bc

Mencintaimu Suami Kejamku

book_age18+
12
FOLLOW
1K
READ
dark
friends to lovers
badboy
heir/heiress
drama
city
like
intro-logo
Blurb

"Pernikahan ini adalah hukuman untukmu."—Dirgantara Bayuadji.

~.~

Di hari pernikahanku, kebenaran menghancurkan segalanya.

Pria yang kucintai ternyata sudah beristri.

Dan pria yang membenciku, justru mengambil tempatnya di meja akad, lalu menjadikanku istri.

.

.

Di matanya, aku adalah perusak rumah tangga kakaknya.

Baginya, pernikahan ini bukan awal bahagia, melainkan balasan dan hukuman.

.

.

Namun semakin dia membenciku,semakin sulit baginya untuk melepaskanku.

Karena di antara dendam dan luka,tumbuh sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari cinta.

chap-preview
Free preview
1. Dituduh Pelakor
Bisik-bisik itu merayap di sepanjang dinding tenda. Samar, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Alranita Salim berdiri. Ia tahu mereka membicarakan kursi di sampingnya. Kursi yang sejak tiga puluh menit lalu masih kosong. Kursi yang seharusnya dihuni oleh calon suaminya. Jemari Ara saling bertaut erat di atas pangkuan. Riasan wajahnya mungkin sempurna di depan kaca, tapi ia tak berani menatap siapa pun. Senyum yang dipaksakan dari tadi mulai terasa seperti topeng yang retak di ujung-ujungnya. Di hadapannya, Pak Penghulu sesekali melirik arloji. Belum berkata apa-apa, tapi dahi yang berkerut sudah cukup membuat perut Ara mulas. "Ra." Wina sang mama yang duduk di belakangnya, menyentuh lengan Ara. Tangan beliau hangat, tapi genggamannya terlalu erat. Ara menoleh. Wina tersenyum, senyum yang sama persis dengan yang dipaksakan Ara. "Zaki masih di jalan, kan?" tanyanya memastikan. Ara mengangguk pelan. Padahal, di atas pangkuan, ponselnya terasa seperti batu bara. Sejak satu jam lalu, pesan-pesan yang dikirimnya hanya teronggok di layar. Status online Zaki berganti tanpa menjawab panggilannya. "Iya, Ma. Tadi katanya sudah berangkat." Suara Ara terdengar meyakinkan. Atau setidaknya ia berharap begitu hanya untuk membuat ibunya tenang. Wina menghela napas pelan, lalu melepaskan tangan Ara perlahan. Beliau kembali duduk di samping Haris, suaminya dengan sisa senyum yang masih belum hilang. Tapi ketika Wina membetulkan kerudungnya, Ara melihat jari-jari beliau sedikit gemetar. Haris, sang ayah tampak diam sejak tadi. Postur tegapnya masih seperti biasa, tapi rahangnya mengeras setiap kali seseorang melirik jam. Sekali, beliau menyilangkan kaki. Lalu menyilangkannya lagi. Jari-jari beliau menggenggam lutut dengan cara yang tidak pernah Ara lihat sebelumnya. Pandangan Ara kembali ke kursi kosong di sebelahnya. Tidak mungkin Zaki tidak datang. Tidak mungkin. Bukankah dia yang dengan yakin mengangguk di depan Ayahnya satu bulan lalu? Bukankah dia yang meyakinkan ayahnya untuk menikah, "Saya serius, Om. Saya ingin menikahi Ara." Tapi kenapa sekarang .... Di luar tenda, matahari bergerak naik. Bayangan tenda resepsi mulai bergeser, dan Ara bisa merasakan udara hangat mulai merambat masuk ke sela-sela pundaknya. "Bu, Pak." Suara Pak Penghulu akhirnya memecah keheningan. Beliau menatap kedua orang tua Ara dengan ekspresi yang tampak iba. "Maaf, saya harus sampaikan. Satu jam lagi saya ada akad lain. Jika mempelai pria belum juga hadir ... saya terpaksa pergi." Haris mengangguk kaku. "Kami paham, Pak." Ara menahan napas. Ke mana Zaki? Ponsel di atas pangkuannya seperti membara. Ia ingin sekali meraihnya, mengecek sekali lagi, tapi semua mata masih tertuju ke arahnya. Ara hanya bisa diam, duduk di kursi meja akad dengan kebaya putih yang mulai terasa seperti jerat yang menyesakan. Tiba-tiba .... Suara riuh. Bukan riuh seperti biasanya. Ada nada terkejut di dalamnya, dan itu membuat semua orang menoleh ke pintu masuk tenda secara bersamaan. Ara pun ikut menoleh mencari tau apa yang terjadi. Harapannya melonjak, singkat. Tapi kakinya tetap kaku menempel di lantai. Bukan Zaki yang melangkah masuk. Seorang pria tinggi dengan setelan jas gelap melangkah masuk. Bukan langkah ragu orang yang tersesat, setiap pijakannya mantap, seolah ia tahu persis ke mana tujuannya. Wajahnya tegas, rahang mengeras, dan sorot matanya dingin seperti kaca yang tak memantulkan apa pun. Puluhan pasang mata menatapnya penuh tanya, tapi ia tak terlihat peduli. Di belakangnya, seorang pria lain mengikuti dengan langkah serba salah, sesekali melirik ke kiri-kanan seolah tak nyaman menjadi pusat perhatian. Ara mengernyit. Wajah itu asing. Ia yakin belum pernah bertemu pria itu sebelumnya. Tapi jantungnya berdetak semakin cepat, bukan karena tidak mengenali, melainkan karena arah langkah pria itu. Lurus. Melewati deretan kursi tamu. Melewati ibunya yang menahan napas. Melewati ayahnya yang tubuhnya mulai tegang. Pria itu berhenti di depan meja akad. Dan tanpa bertanya, tanpa permisi, ia menarik kursi pengantin pria dan duduk. Sunyi. Hening yang mencekik. Sampai detik berikutnya, suara Haris memecah keheningan dengan nada yang bergetar menahan emosi. "Apa-apaan ini?" Ayah Ara setengah berdiri dari kursinya. Tangannya menggenggam ujung meja, buku-buku jarinya memutih. "Anda siapa?" Pria asing itu menoleh perlahan. Matanya menatap Haris tanpa sedikit pun rasa bersalah. Lalu beralih ke penghulu yang mulutnya setengah terbuka. Lalu berhenti di wajah Ara yang tampak tegang. Ara merasakan tatapan itu seperti pisau yang menyayat pelan-pelan. Ia tak mengerti kenapa. "Dirgantara Bayuadji." Namanya diucapkan datar, tapi cukup keras untuk memantul dari dinding tenda dan masuk ke telinga setiap orang di ruangan itu. Ara menegang. Dirgantara Bayuadji? Namanya asing. Tak pernah ia dengar sepanjang hidupnya. "Apa maksud Anda duduk di sana?" Haris meninggikan suara. Sekarang beliau sudah berdiri penuh. Dirgantara tidak langsung menjawab. Ia memiringkan kepala sedikit, dan matanya kembali menatap Ara. Kali ini lebih lama. Lebih dalam. Seolah ia sedang menelanjangi sesuatu yang tak terlihat oleh orang lain. Dan di balik tatapan itu, ada sesuatu yang membuat d**a Ara sesak, kebencian murni yang tak disembunyikan. "Seharusnya saya yang bertanya," kata Dirgantara akhirnya. Suaranya dingin, tapi ada ujung tajam yang siap menggorok. "Apa maksud Anda tetap melanjutkan pernikahan ini?" Kening Ara mengerut. Jari-jarinya mencengkeram ujung kebaya. "Apa maksud Anda?" Suaranya bergetar, antara bingung dan mulai tersinggung. Tapi ada juga sesuatu yang lain, rasa takut yang belum sepenuhnya ia akui. Dirgantara tersenyum. Bukan senyum ramah. Lebih seperti singa yang baru menemukan mangsa. "Kamu benar-benar pandai berpura-pura, ya." Kalimat itu mendarat di wajah Ara seperti tamparan. Ia merasakan pipinya panas, meski tidak ada tangan yang menyentuhnya. Ara membuka mulut, hendak membantah, tapi kata-kata berikutnya yang keluar dari bibir pria itu memotong napasnya. "Pria yang seharusnya kamu nikahi hari ini ..." Dirgantara bersandar di kursi, suaranya datar tapi mematikan, "adalah suami dari kakak saya." Ruangan yang sedetik lalu sunyi, kini meledak. Bisik-bisik berubah menjadi riuh rendah yang menyatu menjadi dengung tak jelas. Beberapa tamu berdiri. Seorang bibi di pojok menutup mulut dengan ujung kerudung. Ara tidak mendengar satu pun dari suara-suara itu. Darahnya seolah mengalir mundur. Kepalanya kosong, lalu tiba-tiba dipenuhi oleh ribuan potongan memori yang berhamburan tak karuan. Zaki. Zaki yang selalu pulang malam. Zaki yang tak pernah mau diajak ke tempat ramai. Zaki yang ponselnya selalu dibalikkan. Jangan paranoid, Ra. Aku hanya fokus kerja. "A-apa …?" Ara mendengar suaranya sendiri. Lirih. Seperti suara orang yang tenggelam. "Apa maksud Anda?" Dirgantara tidak mengalihkan pandangannya. Bahkan bulu matanya pun tak berkedip. "Zaki Ramanda," ucapnya, menegaskan satu per satu suku kata, "sudah menikah. Dan kamu …" Ia berhenti, membiarkan kalimatnya menggantung di udara yang semakin panas. “…adalah wanita yang hampir menjadi alasan hancurnya rumah tangga kakak saya." Deg. Ara mendengar sesuatu hancur di dalam dadanya. Bukan bunyi, tapi rasa. Seperti kaca yang jatuh dari ketinggian dan pecah berkeping-keping. "Itu tidak benar …," bisiknya. Lebih ke dirinya sendiri daripada ke pria di hadapannya. Kepalanya bergoyang pelan, seperti orang yang sedang berusaha membangunkan diri dari mimpi buruk. "Zaki bilang dia belum menikah …." "Lalu kamu percaya begitu saja?" Dirgantara memotong tajam. Sekarang matanya menyala, bukan api, tapi es yang membekukan. "Atau kamu memang sudah tahu, tapi pura-pura tidak tahu?" "Tidak!" Ara mendongak. Matanya berkaca-kaca, tapi air mata itu belum jatuh. Ia menolak untuk jatuh. "Saya benar-benar tidak tahu apa-apa!" Napasnya tersengal. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang lebih buruk, sadar bahwa di hadapan puluhan orang, ia sedang dihakimi atas dosa yang bahkan tak ia pahami. Namun Dirgantara hanya tersenyum miring. Satu sisi bibirnya naik, dan senyum itu cukup untuk membuat Ara merasa seperti serangga yang sedang diteliti di bawah kaca pembesar. "Saya tidak peduli kamu tau atau tidak," ucapnya dingin. "Yang jelas, pernikahan ini tidak akan terjadi dengan dia." Di belakang Ara, ibunya menarik napas panjang, terdengar seperti isak yang ditahan. Ayahnya belum kembali duduk. Beliau berdiri di sisi meja dengan tangan mengepal, wajahnya merah menahan malu yang tak tertahankan. Tamu undangan kini tak lagi berbisik. Mereka menatap. Semua menatap Ara. Ada yang iba, ada yang heran, tapi tidak sedikit pula yang menatapnya dengan alis terangkat, seperti baru saja menemukan sesuatu yang menjijikkan. Pelakor. Ara menunduk. Kebaya putih yang tadi terasa begitu indah di pagi hari, kini terasa seperti kain berkabung yang membungkus tubuhnya. Riasan wajahnya mungkin masih sempurna, tapi ia tahu, di mata orang-orang yang melihatnya sekarang, ia adalah sesuatu yang hancur. Malu. Hancur. Terhina. Ia ingin lari. Tapi kakinya tak bergerak. Dan Dirgantara belum selesai. "Akadnya tetap dilanjutkan." Kalimat itu diucapkan dengan tenang, seperti orang yang sedang memesan kopi. Seluruh ruangan terdiam. Ara mengangkat wajahnya. Matanya membulat. "Apa?" "Saya yang akan menjadi calon mempelai prianya." Kali ini, diam yang terjadi berbeda. Bukan diam karena terkejut. Tapi diam karena tak ada yang percaya apa yang baru saja didengar. "Tidak!" Ara langsung menggeleng. Kepalanya bergerak cepat, keras, seperti sedang berusaha membuang sesuatu yang lengket di rambutnya. "Ini tidak masuk akal!" "Ara!" Ibunya tiba-tiba memegang lengannya. Genggamannya keras, lebih keras dari biasanya. Ada sesuatu di mata ibunya, bukan sekadar panik, tapi juga keputusan yang lahir dari keputusasaan. "Semua tamu sudah datang … kita tidak bisa membatalkan begitu saja." "Aku tidak bisa menikah dengan orang asing, Ma!" Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh. Ara merasakan hangatnya membasahi pipinya, merusak riasan yang dirawat berjam-jam. "Aku bahkan tidak kenal dia!" "Apa kamu merasa mengenal Zaki?" sindir Dirgantara dari kursinya. Ia bahkan tidak bergerak. Hanya menatap, dengan senyum kecil yang membuat Ara ingin menjambak rambutnya sendiri. "Nyatanya, kamu sama sekali tidak tahu latar belakang dia yang sebenarnya dan mau-maunya saja diajak nikah." Haris, yang sejak tadi berdiri, kini berjalan mendekati meja. Wajahnya tegang, keringat membasahi pelipis meski tenda terbuka lebar. Beliau menatap Dirgantara, lalu menatap Ara, lalu menatap tamu undangan yang mulai berdiri beberapa. "Pa …." Ara memohon. Ia tahu ayahnya sedang berperang dengan harga diri. Dengan rasa malu yang mungkin lebih berat daripada yang dirasakannya sendiri. Dirgantara berdiri. Tingginya mengungguli Haris beberapa sentimeter. Tapi bukan postur yang membuat semua orang membeku, melainkan ketenangannya. Ketenangan seorang pria yang tahu bahwa ia memegang kendali. Ia menatap keluarga Ara satu per satu. Matanya berhenti di wajah Haris yang mengeras, di wajah Wina yang mulai basah oleh air matanya, lalu kembali ke wajah Ara yang sudah merah padam karena menahan isak. "Anggap saja ini jalan keluar terbaik," ucapnya dingin. "Atau kalian lebih memilih menanggung malu di depan semua orang?" Kalimat itu menusuk tepat di titik yang paling lemah. Ara merasakan beban itu, beban dari tatapan puluhan pasang mata, dari bisik-bisik yang tidak bisa ia dengar tapi tahu persis isinya, dari kebaya putih yang tadi melambangkan kebahagiaan dan kini melambangkan aib yang tak tersembunyikan. Ia menoleh ke arah ayahnya. Haris membuang muka. Ia menoleh ke arah ibunya. Wina hanya menangis dan menggenggam tangannya lebih erat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ara benar-benar merasa tidak punya pilihan. Tatapannya kembali bertemu dengan Dirgantara. Pria itu tidak terlihat ragu. Tidak terlihat menyesal. Yang ada hanya satu hal yang terpancar dari matanya, kebencian. Kebencian yang bahkan belum ia kenali alasannya, tapi sudah ditujukan padanya sepenuh hati. Dan di hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya, di tengah kebaya putih dan riasan yang luntur oleh air mata, Alranita Salim menyadari satu hal, Ia baru saja terjebak dalam pernikahan dengan pria yang membencinya. Sejak detik pertama. Sejak pandangan pertama. Sejak nama Dirgantara Bayuadji pertama kali jatuh di telinganya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.7K
bc

TERNODA

read
201.5K
bc

Kali kedua

read
221.7K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.6K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook