Demam Tengah Malam

1130 Words
“Alea, ingat. Selesai kuliah, hubungi aku. Jangan pulang bersama laki-laki itu,” ucap Raka dengan tegas. Alea mengangguk tanpa menjawab, lalu turun dari mobil. Matanya tampak sedikit merah karena kurang tidur. Dalam pikirannya, terlintas sosok Raka yang kini terasa begitu berbeda. Ia melangkahkan kakinya menuju gerbang masuk universitas dengan raut wajah yang terlihat sangat lelah. Setelah memastikan Alea masuk ke area kampus, Raka menyalakan mesin mobilnya dan pergi. Alea menaiki anak tangga dengan perlahan. Tubuhnya sedikit lemas, tetapi ia berusaha menahannya. Hari ini adalah hari terakhir ia mengikuti ospek. Saat ia telah sampai di atas, terdengar seseorang memanggil namanya, membuat langkahnya terhenti. “Alea,” panggil Robby. Alea membalikkan badannya dan tersenyum menatap Robby. “Robby.” Robby telah berdiri di hadapan Alea. Namun, ia mengerutkan kening saat melihat wajah Alea yang pucat. “Alea, wajahmu pucat. Apa kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan nada khawatir. Alea refleks memegangi wajahnya setelah mendengar ucapan Robby. “Eh, aku baik-baik saja, kok. Hanya saja, aku kurang tidur tadi malam.” “Kamu yakin, Alea?” tanyanya kembali dengan nada memastikan. “Yakin, Robby. Aku baik-baik saja, oke?” jawab Alea. Robby menghela napasnya. Rasa khawatir menjalar ke seluruh tubuhnya. Namun, ia tidak ingin memaksa Alea. Hanya satu hal yang terus mengganggu pikirannya, kejadian kemarin membuatnya benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang. “Alea,” panggil Robby kembali. “Iya, Rob. Ada apa?” Robby menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan sambil menatap Alea. “Siapa pria kemarin yang menarikmu begitu kasar?” tanyanya dengan hati-hati. Alea terdiam. Ternyata Robby melihat bagaimana sikap Raka kepadanya kemarin. “Alea?” panggil Robby kembali. “O-oh, itu kakakku,” jawab Alea. “Kakak?” ulang Robby. Alea mengangguk. “Bukannya kamu anak tunggal?” sambungnya. “Kakak tiriku,” jawab Alea singkat. Robby langsung terdiam. Kini ia tidak lagi heran dengan sikap pria yang disebut Alea sebagai kakak tirinya itu, yang begitu kasar terhadap Alea. Alea yang tidak menyadari perubahan ekspresi wajah Robby, langsung menarik tangan Robby untuk masuk. Kegiatan mereka akan segera dimulai. “Ayo masuk, nanti kalau telat kita akan dihukum,” ucap Alea sambil berjalan dan menggandeng tangan Robby. “Iya, ayo,” balas Robby dengan lembut. Mereka masuk ke lapangan. Saat tiba, para mahasiswa sudah mulai berbaris. Di depan mereka telah berdiri panitia ospek serta Ketua BEM. “Kita pisah di sini, ya. Aku akan ke sana. Kalau ada apa-apa, katakan saja kepadaku,” ucap Robby kepada Alea. Alea menganggukkan kepalanya. “Baiklah.” Mereka pun berpisah, masing-masing menuju barisan sesuai dengan jurusannya. Hingga ospek terakhir mereka di mulai. ** “Kenapa sore seperti ini kamu baru selesai? Biasanya siang sudah pulang,” tanya Raka saat Alea masuk ke dalam mobil. “Hari ini ospek terakhir, Kak. Aku juga tidak tahu kalau selesainya akan sampai sore begini,” jawab Alea dengan suara yang terdengar sangat lelah. Tatapan Raka fokus ke wajah Alea yang tampak sangat pucat. “Kamu sakit?” tanya Raka. “Tidak,” jawab Alea dengan cepat. “Lalu, kenapa wajahmu seperti mayat hidup?” Tanpa sadar, Alea langsung menatap spion mobil dari arah jendela. Dan ternyata, apa yang dikatakan Raka benar, wajahnya memang terlihat sangat pucat, seperti mayat hidup. “Mungkin hanya kelelahan saja,” ucap Alea sambil langsung mengalihkan pandangannya. “Lalu, aku juga sedang datang bulan. Jadi wajar saja wajahku pucat,” sambungnya. Raka tidak menjawab. Ia memalingkan wajahnya, lalu menyalakan mesin mobil. Mobil itu pun mulai melaju meninggalkan universitas. “Sampai di rumah, bersihkan dirimu. Setelah itu, istirahat,” ucap Raka dengan nada yang tidak ingin dibantah. “Baik, Kak.” Sebenarnya, Alea merasa heran dengan sikap Raka. Ini adalah pertama kalinya Raka bersikap perhatian kepadanya. Sepanjang perjalanan, Alea menyandarkan tubuhnya di kursi dengan mata terpejam. Tubuhnya terasa sangat aneh. Sementara itu, Raka sesekali melirik ke arah Alea, lalu kembali memusatkan pandangannya ke depan. Lima belas menit kemudian, mereka tiba di rumah. Mobil itu berhenti di halaman. Raka menoleh ke arah Alea yang masih memejamkan mata. Dengan hati-hati, ia membangunkan Alea. “Alea, kita sudah sampai,” ucapnya sambil menepuk pundak Alea. Alea bergerak pelan, lalu perlahan membuka matanya. Pandangannya sedikit kabur. Ia kembali memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. “Oh, sudah sampai, ya?” Alea membuka pintu mobil lalu turun perlahan. Kepalanya terasa pusing, namun ia mencoba menahannya. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu rumah. Saat tiba, ia pun masuk. Sementara itu, Raka masih berada di dalam mobil, memperhatikan Alea dari kejauhan. Ia merasa aneh melihat sikap Alea seperti itu. ** Pukul dua malam. Raka masih terjaga karena mengurus beberapa dokumen untuk pembangunan perusahaan baru. Ia keluar dari ruang kerjanya, berjalan menuju kamarnya sambil memegangi tengkuknya yang terasa berat akibat terlalu lama menunduk saat menggambar. Langkahnya terhenti di depan kamar Alea karena ia mendengar suara batuk. “Uhuk… uhuk…” Raka mendekat ke pintu kamar Alea, lalu mencoba mengetuknya. Tok. Tok. “Alea.” Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara batuk yang terus-menerus. Merasa khawatir, akhirnya Raka memegang kenop pintu dan masuk. Tatapannya menyapu Alea yang sedang berada di bawah selimut, dengan batuk yang tak kunjung berhenti. Raka melangkah mendekat ke arah Alea. Saat sudah dekat, ia melihat tubuh Alea menggigil. Ia pun mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Alea. Raka terkejut saat merasakan tubuh Alea yang begitu panas. “Dia demam tinggi,” gumam Raka sambil menatap Alea. “Bagaimana bisa dia tidak mengatakannya kepadaku?” Raka membalikkan badannya dan melangkah keluar. Beberapa menit kemudian, Raka kembali dengan membawa sebuah wadah berisi air serta kain. Serta kotak obat. Ia kembali mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur Alea. Raka kembali mencoba menyentuh kening Alea, panasnya masih sama seperti tadi. Kemudian, saat Alea merasakan sentuhan dingin, ia bergerak dan membuka matanya. “Kakak,” panggil Alea dengan suara lemah. “Jangan bergerak, badanmu panas sekali. Biarkan aku mengompresmu, atau aku ikut bersamamu,” ucap Raka dengan nada ketus, namun penuh kepedulian. “Buka mulutmu, minum obatnya,” ucap Raka sambil menyodorkan obat kepada Alea. Alea menganggukkan kepalanya. Dengan perlahan, ia bangun setengah dibantu oleh Raka. Lalu, ia mengambil obat dari tangan Raka dan meminumnya. Raka memberikan minuman kepada Alea. Setelah itu, Alea kembali berbaring. Tanpa perlawanan sama sekali. Lalu, Raka yang telah memeras kain itu menaruhnya di dahi Alea. Alea kembali menutup matanya, namun tak lama kemudian ia mengigau. “Jangan galak-galak, Kak Raka. Aku takut, tapi aku suka,” gumamnya sambil memegang tangan Raka yang sedang menahan kain itu. Raka tertegun dan terkejut saat mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Alea. Ia menatap wajah Alea yang pucat. Dengan mata terpejam, Alea tampak sangat tenang, tidak seperti sebelumnya. Raka yang biasanya cuek, kini diam-diam mulai peduli kepada Alea. Saat melihat Alea begitu rapuh, pertahanannya pun runtuh. Mungkin efek kelelahan yang membuat Alea menjadi seperti ini. Raka menggenggam tangan Alea sambil mengelus punggung tangannya perlahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD