Cemburu

1087 Words
“Alea, ayo sarapan. Nanti kamu telat,” teriak Ratna yang sedang menata sarapan di atas meja. “Iya, Bu,” sahut Alea yang sudah mulai turun. Alea berlari menuruni tangga. Saat tiba di lantai satu, dia melangkah ke arah dapur. Di sana sudah ada Ratna, Ardian, dan Raka. Tatapan kedua pria itu tertuju pada Alea saat dia tiba. “Ayo cepat sarapan,” ucap Ratna kepada putrinya. “Baik, Bu,” jawab Alea sambil duduk. Ratna langsung mengambilkan sarapan untuk Alea karena hanya dia yang datang terlambat. Pandangan Raka tak pernah lepas dari Alea. Hal itu membuat gadis itu menatap Raka dan tersenyum. Seketika, Raka langsung mengalihkan pandangannya. Jantungnya berdebar kencang saat Alea tersenyum kepadanya. “Hari ini kamu sudah benar-benar mulai kuliah?” tanya Ardian kepada Alea. “Iya, Ayah. Sebenarnya dari kemarin setelah selesai ospek. Karena Alea sakit, jadinya hari ini Alea baru masuk,” jelas Alea sambil menyantap sarapannya. “Belajar yang baik, dan jaga kesehatanmu. Kalau sudah merasa lelah, istirahat, jangan dipaksakan,” ucap Ardian dengan penuh perhatian. “Baik, Ayah.” Beberapa menit kemudian. “Alea sudah selesai, Bu,” ucapnya sambil mengelap mulutnya. “Kalau begitu, Alea berangkat dulu, Bu,” sambungnya sambil berdiri hingga Raka pun ikut berdiri. “Aku akan mengantarmu,” ucap Raka, membuat Alea terkejut. “E-eh,” Alea terkejut. “Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri,” jelas Alea. “Aku menunggu di mobil,” kata Raka lalu pergi begitu saja. Alea memasang wajah kebingungan. Dia menatap punggung Raka yang meninggalkan ruang makan itu. Lalu Ardian membuka suaranya, membuat Alea hanya bisa mengangguk. “Biarkan kakakmu mengantarmu, Alea,” ucap Ardian yang baru saja selesai sarapan. Alea menghela napas, lalu mengangguk. Dia berjalan mengarah ke Ratna, lalu mencium tangan dan pipi Ratna. Alea kemudian berjalan ke arah Ardian yang sedang duduk. Dia mencium tangan Ardian, lalu Ardian mencium pipi Alea, menandakan kasih sayang yang selama ini tidak pernah Alea rasakan. Alea pun pergi meninggalkan ruang makan itu. Namun, satu hal membuat Ratna teringat setelah Alea sudah pergi menjauh. “Astaga, Mas,” ucap Ratna sambil menepuk jidatnya. “Ada apa, Sayang?” tanya Ardian. “Mas, saya kelupaan mengatakan kepada Alea bahwa hari ini kita akan kembali, Mas.” “Kita pergi saat Alea pulang dari kuliah saja,” ucap Ardian sambil meminum kopinya. “Tapi, bagaimana dengan pekerjaan Mas?” tanya Ratna dengan wajah sedikit khawatir. “Masih bisa di-handle tangan kanan saya. Jadi, kita bisa menunggu Alea pulang kuliah,” jawab Ardian dengan tenang. Ratna menghela napas, lalu mengangguk. Di sisi lain, Alea sudah berada di dalam mobil. Dia memasang sabuk pengamannya. Namun, pandangan Raka tidak terlepas dari Alea. Hari ini, Alea terlihat sangat cantik dan imut. Bahkan, parfum yang digunakan Alea benar-benar menguji kesabaran Raka. Ada perasaan aneh yang muncul dalam benaknya. Seketika saja, Raka mencairkan suasana hening itu. “Kau ingin pergi kuliah atau memikat para laki-laki di sana?” tanyanya dengan nada mulai cemburu. Alea langsung menoleh saat mendengar pertanyaan itu. “Apa maksud kakak?” tanya Alea dengan wajah bingung. “Pakaian dan parfummu,” jawab Raka dengan cepat. Alea langsung melihat ke arah pakaiannya. Namun, tidak ada yang aneh. Lalu, dia mencium aroma parfum yang melekat di kemejanya. “Tidak ada yang aneh,” gumamnya, membuat pria di sampingnya terus menatap. “Bahkan, aku menggunakan pakaian yang sopan dan tertutup. Lalu, parfumnya juga aromanya kalem, kok. Tidak ada hal yang aneh,” sambungnya. Raka menghela napasnya. Dia terlihat sangat kesal. Memalingkan wajahnya justru membuat Alea semakin bingung. “Kakak kenapa?” tanya Alea. “Tidak apa-apa,” jawab Raka dengan cepat, namun ketus. Alea mengerutkan keningnya. Perasaannya mengatakan bahwa hampir dua minggu ini sikap Raka benar-benar berubah. Raka yang sudah mengalihkan pandangannya kini menyalakan mesin mobil dan mulai melaju. Sementara itu, Alea hanya menggelengkan kepalanya karena memang tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada Raka. Sepanjang perjalanan, suasana menjadi hening. Tak lama kemudian, Raka mencairkan suasana itu. “Jangan dekat dengan laki-laki siapa pun yang ada di kampus sana. Termasuk laki-laki yang waktu itu,” ucap Raka tanpa menoleh. Alea menoleh. Dia merasa bingung dengan maksud Raka. “Laki-laki waktu itu?” ulang Alea dengan wajah bingung. “Siapa, Kak?” tanyanya. “Waktu di depan gerbang rumah,” jawab Raka dengan cepat. “Oh, Robby?” sahut Alea dengan cepat. Raka menoleh dengan tatapan penuh cemburu. Namun, Alea sama sekali tidak menyadari hal itu. “Ada apa dengan Robby? Dia kan temanku, wajar saja kalau aku dekat dengannya,” ucap Alea tanpa menyadari situasinya. “Aku bilang jangan, ya jangan, Alea!” bentak Raka, membuat Alea mengerutkan keningnya. “Kakak kenapa sih?” tanya Alea dengan nada kesal dan sedikit meninggi. “Jangan meninggikan suaramu, Alea,” tegur Raka. “Habisnya Kakak aneh sekali. Tiba-tiba saja mengaturku seperti itu.” “Aku hanya—” ucapan Raka terpotong, lalu dia langsung terdiam. Alea semakin bingung dibuatnya. Tak berapa menit kemudian, mereka telah tiba di universitas. Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang. Saat Alea membuka sabuk pengamannya, Raka kembali mengingatkannya. “Ingat, Alea. Jangan dekat dengan laki-laki lain, termasuk teman laki-lakimu itu,” ucap Raka dengan nada memerintah. Alea menarik napas, lalu menghembuskannya dengan kasar. “Aku tidak janji,” jawab Alea, membuat Raka marah. “Alea!” bentak Raka. “Kenapa sih, Kak? Dia cuma temanku. Masa iya Kakak menyuruhku tidak punya teman?” keluh Alea. “Bertemanlah dengan gadis seusiamu saja,” sahut Raka. “Tidak mau,” jawab Alea dengan cepat. “Kenapa?” tanya Raka dengan ekspresi yang sulit diartikan. “Karena kalau berteman dengan gadis seusiaku mereka akan lebih mengutamakan penampilan. Bahkan, mereka bisa iri kalau ada gadis yang terlihat lebih cantik dari mereka,” jelas Alea dengan nada sedikit sedih. Raka terdiam. Perasaan bersalah muncul di dalam dirinya. Namun, dia tidak bisa menahan rasa cemburu yang bergelora di hatinya. “Kau cantik, bahkan sangat cantik, hari ini Alea.” ucap Raka tiba-tiba. Alea langsung menoleh menatap Raka. Tatapannya penuh keterkejutan. Ucapan itu membuat Alea tidak habis pikir tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Raka. Alea menghela napas, lalu membuka pintu mobil dan menurunkan satu kakinya. “Sudahlah, aku akan masuk sekarang, Kak,” ucap Alea sambil turun. “Satu kali lagi, ingat kata-kataku, Alea,” ujar Raka. Namun Alea tidak mendengarkannya. Ia sudah sepenuhnya turun dari mobil, lalu menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara keras. BRAK! Raka mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak karena kesal, terlebih Alea sama sekali tidak menjawab ucapannya. “Ah, sial!” gerutunya dengan nada tertahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD