Kemeja Kebesaran

839 Words
"Ah, badanku, semuanya terasa sangat sakit," gumam Alea sambil mencoba meregangkan otot-ototnya. Alea membuka matanya lalu duduk. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan, merasa tempat itu sangat berbeda dari kamarnya. "Ini bukan kamarku, sepertinya," gumam Alea kembali. Tak lama kemudian, suara pintu terbuka membuat Alea menoleh. “Kau sudah bangun?” tanya Raka sambil berjalan mendekat. Ia membawa nampan berisi sarapan untuk Alea. Ada bubur, buah, serta s**u hangat. “Kak, ini kamar Kakak?” tanya Alea. “Iya, ini kamarku,” jawab Raka setelah tiba di dekat Alea. “Bagaimana keadaanmu?” sambungnya sambil menyentuh dahi Alea. Alea hanya diam saat Raka menyentuh dahinya. “Tidak demam lagi,” ucap Raka. Alea merasa heran dengan sikap Raka. Begitu lembut, padahal biasanya ia sering marah-marah. Karena penasaran, Alea kembali bertanya kepada Raka. “Kenapa Kakak membawaku ke kamar Kakak?” tanya Alea dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Raka mengambil mangkuk bubur itu, lalu mengaduknya pelan sebelum menjawab. “Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di kamarmu dalam kondisi demam tinggi seperti itu,” jawabnya sambil meniup bubur tersebut. “Bukannya waktu itu Kakak pernah bilang bahwa aku tidak boleh masuk ke kamar Kakak tanpa izin?” ucap Alea asal saja. Raka terdiam. Pandangannya lalu beralih ke arah Alea. “Situasinya berbeda,” jawabnya singkat namun dingin. “Jangan banyak tanya, sekarang makan dulu buburmu,” sambungnya. Alea mengendus kesal. Tadi begitu lembut, namun kini Raka kembali bersikap dingin. Saat Alea hendak mengambil mangkuk dari tangan Raka, pria itu justru menahannya. “Biar aku saja yang menyuapi,” kata Raka, membuat Alea membelalak. “Kak, aku sudah sembuh. Jadi biarkan aku makan sendiri saja,” ucap Alea mencoba membujuk Raka. Namun, Raka tidak menghiraukannya. Ia menyorongkan sendok berisi bubur ke arah mulut Alea. “Buka mulutmu sekarang,” ucapnya dengan nada memaksa. Alea menghela napas. Mau tidak mau, ia membuka mulutnya dan memakan bubur itu. “Hambar,” kata Alea saat memakannya. “Sengaja, tidak aku beri penyedap,” jawab Raka, lalu kembali menyorongkan sendok ke mulut Alea. Ingin rasanya Alea protes, namun ia tidak berani. Jadinya, ia hanya menurut dan memakan setiap suapan yang diberikan oleh Raka. Beberapa menit kemudian, Alea sudah merasa kenyang, namun di mangkuk masih tersisa setengah. “Kak, aku sudah kenyang,” ucap Alea sambil menutup mulutnya karena hampir muntah. “Habiskan,” sahut Raka sambil kembali menyorongkan sendok itu. “Huek!” Alea benar-benar hampir muntah karena terlalu kenyang. Ia menggelengkan kepalanya sambil menutup mulutnya. Namun, tanpa bisa ditahan lagi, akhirnya Alea muntah karena perutnya benar-benar sudah penuh. Melihat Alea muntah, Raka dengan cepat mengambil tisu dan membersihkan tangan Alea yang kotor. Piyama Alea kotor karena muntah itu. Raka membersihkan tangan Alea yang terkena muntah. Tidak ada raut jijik ataupun kata jorok darinya. “Bersihkan dirimu sana,” ucap Raka kepada Alea. “Ini kan semua gara-gara Kakak. Aku sudah bilang kenyang,” jawab Alea dengan wajah cemberut. “Jangan protes. Bangun sana dan bersihkan dirimu. Aku ingin membersihkan tempat tidurku,” balas Raka. Alea menganggukkan kepalanya. Lalu, ia menurunkan kakinya hingga menginjak lantai. Ia melangkah menuju kamar mandi. Untuk pertama kalinya, Alea mandi di kamar mandi Raka. Alea sudah masuk ke kamar mandi. Sementara itu, Raka membersihkan tempat tidurnya karena terkena muntahan Alea. Ia melepas seprai, lalu menaruhnya ke dalam keranjang pakaian kotor. Setelah itu, Raka berjalan menuju rak kecil di samping pintu kamarnya. Ia membukanya dan mengambil seprai baru. Lalu, ia kembali ke tempat tidur dan mulai mengganti seprai tersebut. Di pikirannya, Alea pasti akan berbaring lagi setelah selesai mandi. Karena itu, ia menggantinya. Sepuluh menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Alea keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kemeja Raka. Kemeja itu tampak kebesaran di tubuh Alea, tanpa bawahan yang terlihat. Raka yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ponselnya kemudian mengalihkan pandangannya. Tatapan Raka terpaku saat melihat Alea mengenakan kemejanya. “Itu kemejaku. Kenapa bisa ada di badanmu?” tanyanya dengan nada tertahan. “Habisnya tidak ada pakaian lain selain kemeja kakak,” jawab Alea dengan wajah sedikit merasa bersalah. Raka memijat batang hidungnya. Ada satu perasaan aneh di dalam dirinya. Ia merasa tergoda melihat kemejanya dipakai oleh Alea. Raka mencoba menahan perasaan itu, lalu mengalihkan pandangannya dari Alea untuk menghindari kontak mata. “Ganti, atau aku yang akan melepaskannya secara paksa,” ucap Raka sambil tetap menghindari tatapan Alea. “T-tapi, tidak ada pakaian lain lagi di sana, Kak,” jawab Alea dengan cepat. “Masuk ke kamar mandi sekarang,” bentak Raka, membuat Alea cemberut. Alea mengendus kesal, lalu membalikkan badannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Raka yang benar-benar sudah tergoda oleh Alea membuatnya harus menahan perasaannya dengan susah payah. Pandangan Raka tertuju ke arah pintu kamar mandi tempat Alea masuk. “Sadar, Raka. Dia adik tirimu,” gumam Raka, menegaskan pada dirinya sendiri. Raka bangkit dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu kamarnya dan keluar. Pikirannya masih terpaku pada Alea yang tadi mengenakan kemejanya. “Ah, sial!” gumam Raka dengan kesal. Rasa hasrat itu menjalar ke seluruh tubuhnya, membuatnya semakin kesal dan marah pada dirinya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD