“Di mana Alea? Biasanya dia sudah pulang jam segini,” gumam Raka sambil melihat jam di tangannya.
Raka pulang kerja lebih awal hari ini. Biasanya, pada jam seperti ini Alea sudah berada di rumah. Namun sekarang, ia tidak melihat Alea di mana pun di rumah itu.
Di sisi lain, di depan gerbang rumah, Alea sedang berbicara dengan seorang pria. Ia adalah Robby, teman Alea semasa sekolah dulu.
Mereka kembali bertemu ketika buku Alea tertinggal di tengah lapangan. Alea juga tidak menyangka bahwa Robby ternyata kuliah di universitas yang sama dengannya.
“Terima kasih ya, Robby. Berkat kamu, buku ini kembali kepadaku,” ucap Alea dengan wajah tersenyum.
“It’s okay, Alea,” jawab Robby.
Alea belum menyadari bahwa Raka sedang mencarinya. Begitu pula dengan Raka, ia tidak tahu bahwa Alea berada di depan gerbang rumah itu.
“Aku enggak menyangka bisa ketemu kamu di sini, Rob,” kata Alea.
“Aku juga,” jawab Robby cepat. “Awalnya aku kira bukan kamu, Alea, waktu melihatmu di lapangan tadi. Kupikir itu kembaranmu.”
“Haha, kamu tahu, kan, kalau aku anak tunggal? Mana mungkin punya kembaran,” balas Alea sambil tertawa kecil.
“Benar juga, sih,” ucap Robby sambil menatap Alea. “Oh iya, kamu ambil jurusan apa?” tanyanya.
“Tata Boga,” jawab Alea cepat. “Waktu sekolah dulu tidak ada jurusan Tata Boga, makanya saat kuliah ini aku mengambil jurusan itu,” sambungnya.
“Karena ibumu membuka toko kue, ya? Jadi kamu mengambil jurusan itu?”
Alea mengangguk, lalu menjawab.
“Benar. Waktu itu ibuku juga mengambil jurusan Tata Boga. Makanya dia bisa membuat kue seenak itu.”
Robby tersenyum melihat Alea yang sedang bercerita. Ia baru menyadari bahwa Alea adalah gadis yang baik. Saat sekolah dulu, Alea dikenal pendiam karena tidak memiliki banyak teman. Banyak orang menjauhinya, itulah sebabnya Robby dulu tidak berani mendekat.
Cerita itu semakin asyik tanpa mereka sadari. Waktu pun terus berjalan hingga menunjukkan pukul dua siang.
Awalnya, Raka hanya ingin mencari angin sambil menunggu Alea pulang. Namun, pandangannya tiba-tiba tertuju pada Alea yang berdiri di depan gerbang rumah.
Tanpa peringatan apa pun, Raka langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alea.
“Alea,” panggil Raka saat tiba di depan gerbang.
Tanpa memberi kesempatan, Raka langsung menarik tangan Alea. Tubuh Alea tersentak kaget dan refleks berbalik karena tarikan itu.
“Kakak,” ucap Alea lirih.
Sementara itu, Robby yang tidak langsung terlihat oleh Raka, hanya bisa terdiam kebingungan saat mendengar Alea memanggil pria itu dengan sebutan Kakak.
“Dari mana saja kamu, hah?” bentak Raka, membuat Alea kembali tersentak. “Jam segini baru pulang?” sambungnya dengan nada tinggi.
“Hah?” Alea terkejut, wajahnya terlihat bingung. “Aku sudah pulang dari tadi, Kak,” jawabnya.
“Jika kamu sudah pulang dari tadi, kenapa kamu tidak masuk ke rumah, hah? Malah berdiri di depan gerbang?” tanya Raka dengan nada menekan.
“Aku sedang berbicara dengan temanku, Kak,” jawab Alea pelan.
Raka yang semula tidak menyadari kehadiran orang lain, kini matanya menangkap sosok pria yang berdiri di belakang Alea. Tatapannya langsung menajam, menyapu pria itu tanpa ekspresi ramah sedikit pun.
Sementara Robby, merasa canggung, hanya mengangguk kecil sambil memberikan salam kepada Raka.
Namun Raka sama sekali tidak memedulikannya. Amarah dan rasa cemburu mulai berkobar di dadanya.
“Masuk,” ucap Raka singkat, penuh tekanan.
“Hah?” Alea menatapnya bingung.
“Aku bilang masuk, Alea,” bentak Raka.
“T-tapi, Kak, a-aku masih berbicara dengan tem—”
“Alea, masuk!” potong Raka tegas.
Alea langsung terdiam. Tubuhnya menegang, dadanya terasa sesak. Ia menunduk, tidak berani membantah lagi.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pamit pun, Raka langsung menarik tangan Alea dengan kasar dan membawanya pergi masuk ke dalam rumah.
Robby yang semula duduk santai di atas motornya sontak berdiri saat melihat Alea ditarik begitu saja. Namun, langkahnya terhenti.
Ia hanya mampu menatap punggung Alea yang semakin menjauh, hingga menghilang di balik pintu rumah itu.
“Kakak?” gumam Robby pelan dalam hati.
Keningnya mengernyit, dipenuhi tanda tanya.
“Bukankah Alea anak tunggal?” batinnya lagi. “Lalu, bagaimana mungkin dia memiliki seorang kakak?”
Robby terdiam, menatap kosong ke arah rumah itu, merasa ada sesuatu yang janggal sesuatu yang tidak ia ketahui tentang Alea.
Robby kembali menaiki motornya, lalu melaju meninggalkan rumah Alea. Sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi oleh bayangan Alea yang memanggil pria itu dengan sebutan kakak.
Dadanya terasa sesak oleh rasa penasaran yang belum terjawab.
“Besok saja aku tanya,” gumamnya pelan, seolah mencoba menenangkan pikirannya sendiri.
Mesin motor terus melaju, sementara pertanyaan itu tetap berputar di kepalanya tentang Alea, dan sosok pria yang berdiri di sisinya dengan sikap begitu dominan.
Di sisi lain, Raka sudah menjepit tubuh Alea di dinding. Kedua tangannya menahan di samping kepala Alea, membatasi ruang geraknya. Tatapan posesif dan amarah jelas terpancar dari matanya, membuat Alea gemetar ketakutan.
“Siapa laki-laki yang mengantarmu sampai depan gerbang tadi? Jawab, Alea!” bentak Raka dengan suara penuh emosi.
Alea menelan ludahnya dengan susah payah. Dadanya naik turun menahan gugup.
“D-dia temanku, Kak,” jawabnya lirih. “Namanya Robby. Kami dulu satu sekolah.”
“Teman?” Raka menyeringai tipis, tetapi tatapannya justru semakin tajam. “Sejak kapan kamu punya teman laki-laki yang berani berdiri lama di depan rumahku, ha?”
“Itu tidak seperti yang Kakak pikirkan,” ujar Alea cepat dengan suara bergetar. “Aku hanya mengucapkan terima kasih karena dia mengembalikan bukuku.”
Raka menundukkan wajahnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Alea bisa merasakan hembusan napasnya.
“Kamu tidak perlu berterima kasih pada laki-laki mana pun selain aku,” ucap Raka dingin.
Alea menggeleng pelan. Air matanya mulai menggenang.
“Kakak terlalu berlebihan. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun.”
Raka terdiam sejenak. Rahangnya mengeras, dadanya naik turun menahan emosi yang berkecamuk antara marah, cemburu, dan rasa takut kehilangan yang bahkan tidak ingin ia akui.
“Jangan pernah membuatku melihatmu bersama laki-laki lain lagi,” katanya akhirnya dengan nada rendah namun mengancam. “Aku tidak suka.”
Alea hanya bisa mengangguk pelan. Tubuhnya masih gemetar. Dalam hatinya, ia benar-benar tidak mengerti sejak kapan sikap Raka berubah menjadi seseram ini.
Sebelum Raka membalikkan tubuhnya, wajahnya kini benar-benar dekat, hingga hampir menyentuh bibir Alea.
“Ingat, Alea. Kau sudah menjadi milik Keluarga Wiratama. Jadi, jangan pernah berpikir kau bisa membawa laki-laki sembarangan ke rumah ini.”
Alea menganggukkan kepalanya. Tubuhnya gemetar hebat. Ia sangat takut, tetapi tidak mampu memalingkan wajahnya dari tatapan mata Raka.
Lalu, Raka melepaskan Alea, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi.