Menghindar

1210 Words
“Alea,” kata Ratna dengan wajah khawatir. “Ibu,” sahut Alea dengan wajah terkejut. Alea benar-benar terkejut melihat Ratna dan Ardian datang. Saat itu, ia sedang duduk sendirian di ruang tengah. “Ibu dan Ayah, kenapa tidak memberi kabar kalau mau ke sini?” tanya Alea. “Apa maksudmu, Alea?” tanya Ratna sambil duduk di samping Alea. “Ayah dan Ibu sudah memberi kabar kepada kakakmu. Apa dia tidak mengatakannya?” Ardian ikut bersuara. “Eh?” Alea terdiam. Raka sama sekali tidak mengatakan apa pun kepadanya. Setelah Alea keluar dari kamar mandi, Raka sudah tidak ada di kamar, hingga sekarang. Alea juga tidak tahu Raka berada di mana. “Bagaimana keadaanmu, sayang?” tanya Ratna kepada Alea. “Kata kakakmu, kemarin kamu demam tinggi?” ujar Ardian yang masih berdiri di depan mereka. “Ibu, Ayah, Alea sudah baik-baik saja, kok. Selama Alea sakit, kakak yang merawat Alea sampai sembuh,” jelas Alea. “Syukurlah. Ibu dan Ayah sangat khawatir saat mendapatkan kabar dari kakakmu bahwa kamu sedang sakit,” sahut Ratna sambil menatap putrinya. “Ibu dan Ayah tidak sibuk datang ke sini?” tanya Alea kepada mereka berdua. Ratna menarik tangan Alea, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. “Sayang, sesibuk apa pun kami berdua, kalau mendengar kamu sakit, Ibu dan Ayah pasti khawatir. Lagipula, kenapa juga Raka baru memberi kabar hari ini? Saat kamu sakit kemarin, dia tidak mengatakan apa pun kepada kami,” jelas Ratna. Alea terdiam. Ia juga tidak tahu kenapa Raka baru memberi kabar saat Alea sudah sembuh. Perasaan penasaran mulai menghantui dirinya. “Di mana kakakmu?” tanya Ardian kepada Alea. Alea menatap Ardian, lalu menjawab, “Alea tidak tahu, Ayah. Saat Alea keluar dari kamar mandi tadi, kakak sudah tidak ada di kamarnya,” jelas Alea. Tiba-tiba, “Ayah dan Ibu sudah datang?” tanya Raka yang mendadak muncul. Alea langsung menoleh. Saat mata mereka bertemu, Raka segera mengalihkan pandangannya. Hal itu membuat Alea membelalak dan terkejut dengan sikap Raka. Dalam hati Alea. “Apa hanya perasaanku saja, ya? Sepertinya Kak Raka menghindari tatapanku,” gumamnya. Suasana terasa berbeda. Tatapan Alea masih tertuju pada Raka. Namun, pria itu sama sekali tidak membalas tatapannya, hingga membuat gadis itu merasa penasaran. “Kamu dari mana, Raka?” tanya Ardian kepada Raka. “Dari ruang kerja, Yah,” jawab Raka dengan cepat. “Oh, bagaimana dengan proyekmu?” tanya Ardian kembali. “Lancar semuanya, Ayah. Besok aku harus turun ke lapangan untuk melihat bagaimana perkembangan pembangunannya,” jelas Raka tanpa menoleh ke arah Alea. “Ibu dan Ayah tidak sibuk?” tanya Raka. “Sesibuk apa pun kami, kalau sudah mendapat kabar, pasti akan kemari,” jawab Ratna sambil mengelus punggung tangan Alea. Raka terdiam sejenak, lalu kembali bertanya. “Lalu, siapa yang mengurus toko kue Ibu?” tanya Raka lagi. “Bukankah akhir-akhir ini toko Ibu sangat ramai?” sambungnya. “Ada karyawan Ibu yang mengurus semuanya. Sebelum kemari, Ibu sudah menyiapkan stok bahan agar mereka bisa membuat pesanan,” jelas Ratna. “Ibumu sudah mengatur semuanya, Raka. Jadi, kami akan menginap di sini selama beberapa hari,” sambung Ardian. “Baiklah. Aku akan menyuruh Bibi untuk membersihkan kamar utama untuk Ayah dan Ibu,” kata Raka, yang diangguki Ratna dan Ardian. Sementara itu, Alea benar-benar tidak mengerti. Ada apa sebenarnya dengan Raka? Sejak tadi, pria itu terus menghindari tatapannya. ** Saat malam mulai turun, waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Alea yang sudah selesai membersihkan diri berniat pergi ke dapur untuk mengambil sesuatu. Saat melangkahkan kakinya menuruni tangga, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Raka. “Kakak,” panggil Alea sambil melangkah cepat. Raka terkejut, lalu pandangannya beralih ke arah Alea yang sedang menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Tanpa disadari Alea, Raka langsung pergi meninggalkannya, hingga membuat Alea merasa kebingungan. “Kakak, tunggu dulu,” teriak Alea saat melihat Raka pergi. Saat kakinya tiba di lantai satu, Alea dengan cepat berlari menyusul Raka yang telah lebih dulu melangkah pergi. “Ah, Kakak berhenti!” teriak Alea saat ia sudah menggapai Raka. Langkah Raka terhenti ketika ia merasakan ujung bajunya ditarik oleh Alea. Namun, perasaan aneh itu kembali muncul di dalam dirinya, hingga membuatnya sangat ingin segera pergi. “Lepas,” kata Raka dengan dingin. “Tidak mau,” jawab Alea dengan cepat. “Alea, cepat lepaskan,” kata Raka kembali, namun nadanya sedikit meninggi. “Aku bilang tidak mau, ya tidak mau, Kakak!” balas Alea dengan nada membentak. Raka akhirnya membalikkan badannya, dan mata mereka pun bertemu. Wajah Alea tampak cemberut karena kesal. Sejak siang tadi, sepertinya Raka memang sengaja menghindarinya. Jantung Raka berdebar sangat kencang saat menatap wajah Alea. Namun, ia berusaha mengontrol dirinya. Raka menarik napasnya dalam-dalam, lalu kembali berbicara. “Katakan, apa yang ingin kamu bicarakan sampai menahanku seperti ini?” tanya Raka dengan nada yang tetap terkontrol. Alea menatap Raka dengan lekat. Wajahnya tampak kesal saat ia akhirnya berbicara. “Kakak kenapa hari ini sepertinya menghindariku?” tanya Alea. “Aku tidak menghindarimu,” jawab Raka dengan cepat. “Bohong,” ucap Alea sambil sedikit mendekat. “Sejak aku keluar dari kamar mandi, Kakak sudah tidak ada. Lalu tadi, saat berbicara dengan Ayah dan Ibu, Kakak juga terus mengalihkan pandangan dariku,” sambungnya. Raka terdiam. Bagaimana mungkin gadis di hadapannya tidak menyadari efek ketika ia mengenakan kemejanya tadi. Rasa hasrat menjalar ke seluruh tubuh Raka. Namun, Alea benar-benar tidak memahami bahwa alasan Raka menghindarinya adalah karena hal itu. “Aku harus pergi,” ucap Raka sambil membalikkan badannya. Alea kembali menarik ujung baju Raka, membuat pria itu mengendus kesal. “Alea, lepaskan,” bentak Raka. “Kita belum selesai bicara, Kak,” sahut Alea dengan cepat. “Apa lagi yang ingin kamu bicarakan, Alea? Aku sedang banyak pekerjaan,” ucap Raka dengan tatapan yang sulit dimengerti. Alea menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan. “Kenapa Kakak menghindariku?” tanya Alea kembali. “Sudah aku katakan, Alea. Aku tidak menghindarimu,” jawab Raka dengan tegas. “Kakak bohong. Aku melihatnya sendiri. Hari ini Kakak benar-benar menghindariku,” kata Alea yang tidak mau kalah. Suasana menjadi hening ketika Raka hanya terdiam. Alea masih menatap Raka dengan wajah cemberut karena ia tidak mengerti mengapa Raka menghindarinya. Lalu, suasana itu kembali mencair saat suara Ardian terdengar. “Raka, Alea. Apa yang sedang kalian lakukan berdiri di sana?” tanya Ardian sambil menatap ke arah kedua anaknya. Raka dan Alea menoleh, namun genggaman Alea pada baju Raka masih belum terlepas. “Tidak ada, Ayah,” jawab Raka dengan cepat. Alea langsung menoleh dan menatap Raka ketika mendengar jawabannya. Ardian melangkah mendekat ke arah mereka berdua, lalu kembali berbicara. “Ayah dan Ibu berencana mengajak kalian makan di luar malam ini,” ucap Ardian. “Baiklah, kalau begitu aku siap-siap dulu,” jawab Raka. Ia kemudian melepaskan tangan Alea dari bajunya dan pergi begitu saja. Alea hanya terdiam, menatap punggung Raka yang menjauh, padahal pembicaraan mereka belum selesai. Kini Ardian menatap Alea yang masih berdiri diam, dengan pandangan yang masih tertuju ke arah Raka. “Kamu tidak ganti baju?” tanya Ardian kepada Alea. “Eh?” Alea terkejut, lalu segera mengalihkan pandangannya. “Iya, Ayah. Alea mau pergi ganti baju,” sambungnya. Ardian hanya mengembuskan napas pelan melihat tingkah Raka dan Alea. Ia mulai curiga bahwa pasti ada sesuatu di antara mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD