Disini lah mereka sekarang, di Javanine Resto, Satria, Salsa, dan Ayla mengadakan pertemuan di luar rumah karena sesuai permintaan Ayla sebelum menikah bahwa Ibu nya tidak boleh tahu jika ia menjadi seorang istri kedua. Wanita itu akan memberi tahunya sendiri, nanti.
Salsa dengan wajah angkuhnya dan tangan bersedekap di dada, menatap penampilan Ayla dari atas hingga sebatas perut. Karena pandangannya terhalang meja resto.
"Berapa usia pernikahan kalian?"
"2 minggu ini," jawab Satria.
"Kamu." merasa panggilan itu untuknya, Ayla mulai menengadahkan pandangannya, "Kerja?"
Ayla hanya bisa menggeleng, karena belum ada notifikasi email dari cafe kemarin.
"Yaudah hanya itu saja yang saya ingin tanyakan ke kamu," Salsa menatap Satria, "Sat, kamu duluan ke mobil gih."
"Kenapa?"
"Nggak ada apa-apa, udah kamu duluan aja," Satria mulai beranjak pergi keluar resto tersebut dengan ponsel dan kunci mobil yang ada di genggamannya.
"Ekhm! Kamu tahu kan pernikahan kalian hanya sebatas apa?" tanya Salsa dengan suara arogannya.
Mata Ayla seketika memanas, tak ada yang ia bisa lakukan selain menunduk. Memilin jari jemarinya, "Tahu, Mbak."
"Bagus deh. Tapi saya mau tegasin lagi kalo pernikahan kalian ini hanya sampai kamu berhasil melahirkan ANAK untuk pernikahan saya dengan Satria." Salsa memang sengaja menekankan kata 'anak' pada ucapannya itu.
"I-iya, Mbak." suara Ayla mulai bergetar, Ayla tahu jika pernikahan nya ini tak akan lama. Maka dari itu ia berniat untuk menghabiskan waktu dengan suami nya.
Ayla takut jika setelah percerian mereka tak ada mau dengannya, ia hanya seorang janda. Hanya ada 1 dari 1000 orang yang mau menerima dirinya apa adanya.
"Dan saya ingatkan jangan sekali-kali menggoda suami saya."
Apa menghabiskan waktu dengan suami nya juga salah? Tapi ia sangat ingin melakukan hal itu, walaupun suaminya tak pernah mencintainya.
Ayla tak tahu harus menjawab apa karena ia tak ingin menggoda hanya ingin bersama saja.
Salsa bangkit tanpa berkata-kata meninggalkan madu nya yang terus tertunduk.
****
Ayla hanya tersenyum sendu melihat kepergian mobil sang suami yang akan mengantar istri pertamanya untuk pulang ke Surabaya.
Ayla pun akhirnya memesan ojek online untuk bisa pulang.
Sedangkan di mobil Satria, "Apa yang kamu bicarakan dengan Ayla?"
Salsa meninggikan bahunya acuh, "Bukan urusanmu."
Pria itu menghela nafas gusar, "Kalian istriku, Sayang. Jadi aku yang bertanggung jawab atas kalian,"
"Ini adalah masalah ku dengan wanita itu. Dan aku ingatkan jangan sekali-kali bertanya atau mendesak wanita itu agar mau mengatakan nya padamu." desis tajam Salsa mengakhiri percakapan mereka.
Mata sendu Satria kembali fokus menatap kejalanan. Ia tak tahu harus mengatakan apalagi.
Perjalanan sampai di Surabaya hanya diisi dengan keheningan.
Sesampainya di rumah, Satria memarkirkan mobilnya di carport. Lalu turun memasuki rumah beriringan.
Belum sempat mereka membuka pintu, langkah keduanya terhenti, "Ngapain kamu?" tanya Salsa di belakang Satria.
Satria menaikkan sebelah alisnya, "Masuk," ucapnya sambil menunjuk pintu dengan dagunya.
"Samperin wanita itu, aku memberimu waktu selama 1 bulan untuk membuatnya hamil," Salsa menjeda, "Kamu bilang ke aku bahwa kamu cinta kan sama aku? Jadi lakukan apa yang aku mau. Aku mau dia segera memberikan kita keturunan."
Satria meneguk ludahnya kasar, pandangannya nanar tak percaya akan kata-kata istri tercintanya itu. Pria itu bisa mengerti jika Salsa cemburu karena dia dimadu. Tapi apa harus sekejam ini memperlakukan seorang madu yang tidak bersalah seperti Ayla?
Tidak. Ayla tak harus dituntut seperti itu. Satria juga sangat menginginkan keturunan yang nanti akan berwajah mirip dengannya.
"Kamu nggak mau aku di rumah dulu?" Nada Satria sedikit bergetar, mengingat ucapan istrinya baru saja. Satria berpikir bahwa dirinya dan Ayla seperti dijadikan bahan untuk memenuhi keinginan Salsa.
"Enggak, kita sudah biasa hidup tidak saling bergantung, kan?" Salsa menatap datar Satria, "Jadi untuk 1 bulan ke depan tinggalah disana. Jangan kembali sampai waktu 1 bulan itu."
Satria menggeram tertahan mendengar keinginan istrinya. "Baiklah, kalo kamu butuh apa-apa, kamu bisa telfon aku atau Eza." Satria menepuk pucuk kepala Salsa dengan lembut, "Jaga kesehatan kamu, Sayang. Aku sangat mencintaimu."
Setelah mengatakan itu, Satria melumat bibir Salsa sebelum perpisahan mereka selama 1 bulan lamanya.
Salsa dengan senang hati menerima lumatan itu, bahkan tanpa segan-segan ia membalasnya. Dan mereka sempat terlibat adu lidah, hingga terdengar bunyi decapan. Mereka melakukan di depan pintu masuk. Untuk tak ada yang melihat.
Merasa pasokan udara menipis mereka segera menghentikan kegiatan panas mereka. Satria menempelkan keningnya. "Aku akan sangat merindukan mu, Sayang."
Selanjutnya pria itu pergi menuju mobil nya yang sebelumnya mengecup dalam kening sang istri demgan lembut.
****
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu terdengar nyaring pukul 5 sore. Wanita paruh baya yang tengah membenakan letak rambut nya berjalan sedikit tergesa-gesa menuju pintu.
Ceklek!
Senyum tipis terpatri di wajah tampan yang tengah berdiri di ambang pintu.
"Assalamualaikum, Bu." Pria itu mengecup lembut punggung tangan ibu mertuanya.
"Waalaikumsalam, kok Ayla nggak bilang-bilang kamu mau datang. Ayo masuk, Nak Satria."
"Ayla juga nggak tahu saya hari ini pulang, Bu." ucap lembut Satria pada Maya.
"Mau Ibu buatkan apa?"
Bukannya menjawab, Satria malah bertanya, "Ayla mana Bu?"
"Katanya mau pergi sebentar ke cafe."
"Cafe?" Kening Satria berkerut.
"Iya,"
"Kalo gitu Satria ke kamar dulu ya, Bu." Satria yang dari Surabaya merasakan pusing akhirnya pamit untuk ke kamar.
Setelah mendapat jawaban dari Maya, Satria bergegas menuju kamar dan merebahkan dirinya ke ranjang dengan tubuh yang masih berbalut kemeja. Tangan kanan nya mengurut pelan pelipis berharap agar rasa pusing itu menghilang.
****
"Assalamualaikum, Ibu."
"Waalaikumsalam, sudah pulang toh?"
Ayla mengecup punggung tangan Maya, "Bu itu mobil—"
"Mas kamu datang, samperin gih, kayanya agak nggak enak badan. Mau Ibu buatkan teh dia nggak mau,"
Ayla langsung meletakkan tas selempang nya di sofa ruang tengah, lalu berjalan menuju kamarnya dengan sang suami. Batinnya bertanya, Bagaimana suaminya itu bisa sampai disini? Bukannya tadi siang dia dan Salsa kembali ke Surabaya?
Ayla membuka pelan pintu dan mendapati suaminya tertidur tanpa berganti pakaian dan melepas sepatu nya. Ayla mendudukan tubuhnya pelan di pinggir ranjang. Wanita itu mengelus pelan lengan kekar sang suami.
"Mas?" Satria yang mendengar suara sang istri membuka sedikit matanya untuk memastikan pendengaran nya.
"Kok nggak bilang mau pulang?" Tangannya beralih menuju kening sang suami.
"Nggak panas, kenapa? Badannya pegel-pegel atau pusing?" Tangan lembut itu terus mengelus pelan kening sampai ke rambut.
"Pusing," Suara yang biasanya Ayla dengar tegas dan lembut itu berubah menjadi suara getar sedikit serak.
"Mau aku buatkan apa? Teh? Makan ya? Aku buatkan bubur." tanya Ayla mengalihkan fokusnya untuk membuka sepatu sang suami.
"Teh aja, Dek. Nanti kamu kesini lagi, ya." ucap getar nya penuh harap.
"Iya," Ayla menjawab saat berjalan menuju lemari untuk mengambil kaos dan celana pendek untuk Satria.
"Ganti dulu ya, Mas. Bisa kan? Aku ke dapur dulu," Ayla membantu Satria bangkit untuk bersandar di ranjang.
Satria menjawab dengan deheman.
****