“Raka, tolong jaga adikmu saat Ayah dan Ibu pergi,” kata Ardian kepada Raka.
Raka tidak menjawab. Ia hanya diam, menahan rasa kesal karena harus menjaga Alea.
Ratna menatap putrinya yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk putrinya begitu tiba di hadapannya.
" Jaga dirimu, Alea. Hubungi Ibu jika terjadi sesuatu kepadamu. Oke?"
Alea menganggukkan kepala. Ia membalas pelukan Ratna sambil menghirup aroma tubuh ibunya. Ada rasa enggan dalam hatinya untuk ditinggal.
Setelah pelukan terlepas. Ratna kembali menatap putrinya, lalu dia benar-benar melangkah kakinya pergi bersama Ardian.
Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Mereka belum sarapan karena harus mengantar Ardian dan Ratna pergi. Setelah keduanya masuk ke dalam mobil, Raka membalikkan badan lalu masuk ke rumah, meninggalkan Alea sendirian di sana.
Mobil itu mulai melaju. Ratna melambaikan tangan kepada Alea, dan Alea pun membalasnya. Wajahnya tersenyum, meski terselip rasa sedih di matanya.
Saat mobil itu tak terlihat lagi, Alea membalikkan badan lalu masuk ke dalam rumah. Ia melangkahkan kakinya menuju dapur dengan langkah yang terasa begitu berat. Hatinya gelisah karena harus berduaan dengan Raka.
Setelah tiba di meja makan, Alea mendapati Raka sudah berada di sana, menikmati sarapan. Ia pun langsung duduk di kursi di depan Raka.
Alea mengambil hidangan itu satu per satu, kemudian menyantapnya dengan perlahan.
“Apa ibumu tidak pernah mengajarkan cara makan dengan tenang?” tanya Raka dengan nada kesal.
Alea membeku.
Sendoknya tertahan di udara. Ia hanya menundukkan kepala karena tidak berani menatap Raka.
“M-maaf, Kak,” ucap Alea pelan.
Raka kembali menikmati sarapannya. Alea pun melakukan hal yang sama, meski suasana terasa begitu mencekam. Namun, ia berusaha menahannya hingga sarapan selesai.
Ada satu hal yang tak pernah terpikirkan oleh Alea. Saat ia hendak mengambil hidangan sayur, Raka juga meraih lauk yang berada tepat di sampingnya. Tanpa disengaja, tangan mereka bersentuhan.
Trang!
Suara gelas pecah jatuh ke lantai.
“Apa yang sedang kau lakukan, Alea?” bentak Raka, membuat Alea tersentak.
“M-maaf, Kak. A-aku tidak sengaja,” ucap Alea gemetar.
Mata Alea mulai berkaca-kaca. Namun, ia berusaha menahannya agar tidak terlihat oleh Raka. Tangannya gemetar, sementara rasa takut perlahan menjalar dalam dirinya.
Begitu pula dengan Raka. Ada perasaan aneh yang ia rasakan setelah tanpa sengaja bersentuhan dengan tangan Alea. Ia pun berusaha menahannya, meski raut wajahnya sulit diartikan antara penasaran dan terkejut.
Tiba-tiba, Raka bersuara.
“Bersihkan,” ucap Raka dengan nada dingin.
Alea mengangkat wajahnya saat mendengar ucapan Raka. Ia tidak menjawab, hanya menatap pria itu.
“Aku bilang bersihkan!” bentak Raka kembali.
Tanpa disadari, air mata Alea menetes karena ketakutan. Ia mengangguk, lalu berdiri dan langsung membersihkan pecahan gelas itu.
Sementara itu, napas Raka naik turun. Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya.
Isak tangis Alea terdengar saat ia membersihkan sisa pecahan gelas di lantai. Raka yang mendengar isak itu langsung berdiri.
“Aku tidak menyuruhmu untuk menangis, Alea,” bentak Raka.
“M-maaf, Kak,” ucap Alea pelan.
Raka berjongkok tepat di depan Alea. Alea hanya menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap Raka.
“Angkat wajahmu,” ucap Raka dengan nada dingin.
Alea tidak mengangkat wajahnya. Ia begitu ketakutan, tangannya gemetar saat mengambil serpihan gelas.
“Angkat wajahmu sekarang juga!” teriak Raka, membuat Alea tersentak.
Tanpa peringatan apa pun, Raka langsung menarik dagu Alea hingga gadis itu mendongak. Tatapan ketakutan jelas terlihat di mata Alea saat menatap Raka.
Cengkeraman di dagunya terasa begitu erat. Air mata terus mengalir di pipi Alea, semakin memicu amarah Raka.
“Sudah berapa kali aku katakan, di Keluarga Wiratama tidak ada kata cengeng!” bentak Raka lagi dengan nada penuh emosi.
Alea semakin terisak. Tubuhnya gemetar hebat. Bahkan, jari-jarinya terkena serpihan kaca tanpa ia merasakan sakit.
Raka melepaskan cengkeramannya dengan kasar, lalu sedikit mundur.
“Aku muak pada gadis cengeng,” gumam Raka dengan sorot mata tajam.
Raka berdiri dengan tatapan yang tidak lepas dari Alea. Lalu, ia kembali berbicara.
“Kenapa Ayah menyuruhku menjaga gadis cengeng seperti ini?”
Kata-kata itu terasa begitu menyakitkan bagi Alea. Setelah Raka melepaskan cengkramannya engkeramannya, ia masih menunduk, membiarkan air mata mengalir tanpa bisa dicegah.
Sebenarnya, Raka melihat tangan Alea berdarah akibat serpihan gelas itu. Namun, karena emosinya tengah meledak, ia tidak peduli.
“Bersihkan sekarang,” ucap Raka dingin. “Setelah itu, obati lukamu sendiri. Aku tidak mau dimarahi Ayah.”
Raka pergi begitu saja, meninggalkan Alea dalam isak yang semakin tertahan. Ia tahu, sedikit saja suara keluar dari bibirnya, Raka akan kembali meluapkan amarah.
**
Malam turun perlahan. Alea keluar dari kamarnya dengan mata bengkak dan sebam akibat menangis seharian.
Perutnya terasa perih karena lapar. Itulah sebabnya ia keluar untuk makan. Alea melangkah mendekati tangga, lalu menuruni anak tangga itu secara perlahan agar tidak mengeluarkan suara.
Setelah tiba di bawah, Alea melangkah mendekati dapur. Suasana yang terlalu sunyi membuatnya gugup, apalagi ia takut bertemu dengan Raka.
Namun, Alea mencoba melawan rasa takut itu dan terus melangkah maju. Saat tiba di meja makan, ia terkejut mendengar suara Bi Inah menegurnya.
“Nona ingin makan?” tanya Bi Inah.
Alea langsung menoleh.
“Iya, Bi. Alea lapar.”
“Duduk saja, Non. Nanti Bibi siapkan,” ucap Bi Inah.
Alea mengangguk lalu duduk. Namun, ada satu hal yang membuatnya penasaran. Ia menoleh ke sekeliling, mencari satu sosok yang tak terlihat.
Bi Inah yang paham langsung berbicara kepada Alea.
“Tuan Raka belum pulang sejak pergi pagi tadi,” kata Bi Inah, membuat Alea mematung karena ketahuan.
Tak beberapa menit kemudian, Bi Inah tiba membawa makanan yang baru saja ia hangatkan.
“Makan yang banyak, Non.”
“Terima kasih, Bi.”
Tatapan Bi Inah mengarah ke luka di telapak tangan Alea.
“Non,” panggil Bi Inah.
“Iya, Bi. Ada apa?”
“Apa Non tidak ingin mengatakan kepada Tuan Ardian tentang perilaku Tuan Raka terhadap Non?”
Mata Alea membulat. Dengan cepat, ia menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu, Bi. Alea tidak ingin membuat Kak Raka marah.”
“Tapi, Non, perilaku Tuan Raka benar-benar kelewatan,” ujar Bi Inah.
Alea mengembuskan napasnya. Memang benar, perilaku Raka sangat keterlaluan.
Namun, Alea tidak ingin membuat Raka marah. Itulah sebabnya ia mencoba merahasiakannya dari Ardian dan Ratna.
“Bi, tolong, ya. Jangan beri tahu Ayah dan Ibu.”
“Baik, Non. Bibi tidak akan mengatakannya.”
“Terima kasih, Bi.”
Alea mulai menyantap makanannya. Apa pun yang terjadi, ia menganggapnya hanya sebagai angin yang berlalu.