Aku Mencintaimu, Itu yang Mau Kukatakan

839 Words
Tangan Dimitri bergetar setelah beberapa kali mencoba menghubungi Santi. Akhirnya terdengar sahutan di sana seorang laki-laki yang mengangkat teleponnya. "Iya, benar ini telepon genggam kak Santi, dia kakak saya kak." Suara Tegar terputus berganti dengan isak tangis tertahan.  "Jadi kamu Tegar? Kenapa menangis? Ada apa dengan kakakmu? Aku berusaha menghubunginya seharian baru saat ini kamu yang menjawabnya dik. Apakah Santi sakit? Dimitri mulai bertambah khawatir setelah mendengar tangisan Tegar meledak.  'kak, kak Santi tadi pagi sewaktu berangkat kerja terkena kecelakaan beruntun di jalan tol. Saat ini kondisinya kritis. Dia mengalami perdarahan hebat di kepala kak. Kak Santi hu..hu..hu.. jangan tinggalkan Tegar.." kembali terdengar Tegar menangis. Bagai disambar petir, kagetnya saat ini perasaan Dimitri. Wanita yang dikenalnya mengalami kecelakaan parah. Pantas saja semua pesan singkatnya seharian ini tidak terbalas bahkan semua telponnya tidak diangkat. Santi kamu harus bangun, banyak hal yang masih ingin aku sampaikan, jerit hati Dimitri.  Dengan nada lemas Dinitri menguatkan hatinya untuk bertanya di Rumah Sakit mana Santi berada. Dia mulai mencatat nama dan alamat Rumah sakit yang merawat Santi dan dia bergegas untuk pergi menemui wanita ini.  Dimitri melihat Tegar yang terkulai lemas dipelukan seorang wanita paruh baya di depan ruang operasi. Ya, Dimitri sudah mendengar kabar bahwa Santi harus mengalami operasi bedah kepala dan saat ini operasi masih berlangsung. Dimitri memberi salam kepada sanak keluarga Santi saat itu dan merasa sangat iba terhadap Tegar yang sesekali terdengar isak tertahannya.  Sesuai namamulah nak, kamu harus Tegar agar kakakmu dapat dengan tenang melalui cobaan ini. Operasi sudah berlangsung dua jam. Jam telah menunjukkan pukul 00.00 banyak sanak famili yang sudah pulang ke rumah. Hanya Tegar yang tidak mau ikut mereka pulang karena ingin dekat dengan kakak semata wayangnya. Tegar mulai terlihat mengantuk. Dia tampak sangat lelah karena menangis seharian. "Tegar, apa kamu sudah makan malam? Mau kakak belikan makanan sebentar?", Dimitri menawarkan bantuan untuk membelikan Tegar makanan. Tegar menggeleng lemah karena mengantuk dan lelah, dia menjawab tawaran Dimitri dengan jawaban singkat, "Sudah makan saya kak, terima kasih!" Dimitri kembali ke ruang tunggu operasi dengan membawa dua gelas minuman hangat dari mesin kopi di koridor Rumah Sakit. Sudah jam 1 pagi tak ada yang jual makanan hanya mesin kopi ini saja yang bisa diandalkannya.  "Tegar, ini s**u coklat untukmu. Kak Santi pasti ingin kamu selalu sehat jadi minumlah ini agar kamu kuat juga. Dimitri berkata sambil menyerahkan segelas s**u coklat yang diterima oleh Tegar.  Beberapa menit Dimitri sempat tertidur, tatkala tangan Tegar menyentuh bahunya. "Kak, operasi sudah selesai sebentar lagi kak Santi akan dibawa ke ICU", jelasnya. Sesaat aku tertegun kulihat kamar operasi terbuka perlahan. Tampaklah empat perawat mendorong sebuah tempat tidur dan terlihatlah seseorang dengan baju hijau pasien dengan selang infus dan selang lagi yang keluar dari kepala yang diperban. Wajah pucat lelahnya tampak tenang tertidur. Rambut indah Santi yang biasa tergerai panjang tak tampak lagi. Senyum manis yang selalu ia tunjukkan tidak tampak. Kepalanya tergolek lemas ke sebelah kiri. Matanya tertutup. Tak terasa air mata Dimitri keluar dari pelupuk matanya. Terdengar kembali isak tangis Tegar dan kami berdua bergegas berjalan mengikuti perawat yang mendorong tubuh Santi.  Dimitri menjadi teringat sehari sebelum makan malamnya bersama Santi. Orang tuanya bersikeras ingin menjodohkannya dengan seorang wanita Jawa keturunan ningrat anak dari bos papanya. Dimitri menjelaskan bahwa saat ini ia sedang dekat dengan seseorang dan mulai merasakan cinta. Dimitri ingin membawa Santi menemui kedua orang tuanya. Namun ia belum sepenuhnya mengenal Santi. Rencana pada Hari Kasih Sayang seminggu lagi, Dimitri akan mengajaknya makan malam bersama keluarga. Ayahnya sempat menolak keinginan Dimitri karena merasa anak bosnya yang lulusan dari Cambridge University lebih menarik dan berkualitas daripada Santi yang hanya anak yatim piatu dan harus menghidupi adiknya.  Dimitri sangat mengasihi Santi.. ia mencintainya. Sebenarnya saat malam pertemuan terakhir sebelum Santi mengalami kecelakaan ia ingin mengungkapkan hal ini. Santi sayang, aku mencintaimu. Dimitri kembali menyeka air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Sesekali diliriknya Tegar yang tertunduk lesu di ruang tunggu ICU sambil menunggu kakaknya yang belum tersadar.  Hari ini adalah hari Sabtu dan terasa teramat panjang. Ini adalah Hari Kasih Sayang, Dimitri sebenarnya sudah menyiapkan kejutan kalung emas putih untuk Santi yang akan diberikan dan ia pakaikan dihadapan kedua orang tuanya saat ia mengungkapkan keinginannya untuk melamar Santi. Dimitri kembali meminta ijin suster ICU untuk menjenguk kekasihnya.  Berada di samping Santi dengan situasi berbeda diiringi bunyi peralatan yang ramai membuat Dimitri semakin bersedih. Santi, Happy Valentines Day. Seharusnya malam ini adalah malam kebahagiaan kita sayang. Kamu dan aku akan saling mengungkapkan perasaan cinta. Ayah dan ibuku akan melihatmu untuk pertama kalinya.  Dimitri menggenggam tangan Santi. Terasa dingin. Sedingin wajahnya tanpa ekspresi. Tidak tampak warna merah muda merona di wajahnya saat ia tersenyum malu. Santi sayang, aku kangen kamu. Bangunlah untuk aku dan Tegar. Sudah seminggu kamu membisu. Kembalilah kemari sayang. Kembali mengalir dipelupuk matanya, air mata yang seperti dua aliran sungai yang melewati hidung.. Dokter pun hanya mengatakan operasinya berhasil baik. Hanya memang untuk kembali sadar masih memerlukan waktu entah berapa lama. Santi, kenapa kita harus seperti ini? Diciumnya kepalan tangan Santi yang lemah. Akankah kita dapat bersama? Jerit Dimitri dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD