Mereka ber 4 tinggal menunggu hidangan tersaji di meja, Jihan mengajak mereka makan di salah satu rumah makan dalam pasar tradisional, kata Jihan ini tempat makan Ter-enak
Rumah kuno model Chinese dengan warna merah dan putih mendominasi teman mereka menyantap makanan, baru kali ini mereka menemukan tempat unik seperti ini, mungkin Seperi kata jesica tempat ini tidak ada bau-bau estetik seperti selebgram yang selalu memajang insta story dengan body goal, kenyataan mereka terdampar di sebuah rumah makan kata nya sudah empat generasi
Aroma soto ayam menyeruak lezat masuk ke Indra penciuman mereka, wajah Celine ketara sekali bak orang tak di beri makan berminggu-minggu, semua tersedia di hadapan mereka soto ayam dan es teh hangat, menu sederhana, tapi cukup menggugah selera.
Jihan mengulum senyum melihat wajah banyol Celine dan Jesica nampak kelaparan jangan tanya Karina sudah buru-buru meniup soto nya cepat.
Duo teman sebangku melihat Karina ngiler biarkan sosok itu menjadi tester Mereka.
" Rasa gimana? Aneh, enak, asin, manis" brondong Jesica, gadis bertubuh paling mungil diantara mereka segera ingin tahu rasa masakan kedai itu
Wajah Karina tampak termangu mengunyah rasa bumbu soto, jempol nya mengambang, " Enak" kata nya dengan mulut penuh suapan.
" Kalau mau tambah seger kalian bisa kasih jeruk, nih coba aja" Jihan mengambil se-iris jeruk nipis, ia peras ke sajian soto ayam tersebut, di tambah kecap manis dan sambal, ia masa bodoh dengan tampang bengong yang lain
Merasa ingin tahu bagaimana rasa nya celine mencomot apa saja yang di ambil Jihan, " Nyoba ah"
Celine menikmati masakan nya, heboh sendiri dia sampai beberapa pengunjung melirik ke meja mereka berbisik-bisik akan ke hebohkan anak itu
" Ini enak.. ini enak, ini enak loh" akunya memberitahu satu persatu teman-teman, padahal soto tengah mereka nikmati juga sama tapi anak itu seperti tak pernah makan saja
" Ih, jangan katrok" malu Jesica menutup wajah nya dengan kantung belanjaan milik nya, padahal di bawa ke mall manapun dia masih sehat kenapa di ajak makan soto malah kumat, tapi kalau soto nya nikmat siapa yang nolak
Wajah Jihan nampak songong, seolah ia merasa telah memberi tahu temuan besar yang dapat membantu umat manusia abad ini suatu penemuan yang sejajar dengan penemuan bolam lampu, listrik, mobil berasa menjadi profesor, barang temuan nya tak lain,soto. Ia mengajak teman satu geng nya ke soto langganan milik nya, begitu saja bangga, iya, iya lah.
" Enak kan, rasa nya giamana nagih, apa lagi di kasih jeruk nipis" kedua telunjuk dan jempol terangkat membentuk gestur 'pistol' ke arah Celine, Celine pun membuat gestur yang sama seperti Jihan
" Enak, enak, enak.." kata nya dengan menggoyangkan bahu nya, Seperti salah satu aktor filem syah rukan saat main filem kuch kuch hotahe, " mantap bener kan"
Celine mengangguk saja kali ini ia mengambil beberapa suap sampai pipi nya nampak penuh, bersyukur mereka tak tahu malu dan tahan banting walaupun di sekitar mereka samar ada yang keheranan.
" Mah, itu kakak-kakak nya kenapa" herana seorang bocah enam tahun pada ibu nya, " huss.. itu obat nya kurang" kata si ibu menutup mulut ny dengan jari telunjuk
" Kakak nya sakit ya"
" Iya makan nya jangan deket-deket nanti ketularan".
Ke 4 manusia itu berbarengan menoleh ke arah pasangan ibu-ibu dengan badan berisi bersama si anak lelaki nya, mereka menatap nyalang, si ibu merasa di plototi langsung membalas mereka dengan tatapan gahar
Secepat kemudian mereka menundukkan kepala menikmati soto nya saja, mana berani nyali musuh ibu-ibu yang suka nawar gak kira-kira.
" Eh, Cel. Lo kayak nya suka banget ya sama masakan kayak gini, biasa nya kakao diliveri juga b aja Lo nya"
Celine menegak es nya sebelum menjawab perkataan dari Karina, anak itu peka sekali kadang walupun Suka lemot.
" Jarang-jarang aku bisa makan kayak gini, tau sendiri aku baru juga dapet ibu sambung, selama ini kan ayah yang suka masakin buat aku, mana masakan nya standar gitu, yah maklum tau sendiri bapak-bapak kantoran"
" Tapi papah mu hebat loh" puji Jesica salut atas perjuangan nya ayah tunggal itu pada anak semata wayang nya.
Mereka mengenal sosok Celine cukup kuat sejak dini tak punya ibu lagi, tapi ia bukan orang yang cengeng, bahkan saat SD dia berani melabrak guru SMP nya pun tak kalah Tomboy mana dulu sempat ia memotong rambut panjang nya sebelum sepanjang sekarang, untung cantik.
Kalau celine mengingat lagi perjuangan ayah nya sama sekali tak mudah ia bahkan ingat cerita di mana ayah nya heboh ketika ia mens pertama kali nya.
" Ngomong-ngomong, susah ngak sih hidup bareng papah mu aja?"
" Ngak, malah aku bersyukur punya ayah yang super duper perhatian, makannya ketika ia memilih nikah aku menyetujui nya, kalau itu kebahagiaan nya"
Auh, mellow sekali mendadak, Jesica yang suka sekali mengusili dan di-bully oleh Celine, merasa terharu punya temen seperti itu
" Kalau suka duka nya gimana sih" Jesica mengelap sudut mata yang mulai basah
" Gak usah lebay kali, orang gua nya Heppy-heppy aja, Lo nya yang sedih"
" Ada sih suka duka nya, suka nya aku di manjain ayah terus duka nya, yah. Kalian tau kan ya, kalau punya ibu, ada yang bisa di ajak negosiasi soal pakaian atau apapun yang sejenis perempuan tapi ayah ku kan berbeda jelas nya kelamin kita tak sama, yang paling konyol waktu aku mens pertama kali"
Anak kecil dulu nya bar-bar tak di sangka sudah kelas 2 SMP, masih dengan tingkah lakunya jauh dari kata perempuan feminim ia sama sekali jauh dari hal-hal imut itu
" Mah, mau ini" kata Anak kecil itu merengek sebuah Bando kucing
" Boleh-boleh aja, kamu mau yang mana, mamah belikan, Anka cewek mamah harus cakep dong" puji nya pada si anak yang nampak montok kelebihan lemak.
Narendra yang tak sengaja mendengar percakapan antar ibu dan anak nya nampak nya membuat diri nya iri, apa ia kurang me-manja kan putri tunggal nya
Celine baru kembali dari acara mencari buku untuk keperluan sekolah
" Yah, buku nya ngak ada"
"Oh ya sudah" singkat nya, kalau tiba-tiba bertanya pada putri nya pertanyaan yang cukup mendadak.
" My princess, ngak mau apa pakai jepitan rambut lucu loh" kata ayah menunjukkan aksesoris anak Perempuan ketika mereka memasuki sebuah toko, walau Narendra tak punya sense dandan tapi melihat seorang ibu beserta anak nya yang merengek di belikan aksesoris anak, membuat ia jadi ingin mendandani putri nya agar cantik