Terasa Asing

1190 Words
“Harus betul, ya. Fitting baju barengan begini?” Seketika ruang fitting itu menjadi hening saat mendengar ucapan Raka. Alea menoleh, mencoba melihat ke arah Raka. Namun, saat tatapan mereka bertemu, dengan cepat Alea mengalihkan pandangannya ke depan, berpura-pura mencari gaunnya. Terlihat jelas raut wajah Raka begitu tidak menyukai acara fitting bersama ini. Ia berdiri di dekat pintu dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. “Jangan hanya berdiam diri di sana, Raka. Cepat kemari dan cari punyamu,” kata Ardian, memecahkan keheningan. Raka mengendus kesal. Langkah kakinya terdengar berat, disertai hentakan kekesalan yang jelas. Alea tidak berani menatapnya lagi. Ia hanya menundukkan kepala sambil tangannya memilih gaun. Ratna mendekat ke arah putrinya, membawa sebuah gaun yang cukup sederhana, tetapi bermakna bagi Alea. “Sayang, sepertinya gaun ini sangat cocok untukmu,” kata Ratna sambil memperlihatkan gaun itu. Alea tersenyum tipis, lalu mencoba mengalihkan pikirannya yang sejak tadi hanya tertuju pada Raka. Ia berharap ada perubahan dari pria itu, tetapi ternyata tetap sama seperti pertemuan kemarin. “Cobalah dulu,” ucap Ratna pada putrinya. Alea mengangguk, lalu mengambil gaun itu dan membawanya ke ruang ganti untuk mencobanya. Ratna kembali mendekati Ardian yang sedang melakukan fitting jas untuk pernikahan nanti. Karena Ratna sudah lebih dulu melakukan fitting, kini giliran Alea yang dicarikan baju. Beberapa menit kemudian, Alea keluar dari ruang ganti dengan gaun yang telah dipilihkan oleh Ratna. “Ibu, bagaimana?” tanya Alea dengan raut wajah sedikit kurang percaya diri. Ratna dan Ardian menoleh saat mendengar suara Alea memanggil. Ratna mendekat dan tersenyum pada putrinya. “Kamu sangat cantik, Alea,” ucap Ratna. “Benar. Gaun itu sangat cocok untukmu, Alea,” sahut Ardian. Alea mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. “Terima kasih.” Berbeda dengan Raka. Ia tidak menoleh sama sekali. Ekspresinya terlalu datar, antara benar-benar tidak peduli dan bersikap masa bodoh terhadap apa pun yang dilakukan Alea. Ia memang tidak menyukai acara ini, terlalu berlebihan baginya harus fitting baju bersama-sama. Alea menoleh sebentar, menatap Raka yang berdiri agak jauh dari mereka, sedang memilih beberapa jas. Raut wajah Raka tampak sangat kesal, membuat Alea hanya bisa mengembuskan napas pelan. Ia kembali mengalihkan pandangannya ke depan, tepat ke arah cermin, mencoba melihat dirinya sendiri mengenakan gaun itu. Tak lama, langkah kaki terdengar mendekat. Bukan ke arah Alea, melainkan ke arah Ardian. Tanpa sengaja, Alea mendengar percakapan antara Raka dan ayahnya. “Apa sudah selesai?” tanya Raka dengan nada datar. Ardian menoleh, lalu menjawab, “Belum. Mungkin sebentar lagi.” “Berapa lama lagi aku harus menunggu?” Ardian menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan, meski rasa kesal jelas terasa. “Apa yang ingin membuatmu cepat pergi, Raka?” tanya Ardian sambil menatap putranya. “Aku tidak suka acara ini,” jawab Raka ketus. “Suka atau tidak suka, kau harus melakukannya, Raka.” Raka mengembuskan napas kasar. Raut wajahnya tampak kusut. Tatapannya beralih ke arah Alea yang sedang berdiri di depan cermin. Seketika itu juga Alea langsung menundukkan kepalanya karena pantulan di cermin memperlihatkan dengan jelas wajah Raka. Tatapan itu sangat tajam, dingin, bahkan kosong. Tidak ada sedikit pun kepedulian. Yang ada hanyalah ketidaksukaan yang begitu nyata. Alea tidak tahu mengapa sikap Raka selalu seperti itu. Padahal ia tidak pernah melakukan apa pun padanya. Ia selalu berusaha bersikap sopan, menjaga jarak, dan tidak mengganggu. Dalam hati kecilnya, Alea sempat berpikir, “Mungkin Raka hanya canggung. Dia belum terbiasa. Atau nanti semuanya akan berubah.” Bukankah seorang kakak seharusnya melindungi? Beberapa menit kemudian, mereka selesai melakukan fitting baju. Alea berdiri di dekat pintu sambil menunggu dengan kepala tertunduk. “Alea.” Suara Raka terdengar tiba-tiba. Alea tersentak. Dadanya bergetar. Ia langsung mengangkat wajahnya, ada secercah harap yang tanpa sadar muncul di matanya. “I-iya?” sahutnya pelan. Raka menatapnya. Bukan tatapan marah, bukan pula lembut. Tatapan itu seperti seseorang yang sedang terganggu oleh sesuatu yang tidak diinginkannya. “Jangan berdiri di situ,” ucap Raka dingin. “Kau menghalangi jalan.” Alea membeku. “Oh… iya,” katanya cepat, lalu menyingkir dengan langkah tergesa. Raka berjalan melewatinya begitu saja. Bahunya hampir menyentuh lengan Alea, tetapi pria itu sama sekali tidak meminta maaf. Bahkan tidak melirik. Seolah Alea hanyalah benda mati. Ratna memperhatikan punggung Raka yang menjauh, lalu menatap putrinya dengan raut cemas. Ia bisa melihat perubahan di wajah Alea pucat, murung, dan berusaha keras menahan sesuatu. “Tidak apa-apa, kan?” tanya Ratna lembut. Alea mengangguk. “Iya, Bu. Tidak apa-apa.” Padahal tenggorokannya terasa perih dan dadanya seperti diremas. ** Satu minggu telah berlalu. “Hari ini adalah hari bahagia Ibu. Aku harus bisa menahannya.” Gedung pernikahan dipenuhi bunga putih dan krem. Aroma harum menyebar di udara. Musik sakral mengalun pelan, menciptakan suasana khidmat. Para tamu berdatangan dengan wajah penuh senyum dan ucapan selamat. Ratna tampak sangat cantik dalam balutan kebaya pengantin. Wajahnya berseri, matanya berbinar penuh kebahagiaan. Ardian berdiri di sampingnya dengan senyum bangga, jelas terlihat betapa ia mencintai wanita itu. Alea duduk di barisan Keluarga Besar Wiratama. Ia sendirian, tanpa siapa pun di sisinya. Perasaan asing menyelubunginya, tetapi ia berusaha menahannya. Ia menoleh ke samping. Raka duduk tidak jauh darinya, mengenakan setelan jas resmi. Posturnya tegap, wajahnya kaku, tatapannya lurus ke depan. Tidak ada senyum. Tidak ada ekspresi bahagia. Seolah acara ini tidak berarti apa-apa baginya. Saat prosesi dimulai, Alea menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu. Benar-benar terharu. Namun di balik rasa itu, ada kesadaran pahit yang perlahan merayap. Hidupnya akan berubah hari ini. Ia kembali melirik Raka. Tidak ada perubahan. Bahkan saat tepuk tangan menggema memenuhi ruangan setelah janji suci diucapkan, Raka hanya bertepuk tangan seperlunya, tanpa emosi. Saat sesi foto keluarga dimulai, Alea berdiri mengikuti arahan panitia. Namun, sebelum sempat melangkah, ia mendengar suara Raka yang terdengar kesal. “Apa lagi ini?” keluhnya dengan nada sangat kesal sambil berdiri. Alea terdiam seperti patung. Tangannya refleks memegangi dadanya. Perasaan asing itu kembali menyeruak. “Sampai kapan kau akan berdiam diri di sana, Alea?” tegur Raka dengan nada dingin. Alea tersentak. Pandangannya yang semula lurus ke depan kini jatuh ke bawah. Hal itu justru membuat Raka semakin kesal. Ia membalikkan badan dan melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan Alea. "Kau lupa apa yang aku katakan kemarin, ha?” bentak Raka. Alea menggeleng pelan dengan wajah tetap tertunduk. “Angkat wajahmu,” kata Raka tegas. “Lihat aku saat sedang berbicara.” Mata Alea berkaca-kaca. Ia menahan sekuat tenaga agar air mata tidak jatuh. Rasa sesak di dadanya membuatnya sulit bernapas. Perlahan, Alea mengangkat wajahnya hingga tatapannya bertemu dengan Raka. Raka menatap mata Alea yang jelas menyimpan genangan air mata. Tidak ada reaksi apa pun, hanya raut kesal yang terpahat di wajahnya. “Ingat, di Keluarga Wiratama tidak ada kata cengeng,” ucap Raka dengan nada menekan. Ia membalikkan badan dan melangkah pergi. Alea menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia menatap punggung Raka yang semakin menjauh. Dalam hatinya yang paling dalam, ia bergumam, “Aku pikir aku akan mempunyai seorang kakak yang bisa melindungiku, setidaknya tidak membenciku. Namun ternyata aku salah mengharapkan itu.” Alea menyimpan harapan itu dalam-dalam, lalu melangkah menuju pelaminan. Ia memasang senyum di wajahnya, meski hatinya terasa sakit. Ia bertahan, karena hari ini adalah hari kebahagiaan Ibunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD