Part 15 : Syarat dari Satria

1112 Words
"Mau mandi dulu nggak, Mas?" Ayla baru saja menerima uluran teh hangat yang telah berkurang setengah gelas. Jam telah menunjukkan pukul 17.30 yang pasti sebentar lagi akan berkumandang adzan maghrib, "Kamu siapin air hangat bisa, Dek?" "Bisa, bentar ya, nanti aku ke sini lagi buat panggil Mas." Satria mengangguk mengiyakan ucapan Ayla. **** Saat ini Satria dan Ayla tengah berada di kamar mereka, selesai makan malam dan sholat isya, Satria berpamitan kepada Ibu mertuanya untuk membawa Ayla ke kamar. Maya yang paham dengan Satria dan Ayla yang masih pengantin baru dan harus LDR walau dekat, Maya pun mengerti ia memberikan mereka kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama, melakukan hal-hal yang romantis. Satria tengah berbaring di paha Ayla dengan mata terpejam menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan jari-jari Ayla pada pelipisnya. Rasa pusing itu masih terasa meskipun sudah lebih baik daripada tadi sore. "Kata Ibu tadi malam kamu pergi ke cafe?" suara Satria yang tiba-tiba memecah keheningan, dalam kalimat itu seperti Satria sangat menuntut jawaban. "Iya, aku tadi ke cafe. Oh ya, Mas, aku mau izin buat kerja boleh?" Satria menegakkan badannya dan menatap dalam Ayla, "Kenapa? Apa uang yang Mas kasih ke kamu kurang?" Ayla menggeleng cepat tak setuju dengan pendapat sang suami, "Bukan gitu, aku hanya ingin kesibukan. Biasanya aku kerja, uang yang Mas kasih lebih dari cukup." Satria terdiam cukup lama, "Enggak, Mas tetep nggak izinkan kamu kerja," "Lho kok gitu? Aku udah daftar dan udah diterima lho Mas." Muka Ayla menjadi memelas. "Mas please, masa nggak boleh?" "Okey, ada syarat." Satria akhirnya menuruti kemauan dari istri keduanya. "Apa?" "Malam ini kita habiskan untuk buat baby, kita coba berbagai gaya." Mata Ayla melotot sempurna mendengar ucapan Satria. "Mas kan pusing, besok aja ya?" Ayla mencoba menolak halus ajakan suaminya itu, jujur sebenarnya hari ini dia sangat lelah. Setelah pertemuan menyakitkan antara mereka bertiga, Ayla langsung menuju cafe karena baru saja ia mendapatkan email. Sesampainya di cafe, bos nya meminta untuk langsung kerja hari ini. "Hari ini atau tidak sama sekali," Ayla mendesah pasrah mendengar paksaan dari Satria. "Yaudah ayo lakukan," putus Ayla akhirnya. Satria menatap Ayla dengan mata berbinar bahagia, sebenarnya pusing nya masih terasa, tapi mungkin dengan permintaan nya melakukan hal itu, rasa pusingnya akan menghilang. Jam masih menunjukkan pukul 19.30 sebenarnya bukan waktu yang tepat melakukan hubungan suami istri jika mengingat ada Maya di rumah ini selain mereka berdua. Namun apalah daya, Satria sungguh menginginkan nya malam ini. Satria mulai membuka baju yang istrinya gunakan malam ini dengan gerakan pelan, "Mas, mau dibuka sekarang?" gerakan Satria terhenti. Ayla yang masih malu-malu pun berniat untuk bertanya, karena beberapa minggu lalu dimana mereka pertama kali melakukan nya, suaminya ini melepaskan pakaian miliknya dalam keadaan yang sudah bergairah. Tidak seperti ini, yang membuat dia malu sendiri. "Malam ini Mas mau melakukan lebih lama, dan ingin mencoba hal-hal baru yang bahkan belum Mas coba, Mas mau malam ini usaha Mas bisa membuahkan hasil." Nafas Satria menerpa wajah cantik Ayla. "Tapi masih jam setengah 8 Mas, nggak enak sama Ibu." Ia berharap dengan alasannya ini, suaminya mau mengerti. Dia malu jika sampai desahan yang keluar dari mulutnya terdengar sang Ibu. "Mas nggak bisa menahannya lagi, biarkan Ibu tahu, Ibu juga pasti ngerti apa yang sedang kita lakukan dan memakluminya." Satria mulai meneruskan kegiatannya membuka baju Ayla. "Mas nggak ma-malu kalo sampai di dengar Ibu?" "Sebenarnya malu, tapi Mas sudah nggak kuat." Satria membaringkan tubuh istrinya perlahan, lalu melepas kaos yang dipakai nya sendiri. Satria mengecup pelan kening istrinya dan merapalkan doa sebelum melakukan kegiatan di malam panjang. Ciuman turun ke hidung, kedua pipi, dan bibir. Bibir itu dilumat lembut oleh Satria. Saat Satria akan memasukan lidahnya tiba-tiba Ayla menutup rapat bibirnya. "Jangan ditutup," ucap nya setelah mengecup bibir menggoda itu. Dengan ragu Ayla membuka perlahan bibirnya. Membiarkan lidah Satria mengoyak di dalam sana. Decapan-decapan mulai terdengar. Kemudian ciuman turun ke leher, Satria memberikan kissmark di leher sang istri. Selanjutnya lidahnya turun mulai memainkan puncuk kembar sang istri, yang telah menantang. Ayla melenguh keenakan karena perlakuan sang suami nya berikan padanya. Satria lalu mengulum puncuk kembar itu dengan bibirnya lembut. "Mashhh.." Ayla mendesah frustasi atas perlakuan suaminya yang hanya memainkan kedua bukit kembarnya. Bagian bawahnya sudah berkedut, dan basah tapi sang suami masih saja menikmati kegiatannya itu. Merasa dipanggil oleh sang istri, Satria pun merangkak naik, mereka saling menatap dengan tatapan sayu. "Punya Adek enak, Mas jadi pengen hisap terus." Pipi Ayla memerah karena malu mendengar ucapan suaminya. Sedangkan Satria saat ini mulai melepas celana milik sang istri dan miliknya sendiri. Suara kamar itu sedikit gaduh karena kedua insan itu terus bergerak di atas kasur. "Mas masukin sekarang, yah?" Ayla melirik sekilas pada jam di nakas yang sudah menunjukkan pukul 20.00. Wanita itu kemudian mengangguk, ia sebenarnya juga sudah tak tahan dari tadi, tapi suaminya itu terus saja menggoda nya. Satria memasukkan miliknya dengan sangat hati-hati. Dia ingin menikmati setiap proses yang dia dan istrinya lakukan malam ini. Kedua nya melenguh nikmat, "Siapkan energi kamu, Dek. Malam ini kita akan lembur nggak tahu sampai jam berapa," "Tapi besok aku juga harus kerja, Mas." Kata Ayla sedikit menahan desahan karena di bawah sana sangat terasa penuh dan geli. "Jam berapa?" ucapnya setengah berbisik di telinga Ayla. Satria juga mulai memompa tubuhnya. "Ahhh.. jammhh.. Ahhh.. Mashh.." Pompaan yang sedikit cepat dari pertama kali mereka melakukan nya membuat Ayla terus mendesah, bahkan tak bisa jika hanya menjawab pertanyaan dari sang suami. "Hm? hhh.. Ahhh.." Nafas Satria juga tak beraturan, tapi tangan kekar Satria dengan perlahan mengangkat kedua kaki Ayla dan melilitkannya di pinggulnya. "Jammhh.. Ahhh.. delaphh.. anhh." Tangan Ayla memeluk kuat bahu sang suami. Desahan mereka saling bersautan memenuhi ruangan bercampur dengan suara gaduh ranjang, karena Satria semakin kuat dan bersemangat untuk mencari kenikmatan diantara mereka. **** Tok! Tok! Tok! Maya mengetuk pintu kayu itu dengan lembut. Samar-samar ia mendengar kegaduhan dari dalam kamar sejak 15 menit yang lalu. Maya bahkan menduga-duga bahwa anak perempuan nya sedang melayani sang suami. Dan sekarang ia dengan berani nya mengganggu kedua insan yang sedang dimabuk asmara. "Mashh, berhenti duluhh.." Ayla menepuk bahu sang suami agar mau berhenti. Satria pun menurut, ia berhenti, walau sebentar lagi akan mencapai klimaks. "Iya Bu?" Ayla masih mencoba untuk menormalkan nafas nya. "Ibu ganggu?" "Enggak kok, ada apa, Bu?" "Ibu mau ke warung depan dulu ya?" "Ahhh.. Sen-hhh.. Sendiri berani kan, Buhh." Ayla mengutuk sang suami karena berani-berani nya menggempurnya di saat seperti ini. Mati-matian ia menahan desahan ingin keluar. "Iya, kalo gitu Ibu pergi dulu, ya." Bukannya mendapatkan jawaban tapi Maya malah mendapatkan suara desahan yang masuk ke indera pendengaran nya. Ternyata benar, anaknya itu sedang melayani kebutuhan menantunya. Maya akhirnya pergi dari sana. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD