Part 20 : Sebenarnya

1806 Words
"Sayang, bentar lagi kita bakal jadi orang tua lho," ujar Satria yang mengelus pucuk kepala Salsa yang tidur di sofa bed ruang tengah. "Kamu pengin dipanggil apa? Mama? Bunda? Mami? Mommy? Ibu? Atau apa?" tambahnya. Kepala Salsa menengadah menatap manik mata suaminya yang menyiratkan kebahagian disana. Dengan perasaan yang heran ia bangun, lalu menatap lekat manik mata itu. "Wanita itu udah hamil?" gumam Salsa pada Satria yang terdengar sangat lirih. Satria mengulas senyum, pasti istri pertamanya ini sangat senang dengan kabar kehamilan Ayla. Satria kemudian meraih tangan cantik milik Salsa dan mengecupnya berulang-ulang. Satria mengangguk, untuk meyakinkan pada istrinya jika mereka sebentar lagi akan memiliki seorang anak. "Bagus deh, lebih cepat, lebih baik." ujar Salsa dengan cuek, lalu kembali berbaring. Tandanya Ayla pasti akan berpisah dengan sang suami, itu yang terpenting menurut Salsa. "Kamu seneng kan?" Salsa hanya mengumam tidak ingin menjawab lebih. Wanita dengan setelan piyama warna merah nyala dan rambut indah yang tergerai itu lebih fokus pada sajian acara tv. "Ekhm! Sayang geseran sedikit boleh? Aku mau tidur di samping kamu." ujar Satria meminta persetujuan. Entah kenapa malam ini ingin sekali ia menjamah tubuh menggoda istrinya. Salsa menatap Satria penuh selidik, namun kemudian ia menghembuskan nafas kasar. Dengan perasaan yang amat mengganjal, ia pun menggeser tubuhnya ke kiri agar nanti Satria bisa tiduran di kanan nya. Dengan perasaan semangat menggebu-gebu dan senyum lebar yang terus melengkung di bibirnya, akhirnya Satria berbaring miring menatap Salsa. Sofa bed ini ternyata sangat kecil bila digunakan berdua dengan istrinya. Tapi tak apa, ia sudah rindu sekali pada istrinya. Salsa berdecak kesal karena merasa diperhatikan terus oleh Satria dengan intens dan yang lebih ia kesali adalah suaminya itu terus tersenyum. "Sat, kamu gila apa gimana sih? Dari tadi senyum mulu." Satria terkekeh mendengar istrinya menggerutu dengan muka jutek nya. Tangannya pun mulai terulur memasuki piyama sang istri, mengusap perut datar itu. Sial! Seperti ini saja sudah membuat miliknya menegang. "Rahim kamu nggak pengin aku isi juga, Sayang?" tanyanya dengan penuh harap. Satria sangat menginginkan seorang anak dari rahim perempuan yang paling dicintainya itu. Ia ingin punya seorang bayi perempuan yang cantik seperti istrinya yang menjadi seorang model ini. "Isi apa?" Entah Salsa yang tidak mengerti maksud dari perkataan suaminya itu atau ia yang kurang fokus sejak tadi. "Diisi benih aku mau?" tangannya terus mengusap perut datar dan lebih turun kebawah dimana tempat rahim berada, "Disini, di rahim kamu." Salsa menepis tangan suaminya yang mulai lancang turun ke bawah. Jika dibiarkan tangan itu pasti akan merambat masuk ke dalam celananya. "Nggak." sorot tajam nan dingin langsung diarahkan ke Satria. Dengan perasaan yang masih kesal ia bangkit menatap suaminya. "Kenapa sih kamu nggak mau ngerti dikit aja, hah?! Aku bilang aku nggak mau, Sat!!! Harus sampe berapa kali sih aku bilang supaya kamu ngerti, KALO AKU NGGAK MAU DAN NGGAK AKAN PERNAH SUDI UNTUK HAMILL!!!!!" jelas Salsa membuat hati Satria sedikit nyeri. Segitukah istrinya tidak ingin mengandung benihnya. Padahal dari dulu cita-cita nya adalah memiliki banyak anak, mungkin 7-10 anak. Ia tahu rasanya jadi anak tunggal, tak ada yang ia banggakan. Satria lebih suka jika memiliki banyak saudara. Menjadi anak tunggal bagi Satria sangat menyedihkan, tak ada teman yang diajaknya bermain, berbagi keluh kesah, dan segalanya. Maka dari itu ia ingin sekali memiliki banyak anak, agar anaknya nanti tidak kesepian. Satria dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca bangkit dari baringan. Ia dia memang pantas disebut cengeng, biarkan saja apa kata mereka, tapi jika mengenai masalah keluarga dan cinta ia tak akan kuat untuk berkata-kata. "Sayang maksud aku bukan gitu," "Halah, alasan!" Mata Salsa memerah, kali ini dia sangat marah karena suaminya itu tetap bersikukuh untuk membuatnya hamil. Salsa pergi dari sana menuju lantai atas, menyisakan Satria dengan segala rasa bersalahnya. Bahkan malam ini istrinya belum mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Saat makan malam tadi pun Salsa hanya diam menyantap makanan nya. Satria kembali merenungkan kesalahan nya, mungkin ia terlalu egois tentang masalah anak. Ia akan belajar untuk lebih dan lebih memahami istrinya. Salsa kembali turun dengan langkah sedikit tergesa-gesa, ia masih mengenakan piyama tadi. Kunci mobil, hp, dan dompet berada digenggamannya. Satria berjalan cepat menghampiri Salsa, lalu meraih tangannya. "Sayang mau kemana? Aku janji nggak akan ulangi kesalahan aku lagi, Sayang. Maaf ya, jangan pergi tinggalin aku lagi." "Lepas!" Satria menggeleng. "Lusa aku kembali, jadi lepaskan!" "Baiklah, aku akan menunggu mu. Hati-hati ya, jangan ngebut, kalo ada apa-apa telfon aku," Satria mulai mengerti, mungkin istrinya butuh waktu sendiri untuk menenangkan fikirannya. Salsa hanya bergumam dan langsung pergi dari sana setelah Satria melepaskan cekalan di tangannya. **** "Hai, udah lama?" tanya Salsa pada pria bertubuh tinggi. "Nggak juga." pria dengan tubuh yang masih terbalut kemeja itu pun memeluk Salsa. "Kok belum ganti baju kamu, Yang?" tanya Salsa sedikit membenahi bunga yang ada di jas pria itu. "Hm, tadi Dona rewel terus nggak sempet ganti baju." pria itu mulai merengkuh pinggang Salsa, mereka berjalan menuju kamar yang telah pria itu pesan. "Ada masalah sama Satria lagi, hm?" tambahnya. "Hm, nyebelin banget tuh si Satria. Hamil terus yang diomongin pusing lama-lama kepala aku, Yang." Mereka pun telah sampai di depan kamar nomer 1003, dengan menggunakan key card pria itu membuka pintu warna coklat itu. Setelah masuk mereka langsung menutup pintu itu dan tidak lupa mengantungkan tulisan 'don't disturb' di depan pintu kamar. "Yaudah, malam ini kita puas puasin aja, Oke?" "Kamu puasin aku ya, Yang, malam ini. Kalo sama Satria aku nggak pernah puas, lembek banget Satria main nya." cibir Salsa yang sudah membantu pria di hadapannya melepaskan satu persatu kancing jas dan kemeja yang dipakai nya. Pria itu tertawa keras, "Tenang aja, kamu mau sampe pagi pun tetep kuat aku." Salsa ikut tertawa dan memukul pelan dada telanjang itu, "Dasar ya! Udah tua juga, ingat umur kamu. Bisa-bisa punggung kamu nanti encok pas lagi itu," "Itu apa?" goda pria itu. "Ih, ngeselin banget sih kamu." Pria di depan Salsa itu hanya tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya. Ia mulai mengecap bibir ranum yang sangat menggoda nya dari tadi. Tangannya dengan lembut membuka satu persatu kancing piyama milik Salsa. Setelah piyama yang dikenakan Salsa lepas, dengan gerakan cepat pria itu menggendong Salsa ke ranjang, lalu mengukung tubuh wanita itu. Tangannya sibuk dengan kaitan bra yang ingin dilepasnya, setelah terlepas ia kembali menatap manik mata Salsa yang telah di selimuti kabut gairah. Jari-jari tangan kanan nya sibuk menyusuri celana dalam merah menyala. Ia mulai memasukan jari-jari itu kedalam nya. "Sudah basah, hm?" ujar pria itu dengan suara berat nya. Salsa mengangguk cepat, "Iya, ayo cepet masukin punya kamu, Yang." Tangannya terulur ke bagian celana bahan pria itu, ia meremas keras milik pria itu. "Ahhh... Nakal, hm?" "Makanya cepet, Yang." Dengan senyum miring nya, pria itu akhirnya melepas beberapa kain yang masih melekat di tubuhnya. Perlahan ia memposisikan badannya tepat di tengah-tengah Salsa. Pria itu dengan cepat melesakkan miliknya di dalam Salsa, "Enghhh.." "Teriak nama ku, Yang." "Novan, lebih... cepat... Ahhh" Ya itulah nama yang selalu Salsa banggakan di dalam hatinya. Novan—pria yang sangat ia cintai 3 tahun terakhir. Hubungan terlarang yang mereka jalani telah masuk ke tahap hubungan kotor, hubungan yang mereka jalin dengan melibatkan kepuasan nafsu mereka. 4 tahun lalu, sebelum Novan menjabat sebagai manager nya, Salsa mempunyai manager yang cantik, tapi tak begitu luwes untuk mengatur jadwal Salsa yang sedang padat-padat nya. Akhirnya pada saat itu, Salsa memutuskan untuk melepas sang manager dan menggantinya dengan orang lain, yaitu Novan. Novan yang selalu begitu manis pada Salsa saat mereka ada pemotretan atau hal lain-lain, membuat Salsa menjadi baper sendiri. Pekerjaan Salsa juga membuat nya jauh dari suami yang selalu menunggunya pulang. Salsa yang tau jika Novan telah beristri pun tak mempermasalahkan nya. Karena ia sudah jatuh cinta pada pesona Novan. Dan setelah 5 bulan mereka kenal, mereka pun menjalin hubungan terlarang. Hubungan 2 orang yang sama-sama telah berkeluarga. Dan ketika anniversary hubungan mereka yang pertama. Novan dan Salsa sama-sama dimabuk asmara, mereka berlibur ke Bali. Menghabiskan waktu dan momen yang amat berarti di Bali. Saat malam anniversary itu juga, mereka lepas kendali. Salsa yang sebenarnya melarang Novan untuk tidak menyentuhnya dengan dalih tak ingin jika nanti ia hamil. Namun, semua dengan bujukan dari Novan, akhirnya mereka melakukannya malam itu. Salsa menyerahkan keperawanan nya kepada Novan. Sedangkan, Novan dengan tega berselingkuh dan berhubungan badan dengan Salsa, ia tidak lagi berfikir akan keluarga dan anak-anak nya. **** Pagi telah tiba, jm pun sudah menunjukkan pukul 07.00. Namun kedua insan itu masih tertidur pulas, tanpa adanya kain yang menutup tubuh mereka. Novan kemarin malam benar-benar menghajar Salsa sampai pukul 5 pagi, itu pun karena Salsa yang memintanya untuk berhenti. Dalam pelukan hangat Novan, Salsa mulai menggeliat dan melenguh tak nyaman. "Kenapa?" tanya Novan yang menyadari ketidaknyamanan kekasih gelap nya. Lagi-lagi Salsa hanya melenguh pelan. "Hey, bangun dulu." Novan memaksakan dirinya untuk menatap Salsa, lalu perlahan ia menepuk pipi kekasihnya. Perlahan Salsa pun membuka mata nya yang disertai kedipan-kedipan kecil. "Laper," Novan terkekeh, hingga bahu nya bergetar. "Tapi aku masih belum puas, Sayang." ujar nya dengan senyum jahil setelah kekehannya terhenti. "Iya, nanti lagi, sekarang kita sarapan dulu. Aku bener-bener laper." katanya dengan rengekan yang dapat memanjakan pendengaran Novan. "Iya iya, aku pesankan sekarang," Novan segera bangkit dengan tubuh yang masih polos, lalu meraih gagang telefon yang terletas di nakas. Novan pun mulai menyebutkan makanan yang dia inginkan, juga beberapa makanan kesukaan kekasih hatinya. Selesai bertelefon, ia bangkit menuju kamar mandi, badan nya rasanya sangat lengket. Karena kemarin malam, setelah acara dinner dengan Satria dan Salsa, dia belum sempat untuk mandi. Waktu 20 menit ia habiskan untuk mandi. Lalu ia keluar kamar mandi dengan bathrobe dan menghampiri Salsa yang masih duduk-duduk di ranjang. "Sarapan nya sudah sampai?" Salsa menggeleng. Novan yang merasa gemas pun segera mencium bibir Salsa. Tepat saat ia mulai melumat, pintu kamar diketuk. Dengan saat terpaksa, ia pun bangkit membukakan pintu. Pelayan perempuan itu pun masuk untuk menyajikan sarapan mereka pagi ini. "Aku saja, pergilah." titah Novan memberhentikan langkah pelayan itu, ia tidak ingin ada seorang pun melihat Salsa dengan keadaan seperti itu. Dengan perasaan gembira, Salsa segera duduk. Ia meraih kemeja putih Novan yang tergeletak di bawah kaki nya. Lalu ia berdiri menghampiri Novan dengan tangan yang sibuk mengancingkan kemeja itu. Novan berdecak sebal melihat semua pemandangan ini, ia segera meninggalkan makanan yang ia siapkan di meja tadi. Lalu berjalan mendekati Salsa. Dengan gerakan cepat, ia membuka bathrobe itu. "Kamu mau menyiksaku, Sayang? Hm? Mau menggoda ku?" Salsa dengan wajah kebingungan pun hanya bisa menatap Novan yang tiba-tiba melepas bathrobe. Novan segera menyerang Salsa detik itu juga. Desahan, lenguhan, dan rengekan Salsa menjadi satu. Ia sangat lapar, tapi perlakuan Novan saat ini juga membuatnya nikmat. "Ahhh.. Novanhhh.." Salsa menjambak pelan rambut Novan. "hhhh.. Enak, hm? Ughh.. hhh.." "Laper.." "2 ronde lagi.. hhhh.. Setelah ituhh.. Ahh.. Boleh makan.." kata Novan dengan nafas tersendat. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD