"Selamat tidur, Ratu Kentut. Mimpiin aku, ya.
Andai ada buku copywriting spesial mengambil hati sang pujaan, aku akan beli berapa pun harganya. Aku ingin membuat copywriting yang bisa mengikat hatimu."
"Kenapa cuma dibaca? Balas, Sayang. Gombalan di atas aku mikirnya dua hari dua malam, lho. Kamu enggak menghargainya."
Membaca pesan-pesan itu membuat Sedayu tertawa sendiri dalam keheningan malam. Ia masih memandang layar ponsel. Belum berniat membalas. Pikirannya masih mencari jawaban. Siapa gerangan manusia ini? Gadis itu mengakui, kehadiran orang tidak dikenali ini menjadi pengalihan lara di hatinya. Ia seakan lupa pada luka yang digoreskan Ari.
"Baiklah. Aku akan meladeni orang ini," lirihnya sembari menekan ikon telepon. Panggilannya diterima, tetapi orang di seberang sana tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Siapa pun kamu, aku ingin bilang makasih.
Sedayu masih menunggu, berharap ada suara sang pengagum rahasianya. Namun, dentingan menit-menit berlalu, hanya ada keheningan. Tidak ada lagi kekesalan. Seolah ia menerima aksi membisu orang tersebut. Kening gadis itu mengerut tiba-tiba saat kata bisu tercetus dalam pikirannya. Jangan-jangan orang ini bisu. Ia menggeleng, mengenyahkan pikiran buruk yang baru saja melintas.
Ia memutuskan sambungan telepon. Kemudian mengetik sebuah pesan. Ia berharap, tanggapan ini menjadi awal baik untuk kehidupannya di masa akan datang.
"Maaf. Bolehkah kita bertemu?"
Pesannya terkirim. Centang berubah menjadi biru. Ia terus memandang layar, menunggu balasan.
"Belum saatnya."
"Kapan?"
"Nanti saja. Tidurlah!
Jangan mimpiin aku, nanti mandi subuh-subuh. Dingin.
Sleep tight!"
Sebelum memejamkan mata, jangan lupa bersihkan hati dari kebencian, amarah, dan dendam.
Senyuman Sedayu terukir. Sebuah senyuman dari hati yang mampu memberikan kesejukan untuk dirinya sendiri. Ia merasa hatinya kian lapang. Sesak yang diciptakan Ari seolah menguap. Setelah meletakkan ponsel di nakas, matanya terpejam. Ia tidur dengan hati yang damai.
***
Pagi-pagi sekali Sedayu sudah berkutat di dapur. Membuat bubur kacang hijau. Bukan tanpa alasan. Semalam, saat terbangun dini hari, ia mengirim pesan pada si pengagum rahasia. Iseng menanyakan besok mau dibuat sarapan apa. Dan, inilah makanan yang ingin dimakan manusia tanpa rupa itu.
Kalau sudah selesai, bawalah ke depan. Ada yang datang jemput.
Itu pesan yang baru saja dibaca. Ia berdiri di depan rumah, menunggu. Beberapa menit kemudian, seorang anak kecil menghampirinya.
"Kakak, aku disuruh ambil bubur kacang ijo."
Sedayu menoleh kanan kiri, berharap melihat seseorang yang pantas dicurigai sebagai sang pengagum rahasia. Rumahnya berada di gang sempit, jadi tidak ada mobil yang masuk. Sejauh pengamatannya, tidak ada siapa pun yang pantas dijadikan tersangka. Hanya ada beberapa tetangga yang keluar masuk.
Ia menghela napas, lalu tersenyum pada anak kecil yang masih berdiri di hadapannya.
"Siapa yang menyuruhmu, Sayang?"
"Katanya, Kakak enggak boleh kepo." Bibir Sedayu mengerucut. Ia memandang miring anak kecil yang sedang cekikan di depannya. Anak itu merampas rantang di tangannya. Kemudian berlari.
Senyuman manis terpahat di bibir Sedayu. Langkahnya berderap pelan, mengikuti sang anak. Tiba di ujung gang, ia melihat anak itu naik ke mobil. Ia mempercepat langkah, hendak memanggil ojek agar bisa menguntit mobil tersebut. Namun, niatnya terhalang oleh nada bip dari ponsel. Pesan dari si 'Pangeran Bisu.' Julukan yang baru ia ciptakan tadi subuh.
Jangan menguntit. Sudah kubilang, sekarang belum saatnya.
Sedayu mengepalkan tangan dan diarahkan ke layar ponsel, seakan-akan ingin meninju si pangeran bisu. Kemudian tertawa sendiri. Ia tidak mengerti, rasa di dalam sana tercampur aduk. Kesal, tapi senang. Pun, sebaliknya.
"Dayu!" Ari yang hendak berangkat kerja memandang aneh. Kenapa sahabatnya berdiri di pinggir jalan, lalu tertawa sendiri. Apa mungkin pikirannya terganggu setelah persahabatan mereka renggang, pikirnya. Itu pemikiran yang tidak masuk akal. Sedayu yang ia kenal tidak senaif itu. Namun, ia juga tidak memiliki kemungkinan yang lain.
Ari meradang saat yang dipanggil hanya melirik sejenak. Detik selanjutnya gadis itu kembali menekuri ponsel sembari cekikan. Apa mungkin Sedayu sudah memiliki pacar? Kenapa ia tidak diberitahu? Satu tanya diikuti tanya lain yang membuat otaknya semberawut. Memikirkan Sedayu bersanding dengan orang lain lebih cepat darinya membuat laki-laki itu geram setengah mati. Ia tidak ingin didahului.
"Ngapain kamu berdiri di sini?" tanya Ari setelah turun dari motor dan menghampiri Sedayu.
"Eh! Hai, Ri. Mau kerja?"
"Main bola," ujar Ari kesal. Ia tidak suka sekali mendengar pertanyaan basa-basi seperti itu. Sudah tahu orang mau ke mana malah masih ditanya.
"Oh, oke. Aku balik dulu, ya. Bye."
Ari terperangah. Sedayu tidak lagi menanggapi candaannya. Ternyata gadis itu benar-benar menjaga jarak seperti inginnya. Bukankah ini yang ia harapkan, Sedayu menjauh darinya. Akan tetapi, ada perasaan tidak rela ketika apa yang diharapkan terwujud.
Saat tiba di tempat kerja, laki-laki itu tidak fokus. Ia masih memikirkan Sedayu. Ia mencoba mengirim pesan, tetapi hanya centang satu. Mungkin baterainya habis, pikirnya. Namun, setelah berjam-jam pesan tidak terkirim, ia meyakini bahwa Sedayu telah memblokir nomornya.
Ia membanting berkas laporan yang seharusnya sudah selesai. Hanya karena memikirkan Sedayu, berkas itu tidak dikerjakan. Sebagai staf tenaga administrasi pemerintahan, baru kali ini ia lalai mengerjakan tugas.
"Kenapa gelisah gitu? China enggak kasih jatah?"
Iyan, teman sejak kuliah dan sekarang satu divisi akhirnya angkat bicara. Matanya sakit melihat Ari seperti cacing kepanasan atau pantatnya kena bisul. Tidak duduk tenang sejak tiba hingga hari menjelang siang.
Sementara yang ditanya semakin menggerutu. Ia belum sejauh itu sama China. Pacaran ya pacaran saja, tidak berlagak kayak suami istri yang bebas melakukan apa saja. Itu bukan gayanya.
"Aku enggak seberengsek kamu, Iyan."
"Ya enggak usah marah. Terus kenapa? Pantatmu bisulan?"
"Nomorku di-blokir Sedayu."
Tawa Iyan menggema dalam ruangan. Ia menutup mulut ketika beberapa orang memandanginya dengan tatapan murka.
"Jangan serakah Ari. Kalau pacaran sama China biarkan aku pedekate sama Sedayu."
"Jangan ngarep. Aku enggak bakalan biarkan laki-laki berengsek sepertimu merusak Sedayu."
"Aku laki-laki berengsek? Terus kamu apa namanya? Tega-teganya meminta Sedayu menjauh karena China cemburu. Hei, kamu dan Sedayu itu sudah bersama-sama dari orok. Pakai melamar perempuan di depannya lagi. Hari itu mau kutonjok mukamu."
Ari tidak membantah. Apa yang dikatakan Iyan memang benar. Ia pacaran dengan China karena ingin membuktikan rasanya pada Sedayu sekadar sahabat. Namun, melihat Sedayu semakin abai, hatinya tidak terima.
Saat pulang kerja, biasanya ia akan menjemput China di Warung D'Kailupa. Warung yang sangat ramai di Kota Tegal. Pacarnya kerja dekat warung itu. Sepulang kerja akan mampir sembari menunggu jemputan. Namun, hari ini Ari bergegas pulang. Ingin konfrontasi si Sedayu.
"Chating sama siapa?" Laki-laki itu masuk tanpa salam. Ia menggeram lagi saat melihat Sedayu asyik chating-an.
"Ri, kenapa kamu ke sini?"
"Kenapa aku ke sini? Emang ada larangannya?"
Muka Sedayu berubah kecut. Mungkin sahabatnya sedang salah minum obat atau ada masalah dengan China, pikir Sedayu. Walaupun begitu, gadis itu tidak terima jika dijadikan tempat pelarian.
"Enak aja," gerutunya dalam hati
"Emang enggak ada larangan, Ri. Tapi kamu sendiri yang minta kalau kita harus jaga jarak."
"Iya, tapi enggak usah pakai blokir nomor!" Suara Ari meninggi. Sedayu berjingkrak mundur.
"HP-ku hilang. Ini HP baru. Belum minta nomormu lagi."
Ari melihat ponsel dalam genggaman sahabat sang sahabat. Benar. Berarti ia telah berprasangka buruk. Bertahun-tahun hidup bersama, baru kali ini ia merasa sangat tidak berguna.
"Lantas kamu chating sama siapa?"
"Kepo."
Tanpa disangka, Ari merampas ponsel dan membaca pesan-pesan gombal yang dikirim si Pangeran Bisu.
"Siapa ini?"
Sedayu mencebik. Ia mengambil ponsel tersebut dan masuk ke kamar.
"Bukan urusanmu."
Ari semakin meradang.