebelum pamit menuju mobilnya meninggalkan rombongan Lita yang berangkat menuju rumah orang tua bayi tersebut.
"Halo kak Arga? Gue udah dapet nih jiwanya Rudra, apa mau langsung gue kirim ke tempat kakak?" Tanya Tsabina yang menelfon Arga.
"Langsung kirim aja, btw kerja bagus Tsabina, lu hebat juga bisa ngalahin Rudra padahal dia sosok yang cukup kuat loh," Puji Arga ke Tsabina yang senyum mendengarnya.
"Hehe gue dibantu kak sama seseorang tadi," Jawab Tsabina ke Arga.
"Pantesan tapi kuat juga dia, pasti dia bukan orang sembarangan," Ucap Arga ke Tsabina yang teringat pertarungan tadi sambil menyetir mobilnya pulang.
"Eh kak gue mau nanya nih, lu pernah denger gak soal heredis cahaya?"
TO BE CONTINUED