"Sayang, aku harus ke Malang. Bentar aja, ya," sungguh Satria benar-benar khawatir pada istri keduanya saat ini.
Panggilan yang dilakukan dari pagi tadi tak membuahkan hasil apapun hingga siang hari ini. Bagaimana pun juga Satria juga harus bersikap adil pada kedua istrinya, bukan?
"Aku bilang enggak ya enggak, Sat! Keras kepala banget sih kamu dibilangin!" Satria menghembuskan nafas kasar.
Memang hingga saat ini, ia masih belum ada rasa pada istri mudanya itu. Tapi ia juga harus menjaga perasaan istrinya itu.
Pria itu lebih memilih pergi meninggalkan Salsa di kamar. Mandi adalah tujuannya saat ini. Ia ingin menjernihkan pikiran agar tak terbawa emosi saat berbicara pada istri tercintanya.
Dan untuk biaya pengobatan Manager Salsa--Novan, akan ditanggung oleh Satria.
****
"Sebenarnya kamu mau ngapain sih di Malang, Sat?! " teriak Salsa di depan muka Satria.
"Please, Sayang. Ini penting, izinin aku ya. Nanti aku malam pulang kok," Satria menatap dengan sendu wajah sang istri.
"Kamu nggak seneng aku pulang, hah?!" bentak Salsa yang tak ingin mendengar permohonan Satria.
"Bukan, bukan begitu. Tapi a-aku--"
"Apa? Mau alesan?" tantang Salsa dengan dagu yang sudah dinaikkan. Matanya menajam menatap netra sendu sang suami.
Satria tak menjawab apapun, ia sebenarnya juga sangat rindu sedah 1 bulan lebih kepergian Salsa. Akhirnya ia pulang juga.
Akhirnya pria itu mengalah, memilih diam daripada nanti ia kehilangan Salsa untuk kedua kalinya.
Salsa pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun.
'Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi,'
"Kamu kemana, Dek?" Satria terus mencoba menghubungi istri keduanya itu. Tapi tetap sama, tak diangkat.
****
"Kangen..." rengek manja sosok wanita yang tengah berselonjor di ranjang.
Terdengar kekehan dari seberang telepon, "Kok ketawa sih, Yang?! Aku beneran kangen nih,"
"Masa?"
Wanita itu mendengus memutar bola mata nya, "Sorry, Babe. Kamu lagi di luar?"
"Di rumah,"
"Terus suami kamu?"
"Aku di kamar tamu,"
"Oh,"
"Yang, nanti malam aku samperin kamu ya,"
"Jangan, nanti istri aku tau gimana?"
"Ih, kenapa sih nggak boleh?! Aku kangen! K-A-N-G-E-N!"
"Salsa..."
"Terus kapan?"
"Besok ya? Besok pagi setengah 7. Okey?"
"Lama,"
"Sayang, please. Okey?"
"Yaudah, aku tutup dulu kalo gitu. Bye, Yang."
"Bye, Babe."
****
"Tadi telfonan sama siapa?" Satria sudah tak tahan lagi untuk bertanya. Satria ingin sekali tidak menaruh curiga pada istrinya. Namun, rasa ingin tahu nya sudah menguasai dirinya.
Tubuh Salsa sedikit menegang. Namun, cepat-cepat ia menormalkan gerak tubuh dan mimik wajahnya.
"Kapan?" tanya Salsa santai.
Satria meletakkan sendok dan garpunya, netranya menatap lekat pada Salsa yang masih dengan tenang melahap makan malam.
"Tadi, pukul 2." suara Satria terdengar mengintimidasi.
"Sama temen,"
"Manggilnya dengan sebutan 'Yang', begitu?"
"Kru aku ada yang namanya Mayang, dia temen deket aku. Kenapa sih curigaan mulu? Bikin nggak selera makan?!" Salsa menyentak kasar sendok dan garpu dalam genggamannya yang menghasilkan suara nyaring.
Wanita itu langsung pergi meninggalkan Satria yang masih terduduk di meja makan. Satria mengusap wajahnya kasar, mencoba untuk bersabar.
Padahal pria itu hanya bertanya seperti itu, kenapa harus marah? Ia sungguh tak ingin rumah tangganya menjadi kacau, hanya karena kesalahpahaman. Satria selalu berdoa, agar rumah tangga nya tetap utuh sampai maut memisahkan mereka.
Satria bahkan tadi siang tidak jadi untuk ke Malang, melihat keadaan istri keduanya. Hal itu semata-mata hanya untuk menjaga perasaan istri pertamanya.
Untuk masalah pernikahan keduanya dengan Ayla, Satria belum berbicara dengan Salsa. Ia tak ingin menyakiti hati wanita itu. Meskipun Salsa sendiri yang telah memberi restu, bagaimana pun juga, seorang istri yang dimadu akan tetap sakit hati.
Satria akan mencoba berbicara dengan Salsa di waktu yang tepat. Tidak untuk saat ini.
Satria meraih kembali, sendok dan garpu yang sempat ia letakkan tadi. Pria itu mulai menyendokkan makan malam nya tanpa ada istrinya yang menemani dirinya.
****
Selesai makan, Satria segera mencuci piring miliknya dan juga milik Salsa. Hari ini Mbak Inah libur karena harus pulang kampung, ada acara lamaran anaknya.
Setalah itu, Satria mulai menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Yang kemudian akan dibawa ke ruang kerja. Karena ada beberapa kerjaan dari klien yang belum terselesaikan karena acara pernikahannya kemarin.
Ponsel yang ia bawa tadi pun, ia letakkan di atas meja kerja nya di samping laptop yang menyala. Ia harap, malam ini istri keduanya akan menghubungi dirinya.
Dan besok Satria bertekad ingin ke Malang untuk melihat dan memastikan jika Ayla--istri keduanya baik-baik saja. Satria akan izin pada istri pertamanya, entah itu diizinkan untuk pergi atau tidak. Ia akan tetap ke Malang apapun yang terjadi, Ayla juga tanggung jawabnya sekarang.
Drrrttt... Drrrttt...
"Halo?"
"___"
"Iya, dengan saya sendiri,"
"___"
"Besok ya? Jam berapa? Kalo saya jemputnya pagi saja, bisa? Sekitar jam 10."
"___"
"Iya,"
"___"
"Baik, saya akan menjemput nya besok pukul 10 pagi,"
Tut! Tut! Tut!
Senyum cerah terukir di bibir Satria, besok istri keduanya itu pasti akan senang. Pria itu ingin sekali melihat istrinya tersenyum, karena selama ini istri keduanya itu belum pernah menunjukkan senyuman nya. Hanya wajah yang merah malu yang ia lihat selama ini.
****
"Mbak Inah belum kembali?" tanya Salsa yang sedang mengoleskan selai pada roti tawar di tangannya.
"Belum, 3 hari lagi Mbak Inah akan kembali," Salsa mengangguk paham, "Sal, nanti setelah meeting aku izin ke Malang."
"Hm, terserah. Hari ini aku juga sibuk." jawab Salsa acuh.
Satria tersenyum kecil mendengar izin dari sang istri. Entah kenapa ia sangat tidak sabar ingin bertemu dengan Ayla. Apa dia sudah terjerat dalam pesona seorang Ayla Sawalia? Ah! tentu saja tidak, tak mungkin secepat itu.
Setelah selesai sarapan Satria dan Salsa berangkat mengendarai mobil masing-masing. Satria bergegas menuju kantor untuk meeting dengan klien tentang pembangunan mall tahun depan.
****
"Ibu, mau beli sesuatu dulu? Mungkin mau makan atau yang lain?"
Maya mengulum senyum menatap menantu tampannya yang sangat perhatian kepadanya. Tak salah jika Ayla menikah dengan Satria, meskipun dalam waktu cepat seperti ini.
"Enggak kok, Ibu nggak mau apa-apa sekarang. Bukannya sudah mau masuk kota Malang ya ini?" Maya celingukan melihat jalan sekitar. Tak heran jika Maya tahu jalan ini, karena dulu sewaktu muda ia kerja di Malang.
"Iya, bu."
"Nggak sabar banget ketemu sama Ayla. Ibu kangen cerewet nya,"
"Ayla cerewet ya, Bu? Masa sih?" tanya Satria yang tetap fokus mengemudi.
"Iya, lho. Ibu lupa minum obat, dia pasti teriak marah-marah gitu. Terus kalo laundry an sama cafe tutup, dia nggak kerja. Uring-uringan terus, 'mana bisa dapet duit kalo gini terus, libur mulu,' gitu katanya."
Satria terkekeh membayangkan tingkah Ayla yang cerewet sering mengomel.
"Tapi kalo sama saya, dia bawaanya diem terus."
Maya tertawa, "Malu-malu pasti dia, kan masih pengantin baru,"
Mereka pun tertawa bersama yang diiringi dengan suara radio.
****