Pertemuan Calon Keluarga

1285 Words
“Alea, Ibu akan menikah.” DUG! Alea membeku. Jantung Alea berdebar begitu kencang saat mendengar ucapan ibunya yang terucap secara tiba-tiba. Ruangan itu terasa berbeda. Yang awalnya hangat, kini berubah menjadi penuh ketegangan dan keterkejutan. “A-apa, Bu? Menikah?” ulang Alea dengan suara penuh keterkejutan, bahkan syok. “Iya, Alea. Ibu akan menikah dengan seorang pria yang sudah lama Ibu kenal.” “S-siapa, Bu? Siapa dia?” tanya Alea dengan nada penuh emosi. “Namanya Ardian Wiratama.” Alea ingin berbicara kembali, tetapi tenggorokannya seperti tertahan. Seolah-olah suaranya menggantung di udara dan tak mampu keluar. Alea menarik napasnya, lalu mengembuskannya sedikit kasar. Ia menatap sang ibu dengan sorot mata penuh kesedihan, keterkejutan, bahkan syok yang masih terasa kuat. “Ibu bertemu dia di mana?” Ratna menatap putrinya. Ia sangat tahu bahwa Alea sedang bersedih. Raut wajah itu terlihat jelas, begitu pula kekecewaan yang tak mampu disembunyikan. Namun, Ratna juga ingin merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. “Pertemuan pertama kami saat Ibu sedang mengadakan acara di toko kue. Dia ada di sana menyaksikan acara itu. Ternyata dia sangat tertarik sampai membeli semua kue yang ada.” Alea hanya mendengarkan. Ia tidak menyela, tidak berkata apa-apa, tetapi pikirannya dipenuhi pertanyaan. Ia ingin tahu lebih banyak tentang pria yang akan menikah dengan ibunya itu. Ratna kembali bercerita. “Setelah acara itu, dia terus datang ke toko. Awalnya Ibu kira dia hanya pelanggan setia, tetapi ternyata Ibu salah. Ada sesuatu yang tumbuh dengan sendirinya, sesuatu yang bahkan Ibu sendiri tidak bisa jelaskan. Ibu melihat dia orang yang baik, ramah, dan nada bicaranya begitu lembut. Tanpa Ibu sadari, hari-hari berjalan cepat. Kami mulai sering bertukar pikiran, informasi, bahkan dia selalu membawakan sesuatu untuk Ibu. Kami terus bertemu dan sering pergi bersama.” Alea mengembuskan napas panjang. Tangannya memegangi batang hidungnya yang terasa pusing. Namun, ia tidak bisa bersikap egois dengan melarang ibunya menikah lagi. Alea tahu, sudah terlalu lama ibunya hidup sendiri hanya untuk mengurus dirinya. Akhirnya, Alea membuka suara. “Sudah berapa lama Ibu kenal dia?” tanya Alea. “Satu bulan lebih.” “Apa?” Alea terkejut. Tatapan Alea beralih ke Ratna, penuh keterkejutan yang sangat jelas terpancar dari raut wajahnya. “Bu, itu sangat cepat. Menikah bukan hal kecil, Bu. Apalagi Ibu baru mengenalnya.” “Ibu tahu, Alea. Tapi Ibu sudah memutuskannya. Ibu ingin bahagia, Alea.” Kata-kata itu membuat Alea membeku kembali. Ia sangat tahu apa yang dirasakan ibunya selama ini. “Tapi, Bu, kenapa Alea harus tahu sekarang?” tanyanya dengan nada sedikit kecewa. “Ini sangat tiba-tiba, Bu.” “Maafkan Ibu, Alea. Ibu tidak ingin membuatmu terkejut.” “Bu, Alea bukan hanya terkejut, tapi juga sangat syok.” Suasana mendadak hening. Hanya suara televisi yang terdengar samar. Ratna menatap putrinya yang duduk di sampingnya. Namun, masih ada satu hal lagi yang harus ia sampaikan. “Malam ini, kita akan makan malam bersama,” kata Ratna. “Apa? Malam ini?” Ratna mengangguk. “Iya, malam ini. Di restoran.” Alea mengembuskan napas berat. Semua ini benar-benar di luar dugaannya. “Ibu tahu, kan, Alea tidak percaya diri untuk bertemu orang baru, Bu?” “Ibu tahu, Alea. Justru itu Ibu ingin pertemuan ini terjadi, agar kamu tahu siapa yang akan menjadi ayah sambungmu nanti.” Alea tidak tahu harus berpikir apa. Namun, ia juga tidak bisa menolak. “Dan dia juga memiliki seorang putra.” Alea kembali terkejut. Keningnya mengernyit, situasi ini semakin di luar dugaan. “Jadi Ibu menikah dengan seseorang yang sudah punya anak?” tanya Alea dengan nada penuh emosi. “Iya, Alea. Putranya lebih tua darimu.” “Terus… dia akan menjadi kakak tiri Alea?” “Benar, Sayang. Ibu harap kamu mau ikut malam ini.” Alea tidak menjawab lagi. Ia menutup matanya. Kepalanya terasa pusing, dadanya sesak, dan emosinya menjalar ke seluruh tubuh. Kenyataan ini sungguh di luar dugaan segalanya. ** Malam perlahan turun. Ratna dan Alea tiba di restoran tempat Alea akan bertemu dengan orang-orang baru dalam hidupnya. Restoran itu tampak hangat dan elegan. Lampu-lampu gantung memancarkan cahaya kuning lembut, sementara musik instrumental mengalun pelan. Namun bagi Alea, suasana itu sama sekali tidak menenangkan. Tangannya terasa dingin saat melangkah masuk bersama ibunya. Seorang pria paruh baya berdiri menyambut mereka. Posturnya tegap, wajahnya tenang, sorot matanya penuh wibawa. “Ratna,” ucapnya dengan senyum manis. “Akhirnya kamu datang.” Ratna melangkah mendekat. Alea berdiri di samping ibunya, menatap pria itu dengan gugup. “Maaf terlambat,” kata Ratna, lalu menoleh ke arah putrinya. “Ini Alea, putri saya.” Ardian menatap Alea dengan ekspresi lembut. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Saya Ardian,” ucapnya. “Yang akan menjadi ayah sambungmu nanti.” Alea tersenyum tipis, jelas terlihat terpaksa. “Selamat malam, Om. Saya Alea.” Ardian mengangguk, lalu mempersilakan mereka duduk. Tak lama setelah Ratna dan Alea duduk, suara langkah kaki terdengar. Seorang pria muda datang dan langsung duduk tanpa banyak bicara. Pria itu tinggi, bahunya bidang, wajahnya tampan dengan garis rahang tegas. Rambut hitamnya tersisir rapi. Namun, tatapannya dingin dan datar. “Perkenalkan, ini Raka,” kata Ardian. “Putra saya.” Tatapan Alea bertemu dengan tatapan Raka sesaat. “Raka,” ucapnya datar. “A-Alea,” jawab Alea pelan. Dan pada detik itu juga, Alea merasakannya. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa ingin mengenal. Tatapan Raka hanya menilai sekilas, lalu beralih seolah Alea tidak penting. Alea menelan ludah, dadanya terasa aneh. Seorang pelayan datang mendorong troli makanan dan berhenti tepat di meja mereka. “Permisi, Tuan. Pesanan Anda,” ucap pelayan dengan sopan. “Hidangkan,” kata Ardian. Pelayan mengangguk dan mulai menata hidangan satu per satu di atas meja. Tak lama kemudian, ia selesai. “Semuanya sudah, Tuan. Kalau begitu, saya permisi.” “Iya, terima kasih.” Pelayan itu pergi. Ardian mempersilakan mereka menyantap hidangan. Namun suasana tetap aneh. Tidak ada percakapan, hanya suara sendok dan garpu yang saling bersentuhan dengan piring. Beberapa menit kemudian, Ardian meletakkan alat makannya. “Ada hal penting yang ingin saya sampaikan,” ucapnya serius. Alea menegakkan punggung. Jantungnya berdegup kencang. “Saya dan Ratna telah memutuskan untuk menikah,” lanjut Ardian. “Pernikahan itu akan dilaksanakan minggu depan.” Dunia Alea seakan berhenti berputar. Dadanya sesak, tangannya mengepal di bawah meja. Ia tidak sanggup mengangkat wajahnya. Kepalanya perlahan tertunduk. “Minggu depan…” gumamnya lirih. Ratna menatap putrinya dengan cemas. Ardian hendak bicara untuk menenangkan Alea. Namun sebelum itu— “Angkat wajahmu.” Suara dingin dan tajam itu membuat Alea tersentak. Ia mengangkat kepala perlahan dan bertemu tatapan Raka. Tatapan yang sama sekali tidak ramah. Rahang Raka mengeras, alisnya mengernyit, sorot matanya penuh ketidaksukaan. “Kenapa kau menunduk saat Ayah berbicara?” ucap Raka datar, sarat emosi yang ditekan. “Di keluarga Wiratama, tidak ada yang bersikap seperti itu.” Alea membeku. Wajahnya memucat. “A-aku hanya—” “Tidak ada alasan,” potong Raka tajam. “Itu tidak sopan.” Ratna terkejut. Ardian akhirnya kehilangan kendali. “Cukup, Raka!” Telapak tangan Ardian menghantam meja keras. Wajahnya memerah, sorot matanya penuh amarah. “Jangan bicara seperti itu. Dia tamu kita. Dia calon adikmu!” Raka menoleh perlahan. Tidak ada rasa bersalah. Hanya tatapan dingin dan acuh. “Justru karena itu aku bicara,” jawabnya santai. “Aku tidak suka sikap seperti itu.” “Raka!” suara Ardian semakin keras. Raka hanya mengangkat bahu. “Silakan Ayah marah. Aku hanya menyampaikan apa yang menurutku benar.” Tatapan Raka melirik Alea sekilas. Kosong. Dingin. Tidak peduli. Alea menunduk lagi, bukan karena tidak sopan, melainkan karena dadanya terlalu sakit untuk ditahan. Di momen itu, Alea benar-benar menyadari satu hal. Raka tidak menyukainya. Bukan nanti. Bukan perlahan. Melainkan sejak pertemuan pertama. Dan sikap dingin itu tidak akan mudah berubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD