Part 17 : Kode

1099 Words
"Mau dibuatkan teh hangat lagi, Ay?" Ayla mengangguk pelan. Pagi ini Ayla merasakan pusing kembali. Satria yang mengetahui hal itu meminta agar Ayla mengambil cuti untuk hari ini saja. Namun, Ayla kembali beralasan tak enak jika baru pertama masuk ambil cuti. "Mas Satria tiap malam Mbak Ayla nya jangan diajak begadang terus, tuh liat sampe masuk angin gitu." Satria terkekeh dengan tatapan masih terfokus pada istrinya, "Abisnya enak sih, Mbak. Jadi ketagihan deh. Iya nggak, Dek?" ucapnya yang sengaja memberi balasan dari Rini, dengan tangan terulur mengelus pipi Ayla yang sudah memerah. "Duh, Mas Satria bikin Mbak Ayla malu pagi-pagi." Rini terkikik melihat majikannya malu saat digoda. "Nggak masuk angin, Mas. Cuma pusing aja," timpal Ayla sebelum menerima teh hangat yang disodorkan oleh sang Ibu. "Bu, tadi malem denger nggak suara grusak-grusuk gitu?" Rini semakin gencar menggoda sepasang suami istri itu. Sedangkan Maya hanya geleng-geleng mendengar godaan Rini pada anak dan menantunya. Baru saja Satria ingin menimpali godaan Rini, Ayla cepat-cepat menyela, "Ih, Mbak Rini.. Orang tadi malem nggak ngapa-ngapain." "Tuh Mas, kode keras. Nanti malem, Mas Satria siap-siap tenaga aja." ucap Rini yang baru saja meletakkan sepiring tempe goreng yang masih hangat di meja makan. Satria tergelak mendengar nya, sedangkan Ayla hanya memberengut kesal. Kepala nya sudah pusing dan di tambah godaan Rini membuat nya kesal pagi-pagi. Candaan Rini terus berlanjut hingga selesai sarapan. Ayla yang kuping nya terasa panas langsung berpamitan untuk segera pergi ke cafe. Dan saat ini Ayla berada dalam mobil sang suami, duduk mengamati jendela samping yang terkena butiran-butiran air hujan yang baru saja turun. "Masih pusing nggak, Dek?" Ayla lebih memilih mengabaikan pertanyaan suaminya. Ia masih kesal karena suaminya tadi malah membalas goda-godaan ART nya. Ia benar-benar malu. "Kok nggak dijawab?" "Dek?" Satria tersenyum geli ketika mengalihkan pandangannya ke kiri yang dilihatnya adalah istrinya sedang memanyunkan bibirnya. "Oh, jadi marah ya sama Mas? Kenapa sih marah? Gara-gara Mbak Rini tadi?" Satria mulai menjalankan mobilnya, setelah lampu lalu lintas itu berganti warna. "Ish, Mas sih kenapa coba tadi pake ditanggepin kaya gitu, malu tau." Akhirnya Ayla mengeluarkan segala unek-unek yang mengganjal dari tadi. Wanita itu sebal kepada suaminya, apalagi mengingat kejadian tadi. "Marah-marah mulu, nanti malem nggak jadi dong itu nya kalo kamu nya lagi PMS." "Siapa yang PMS coba?!" Satria mengulum senyum, baru kali ini sejak pernikahan mereka 3 minggu yang lalu, istrinya itu marah-marah seperti ini. Biasanya dia sangat lembut, baik tutur kata maupun di ranjang. Membayangkan hal mesum bersama sang istri membuat nya tergelak sendiri. "Dih, ngapain ketawa tiba-tiba? Bikin kaget aja." Satria dengan sisa kekehan nya itu menatap Ayla singkat, "Mikirin gaya buat nanti malem, kamu mau yang gimana?" "Mas!!! Mesum banget sih?!!" Ayla menutupi rasa salah tingkah nya dengan memukul lengan Satria. Satria tertawa, menjahili istrinya ternyata menyenangkan. Karena Ayla adalah wanita gampang terpancing dan salah tingkah. Sedangkan Ayla lebih memilih diam memfokuskan pada jendela yang terlihat hujan semakin deras saja. 'Mungkin hari ini kita bisa tertawa dan bercanda seperti ini Mas. Entah besok, lusa, atau beberapa hari kedepan, tak ada yang tahu bukan? Aku hanya berharap supaya takdir bisa mempersatukan kita lebih lama, Mas. Setidaknya saat aku hamil nanti, Mas akan selalu menemaniku, dan berada disisiku.' Batin Ayla nelangsa mengingat jika Satria bukan hanya miliknya. **** Ayla mendesah pasrah dan memilih untuk tidak membalas pesan dari Satria yang memaksa untuk menjemput dirinya. Wanita itu meletakkan ponsel nya dalam tas dan kembali ke depan untuk melayani para pembeli. "Ay, nih tolong anterin ke meja nomor 1 ya. Nanti balik lagi anterin ini juga," Seorang wanita dengan hijab di kepalanya meminta Ayla yang baru saja keluar dari ruang khusus karyawan untuk menghantarkan beberapa pesanan di beberapa meja. "Iya, Mbak." Ayla mengangkat baki berisi sepiring Spaghetti Bolognaise dan Carbonara di kedua tangannya. Kemudian membawanya ke meja nomor 1. "Permisi, Spaghetti Bolognaise dan Carbonara." ucap Ayla ramah pada kedua remaja cowok dan cewek yang asik bercengkerama, "Ada tambahan?" "Ehm.. Ini dulu aja, Mbak." "Baik, silakan dinikmati." Ayla berbalik pergi meninggalkan kedua remaja itu, tugasnya selanjutnya adalah menghantarkan pesanan ke meja nomor 15. **** "Mas tunggu disini saja ya?" Ayla melepas seat belt. "Iya, Mas titip rokok ya." Ayla mendengar itu hanya bisa mengangguk, ia tahu jika Satria perokok sejak malam pertama mereka. Kemarin pria itu juga sempat merokok ketika berada di cafe. Ingin sekali rasanya Ayla melarang Satria untuk tidak merokok, tapi itu semua bukan hak nya kan? Larangan Ayla pasti tidak akan dianggap oleh Satria. Oleh sebab itu, ia memilih untuk diam saja. Lama Satria menunggu sang istri akhirnya ia kembali dengan menenteng 1 kantong plastik. Bruk! Setelah menutup pintu, Ayla segera memakai seat belt. Merasa jika sang istri telah siap, Satria melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan hingga sampai rumah mereka hanya diam, begitupun hingga memasuki kamar. "Mas dulu atau aku dulu yang mandi?" Ayla akhirnya memecah keheningan. "Adek dulu saja," Satria kembali fokus pada ponsel miliknya. **** "Ahhh.." Suara desahan dan rintihan melebur menjadi satu di ruangan itu. Terlihat dua tubuh mengkilap karena keringat sedang terlilit untuk menyatukan milik kedua nya. "Ganti posisi," Dengan nafas tersendat sang pria meminta wanitanya untuk berganti posisi menjadi berdiri. Rambut acak-acakan, bibir bengkak, seprai terlepas dari tempatnya, dan pakaian yang berceceran di lantai menjadi saksi kegiatan panas malam itu. Drrrttt... Drrrttt... "Telfon.. hhh.." "Biarkan saja." ucap pria dengan mata terpejam menikmati kegiatan mereka saat ini. "Sedikit lagi... Ahhh..." Desah dan erangan mereka semakin terdengar kuat ketika akan mencapai klimaks. Pria itu tak kuat menahan kenikmatan yang akan datang pun melampiaskan nya pada kedua dada wanitanya. Beberapa menit kemudian mereka melenguh kuat. Mereka ambruk pada lantai dingin dengan nafas memburu. "Makasih," **** "Mas, bangun yuk. Udah jam 4," Ayla mengguncang bahu lebar suaminya pelan. "Mas," Satria melenguh, kemudian mata nya mengerjap memandang Ayla. "Yuk, atau mau mandi dulu?" "Langsung aja," Satria bangkit berjalan keluar kamar menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, dan diikuti Ayla di belakang nya. Mereka pun menjalankan ibadah sholat subuh dengan Satria sebagai imam. Selesai sholat subuh pun Satria masih tetap sama, hanya diam. Dan ketika diajak bicara ia hanya menjawab seperlunya saja. Ketika Ayla menawari Satria ingin dibuatkan sarapan apa hanya dijawab 'terserah' oleh pria itu. Ketika sarapan pun juga sama pria itu hanya makan sedikit dan segera bangkit, bahkan saat Rini melontarkan candaan tak digubris oleh pria itu. Ayla juga berangkat ke cafe menggunakan ojol. Ayla ingin Satria berpikir dengan tenang. Ayla ingin sekali bertanya apa yang terjadi pada suaminya itu, namun ia urungkan Ayla tak ingin mengganggu Satria. Dan bertanya mungkin juga bukan hak nya. Ia hanya istri kedua yang dinikahi untuk mendapatkan keturunan. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD