chapter 3 : gadis pelukis arwah

2200 Words
Selasa malam pukul 23.00 di sebuah wisma tua nampak sekelompok orang berjubah berkumpul di sebuah altar. "Mari kita mulai upacaranya," Ucap seorang pria tinggi dengan rambut rapi dan nampak memegang sebuah topeng. "Jadi kita akan membangkitkan makhluk itu ya?" Tanya seorang perempuan dengan kebaya merah yang berdiri di belakang altar bersama seorang pemuda dengan jaket kulit hitam dan pria dengan baju batik. "Kata Prabu... Dia akan membangkitkan sosok itu untuk menghabisi gadis pelukis yang diduga akan menyusahkan kita," jawab pria dengan baju batik tadi yang dibalas senyum oleh gadis itu. "Memangnya sekuat apa sih gadis pelukis itu.... Jadi penasaran," gumam gadis dengan dress merah tadi yang berjalan menjauhi mereka. "Kita bisa tau setelah melepaskan makhluk itu," Jawab pria dengan jaket kulit tadi disusul sebuah dentuman besar di altar tadi dan tampak lahir sosok makhluk berwujud kura-kura yang menatap Prabu angkuh. "Manusia... Berani-beraninya kalian!" Marah sang makhluk seraya menatap Prabu. "Aku punya tujuan memanggil anda siluman kura-kura, dan hal itu pasti bagus bagi anda," Ucap Prabu Asmoro bangun pada makhluk itu. ************** Diwaktu yang hampir bersamaan di rumah Tsabina nampak gadis itu tengah menyeduh teh hangat sambil menyalakan musik yang tenang dan menelfon seseorang. "Malam kak Arga! Sorry ganggu, gue mau kasih info soal beberapa hal yang gue dapet selama 2 hari di kota ini," Ucap Tsabina sambil membuka kamarnya dan nampak di dinding tertancap peta keseluruhan kota batavia. "Gimana? Ada clue? Atau sesuatu yang menarik?" Tanya Arga pada Tsabina yang menusuk beberapa foto penampakan makhluk di beberapa titik peta. "Gue udah nemu 3 lokasi baru selain bawah jembatan kemarin kak, rencananya gue bakal mulai ke satu lokasi besok malam, buat mastiin sesuatu juga," Jawab Tsabina sambil meminum tehnya. "By the way kak, gue dapet info dari salah satu hantu yang kemarin gue segel tentang heredis? Keknya mereka terorganisir oleh sesuatu," Tambah Tsabina ke Arga. "Heredis? Dari info yang gue dapet ada 3 heredis yang sering gue denger infonya dari temen-temen sini, salah satunya adalah remaja yang diberkahi kemampuan oleh sang ratu pantai selatan," Jawab Arga pada Tsabina yang batuk dan nampak mengenali siapa orangnya. "Ah ya! Gue ketemu sama orang itu! Dan dia sekelas sama gue!" Tambah Tsabina ke Arga dengan semangat. "Serius lu? Baguslah! Tetep awasi dia! Gali banyak informasi dari dia gak perlu agresif cukup main aman aja," pesan Arga yang dibalas anggukan oleh Tsabina. "Oke kak segitu dulu kali buat sekarang, malam!" Tutup Tsabina sembari menutup telfonnya dan berpikir sejenak lalu melihat gambar peta itu dan mendekatinya. "Andrean Viscara ya...," Gumam Tsabina sembari menghabiskan tehnya lalu keluar dari kamar untuk mencari udara segar. ###### "Lita? Malam-malam gini vc grup ngapain sih?" Tanya Rico yang dibalas ucapan setuju dari Sigit serta Odelia. "Penting guys! Gue mau infoin sesuatu loh!" Jawab Lita ke mereka bertiga. "Apaan?!" Tanya Odelia yang sibuk skin carean. "Gue mau ajak kalian wisata horor! Gimana?!" Tawar Lita yang membuat Sigit tersedak saat minum. "Wisata horor?!" Sigit nampak mengulangi ucapan Lita tadi dan dibalas anggukan dan tatapan ceria Lita. "Kalau gue sih setuju aja Lit, yang penting ada lu," Jawab Bio yang dibalas tatapan kesal Sigit dan Rico. "Oh kita-kita gak dianggep nih?" Tanya Odelia ke Bio yang ekspresinya berubah. "Tau nih ular kadut, gue bisa aja tapi jam berapa dulu nih?" Tanya Rico ke Lita yang diam berpikir lalu menjentikkan jarinya. "Besok malam jam 11! Di lokasi yang viral itu!" Jawab Lita ke teman-temannya. "Rumah sakit yang kemarin viral itu?!" Tanya Sigit memastikan ke Lita yang tersenyum dan memberikan jempol. "Seru juga tuh," gumam Rico tertarik. "Gue siap sih yang penting bareng lu," Goda Bio ke Lita. "Waduh malem banget Lit, ntar dimarah nyokap," kata Odelia ke Lita yang terdiam sejenak. "Sorry ya guys gue gak bisa kalau jam segitu," Tambah Odelia yang dibalas senyum keempat temannya lalu segera pamit dan menutup telfonnya. "Terus siapa? Kita-kita aja nih Lit?" Tanya Rico mengkonfirmasi Lita yang teringat sesuatu dan nampak menghubungi seseorang. "Halo guys! Hoaaam!" Sapa seorang gadis lain yang nampak menguap keras dan menatap mereka sambil mengucek matanya. "Lea?!" Kaget ketiganya sementara Lea hanya tersenyum sambil mengorek telinga kanannya yang gatal. ########### Keesokan paginya nampak Tsabina yang baru turun dari mobilnya terlihat disapa oleh seorang pria dengan jaket sweater putih dengan headphone tergantung di lehernya. "Hai!" Sapa Pria itu yang dibalas senyum Tsabina. "Hai Andra?" Nampak Tsabina mencoba mengingat nama Andra yang dibalas senyum olehnya dan nampak berjalan bersamaan dengan Tsabina. "Gimana 3 hari di sekolah ini? Gak ada halangan apa-apa kan?" Tanya Andra ke Tsabina yang nampak menatap ke depan lalu tersenyum manis. "Sejauh ini aman-aman aja kok," Jawab Tsabina yang dibalas anggukan dan senyum oleh Andra. "Soal Pratama sama Rangga kemarin, gak usah lu pikirin ya, mereka memang gitu anaknya," pesan Andra yang dibalas anggukan oleh Tsabina. "Tenang aja, itu hal biasa kok," jawab Tsabina pada Andra namun langka mereka terhenti saat melihat keramaian di lapangan sekolah. "Ada apa ini?" Tanya Andra yang berjalan di kumpulan siswa dan siswi tadi dan nampak Pratama serta Rangga saling berhadapan. "Pembuktian lagi paling," Jawab Rico yang berdiri di depan mereka. "Pembuktian?" Tanya Tsabina ke Rico yang mengangguk mengiyakan. "Pembuktian apa?" Tanya Tsabina ke Andra yang menatap gadis itu lalu kembali fokus nonton. "Ajang pembuktian siapa yang pantas jadi kapten tim basket, di SMA ini tim intinya gue, Rico, Pratama, Bio, dan Rangga cuman buat penentuan kapten gue, Rico, sama Bio gak ambil pusing beda sama mereka berdua... Bawa bawa jabatan geng ke tim basket dan jadilah ini," Jawab Andra ke Tsabina yang nampak menatap keduanya yang saling dribble merebut bola. "Gue kaptennya buat turnamen besok!" Ucap Rangga mencoba melepaskan shoot kearah ring namun di block oleh Pratama. "In your dream!" Jawab Pratama yang merebut bola itu dan segera mendribble keluar lalu kembali berhadapan dengan Rangga. "Emang ekskul basket kita berisi banyak kompetisi kok tapi kalau masalah prestasi jangan tanya," ucap Bio yang muncul sambil membawa 2 kaleng sprite dan memberikannya ke Lita yang menonton di bawah pohon. "Thanks Bio!" Ucap Lita senang menerima minuman itu sementara Rico nampak menatap sinis Bio. "Pesenan gue mana?" Tanya Rico yang dibalas jari tengah oleh Bio yang menyaksikan pertandingan sambil minum sprite di samping Lita sementara Rico hanya menggelengkan kepalanya kesal. 10 menit kemudian rupanya kemenangan ada di Pratama yang berhasil melepaskan shoot dan masuk tepat saat bel masuk berbunyi. "Gue kaptennya buat turnamen besok," Ucap Pratama datar seraya menatap tajam Rangga yang mengangguk lalu mengulurkan tangan. "Deal!" Ucap Rangga yang dibalas senyum Pratama dan nampak mereka saling berjabat dan berpelukan singkat sebelum saling menjauh. "Mereka keren juga," gumam Tsabina setelah melihat itu dan pandangannya kembali teralihkan ke Pratama yang tiba-tiba dipeluk oleh seorang gadis dengan rambut kemerahan dan satu gadis berambut hitam yang memberikan air dingin ke Pratama. "Fans Pratama?" Tanya Tsabina menunjuk kedua gadis itu yang dibalas tawa oleh Rico. "Itu kakak Pratama namanya kak Angel dan kak Ersya, yah walau tindakan mereka kadang kaya orang pacaran gitu," jawab Rico menunjuk Angel yang membuka botol minum ke Pratama yang nampak malu dan mencoba mundur. "Kak angel! Jangan Deket Deket gitu malu tau!" Omel Pratama yang agak mundur namun ditarik kembali oleh Angel. "Biarin aja! Emang lu gak sayang lagi sama gue kakak lu?" Tanya Angel manyun sementara Ersya hanya menggelengkan kepalanya melihat Angel yang dirasa terlalu manjain Pratama. "Udah kali manja manjain Pratama kesian tuh," Pesan Ersya ke Angel yang melepaskan pegangan tangannya dari Pratama yang bersiap balik ke kelas. "Balik dulu ya kak, bel masuk dah bunyi," Pamit Pratama yang berjalan menjauhi Ersya dan Angel yang melambaikan tangannya dan kembali ke kelas juga. ************ "Gimana le? Lu bisa dateng gak nanti malam?" Tanya Lita yang berjalan disamping Lea. "Aman, tenang aja jam 11 kan?" Tanya Lea memastikan ke Lita. "Iya jam 11 di rumah sakit yang viral itu," jawab Lita ke Lea yang tersenyum mengangguk dan segera berjalan masuk ke kelas. "Lu bawa apa aja buat nanti malem?" Tanya Bio ke Rico dan Sigit yang duduk di dalam kelas. "Paling kamera doang sih," Jawab Sigit ke Bio sementara Rico berpikir sejenak lalu tersenyum. "Bawa diri aja sih," Ucapnya yang mendapat tatapan sinis Bio. "Yee kalau gitu mah sama aja... Kaya gue," Jawab Bio yang saling melakukan tos dengan Rico lalu tertawa. "Pr kalian udah selesai?" Tanya Odelia yang baru datang dan membuat ketiganya kaget. "Mampus gue lupa!" Jawab Bio yang bergegas kembali ke kursi untuk mengerjakan pr sama dengan Sigit sementara Rico hanya duduk santai di kursinya. "Sejak kapan gue gak tepat waktu kalau kerjain tugas kak sakurako," jawab Rico sambil senyum sendiri dan menatap Tsabina yang tengah menatap kedepan sambil menulis sesuatu. "Lu belum kerjain pr?" Tanya Rico ke Tsabina yang tersenyum dan menggeleng. "Engga kok gue ngerjain pr untuk besok, biar nanti malem gak numpuk," Jawab Tsabina yang dibalas tepuk tangan oleh Rico seraya menghadap ke depan. "Emang murid teladan," Gumam Rico kagum pada Tsabina. "Btw banyak kursi kosong, apa selalu banyak murid gak masuk kaya gini ya?" Tanya Tsabina ke Rico yang menggeleng sambil ikut melihat kursi-kursi kosong itu. "Mereka yang gak masuk ini punya kegiatan di luar sekolah gitu dan emang mewakili sekolah juga dalam beberapa hal, kaya si Brandon dan Theressa yang bakal gak hadir seminggu karena mewakili sekolah dalam lomba puisi, terus si Anya yang ikut gadis sampul, dan beberapa juga dalam kegiatan gitu so, Minggu depan paling lengkap semua kok," Jawab Rico yang dibalas anggukan paham gadis itu dan kembali fokus dengan kegiatannya dan akhirnya datang seorang guru dengan wajah oriental dan tinggi 160. "Selamat pagi murid-murid pr silahkan ditaruh ke depan dan kita akan bersiap menuju lab komputer!" Ucap sang guru dengan ceria yang dibalas sorakan senang yang lainnya. "Dia guru?" Tanya Tsabina lagi ke Rico yang mengangguk. "Iya, umurnya 22 tahun tapi penampilan dia kaya seumuran kita, makanya kita manggilnya kak Sakurako karena dia juga mau dipanggil gitu, yuk ke lab," Ajak Rico ke Tsabina yang senyum dan berdiri lalu berjalan menuju lab komputer. ########### Malam harinya nampak Rico, Bio, Sigit, Lita, dan Lea sedang berdiri di sebuah rumah sakit yang sudah terbengkalai mereka hanya menggunakan satu mobil yang sudah disiapkan Lita jauh hari untuk transportasi seperti sekarang. "Jadi kita akan menelusuri rumah sakit ini, karena beberapa hari yang lalu sempat ada cerita kalau seorang ibu melahirkan anaknya di rumah sakit ini, padahal sudah jelas kalau rumah sakit ini udah 10 tahun terbengkalai," Ucap Lita ke mereka yang sedang bersiap masuk. "Dan dari penglihatan suami istri itu rumah sakit ini terlihat normal tapi begitu si suami keluar dan diberi tahu kondisi asli rumah sakit ini, akhirnya si suami sadar bahwa ada sesuatu yang salah pada mereka dan segera kembali, tapi saat kembali ia hanya bertemu dengan sang istri namun tidak dengan sang anak," Tambah Bio yang dibalas anggukan oleh Rico dan Sigit. "Ok jadi sekarang maksud lu ngajak kita masuk, buat ngonten sekalian nyari bayi yang hilang itu kan?" Tanya Rico menarik kesimpulan ke Lita yang mengacungkan jempol membenarkan. "Ok langsung masuk aja kali?" Tanya Sigit ke mereka yang segera berjalan masuk sementara Lea nampak terdiam sejenak lalu menatap ke lantai 2, disana terlihat sosok putih yang bergerak menjauh dari sana. Senyum sinis nampak terukir di bibirnya dan dia segera berlari berlawanan arah dari Rico cs yang masuk kedalam. Beberapa menit setelah mereka masuk nampak sebuah mobil datang dan berhenti di depan rumah sakit tadi. "Mobil siapa nih?" Gumam Tsabina bingung seraya mengambil tas selempang serta kanvas dan cat lukisnya, sebelum masuk nampak ia menghubungi seseorang terlebih dahulu. "Halo kak Arga? Iya gue udah di depan rumah sakit yang viral itu, tapi aneh gue lihat ada mobil juga didepannya," lapor Tsabina ke Arga. "Biarin aja, lu gak perlu terlibat kontak sama mereka, tujuan lu disana cuma nyegel makhluk yang nyulik bayi dan nyiptain ilusi kalau rumah sakit itu beroperasi setelah itu langsung balik," pesan Arga ke Tsabina yang memejamkan mata sejenak lalu mengangguk paham. "Ok kak, gue masuk dulu," Pamit Tsabina yang menutup telfon dan segera berjalan masuk kedalam namun begitu tiba didalam Tsabina terkejut saat merasakan sebuah tekanan energi yang sangat kuat hingga membuat kakinya gemetar. "I i ini?!" Ucap Tsabina yang terdiam merasakan energi yang sangat kuat dan jahat. "Gak tau kenapa gue ngerasa gak enak masuk kesini," Gumam Lita sembari menatap ke teman-temannya namun ia terkejut dan bingung saat menyadari sesuatu. "Eh Lea kemana?" Tanya Lita yang membuat semuanya berbalik mencari Lea. "Kalian lanjutin streamingnya biar gue nyari Lea," Ucap Rico yang segera berlari menjauh dari mereka. "Rico gue ikut!" Kata Bio namun ditahan oleh Rico. "Lu sama Sigit jagain Lita aja!" Teriak Rico sebelum melangkah menjauh dan perlahan menghilang dari jangkauan mata mereka. "Hah! Ketemu salah satu makhluknya," Ucap Lea pada sesosok hantu dengan pakaian dokter yang berdiri di depan kamar pasien terbengkalai sambil memegang stetoskop. "Jadi kamu pasien berikutnya?" Tanya Hantu dokter itu pada Lea yang tersenyum sembari merenggangkan kedua tangannya dengan mengarahkan keatas. "Yah dan lu korban selanjutnya," Ucap Lea seraya memasang kuda-kuda dan tangannya mulai menyala hingga membuat dokter itu kaget. "Heredis...," Ucapnya dengan tatapan tajam. "Yo!" Jawab Lea enteng seraya tersenyum sinis pada sang jin yang terlihat ketakutan melihat itu. "Fokus Tsabina, fokus sama apa tujuan lu, kak Arga bilang lu gak harus nyegel makhluk disini," Ucap Tsabina yang terkejut mendengar suara langkah kaki yang mendekat otomatis gadis itu berbalik dan terkejut melihat siapa yang datang. "Rico?!" "Tsabina?!" TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD