Part 19 : Kebahagiaan dan Kesedihan

1166 Words
Malam itu kedua insan itu sangat dilimpahkan segala kebahagiaan. Satria terus saja mengelus perut datar istrinya dan sesekali juga mengecup nya. Ia benar-benar tak percaya dengan semua ini. Karena perlakuan Satria itu juga membuat Ayla tak bisa tidur. Ia sudah merengek meminta Satria untuk menghentikan perlakuan nya itu, tapi tetap saja Satria tak mau menurutinya. Paginya ketika sarapan pun Satria terus senyum-senyum sendiri. "Kenapa toh Mas Satria ini? Dari tadi saya perhatikan senyum-senyum terus," Rini yang telah selesai meneguk segelas air putih pun bertanya ada Satria. Tapi Satria tetap saja senyum-senyum tidak jelas. "Wah jangan-jangan tadi malem dapet jatah ya, Mas? Berapa ronde Mas?" Mata Rini mengerling jahil menatap Ayla yang wajahnya memerah. "Tuh, tuh, Mbak Ayla muka nya sampe merah. Bararti bener ini, Bu, Ibu denger nggak tadi malem suara gaduh di kamar nya Mas Satria sama Mbak Ayla," tambah Rini. Satria dan Maya sama-sama tertawa melihat Ayla yang makin salah tingkah. "Ibu jam 8 udah tidur, jadi nggak denger apa-apa." "Yah, nggak seru dong, Bu. Pasti tadi malem Mas Satria heboh sampe senyum-senyum gitu." Satria segera mengambil gelas yang telah terisi air putih dan meneguknya hingga tandas. "Ya jelas dong, Mbak. Bahagia banget saya tadi malem, menang banyak nih saya tadi malem," Rini dan Maya terkekeh. Tapi, Ayla mencoba tak menghiraukan perbincangan mereka, ia lebih memfokuskan dirinya untuk menyelesaikan sarapan nya. "Berapa ronde toh, Mas?" "Cuma 1 sih, Mbak." ucap Satria sambil menatap istrinya. "Loh? Cuma 1 ronde toh? Saya kira banyak," Rini terkikik sambil menumpuk piring Maya dan piring nya yang telah kosong, bermaksud untuk membawanya ke cucian. "Ada yang lebih buat saya senang gini, Mbak, Bu." Ayla menatap Satria penuh arti. "Mau Mas saja atau kamu yang ngomong, Dek?" "Mas saja." jawab Ayla disertai anggukan. "Ekhm! Mungkin... selama 9 bulan ke depan, selama saya di Surabaya Ibu dan Mbak Rini akan direpotkan Ayla yang ngidam dan lain sebagainya," Mereka terdiam mencerna setiap kata-kata yang Satria ucapkan. "Kamu hamil, Ay? Ibu mau jadi nenek?" celetuk Maya. Ayla dengan wajah malu-malu pun mengangguk. "Wah, selamat ya Mas Satria, Mbak Ayla. Top banget Mas Satria langsung jadi, padahal masih 3 minggu loh ya pernikahan kalian." "Makasih Mbak Rini," Maya pun segera memeluk putrinya itu, dan dilanjutkan Mbak Rini. **** Hari sudah sore waktunya Ayla untuk pulang, tak lupa ia mampir ke supermarket untuk membeli beberapa bahan masakan. Ia ingin membuatkan makan malam yang special untuk Satria, Maya, dan Rini di hari bahagia ini. Ayla yang sangat jarang membeli daging pun sore ini membeli daging, untung nya suaminya mau diajak kompromi untuk tidak usah menjemput nya. Selesai membeli bahan masakan, ia segera pulang, dan saat ini ia sedang berada di bus yang lumayan sepi penumpang. Ayla duduk di samping jendela yang mulai mengeluarkan rintik-rintik hujan. Wanita itu merasa sangat tak sabar untuk bertemu sang suami. Ayla rasa semua itu adalah keinginan calon anaknya. Ia mengelus pelan perut rata itu. "Kangen sama Papa ya? Sabar ya, Sayang." gumam nya pelan. Senyum tipis terbit di bibir Ayla. **** Ayla memasuki rumah dalam keadaan sepi, di luar tadi ia sudah di herankan dengan mobil putih. Ia pikir tamu, tapi nyatanya rumah sangat sepi. Ayla meletakkan belanjaannya di meja dapur, lalu ia segera menuju kamar untuk mandi. Selesai mandi ia pun mencari Ibu nya, terdengar suara tawa seorang pria di halaman belakang. Ayla pun akhirnya memutuskan untuk melihatnya. Tibalah di sana, Ayla disuguhkan pemandangan Maya dan Andre—teman Satria, yang sedang bercanda dengan sang Ibu ditemani guyuran hujan. "Eh? Sudah pulang toh? Sini duduk." perintah Maya sambil menepuk sisi kosong pada kursi kayu tersebut. Di meja juga sudah ada 2 cangkir teh hangat dan stoples biskuit yang Maya beli kemarin. "Mbak Ayla masih ingat saya?" Ayla beralih menatap Andre. "Iya, Mas Andre kan? Yang jemput saya waktu itu?" Andre mengangguk membenarkan ucapan Ayla. "Bu, Mas Satria kemana?" "Loh? Kamu belum tau?" Wajah Maya kelihatan sedikit syok, Maya kira anaknya sudah tau. Ayla menggeleng. "Mas kamu tadi pamit sama Ibu mau ke Surabaya, katanya ada kepentingan." Ayla hanya bisa tersenyum getir. Sudah dipastikan jika suaminya itu pasti ke Surabaya untuk merayakan hari ulang tahun bersama dengan Salsa. Apa yang ia harapkan? Kenapa tadi dia dengan percaya dirinya membeli semua bahan masakan? Kenapa ia juga tadi bisa berharap bahwa suaminya akan merayakan ulang tahun bersama nya? Suaminya itu sangat menyayangi Salsa, jangan terlalu tinggi berkhayal Ayla nanti kalau jatuh sakit. **** "SAYANG!" Suara Satria memenuhi ruangan itu. Satria melangkah menuju ke kamar nya, tapi yang ia dapati hanya kosong. Begitupun di kamar mandi, dapur, atau halaman belakang. Satria tak menemukan dimana istrinya berada. Selain itu, ART nya—Mbak Inah pun juga tidak ada. Apa mungkin Mbak Inah sedang pulang kampung? Satria membuang nafas gusar. Ia kira lama perjalanan nya dari Malang ke Surabaya nanti akan disambut hangat oleh istrinya. Ternyata tidak, istrinya sedang pergi entah kemana. Satria mencoba menghubungi Salsa kembali, tapi tetap sama, hanya suara operator yang muncul. Kemana sebenarnya Salsa? Ia memutuskan untuk pergi ke rumah Ayah Bunda nya, sudah lama ia tak berkunjung. Dan nanti ia akan membawakan kabar bahagia untuk mereka. Pasti mereka akan senang. Satria pun tersenyum membayangkan semua yang akan terjadi. Baru saja ia akan membuka pintu mobil nya, mobil warna merah milik Salsa datang terparkir di belakang nya. Satria tersenyum melihatnya, ia sudah sangat rindu dengan istrinya. Salsa turun dari kursi penumpang, lalu menghampiri Satria yang tengah tersenyum. Diikuti oleh Novan—manager Salsa. "Kenapa pulang? Bukankah aku sudah bilang aku memberikanmu waktu 1 bulan?" Satria tersenyum lagi. Satria berjalan menghampiri istrinya, lalu merengkuh tubuh istrinya itu. "Aku bahagia hari ini, Sayang. Kamu nggak ingat hari ini, hari apa?" Salsa mendengus dalam pelukan Satria, "Ck! Nggak penting tau nggak hari ini apa. Yang penting kamu cepet hamilin dia, supaya kalian cepat cerai." Satria terkekeh, "Cemburu, hm?" "Ekhm!" Deheman keras dari Novan menghentikan kegiatan mereka. "Lepas, nggak enak sama Novan!" bisik pelan Salsa tepat di telinga Satria yang masih dapat di dengar Novan. Satria kembali tertawa dan melepaskan pelukan nya, hari ini ia sangat-sangat senang, kebahagiaan datang bertubi-tubi padanya. Ia benar-benar sangat bersyukur. "Malam ini ajaklah keluarga mu, kita makan malam bersama. Nanti biar Salsa yang share lock lokasinya." pinta Satria dengan senyum yang terus mengembang. **** Makan malam telah tersaji semua di atas meja. Andre juga membantu Maya dan juga Ayla untuk menyajikan semua ini. Ada rendang, tumis udang brokoli, acar, capcai, sup bayam, telur dadar, dan tempe tahu goreng. Menatap semua masakan yang sudah tertata rapi itu hati Ayla menjadi teriris. Ia memasakan semua ini untuk hari ulang tahun suaminya, tapi mengingat lagi jika ia hanya istri kedua ia harus bisa menerima semua ini. "Ayo makan malam dulu Nak Andre," ajak Maya yang sudah duduk di kursi. "Lain kali saja, Bu. Saya harus pulang dulu," tolak Andre sopan. "Eh, Mas harus makan dulu, ini nanti siapa coba yang bantu habisin?" timpal Ayla sedikit memaksa Andre untuk mau makan malam bersama. "Duh, jadi nggak enak saya." Andre menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. "Udah makan dulu," ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD