Bertingkah Aneh

1082 Words
“Alea,” panggil Robby saat melihat Alea menaiki tangga. Alea langsung menoleh ketika namanya dipanggil. Ia berhenti dan menunggu Robby yang berlari ke arahnya. “Dua hari lalu kamu ke mana saja?” tanya Robby saat sudah tiba di hadapannya. “Aku sakit,” jawab Alea dengan cepat. “Apa?” Robby tampak terkejut. “Kamu sakit?” ulangnya. Alea mengangguk sambil tersenyum kecil. “Kenapa nggak bilang?” tanya Robby, membuat Alea sedikit bingung. “Kenapa aku harus bilang?” tanya Alea dengan wajah bingung. Seketika Robby terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Alea memiringkan kepalanya, menunggu jawaban Robby. “Kenapa diam?” tanya Alea kembali, membuat Robby menoleh. “T-tidak apa-apa, sudah,” jawabnya dengan nada gugup. “Kamu benar-benar aneh, Robby,” ucap Alea dengan jujur. Robby mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdebar. Entah mengapa, dia begitu khawatir saat mendengar Alea sakit. Untuk mengalihkan suasana, Robby pun berkata, “Ayo kita masuk.” ajak Robby. Alea mengangguk. Mereka melangkahkan kaki menuju pintu lobi universitas. Baru beberapa meter berjalan, langkah mereka terhenti saat seseorang memanggil Alea. “Alea,” panggil seorang laki-laki. “E-eh, iya,” ucap Alea saat namanya dipanggil. Laki-laki itu mendekat ketika melihat Alea berhenti. “Kamu Alea, kan?” tanyanya saat tiba di hadapannya. “I-iya, Kak. Saya Alea,” jawab Alea dengan gugup. “Oke. Aku cuma mau memberikan kartu ini kepadamu. Soalnya kemarin kamu tidak masuk setelah ospek. Hanya namamu yang di daftar belum mendapatkannya,” ucap laki-laki itu sambil menyodorkan kartu. “O-oh, terima kasih, Kak. Kemarin saya sakit,” jawab Alea sambil langsung mengambil kartu itu. “Iya, sudah tahu kok. Ada kakakmu yang datang ke sini, mengantarkan surat dari dokter,” jelas laki-laki itu. Alea terdiam. Bagaimana bisa Raka begitu peduli kepadanya? Sementara itu, Robby yang berdiri di sampingnya merasakan sedikit rasa cemburu saat melihat Alea bersama laki-laki tersebut. “Oh iya, aku Bagas. Ketua BEM yang mengurus ospek kemarin,” ucap Bagas kepada Alea. “I-iya, terima kasih banyak, Kak,” jawab Alea, yang benar-benar tidak memahami situasi saat ini. Tiba-tiba. “Alea, kamu tidak masuk kelas? Lihat jam, sudah menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh,” ucap Robby, memecahkan suasana. Alea dan Bagas langsung menoleh ke arah Robby. Terlihat jelas wajah Robby begitu kesal. “K-kalau begitu, saya permisi dulu, Kak. Masuk kelas,” ucap Alea dengan sopan. “Baiklah, semangat. Aku juga mau masuk kelas kok,” jawab Bagas dengan wajah tersenyum. Hal itu semakin membuat Robby merasa kesal saat melihat Bagas tersenyum kepada Alea. Tak lama kemudian, Bagas berpamitan dan pergi meninggalkan mereka berdua. Robby hanya bisa menghela napas. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya saat ini. Alea menoleh dan berbicara kepada Robby. “Kalau begitu, aku masuk dulu ya. Kita bertemu lagi saat waktu istirahat,” ucap Alea kepada Robby. “Hm,” dehem Robby. Seketika Alea terdiam. Ia menatap Robby dengan lekat. Terlihat jelas wajah Robby sedang bad mood. Namun, Alea tidak memahami apa yang sebenarnya terjadi pada Robby. “Robby?” panggil Alea, membuat laki-laki itu menoleh. “Apa?” jawabnya dengan ketus. “Kamu kenapa?” tanya Alea. Robby kembali menghela napas. Lalu, ia memutar tubuh Alea dan berkata, “Sudah, masuk kelas sana. Nanti, saat istirahat aku jemput,” ucap Robby sambil mendorong Alea dengan pelan. Alea mengangguk, lalu melangkah ke depan meninggalkan laki-laki itu. “Sebenarnya kenapa sih Robby?” gumam Alea dengan perasaan bingung.“Tadi Kak Raka, dan sekarang malah Robby. Sikap mereka benar-benar aneh,” sambungnya. Beberapa menit kemudian, Alea tiba di kelasnya. Yang tadinya ramai, kini mendadak menjadi hening saat kedatangannya. Alea merasa bingung. Ia mencoba tersenyum, lalu melangkahkan kakinya masuk menuju kursi paling belakang. Saat Alea melewati salah satu gadis seusianya, ia tidak sengaja mendengar bisikan dari gadis lain. “Itu dia yang sok kecantikan. Dia tadi ngobrol sama Kak Bagas di depan lobi kampus,” bisik gadis tersebut. Alea membeku saat mendengar bisikan yang tanpa sengaja tertangkap telinganya. Namun, ia sadar bahwa bisikan itu memang sengaja dilontarkan agar terdengar olehnya. Alea menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju kursinya. Begitu Alea tiba dan duduk, gadis yang dibisikkan oleh temannya tadi langsung menoleh ke belakang dan menatap Alea. “H-hubungan? M-maksud kamu?” tanya Alea dengan wajah bingung. “Jangan sok kebingungan begitu. Aku tanya, hubunganmu dengan Kak Bagas apa?” tanya gadis itu dengan nada menekan. Belum sempat Alea menjawab, tiba-tiba suara Robby memanggil namanya dan langsung memecah suasana tersebut. “Alea!” panggil Robby. Seketika, mereka semua menoleh ke arah sumber suara itu. Ketiga gadis itu langsung membalikkan badan saat melihat Robby berdiri di depan kelas. “Pergi, pergi,” bisik salah satu dari mereka. Sementara itu, gadis yang tadi menanyai Alea tampak kesal karena belum mendapatkan jawaban. Ia pun segera membalikkan badan dan pergi bersama kedua temannya. Sesampainya di depan kelas, tatapan Robby menajam ke arah mereka bertiga. Sementara Alea hanya terdiam. Ia benar-benar tidak mengerti ada apa dengan ketiga gadis itu. “Mau sampai kapan kamu berdiam di sana, Alea?” tanya Robby, membuat Alea tersadar. “E-eh, iya,” ucap Alea sambil berdiri, lalu melangkah menuju Robby. Saat Alea tiba di hadapan Robby. “Siapa ketiga gadis itu?” tanya Robby. “Teman sekelasku, tapi aku tidak tahu nama mereka,” jawab Alea dengan jujur. “Ada hubungan apa kamu dengan mereka? Apa kamu dibully?” tanya Robby kembali. “Eh?” Alea terkejut. “Mereka tidak membullyku. Kamu ini sembarangan bicara,” sambungnya. Tatapan Robby terasa begitu aneh hingga membuat Alea sedikit gugup. “Ayo pergi,” ucap Robby kepada Alea. Alea hanya menganggukkan kepalanya, lalu mengikuti langkah kaki Robby. Sesekali Alea menoleh ke arah Robby. Raut wajah Robby terlihat sangat datar tanpa ekspresi, membuat Alea semakin kebingungan. Tingkah Robby hari ini benar-benar terasa aneh. Robby yang menyadari bahwa Alea terus menatapnya akhirnya membuka suara. “Ada apa di wajahku sampai-sampai kamu menatapku seperti itu?” tanya Robby tanpa menoleh. “E-eh, i-itu” Alea tergagap gugup. Langkah kaki Robby berhenti, Alea pun ikut berhenti. Robby lalu menoleh dan menatap Alea yang berdiri di sampingnya. “Apa?” tanya Robby karena merasa penasaran. Tanpa basa-basi lagi, Alea akhirnya mengatakannya secara langsung. “Kamu bertingkah aneh hari ini, Robby,” ucap Alea, membuat laki-laki itu mengerutkan kening. “Maksudmu?” tanyanya dengan bingung. “Intinya, kamu hari ini benar-benar aneh, Robby. Kamu membuatku jadi kebingungan,” kata Alea dengan jujur. Robby hanya diam, ternyata begitu jelas ya tingkahnya sangat aneh, di lihat oleh Alea saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD