Satria melemparkan ponsel nya di ranjang pelan, lalu pria itu mengacak-acak rambut frustrasi.
Ayla yang ingin masuk ke kamar pun mengurungkan niat nya. Saat merasa suaminya sudah lebih tenang, ia kembali melangkah masuk.
Tapi, tunggu! Bahu suaminya kini bergetar, Ayla dengan cepat menghampiri Satria yang sedang berjongkok.
"Mas?" suara Ayla begitu pelan.
Mendengar suara pelan sang istri Satria cepat-cepat mengusap wajahnya. Ia mendongak menatap kedua mata teduh sang istri.
"Mas kenapa?"
Ayla mengusap lembut bahu Satria yang sudah tak bergetar. Tapi Ayla tahu jika suaminya itu baru saja menangis, kerena melihat jejak air mata yang ada di pipi sang suami. Mata nya juga memerah.
"Apa yang terjadi? Kalo Mas butuh tempat cerita, aku siap." Setelah meyakinkan hatinya, akhirnya Ayla memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada suaminya.
Perlahan Ayla memajukan badannya, tangannya menarik pelan tengkuk sang suami. Lalu membawanya ke arah bahu nya, membiarkan Satria mengeluarkan semua unek-unek yang mengganjal di hati nya.
Dalam pelukan itu juga Satria menangis kembali hingga bahu nya bergetar dan cardigan yang dipakai Ayla untuk menutupi gaun malam nya yang hanya bertali spageti itu ikut basah.
Tangan Ayla mengelus punggung lebar sang suami, memberikan ketenangan untuk sang suami. Hanya ini yang bisa Ayla berikan untuk sang suami.
"Salsa, Dek." Tubuh Ayla menegang mendengar ucapan suaminya yang masih sesegukan itu.
Ayla hanya bisa tersenyum getir, sudah ia pastikan bahwa ini ada kaitannya dengan Mbak Salsa—istri pertama suaminya.
"Sttt... Tenang kan diri Mas dulu," Satria mengeratkan pelukannya, lalu memposisikan pelukannya pada dada sang istri.
"Sudah dari kemarin Mas coba hubungi Salsa, tapi nggak ada satu pun yang dia jawab. Mas kirim pesan juga, nggak dia baca. Mas takut, dia ninggalin Mas tanpa ada kabar lagi. Pernah sebelum pernikahan kita, dia ninggalin Mas selama 1 bulan lamanya. Mas takut, Mas nggak bisa, Dek. Mas cinta sama dia," jelasnya.
Hati Ayla teriris nyeri mendengar penjelasan dari suaminya. Seperti inikah menjadi istri kedua? Istri yang tak pernah diharapkan. Istri yang dinikahi hanya untuk menampung seorang anak. Mata Ayla berkaca-kaca. Air mata jatuh mengalir di pipi nya. Kenapa seperti ini nasib nya? Bagaimana perasaan Ibu nya jika tahu? Ayla tak berani jika harus mengatakan semua nya.
"Mas bisa telfon besok lagi. Siapa tau, Mbak Salsa lagi ada pemotretan jadi sibuk terus capek juga kan? Mas harus bisa ngerti kegiatan Mbak Salsa yang kesibukan nya tidak main-main. Mas pasti tau sendiri kan seperti apa keseharian Mbak Salsa." kata Ayla dengan nafas sedikit tersendat karena menahan isak. Hati nya sakit.
Tak ingin Satria melihatnya menangis, Ayla cepat-cepat menghapus air mata yang terus keluar. Saat itu juga Satria bangkit dari pelukan nyaman sang istri.
Mata mereka saling menatap dalam, perlahan senyum terbit di bibir manis Satria.
Disusul suara pelan, "Makasih,"
Melihat istrinya hanya diam tanpa ada tanggapan Satria mulai menjelaskan, "Makasih udah mau dengar curhat dan keluh kesan Mas hari ini."
Ayla mengangguk angguk pelan.
"Jam berapa sih sekarang?" Satria mengalihkan pandangnya ke nakas tempat dimana jam berada, "Jam setengah 11," Satria kembali menatap ke arah Ayla.
"Mas pengen, Dek." ujar Satria pelan menatap kedua mata sang istri dengan senyum tipis terukir di bibirnya.
"Mas,—" Ayla jadi bingung sendiri, "Mas, tapi ini sudah malam lho, besok ya,"
"Nggak lama, Dek. 1 jam aja ya?" Satria meraih tangan Ayla, lalu menaik turunkan pelan.
Ayla mau tidak mau pun mengangguk singkat. Sedangkan Satria langsung tersenyum lebar. Dengan gerakan cepat dia menggendong sang istri menuju ranjang.
****
"Capek?" Ayla mengangguk singkat dalam dekapan Satria.
"Jam berapa Mas?"
"Jam 11.45"
Ayla melepaskan pelukan Satria, lalu bangkit memakai baju yang tadi dibuang asal oleh suaminya. Satria hanya bisa diam sambil membenarkan selimut yang sedikit melorot.
Ayla gaduh sendiri, mulai dari memakai baju, mengambil minum, menguncir rambutnya. Tapi setelah itu Ayla kembali menaiki ranjang, lalu duduk bersila menatap Satria yang masih berbaring.
Matanya melirik singkat ke jam digital yang ada di nakas, pukul 12.01.
"Selamat Ulang Tahun, Mas Satria." ucap Ayla dengan senyum lembut yang terukir di bibir wanita itu.
Satria menatap Ayla dengan pandangan sulit diartikan. Ia bangkit melepas selimut yang membungkus tubuhnya, berjalan memakai pakaian nya.
Ayla yang menatap itu hanya bisa tersenyum sendu. Segitukah dirinya tak berarti dimana suaminya? Ia hanya ingin dihargai. Apa ia salah jika menginginkan semua itu?
Air mata nya mengalir, tangannya perlahan menuju laci nakas, kemudian membuka laci itu.
Terdapat kotak warna hijau yang tadi siang ia hias indah ketika sedang jam istirahat di cafe. Wanita itu ingin memberikan sesuatu yang berharga untuk suaminya malam ini. Apa nanti suami nya juga akan menerima hadiah ini?
Ceklek!
Ayla beralih menatap pintu kamar nya yang dibuka oleh Satria. Pria itu keluar setelah selesai dengan pakaiannya.
Air mata Ayla kembali terjatuh. Apa malam ini suaminya akan meninggalkan nya seperti malam pertama mereka yang gagal waktu itu? Ia tak siap. Kenapa semua begitu menyesakkan?
Terdengar derap langkah kaki mendekat, tangannya cepat-cepat mengusap pipi yang basah itu. Berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum.
Grep!
Saat Ayla ingin berbalik gerakannya dicegah oleh tangan kekar yang memeluk nya dari belakang.
"Thank you," suara berat tapi lembut itu membuat air mata Ayla terjatuh kembali.
Wanita itu salah mengartikan tindakan Satria tadi. Ia mengira Satria tidak suka dengan semua perlakuan nya. Tapi ia salah, nyatanya suaminya malah berterimakasih.
Kecupan-kecupan lembut dilayangkan di pelipis Ayla. "Kok tau?"
"Tau dong, terus aku juga tau kalo sekarang umur Mas itu udah 33 kan?"
"Hm," Satria bergumam dan kembali menciumi pelipis Ayla.
Ayla perlahan berbalik menatap Satria yang ternyata sedari tadi sudah menitikkan air mata.
"Ish, cengeng banget." cibir Ayla dengan mencubit hidung Satria gemas.
Satria terkekeh, lalu kembali merengkuh Ayla ke dalam pelukan nya.
"Ada hadiah buat Mas lho. Mas nggak mau buka dulu?"
Untuk menghargai pemberian Ayla, dengan berat hati pun Satria melepaskan pelukannya.
"Nih, buka." kata Ayla dengan senyum manis menyerahkan kotak hijau kepada Satria.
Satria menatap wajah Ayla sebentar sebelum memfokuskan tatapannya ke kotak hijau itu.
"Ini dalem nya nggak kamu bungkus doble kan?"
Ayla dengan senyum yang masih mengembang pun menggeleng.
Dengan satu tarikan nafas ia membuka kotak hijau itu.
Hening.
Namun lama kelamaan isak kecil mulai terdengar, "Dek?" panggil Satria yang sudah menatap Ayla menuntut penjelasan.
Ayla mengangguk, "Kemarin, waktu di minimarket itu aku beli testpack. Karena udah curiga, waktu aku googling tanda-tanda nya juga sering pusing."
Tak butuh waktu lama, Ayla sudah ada dalam dekapan hangat Satria.
"Thank you, thank you, thank you." ucap Satria dengan kecupan bertubi-tubi, "Mas nggak tau harus berkata gimana lagi. Mas seneng banget. Banget. Mas nggak nyangka akhirnya Mas jadi Ayah,"
"Kamu tau ini kado terindah yang Mas terima, makasih. Makasih, akhirnya di umur Mas yang ke 33, Mas diberi amanat untuk jaga dia," lanjutnya.
Ayla hanya bisa tersenyum, ternyata suaminya menerima hadiah darinya dengan tangan terbuka.
Ayla juga tak pernah menyangka jika Satria akan sebahagia ini, sampai terharu dan menangis di bahunya.
Ayla dan Satria sangat bersyukur ternyata di pernikahan mereka yang masih terbilang sangat muda ini sudah di beri anugerah seindah ini.
****