Perhatian Yang Berlebihan

1394 Words
“Alea, kamu ingin makan apa?” tanya Robby saat mereka tiba di kantin. Alea yang tidak fokus hanya menatap ke arah ponselnya tanpa mendengar perkataan Robby. “Alea,” panggil Robby kembali. Akhirnya Alea menoleh. “E-eh, ada apa, Robby?” tanya Alea dengan wajah yang tampak terkejut. Robby menghela napas, lalu kembali bertanya kepada Alea. “Aku tanya, kamu ingin makan apa?” tanyanya sekali lagi. “Oh, aku ingin bakso saja,” jawab Alea dengan cepat. “Minumnya?” tanya Robby lagi. “Es jeruk saja, ya,” jawab Alea yang langsung diangguki oleh Robby. Robby meninggalkan Alea untuk memesan makanan mereka. Sementara itu, Alea kembali menatap ponselnya. Sebuah notifikasi masuk dari grup jurusannya yang memberitahukan bahwa setelah ini mereka harus melakukan praktik. “Harus ya? Baru juga pertama masuk, sudah praktik saja,” gumam Alea. Tak lama kemudian, Robby datang membawa dua pesanan. Ia langsung menyodorkannya kepada Alea. Beberapa detik kemudian, Robby pun duduk di hadapan Alea. Namun, matanya terfokus pada Alea yang masih sibuk memainkan ponselnya. “Makan dulu, nanti baru main ponsel,” tegur Robby kepada Alea. “Aku hanya melihat pesan di grup saja,” sahut Alea sambil menaruh ponselnya. “Pesan apa?” tanya Robby karena penasaran. “Katanya, setelah ini akan langsung praktik membuat makanan favorit,” jawab Alea sambil mengaduk-aduk makanannya. Melihat hal itu, Robby kembali menegur Alea. “Jangan diaduk-aduk saja, cepat dimakan. Tidak bagus begitu memperlakukan makanan,” tegur Robby, membuat Alea menghela napas. Alea akhirnya mulai makan, begitu juga dengan Robby yang ikut menyantap makanannya. Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah selesai makan. Kini saatnya membayar. Saat Alea menyerahkan uangnya kepada Robby, seketika Robby mengernyitkan kening. “Uang apa ini?” tanya Robby dengan wajah bingung. “Aku bayar makanan dan minumanku tadi,” jawab Alea dengan wajah serius. “Tidak usah, sudah aku bayar,” sahut Robby dengan cepat. “Ish, tidak boleh begitu. Kalau begitu, aku ganti uangmu saja,” ucap Alea, membuat Robby menatapnya dengan tajam. “Tidak perlu, simpan saja uangmu,” ucap Robby lalu bangkit dari duduknya. “Hei, ambil uang ini,” kata Alea dengan nada memaksa. Robby yang semula melangkah, kembali berhenti dan menatap Alea. “Aku sudah bilang, bukan? Simpan saja uangmu, Alea,” ucap Robby dengan nada menekan. “Kan aku cuma mengganti uangmu, Robby. Lagian, kenapa juga kamu membayarkan punyaku?” sahut Alea dengan wajah sedikit cemberut. Robby melangkah mendekat ke arah Alea yang berada di sela-sela kursi kantin itu. “Apa aku salah membayarkan punyamu?” tanya Robby dengan nada sinis. Alea terdiam. Ia menatap Robby, merasa sikap laki-laki itu tidak seperti biasanya. “Sudah, simpan saja uangmu. Ke depannya, apa pun yang kamu mau, katakan saja kepadaku,” ucap Robby sambil menarik Alea keluar dari sela-sela kursi itu. Alea hanya bisa terdiam. Tidak ada lagi kata protes yang keluar dari bibirnya. Sementara itu, Robby menggenggam tangan Alea dengan erat dan membawanya pergi. Perasaan Alea terasa benar-benar aneh. Ada sesuatu yang berubah pada Robby hari ini sesuatu yang tidak ia pahami. Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kelas Alea. Robby pun melepaskan genggaman tangannya. “Masuklah,” ucap Robby kepada Alea tanpa menatapnya. Alea hanya mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam kelas. “Nanti, saat pulang aku jemput,” ucap Robby kembali sebelum langsung pergi. Alea menghelakan napasnya pelan. Belum sempat ia menjawab, Robby sudah pergi begitu saja. Alea duduk sendirian. Kelas masih terasa sepi, kemungkinan karena Robby mengantarnya terlalu awal. Beberapa menit kemudian, satu per satu teman sekelasnya mulai berdatangan, termasuk tiga gadis yang tadi mengganggunya. Alea langsung mengalihkan pandangan. Tanpa disadari, pemimpin geng itu menatap Alea dengan sorot mata tajam. Saat gadis itu hendak menghampiri Alea, dosen lebih dulu masuk ke dalam kelas, membuat niatnya urung. “Baiklah, apakah kalian sudah membaca pesan di grup tadi?” tanya dosen wanita itu. “Sudah, Bu,” jawab para mahasiswa serempak. “Kalau begitu, sekarang kita pergi ke ruang praktik. Ibu ingin mengetahui kemampuan kalian. Karena kalian memilih jurusan ini, Ibu yakin kalian memiliki bakat terpendam dalam diri masing-masing,” jelas dosen wanita itu. “Baik, Bu,” jawab para mahasiswa serempak. “Ayo, sekarang ikuti saya,” ucap dosen wanita itu sambil melangkah pergi. Para mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan, ikut bangun dan menyusul dosen wanita tersebut menuju ruang praktik. Begitu juga dengan Alea. Ia berjalan di paling belakang, sengaja membiarkan ketiga gadis itu melangkah lebih dulu. Alea tidak ingin membuat masalah apa pun di hari pertamanya masuk kuliah. Selain itu, ia juga belum siap jika harus dimarahi Raka. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di ruang praktik dan langsung masuk ke dalam. Pandangan Alea menyapu seluruh ruangan itu. Di setiap meja, tersedia berbagai bahan untuk membuat kue. Dosen wanita itu berdiri di depan mereka. Suasana mendadak menjadi ribut karena para mahasiswa melihat begitu banyak bahan yang tersedia di atas meja. Berbeda dengan yang lain, Alea justru hanya diam menatap ke arah bahan-bahan tersebut. Ia benar-benar bingung harus membuat kue apa. “Tolong jangan ribut,” tegur dosen wanita itu, membuat seluruh ruangan langsung terdiam. Tatapan para mahasiswa serentak tertuju pada dosen wanita tersebut, sementara mereka masih berdiri tak jauh dari meja masing-masing. “Di depan kalian, semua bahan sudah siap. Jadi, Ibu ingin kalian membuat kue favorit masing-masing. Terserah, mau yang dikukus, dipanggang, ataupun digoreng. Di sini, Ibu ingin melihat bagaimana cara kalian mengolah bahan-bahan tersebut hingga menjadi kue yang enak,” jelas dosen wanita itu. Semua mahasiswa mulai ribut saat mendengar penjelasan dosen itu. Para mahasiswa perempuan terlihat sangat gembira, begitu juga dengan Alea. Mungkin ia akan membuat kue favoritnya, yaitu kue beraroma vanila. “Sekarang, ambil tempat kalian masing-masing,” ucap dosen wanita itu. Semua mahasiswa pun bergegas mengambil tempat masing-masing. Sementara Alea tetap santai. Ia mendapatkan meja paling belakang di pojok ruangan, bersebelahan dengan seorang teman laki-laki. Semua mahasiswa sudah mendapatkan tempat masing-masing. Kini dosen wanita itu kembali berbicara. “Baiklah, semuanya sudah mendapatkan tempat, bukan?” tanya dosen wanita itu. “Sudah, Bu,” jawab para mahasiswa serempak. “Kalau begitu, kalian boleh mulai sekarang membuat kue favorit kalian dengan waktu tiga puluh menit,” kata dosen wanita itu, membuat semua mahasiswa terkejut. “Apa? Tiga puluh menit?” protes Delia. Semua mahasiswa langsung menoleh saat mendengar suara Delia. Gadis itu adalah salah satu mahasiswi yang tadi menatap Alea dengan sinis. Ia merasa waktu tiga puluh menit terlalu singkat. “Katakan, Delia. Apakah kamu merasa waktu tiga puluh menit itu kurang?” tanya dosen wanita itu. “Tentu saja, Bu. Biasanya membuat kue memakan waktu satu sampai dua jam,” jelas Delia tanpa mengetahui maksud sebenarnya dari dosen tersebut. Alea merasa heran. Beberapa mahasiswa lainnya bahkan terkekeh mendengar ucapan Delia. “Kue apa yang dimasak sampai membutuhkan waktu satu atau dua jam?” bisik seorang mahasiswa. “Iya, ya. Aku juga bingung kue apa yang butuh waktu selama itu,” bisik mahasiswa lainnya. Bisikan-bisikan itu terdengar oleh Alea. Memang benar seperti yang mereka katakan. Kue apa yang membutuhkan waktu selama itu? Bahkan waktu tiga puluh menit saja sudah lebih dari cukup. “Sebenarnya, kue apa yang ingin kamu buat sampai waktu tiga puluh menit terasa sangat kurang untukmu, Delia?” tanya dosen wanita itu kembali. Delia terdiam. Ia terlihat sedikit bingung untuk menjawab. Namun, ia berusaha tetap menjawab agar tidak mempermalukan dirinya sendiri. “Mau membuat kue apa pun, yang jelas kita membutuhkan usaha untuk penampilan kue yang bagus, Bu. Dengan tingkat kematangan yang sempurna, sehingga kue tersebut memiliki rasa khas yang sangat enak,” jelas Delia dengan bangga. Dosen itu tersenyum saat mendengar penjelasan Delia. Lalu, ia kembali berbicara dan memberikan penjelasan. “Tidak ada yang benar-benar jelas dari ucapanmu, Delia. Namun, waktu tiga puluh menit itu sudah sangat cukup untuk membuat sebuah kue. Ibu tidak menyuruh kalian membuat kue dengan tampilan yang sempurna. Yang Ibu nilai adalah kue yang enak dipandang, memiliki rasa khas yang enak, serta aroma yang menggugah selera,” jelas dosen wanita itu. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari mulut Delia. Hal itu dianggap sebagai tanda bahwa ia telah setuju. “Tidak ada lagi, bukan?” tanya dosen itu. Namun, yang menjawab hanyalah keheningan. “Baiklah, sekarang kalian boleh mulai membuat kue favorit kalian,” sambung dosen tersebut. Suasana yang tadinya hening kini kembali ramai. Para mahasiswa mulai sibuk dengan bahan masing-masing. Begitu juga dengan Alea. Dengan gerakan cekatan, ia mengambil bahan satu per satu dan mulai menggabungkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD