Cerita dulu

1056 Words
'ehhm.eh...hmm..' Kepala sekolah SD itu memecah hening, " masalah dengan yufan selesai suah, hanya saja kamu harus akui apa yang kamu lakukan itu juga bikin teman mu ketakutan" seperti seorang berumur yang syarat akan wibawa kepala sekolah itu mencoba menemukan jalan keluar nya " Lalu, alasan kamu kenapa bisa mengamuk tiba-tiba, jelaskan nak, bapak tak akan marah, hukuman mu akan di lihat seberapa besar masalah yang kau perbuat" kata nya " Selama ini wali saya adalah Bu Merry, sejak dulu dia selalu meledek nama saya, urutan absensi ku juga masih berlanjut tapi, dia dan dia semua nya meledek ku terus sampai puas! Apa selucu itu nama ku, ini kan nama pemberian ibu ku, hak apa kalian selalu berbuat begitu" kata nya berani membuat semua tercenung mendengar nya. Merry nampak gugup tapi ia juga kesal di gurui anak kecil, " bohong, dasar anak berlebihan, dia selalu berlebihan saja, itu kan hanya candaan, kamu jangan seperti itu nak" Merry melihat Celine nampak mengejek nya. " Apa itu benar, nak Indri " Merry bertanya pada ketua kelas Gadis itu nampak ketakutan, ia tersudut di sana, " i-iya, dia marah tapi saya tak tahu apa-apa" " Cukup Bu Merry, ku rasa anda juga ikut andil dalam hal ini, nak Indri kamu melihat kejadian nya sendiri kan, menurut mu berapa lama Bu Merry membuat nama Celine candaan?" " Sejak kelas 1 pak, kalau saya tak salah ingat, Celine juga pernah sering kali menegur anak se-kelas untuk tak menganggu nya karena nama, tapi kadang Bu Merry mengabsen nya memanggil putri dongeng, Disney, kartun atau seperti itu makanya dia saya rasa anak-anak mulai berani memanggil Celine sejak itu" ' brakk!!!' gebrakan pada meja sontak membuat pandangan terarah pada sosok yang tengah mengeram marah. " Saya rasa bukan hanya anak-anak yang bersumber membuat anak saya begini, tapi anda Bu, kalau belum siap menjadi guru lebih baik mengundurkan diri saja, kau tau tingkah mu tak pantas mendidik anak-anak untuk menjadi bermoral bagai mana bisa orang seperti mu layak jadi guru" marah nya tak terima tentu anak nya jadi bahan olok-olokan, oleh orang yang bergelar guru apalagi orang seperti nya lah yang menjatuhkan mental anak-anak di masa depan nya. Ia ingat istri nya memberikan nama Cinderella juga punya harapan indah serta doa mana mungkin orang tua memberikan nama jelek pada putri pertama nya, itu adalah hari dimana ia menjadi seorang ayah dan ayah tunggal. " Tolong pak, bapak tenang ya, saya sendiri akan menindak lanjuti nya, Bu Merry jujur saya kaget ada kejadian seperti ini, anda bekerja di sini bukan sehari dua hari kenapa bisa begini? Saya kira motto sekolah kami ini membuat kita mengerti, mental anak harus di pupuk sejak dini dan tak menyepelekan mereka" Nampak kepala sekolah yang biasa nya sabar dan ramah itu kecewa dan marah Sebagai sosok kepala sekolah dan ayah ia juga punya cucu kecil di rumah, mana bisa ia membuat mental anak yang sejak dini ini kecewa, cukup pernah ia mengalami lingkungan tak menyenangkan ketika muda maka ia belajar dari sana dan pengalaman membuat dirinya lebih bijak. " Saya mohon maaf sebelumnya untuk bapak-ibu sekalian atas keteledoran sekolah kami" tutur nya nampa menyesal. Sejak saat itu tak ada yang berani menganggu Celine, banyak yang memilih memanggil dengan pangilan Celine saja dari pada memberikan imbuhan Cinderella pada nama nya, guru kelas mereka pun di ganti dengan guru lainnya Bu Merry di pindahkan untuk mengajar kelas lain nya. " Kalau di ingat-ingat kamu itu dulu bener-bener nyeremin ya" Celine memilih diam, makanan nya sudah selesai, ponsel pintar nya menunjukkan notifikasi dari driver ojek nya sudah ada di sana " Ya udah akui pergi dulu ya, yah mah" pamit nya tergesa " Ngak bareng Angga, Anggi kamu" tutur ayah nya nampak tak rela putri nya pergi lebih dulu " Naik ojol, lagian lagi buru-buru juga" dia melengos pergi jauh dari sana, mendapati seorang dengan jaket hijau menunggui dia di depan gerbang " Neng Celine ya" " Iya pak, tolong sesuai aplikasi nya ya" " Siap neng" ramah tukang ojek itu mempersilakan mengunakan helem bergambar hello Kity khusus penumpang nya. Celine berjalan dengan lunglai ia terlihat malas sekali, terlihat dari pertama ia masuk dari pintu kelas " Sakit nih anak" cetus Jesica teman sebangku nya itu, biasanya bocah ini nampak heboh tapi hari ini Jesica terlihat normal, " enak aja, di samain Lo" ledek nya Jesica mencebik kan bibir biasa ia sedang malas berkelahi, " tumben nih anak kenapa" tanya Celine pada yang lainnya " Maklum jatah jajan nya di potong" itu Jihan yang membalas Celine merangkul pundak Jesica, merapatkan dengan bahu lebih kecil "Makannya jangan kebanyakan beli make up" kata nya meledek anak itu " Apa-apaan, ngak semua aku beliin make up ya" kata nya tak terima walaupun itu kenyataan nya " Terus buat apa, jujur" Jihan nampak melongoh mendekati Jesica ia sedikit sanksi anak itu membeli sesuatu yang berguna " Aku kemaren cuman beli baju, seriusan aku ngak beli make up" kompak ke-3 nya menepuk jidat dan mengelus dada "Sama saja dodol abis buat dandan aja Lo mah" kompak semua nya ingin mengumpat pada nya "Untung sabar kalau ngak, Jesica sudah di buang ke laut yang ada piranha nya" Karina mencibir Jihan yang memang suka rada aneh, " sejak kapan ikan piranha ada nya di laut, mereka ada di sungai sss" Karina memberi tahu " Lah udah pindah ya?" Ini teman mereka beneran gak ada yang bener ya, ya tuhan. " Bukan nya udah pindah sayang, tapi emang gak di sana, masih mending aku ternyata, otak ku gak ikut aku jual" Jesica sedang mencari pembenaran dari kegiatan sekte pemuja shoping. Karina merentangkan kedua tangannya ke depan menarik nya berlahan, pose yoga baru di dapatkan dari hasil download apk, " sabar..sabar.. biasa nya juga gini" Karina bergumam pada dirinya sendiri Celine berniat curhat, rencana nya sih begitu, tapi pagi-pagi sudah ada teman nya yang error mana ngak nyambung semua nya, kalaupun di pikir dia juga kapan sih jadi orang di ajak ngomong nyambung " Ngomong-ngomong, abis sekolah kita main yuk, udah lama nih" ajak Jihan pada ke-3 nya " Terakhir ngajak main, malah nyolong mangga sambil nge joggrok di sawah" ingat Karina, mereka pernah di ajak untuk melakukan sebuah dosa, menyolong mangga milik tetangga dekat sekolah. " Ye, yang ini beneran kok" yakin nya mengajak semua nya Jesica bisa nya heboh dan antusias itu, terkapar di atas meja, " aku mager, gak berduit"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD