"Aku enggak suka sama Iyan. Tebar pesona dan senangnya gombalan receh."
Itu perkataan Sedayu dulu. Sejak saat itu, apa pun yang dilakukan Iyan selalu salah di matanya. Ia sama seperti kebanyakan orang yang terlalu yakin atas penilaiannya pada perilaku orang lain. Padahal sejatinya tidak ada manusia yang sempurna. Selalu ada kebaikan dan keburukan yang mengikuti.
Baru tiga puluh menit bersama Iyan membuat Sedayu menyadari kekeliruan berpikirnya selama ini. Ia sudah sering kali mendengar nasihat; Jika kamu membenci seseorang, jangan menganggapnya musuh. Coba dekati dan selami apa sebenarnya yang salah. Perilakunya atau hatimu yang ternoda.
Sedayu tertawa kecut. Ternyata hatinya yang bermasalah. Sedari awal telah menanam kebencian pada Iyan.
"Cantik, jangan kesurupan. Mas-mu ini belum belajar mengaji. Enggak bisa rukiah dirimu."
Sedayu memukul bahu Iyan. Keduanya sudah keluar dari Warung D'Kailupa beberapa menit yang lalu, tetapi masih duduk di tempat parkir. Ada beberapa bangku yang sengaja diletakkan di bawah pohon di area parkir.
"Kita jalan-jalan, yuk!"
Itu bukan ajakan Iyan, tetapi Sedayu. Ia ingin mengenal laki-laki tukang gombal itu lebih dekat. Ini hari Minggu, kesempatan jalan-jalan terbuka lebar. Besok sampai hari Jumat, Iyan akan sibuk kerja.
"Demi Tuhannya Bambang Pamungkas, mimpi apa aku hari ini? Cantik, apa geranganmu mengajak mas yang ganteng ini jalan-jalan?"
"Enggak penting. Jawab saja. Mau enggak?"
Iyan berdiri dan naik ke motornya.
"Tinggalkan saja motormu di sini. Aman, kok." Setelah Sedayu naik, Iyan kegirangan. "Mau ke mana, Cantik?"
"Ke tempat menantang."
"Ke Curug Monyet, mau?"
Sedayu setuju meski belum tahu letaknya di mana. Kata Ari, jalanan di sana cukup berbahaya. Tidak cocok gadis kemayu sepertinya jalan-jalan ke sana. Gadis berambut keriting yang panjangnya sepinggang itu mengutuk Ari. Ternyata selama ini ia terpenjara. Tempat wisata di daerahnya sendiri ia tidak tahu.
Satu jam di atas motor, akhirnya tiba di jembatan penghubung menuju curug. Namun, jembatannya ambruk karena longsor satu bulan yang lalu. Motor yang dikendarai Iyan terpaksa melewati kali. Kemudian berhenti di papan peta. Seratus meter dari letak curug.
"Jadi kita harus jalan kaki?" tanya Sedayu polos.
"Cantiknya mas minta digendong?"
Tidak ada tanggapan. Sedayu sudah berjalan mengikuti beberapa orang di depan yang sepertinya menuju curug juga. Setelah melewati sungai, mereka menapaki jalanan sempit yang diimpit rumput-rumput liar dan ilalang yang tingginya kadang sampai di kepala.
"Lepas sandalnya, Cantik. Licin."
Ya, licin dan terjal. Benar kata Ari, jalannya horor. Ia melepas dan berjalan pelan-pelan sembari pegangan pada ujung baju Iyan. Sesekali hampir terjatuh, tetapi dengan sikap Iyan menahan tubuhnya.
Gemeresik air mulai terdengar meski belum terlihat. Sedayu semakin bersemangat meski jalanan bertambah ganas. Semakin dekat ke arah curug, jalannya penuh bebatuan besar. Ia harus merangkak pelan-pelan.
Ketika penampakan air terjun di depan mata, Sedayu tidak memperhatikan jalan. Mulutnya ternganga. Binar ceria di mata terukir jelas. Benar-benar seperti orang yang terbebas dari penjara. Ia berjalan cepat, melewati batu yang licin.
"Hati-hati ja ..."
Ucapan Iyan terhenti karena Sedayu telah terjatuh. Gadis itu berusaha melindungi kepala hingga tangannya terbentur batu. Sakit menjalar hingga ke pundak. Ia hampir menangis, tetapi bayangan Ari tertawa puas membuatnya berusaha menahan nyeri.
Iyan membantu berdiri dan memapah gadis berambut keriting itu. Tiba di depan air terjun, Sedayu mengabaikan sakit di tangan dan kakinya. Ia memandang takjub pada aliran air yang melewati jeram lalu terjatuh bebas. Saat ini alirannya sangat kencang. Orang-orang yang datang hari ini tidak bisa berenang karena sangat berbahaya.
Gadis bergigi gingsul itu duduk di atas batu besar. Bibirnya tertarik ke samping, membentuk senyuman khas yang manis. Rambut keritingnya diurai. Sengaja membiarkannya tertiup angin.
Iyan mengarahkan kamera ponsel, mengambil potret Sedayu yang sedang berbinar. Kemudian tanpa ragu memamerkan di feed i********: dengan chaption; Bersama bidadari masa depan @Curug_Monyet, Dusun Gunung Guntur_Cawitali.
Love you dear. Tambahan tag ke akun Sedayu.
Beberapa menit setelah unggahannya di i********:, ponsel Iyan berdering. Ari memanggil. Iyan tertawa dalam hati sembari menolak panggilan sahabatnya.
"Rasain lo. Cinta banyak gengsi," gumamnya pelan.
Panggilan Ari ditolak, berdering lagi ponselnya. Nomor tidak terdaftar. Ia tetap mengabaikan karena berpikir itu dari Ari menggunakan ponsel orang lain. Sebuah pesan masuk.
"Sedayu sama kamu? Jangan macam-macam!"
Iyan mengernyit. Gaya chat Ari tidak seperti ini. Kebanyakan disingkat. Ia balas dengan emoji menjulurkan lidah. Setelah centang berubah warna biru, ponselnya kembali berdering.
"Apa, sih? Ganggu aja," ujarnya setelah menggeser ikon telepon berwarna hijau.
"Anak kurang ajar. Di mana anak saya?"
Iyan terbelalak. Ia menjauhkan ponsel, lalu memanggil Sedayu dengan wajah kecut.
"Dayu sama Iyan, Pa. Enggak usah khawatir."
"Pulangnya jangan kemalaman. Papa masih di Brebes."
"Hah? Kok, sekarang sering ke Brebes? Mau nyari mama baru buat Dayu, ya?"
"Sok tahu."
Telepon ditutup. Sedayu tertawa karena berhasil menggoda papanya. Selama ini ia selalu bertanya-tanya, apakah papanya tidak berniat nikah lagi. Sebagai anak yang mendambakan seorang ibu, ia rela papanya mencari pengganti sang mama. Namun, tahun-tahun berlalu dan usia semakin menua, laki-laki itu masih tetap sendiri. Entah setia atau terlalu sibuk dengan pekerjaan.
"Papamu mau nikah lagi?" tanya Iyan sembari mengambil ponsel di tangan Sedayu. Mendapat pertanyaan seperti itu, Sedayu hanya mengangkat bahu. Tidak ingin membahas masalah keluarganya. "Gimana kalau kita nikah barengan dengan papamu?"
"Emang siapa yang mau nikah sama kamu?"
"Siapa saja boleh, tapi ngarepnya kamu. Mau, kan?"
Sedayu menjewer telinga Iyan. Kemudian berdiri dan melangkah menjauh. Ia mengaduk-aduk air. Ingin mengambil gambar, tetapi ponselnya baru, belum bisa digunakan sebelum diisi daya.
Tepat pukul delapan malam, mereka tiba di depan Warung D'Kailupa. Sedayu mengambil motor. Iyan ingin mengantar, tetapi ditolak.
"Kasihan harus bolak-balik. Kamu juga capek. Pulanglah! Aku akan baik-baik saja."
"Oke. Telepon aku kalau sudah tiba."
"Gimana caranya aku nelepon. Nomormu enggak ada."
"Kamu hapus?"
"Enggak. HP-ku hilang."
Mereka berpisah. Sedayu melajukan motor. Ia tidak menyadari ada mobil yang mengikutinya. Mobil itu berhenti di depan gang. Pemiliknya turun dan berjalan kaki menuju rumah gadis pujaan.
Sedayu tiba di rumah. Gelap. Papanya belum pulang. Ia parkirkan motor. Saat turun, bahunya dicengkeram.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan Iyan?"
Sedayu menepis tangan Ari, tetapi cengkeramannya semakin kencang. Ia meringis dan berusaha menendang, tetapi Ari menarik rambutnya. Ia tidak kuat menahan sakit. Namun, tidak berteriak karena takut Ari dihajar masa. Ia hanya meneteskan air mata tanpa suara. Tidak menyangka Ari berubah menjadi serigala kelaparan seperti ini.
"Berikan kuncinya!"
"Enggak."
Rambutnya ditarik lagi. Semakin kencang. Sedayu meringis. Ari merampas tas tangan dalam genggamannya. Kemudian membuka pintu sambil menarik Sedayu hingga terseok-seok.
"Aku sudah bilang, jangan dekati Iyan."
"Apa hakmu?"
Tangan Ari melayang di pipi. Sedayu membelalak. Ia memandang tidak percaya pada sahabat yang sudah menemaninya sejak kecil.
"Ri, kenapa kamu jadi b*****t begini? Bukannya kamu yang memilih menjauh dariku? Kenapa setelah aku menuruti kemauanmu, kamu berubah jadi egois?"
"Aku pacaran sama China karena tantangan."
"Itu bukan urusanku."
Ari menggeram. Ia mendorong Sedayu hingga jatuh terlentang di sofa ruang tamu. Kemudian menindih tubuh sang gadis sembari memegang dua tangannya. Tidak peduli Sedayu meronta-ronta dan bersimbah air mata. Malam ini Sedayu harus jadi miliknya.
Namun, niat jahatnya terhalang saat pintu dibuka paksa. Seorang laki-laki berbadan tinggi besar dan berkepala botak menariknya menjauh dari Sedayu. Perut Ari ditonjok berkali-kali hingga laki-laki itu terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Ri, Ari!"
"Berdiri! Masuk! Biar saya mengurus anak kurang ajar ini."
"Om siapa?"
"Masuk!"
Bentakannya membuat Sedayu terperanjat, lalu berlari masuk tanpa kata. Ia mengintip dari balik jendela, Ari diangkat lalu diantar ke rumah. Sebuah doa pengharapan terucap lirih, semoga tidak terjadi masalah serius.