"Bangun," kata Raka dengan nada kesal.
Tatapan Raka, menyapu Alea yang sedang tertidur pulas disofa ruang kerjanya. Sedangkan Alea, tidak tau bahwa ruang itu. Ruang kerjanya Raka.
Setelah acara pernikahan selesai, tanpa disadari oleh Alea. Dia tertidur diruang kerja Raka, dia terlihat begitu lelah, hingga tidak sadar telah masuk. Kedalam sarang singa.
Merasa tidak ada respon dari Alea, Raka mencoba mendekat. Lalu kembali, membangunkan Alea. Dengan nada yang begitu emosi.
“Bangun sekarang!” bentak Raka.
Alea tersentak lalu langsung bangun. Tanpa sempat menyimak sekelilingnya, pandangannya justru tertuju pada Raka yang berdiri menjulang di depannya.
“K-kakak,” katanya terbata, napasnya tersengal.
Tatapan mereka, saling bertemu. Itu jelas membuat Alea, menjadi sangat gugup.
“Sedang apa kau di ruang kerjaku?” tanyanya, berusaha tetap tenang meski rahangnya mengeras.
Alea terkejut, bahkan dia mengamati di seluruh ruang itu. Lalu, pandangannya mengalih kepada Raka. Yang sedang menatapnya, penuh emosi.
“I-ini, ruang kerja k-kamu, Kak?” tanya Alea, suaranya terdengar gugup.
“Menurutmu?” sahut Raka, nadanya terdengar ketus.
Alea membeku.
Dia tidak tau, bahwa dia berada di ruang kerjanya Raka. Alea mencoba untuk bandun dari sofa itu, tapi Raka menegurnya.
“Siapa yang mengizinkanmu bangun?” suara Raka terdengar dingin, tatapannya menusuk.
Alea kembali duduk, kini dengan kebiasaannya Alea. Dia menundukkan kepalanya, membuat Raka, menjadi semakin marah.
" Dengarkan aku," kata Raka tegas. “Jangan pernah sembarangan masuk ke dalam wilayahku. Terutama kamar dan ruang kerja ini. Apalagi menyentuh barang-barangku.”
" M-maaf Kak. Aku tidak tau, jika ruang ini adalah. Ruang kerja Kakak. Karena, aku tadi benar-benar lelah, sehingga membuat ku tanpa sadar, masuk ke ruang ini" jelas Alea
" Aku tidak peduli, mau itu kamu lelah atau apa lah. Itu bukan urusanku. Yang perlu hanya kau ingat, jangan sembarangan menyentuh barang-barangku. Tanpa persetujuan dariku. Mengerti?"
"I-iya, Kak"
"Udah sana pergi"
Alea menganggukkan kepalanya, dia bangun berdiri. Saat ingin melangkah kakinya, dia menoleh kepada Raka lagi. Membuat, pria itu mengangkat satu alisnya, merasa heran.
"Apa lagi?" tanyanya dengan nada ketusnya
"D-dimana letak kamar ku, Kak?"
"Aku tidak tau," jawab Raka dan pergi
Alea menghelankan nafasnya, lalu dia melangkahkan kakinya. Menuju pintu serta keluar, dia melihat kearah sekelilingnya. Karena bingung, dimana letak kamarnya.
Di sisi lain, sepasang pengantin baru sama sekali tidak menyadari situasi yang dialami Alea. Mereka baru saja selesai membersihkan diri setelah malam pertama mereka.
“Mas, Alea di mana, ya?” tanya Ratna kepada sang suami.
Ardian menoleh dan menatap istrinya.
“Mungkin sedang bersama Raka,” jawabnya santai.
Ratna mengerutkan kening. Ia merasa hal itu mustahil karena ia sangat tahu bahwa Raka tidak menyukai Alea.
“Mas, sepertinya saya harus mencari Alea. Saya takut dia sembarangan masuk kamar Mas. Ini pertama kalinya dia pindah tempat,” ucap Ratna dengan nada khawatir.
Ardian menarik napas, lalu mengangguk.
“Baik, mari kita cari Alea bersama-sama. Setelah itu, kita bicarakan padanya bahwa besok kita akan pergi.”
Ratna menoleh dengan wajah terkejut saat mendengar ucapan Ardian.
“Pergi?” ulang Ratna. “Ke mana, Mas?” tanyanya lagi.
“Bulan madu, Sayang.”
Ratna terdiam. Tatapannya masih tertuju pada suaminya. Menyadari hal itu, Ardian mendekat.
“Ada apa?” tanyanya.
Ratna menarik napas, lalu mengembuskannya perlahan.
“Mas yakin meninggalkan Raka dan Alea berdua saja di rumah?” tanyanya penuh kekhawatiran.
“Sangat yakin, Sayang.”
“Tapi Raka sangat tidak menyukai Alea. Itu tidak mungkin meninggalkan mereka berdua saja,” bantah Ratna.
Ardian menggenggam tangan Ratna dengan lembut, lalu mengelusnya.
“Sayang, Mas memang sengaja meninggalkan mereka berdua agar Raka bisa membuka hatinya dan menerima Alea sebagai adiknya. Itu sebabnya semua ini Mas rencanakan sejak awal.”
Ratna terdiam. Matanya menatap suaminya dengan raut khawatir. Ardian berusaha menenangkannya. Ia tahu betul istrinya sangat mencemaskan putri mereka.
“Mas tahu kamu khawatir dengan Alea. Tapi beri mereka ruang agar bisa saling mendekat,” lanjut Ardian.
Bahu Ratna yang tegang perlahan merosot. Ia mengangguk pelan, senyum tipis terukir di bibirnya.
“Sekarang ayo kita cari Alea. Kasihan, mungkin dia sedang kebingungan,” ucap Ardian.
Ratna mengangguk. Ardian menggenggam tangannya, lalu mereka berjalan keluar kamar.
Begitu keluar, mereka melihat Alea duduk di sofa ruang tengah dengan kepala tertunduk. Ia masih mengenakan gaun dan wajahnya tampak sangat lelah.
Hati Ratna langsung terenyuh. Ia segera menghampiri Alea, disusul Ardian. Kamar mereka memang berada di lantai bawah, tepat di depan ruang tengah.
“Alea,” panggil Ratna lembut.
Alea mengangkat wajahnya.
“Ibu,” ucapnya lirih.
“Kamu dari mana saja, Alea?” tanya Ratna sambil berjongkok di depannya.
“Alea tadi ketiduran, Bu, di ruang kerja Kak Raka.”
Raut wajah Ardian berubah. Ia melangkah mendekat dan berdiri di samping Ratna.
“Raka tidak memberitahumu letak kamarmu?” tanyanya.
Alea menggeleng pelan. Ardian menghela napas dan menatap istrinya.
“Kamarmu di lantai satu, Alea, tepat di samping kamar Raka,” jelas Ardian.
“T-tapi Alea tidak berani masuk sembarangan lagi. Jadi Alea menunggu di sini saja,” ucapnya pelan.
Ratna memeluk putrinya erat.
“Maafkan Ibu, Nak. Seharusnya Ibu tidak meninggalkanmu sendirian.”
“Tidak, Bu. Ini bukan salah Ibu,” jawab Alea.
Ardian menutup mata sejenak, lalu menatap Alea.
“Ayah akan mengantarmu ke kamar. Tapi sebelumnya, ada hal yang ingin Ayah sampaikan.”
Alea menatapnya.
“A-apa itu, Ayah?”
Ardian ikut berjongkok di depan Alea.
“Besok Ayah dan Ibu akan pergi.”
“P-pergi?” ulang Alea. “Ke mana?” tanyanya.
“Ayah dan Ibu akan berbulan madu. Untuk sementara, kamu tinggal bersama kakakmu.”
Alea terdiam. Ekspresinya sulit dibaca, membuat Ardian dan Ratna saling pandang.
Namun Alea tidak menanggapi. Ia justru bertanya pelan,
“Bisa antar Alea ke kamar sekarang?”
Ardian dan Ratna saling berpandangan. Ratna mengangguk kecil.
“Baik, Ayah antar.”
Ardian mengulurkan tangan. Alea berdiri dengan bantuannya, diikuti Ratna.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Alea melangkah pelan. Pandangannya kosong. Perasaan asing itu kembali menyelimutinya.