Part 16 : Ajakan Honeymoon

869 Words
Satria tersenyum kecil mengingat kejadian tadi malam, usahanya untuk lembur menggempur sang istri berjalan dengan lancar. Mereka melakukan dari pukul 19.30 hingga pukul 02.00 pagi. Walaupun istrinya itu terus merengek ingin berhenti, Satria tetap tak mengindahkan permintaan itu. Setelah subuh tadi Satria meminta istrinya untuk melayani nya kembali. Saat ini Satria baru saja memasuki kamar, karena baru saja mandi. Melihat istrinya yang masih tertidur dengan tubuh polos dan hanya tertutup kain tipis, Satria pun memutuskan untuk membangunkan nya. "Dek," Satria mengelus rambut yang sedikit kusut karena terkena keringat. "Dek udah jam 7, lho. Bangun gih, katanya mau kerja," Satria berucap lembut sesekali mengecup kedua mata Ayla. "Hmm.." Ayla membuka matanya perlahan, sungguh badannya saat ini sangat sakit. Tapi mendengar kata kerja dari mulut sang suami membuat nya mengingatkan akan tanggung jawabnya. Ia tak boleh bolos di hari pertamanya bekerja. "Kerja atau nggak? Mau Mas izinkan?" tawar Satria yang melihat mata lelah istrinya. Pria itu jadi merasa bersalah, mereka tadi malam melakukan banyak gaya mulai dari duduk, menungging, miring, dan beberapa gaya lain nya. "Jam berapa sekarang?" tanya Ayla dengan suara serak. "Tujuh," Ayla bangkit sambil mengucek pelan mata nya, lalu mencari-cari kuncir rambut yang seingatnya tadi malam ia letakkan di bawah bantal. Tanpa menyadari kain tipis yang tadi menutup tubuh polos nya turun memperlihatkan aset nya. Satria terkekeh melihatnya, ia meraih kain itu lalu melilitkan pada tubuh Ayla, Satria takut jika saat ini ia akan kelepasan lagi. Dan kemudian berakhirlah istrinya di bawah kungkungan nya. Ayla yang baru saja menyadari membulatkan matanya. Wajahnya memerah, "Mas keluar gih, aku mau pake baju." "Kenapa? Malu? Mas udah liat semua," katanya enteng. Ayla menimpuk pelan bahu Satria dengan guling. Dan kenapa juga perut nya tiba-tiba sakit dan kepala nya pusing sejak bangun? Apa ia masuk angin karena semalaman tak memakai pakaian? Ayla turun dari ranjang sambil memegang kain tipis, tak menghiraukan suaminya yang tengah menatap nya. Dia berpakaian tanpa melihat sang suami. Kemudian, ia mengeluarkan pakaian untuk dibawa ke kamar mandi. **** Ketika sarapan Rini tak henti-hentinya menggoda dirinya, apalagi jika Satria tak ada di sampingnya, makin lah menjadi godaan Rini terhadapnya. Sebab sejak ia pindah kemari, ia belum pernah bangun kesiangan hingga pukul 7 seperti ini. Ditambah lagi, Ibu nya yang senyum-senyum ketika menatapnya. Malu! Sangat malu! Bisa-bisa nya ia mendesah tadi malam ketika berbicara dengan sang Ibu. Setelah selesai sarapan ia langsung berpamitan untuk kerja karena sudah tak tahan dengan godaan yang ditujukan padanya. Suaminya itu mengantarkan nya sampai cafe. Di perjalanan Ayla banyak menggerutu. Dan untung saja sakit di perutnya sedikit reda karena teh hangat yang dibuatkan oleh sang Ibu. Tapi rasa pusing itu masih tetap terasa. **** "Ay, tolong layanin meja nomor 7 ya," ucap wanita yang Ayla perkirakan seumuran dengan suaminya sedang berjalan terburu-buru menuju toilet. "Iya, Mbak." Ayla mengernyitkan kening nya menatap punggung yang terbalut kaos polo berkerah warna navy. Wanita itu berjalan mendekat, keyakinan nya makin kuat melihat kertas-kertas berisi coretan di meja cafe. Ayla berdeham untuk menetralkan tenggorokan nya yang tiba-tiba kering. Tapi dehaman itu mampu mengalihkan atensi pria itu. Tepat sekali dugaannya, ternyata pria yang mengenakan kaos polo berkerah warna navy itu adalah suaminya. "Silakan Pak," ucap Ayla yang harus bersikap profesional, ia menyerahkan buku menu pada Satria. Setelah menerima buku menu itu, Satria segera memilih dan menyebutkan pesanan nya kepada sang istri. "Jam berapa kamu pulang?" "Jam 4, Baiklah mohon ditunggu pesanan nya." Satria menatap punggung istrinya yang kian menjauh. Senyum geli terbit mengingat wajah sebal sang istri. Bukan tanpa alasan, Satria berada disini sekarang dengan membawa beberapa pekerjaannya. Ia jenuh jika harus mengerjakan pekerjaan nya di rumah yang hanya ditemani Ibu mertuanya dan ART nya. **** "Jadi Mas disini selama 1 bulan? Terus kerjaan Mas gimana?" "Mas udah minta sama Eza untuk kirim pekerjaan Mas lewat email, Dek." Saat ini mereka berada di kamar, Satria baru saja menjelaskan kedatangannya kemari secara tiba-tiba. Mereka tengah duduk bersandar di kepala ranjang, Satria menatap lurus ke arah dinding, dan Ayla menatap nanar Satria. Wanita itu tak menyangka akan seperti ini nasib nya. Permintaan dari Salsa yang mengharuskan nya cepat mengandung dalam waktu 1 bulan. Dan itu sama saja dengan Salsa meminta nya untuk segera pergi dari hidup mereka. Susana menjadi hening, bahkan Satria hanya menatap lurus seperti tengah melamun. Ayla memutuskan mengambil ponsel nya di atas nakas. Jari jemarinya menari-nari di atas benda pipih itu. Entah apa yang sedang ia ketik disana. Ayla membuang nafas gusar yang membuat lamunan suaminya buyar. Wanita itu memutuskan untuk tidur yang sebelumnya sedah meletakkan ponsel nya di nakas. "Dek," Ayla berbalik menghadap pada suaminya yang tengah menatapnya sendu. "Kamu marah?" Kening Ayla mengernyit, sejenak wanita itu berpikir. Lama berpikir, tapi Ayla tak menemukan alasan mendasar dari pertanyaan suaminya itu, "Marah kenapa?" Satria tak menjawab malah mengelus pucuk kepala Ayla dengan gerakan lembut. Pria itu perlahan membaringkan tubuhnya, lalu menarik Ayla dalam dekapan hangat. "Honeymoon, mau?" Satria mengeratkan pelukan nya, "Biar cepet jadi baby." Ayla menggeleng samar di dada Satria. "Kerjaan aku gimana?" suara Ayla sedikit bergetar. Segitukah Satria ingin cepat mendapatkan apa yang dia inginkan? Itu artinya Satria juga ingin cepat berpisah dengan nya kan? "Yaudah kalo nggak mau. Tidur, gih." Satria mengecup kening Ayla pelan, lalu memejamkan matanya. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD