2. Pria Asing yang Arogan

2258 Words
Tatapan Alranita bertemu dengan Dirgantara. Pria itu tidak terlihat ragu. Tidak juga menyesal. Yang ada hanya satu hal, kebencian. Namun di tengah tekanan yang membungkam, di antara rasa malu yang mengalir di setiap pembuluh darah, di bawah desakan yang datang dari segala arah, dari Ibu yang terus menggenggam tangannya, dari Ayah yang menunduk tak sanggup berkata-kata, dari tamu yang menanti dengan mata menyala, akad itu akhirnya berlangsung. Pak Penghulu membaca ijab dengan suara berat, seperti ikut merasakan beban yang tak semestinya. Dan ketika kalimat kabul keluar dari bibir Dirgantara, Ara mendengar setiap suku katanya terucap mantap. Tenang. Seolah pria itu sudah menghafalnya dari jauh-jauh hari. Sah. Satu kata yang seharusnya membawa kebahagiaan. Tapi yang dirasakan Ara hanyalah sebuah jerat yang mengencang di lehernya. Air matanya jatuh tanpa suara, mengalir membasahi pipi, menetes ke pangkuan, membasahi jemari yang terus gemetar. Ia bahkan tidak benar-benar mengingat bagaimana semua itu terjadi. Yang ia tahu, dalam hitungan menit, statusnya telah berubah. Menjadi istri dari pria yang sama sekali tidak dikenalnya. Pria yang menatapnya seperti melihat sampah. "Selamat, ya …." Ucapan itu datang dari sana sini, tapi terdengar samar, tenggelam dalam dengung telinga Ara. Tidak ada kehangatan. Tidak ada kebahagiaan. Yang ada hanya tatapan-tatapan yang menusuk dari kerabat yang duduk di baris depan, dari teman-teman kuliah yang saling berbisik di pojok tenda, dari bibir-bibir yang mengerucut penuh tanda tanya. Bahkan ada yang menatapnya dengan alis terangkat, seolah baru saja menemukan sesuatu yang selama ini mereka curigai. Ara masih duduk kaku di kursinya. Kebaya putih yang tadi pagi dirawat dengan penuh hati kini terasa seperti kertas pasir yang menggesek kulit. Jemarinya menggenggam ujung kain itu erat-erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Di sampingnya, kursi pengantin pria kosong. Dirgantara sudah berdiri sejak beberapa menit lalu. Ara tidak tahu persis kapan pria itu bangun. Yang ia ingat, satu detik pria itu masih duduk dengan tubuh kaku di sebelahnya, dan detik berikutnya ia sudah berdiri, membelakangi semua orang. Tanpa menoleh padanya. Tanpa mengatakan apa pun. Seolah menganggap Ara tidak ada. "A-Anda mau ke mana?" Suara Haris terdengar di belakang. Ada nada yang berusaha tegas, tapi Ara bisa mendengar getar di ujung kalimat itu. Getar yang sama seperti saat Haris menggenggam lututnya tadi, ketika beliau sadar bahwa harga diri keluarga sedang dipertaruhkan di atas meja yang sama. Langkah Dirgantara terhenti. Hanya sebentar. Tapi ia tidak berbalik. "Akad nikah sudah selesai, kan?" Suaranya datar, tanpa emosi. Membosankan. Seolah pernikahan yang baru saja terjadi adalah urusan administrasi yang sudah dicentang. "Jadi tugas saya juga sudah selesai." Ara mendongak cepat. Terlalu cepat. Lehernya terasa sakit, tapi ia tak peduli. Dadanya seperti diremas tangan tak kasat mata, kencang, perlahan, sampai sulit bernapas. "Tunggu …." Suaranya keluar lirih, hampir tak terdengar bahkan oleh telinganya sendiri. Tapi ia memaksanya keluar. "Maksud Anda apa?" Baru kali itu Dirgantara menoleh. Dan ketika tatapan itu kembali menyentuhnya, Ara merasakan dingin yang sama seperti pertama kali pria itu melangkah masuk ke tenda. Matanya tajam, tanpa sedikit pun kehangatan. Seolah Ara bukan manusia yang baru saja menjadi istrinya di hadapan penghulu dan saksi. "Maksud saya," ucapnya pelan, tapi setiap kata terasa seperti pisau yang menyayat satu per satu, "saya tidak punya alasan untuk tetap di sini." Ara menahan napas. Udara di sekelilingnya terasa menipis. "Saya tidak ada kepentingan di sini, walaupun kita sudah menjadi suami istri yang sah. Kamu dan keluargamu menyambut tamu, sementara saya sama sekali tidak mengenal orang-orang ini." Kalimat itu jatuh. Dan Ara merasakan sisa-sisa harga diri yang masih ia pertahankan selama satu jam terakhir, hancur seketika. Hancur berkeping-keping di lantai tenda yang beralas karpet merah. "Dirga, kamu ini bagaimana—" Wina mencoba bersuara. Tapi pria itu sudah berbalik. Lagi. Langkahnya mantap. Tenang. Sama tenangnya seperti saat ia melangkah masuk tiga puluh menit lalu. Tidak ada beban. Tidak ada ragu. Seolah pernikahan yang baru saja terjadi bukan apa-apa baginya. Seolah Ara bukan apa-apa baginya. Sosoknya menghilang di antara kerumunan tamu yang mulai beranjak ke meja prasmanan. Beberapa orang menyingkir ketika ia lewat, bukan karena memberi jalan, tapi karena tatapannya yang membuat orang enggan berada terlalu dekat. Ara masih duduk di kursinya. Sendirian. Di tengah tenda yang mulai ramai dengan suara piring dan gelas, di tengah puluhan tamu yang datang untuk merayakan kebahagiaannya, ia duduk sendiri sebagai pengantin wanita yang resepsi pernikahannya baru saja mulai, tapi suaminya sudah pergi. Meninggalkannya. Seperti barang yang tak penting. Dan bisik-bisik itu mulai lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih dekat. Lebih tajam. "Kasihan sekali …" Suara itu datang dari sebelah kanan. Ara tak tahu siapa. "Calon suaminya, laki orang lho …," sambung yang lain, pelan tapi cukup untuk didengar. "Pantas ditinggal begitu saja." "Iya benar, lagian gak dicari tau dulu latar belakangnya …." "Katanya manager lho, makanya percaya." "Pantas saja ...." Pantas saja. Ara menunduk. Dalam. Hingga dagunya nyaris menyentuh d**a. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, menetes ke pangkuan, membasahi ujung jari yang masih menggenggam kebaya putihnya. Ia ingin lari. Tapi kakinya tak bergerak. Ia ingin berteriak. Tapi suaranya mati di tenggorokan. Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan dalam hidupnya, berubah menjadi hari paling memalukan yang tak akan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya. *** Ara tidak tahu persis kapan acara itu benar-benar usai. Yang ia ingat hanya suara kursi-kursi yang bergeser, derap langkah kaki yang menjauh, dan dengung pembicaraan yang perlahan-lahan meredup seperti air surut. Tidak ada sesi foto keluarga yang hangat. Tidak ada tawa. Tidak ada ucapan selamat yang tulus. Bahkan meja-meja prasmanan yang tadi pagi ditata rapi dengan kain warna krem dan rangkaian bunga segar di setiap sudutnya, sudah mulai berantakan. Beberapa wadah lauk masih utuh dengan isian yang belum berkurang. Kue pengantin tiga tingkat di sudut ruangan bahkan belum sempat dipotong. Semua yang tertulis di undangan, resepsi meriah, kebahagiaan dua keluarga, senyum di setiap kamera seolah lenyap begitu saja, berganti dengan bisik-bisik yang menggantung di udara seperti asap yang tak mau pergi. Ara sudah duduk di dalam kamar pengantin. Kamar ini tadi pagi terasa hangat. Lilin aromaterapi menyala di sudut meja rias, kelambu putih melambai lembut ditiup kipas angin, dan ibunya sempat berkata, "Ini kamar yang paling cantik, Ra. Papa pilihkan khusus untukmu." Sekarang, semua itu terasa seperti hiasan di atas peti mati. Kebaya putih yang ia kenakan terasa semakin berat di tubuhnya. Setiap detail sulaman emas yang tadi membuatnya tersenyum bangga, kini terasa seperti rantai yang membelenggu. Riasannya masih sempurna, bulu mata palsu masih merekat rapi, lipstik merahnya belum luntur, tapi matanya sembab, merah, dengan sisa-sisa air mata yang masih menggenang di kelopak bawah. Pintu kamar terbuka perlahan. Bukan suara ketukan. Hanya gesekan kayu yang berdecit pelan, seperti takut mengganggu kesunyian yang menyelimuti ruangan. Ibunya masuk lebih dulu, diikuti ayahnya yang menutup pintu di belakang tanpa suara. Wajah keduanya tegang. Bukan marah. Ara bisa membedakannya. Tapi yang ia lihat di wajah ibu dan Ayahnya adalah sesuatu yang lebih dalam. Luka. Luka yang bahkan tidak tau harus ditujukan ke mana. "Ara …." Ibunya duduk di sampingnya. Kasur berdecit menahan beban. Tangan Wina meraih tangan Ara, dan Ara bisa merasakan telapak tangan itu dingin, padahal di luar tenda matahari masih menyengat. "Kamu … benar-benar tidak tahu soal Zaki, Nak?" Suara Wina pelan. Hati-hati. Seperti orang yang berjalan di atas pecahan kaca. Ara menunduk. Dan baru saja ia menunduk, air matanya jatuh. Lagi. Seperti keran yang tak punya tombol berhenti. Ia sudah lelah menangis, tapi tubuhnya sepertinya belum. "Aku benar-benar gak tahu, Ma." Suaranya pecah di tengah kalimat, tersangkut di tenggorokan seperti duri. "Dia bilang dia belum menikah … aku percaya. Bahkan dia mengatakan itu di hadapan Mama dan Papa juga, kan?" Ia mendongak sebentar, cukup untuk melihat kedua orang tuanya saling berpandangan. Ada sesuatu di sana. Pengakuan. Karena mereka juga mendengar sendiri. Zaki berdiri di ruang tamu rumah mereka tiga bulan lalu, dengan kemeja batik lengan panjang dan senyum meyakinkan, berkata, "Saya serius, Pak. Saya ingin menikahi Ara. Saya masih lajang, dan insyaallah Ara akan saya jaga sebaik-baiknya." Kedua tangan Haris mengepal di sisi tubuhnya. Bukan kepalan marah yang siap memukul. Tapi kepalan orang yang sedang menahan sesuatu agar tidak hancur di depan anaknya. "Kalau aku tau sejak awal dia telah beristri, aku gak mungkin mau menjalin hubungan dengannya." Ara menggenggam tangan ibunya lebih erat, seperti anak kecil yang takut tenggelam. "Aku gak mungkin merebut milik orang lain, Ma. Aku tidak semurahan itu." Ruangan itu hening beberapa detik. Ara mendengar detak jarum jam di dinding, sesuatu yang tak pernah ia perhatikan sebelumnya. Mungkin karena suara itulah satu-satunya yang tak ikut menilai. Ayahnya mengembuskan napas panjang. Lalu beliau berjalan mendekat. Langkahnya berat, seperti orang yang baru saja mendaki gunung dan belum sempat beristirahat. "Lihat Papa, Nak." Ara mengangkat wajahnya. Dan ketika matanya bertemu dengan mata ayahnya, ia melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak. Wajah itu terlihat lebih tua dari usianya. Garis-garis di dahi yang biasanya muncul hanya ketika beliau memikirkan bisnis, kini terlihat dalam. Matanya yang biasanya tegas dan penuh wibawa, kini tampak lelah. Tapi tidak ada kemarahan di sana. Tidak ada. Hanya kekecewaan. Tapi bukan ditujukan padanya. "Papa percaya kamu," ucapnya tegas. Dan sekat di d**a Ara runtuh seketika. Tangisnya pecah lebih keras. Bukan tangis pelan yang tertahan seperti tadi. Tapi tangis yang keluar dari dalam, dari tempat paling dalam yang ia simpan sejak pria bernama Dirgantara Bayuadji melangkah masuk ke tenda dan menghancurkan seluruh dunianya. "Papa tahu kamu bukan anak seperti itu," lanjut ayahnya. Suaranya berat, tapi menguatkan. "Kamu juga korban di sini." Ibunya langsung memeluk Ara erat. Tubuh Wina hangat, baunya masih sama seperti saat Ara kecil dan menangis karena jatuh dari sepeda. Dan ketika ibunya ikut menangis, Ara merasakan bahu ibunya bergetar. "Kamu pasti shock, kan?" bisik Mama di pelipisnya. Tangannya mengusap rambut Ara dengan lembut, seperti dulu. "Sendirian menghadapi semua ini … Zaki memang sangat jahat." Ara menggeleng di bahu ibunya. Bukan karena tidak. Tapi karena ia bahkan tak tahu apa yang ia rasakan selain hancur. Tubuhnya gemetar. Gemetar yang tak bisa ia hentikan meski digenggam erat oleh dua orang yang paling ia cintai. "Rasanya sangat menyakitkan, Ma." Suaranya teredam di bahu ibunya. "Aku malu … dan aku benar-benar telah mengecewakan kalian. Telah membuat mama dan papa malu." "Sudah, sudah …." Ibunya mengusap punggungnya dengan gerakan melingkar, lembut dan berirama. "Ini bukan salah kamu." Tapi suasana hangat itu tak bertahan lama. Karena satu nama kembali melayang di antara mereka, tak diundang tapi tak bisa diusir. Dirgantara Bayuadji. Ara merasakan perubahan di tubuh ayahnya sebelum beliau bersuara. Rahang Haris mengeras. Otot-otot di rahangnya menonjol, bergerak seperti sedang menggeretakkan gigi. "Tapi pria itu …." Suaranya berubah. Dingin. Berbeda dari saat beliau berbicara dengan Ara. "Apa haknya memperlakukan kita seperti itu?" Ara diam. Dan dalam diamnya, ia mengingat lagi, tatapan dingin itu. Mata hitam yang menatapnya seperti melihat musuh. Kata-kata tajam yang keluar dari bibir yang tak pernah melengkung untuk tersenyum. Dan cara pria itu pergi. Tanpa menoleh. Tanpa ragu. Seolah Ara bukan siapa-siapa. Seolah pernikahan mereka tak lebih dari urusan yang harus diselesaikan, lalu ditinggal. "Dia bahkan tidak memberi penjelasan dengan cara yang baik," lanjut ayahnya, dan Ara bisa mendengar emosi mulai merambat naik di setiap suku kata. Suaranya tak lagi datar. Ada getar di sana, getar yang berbahaya. "Datang tiba-tiba, menuduh, lalu memaksa akad … dan pergi begitu saja! Benar-benar bajingan." Haris mulai berjalan mondar-mandir. Langkahnya tak lagi berat seperti tadi. Kini langkah itu pendek, cepat, seperti tenaga yang tak tahu harus disalurkan ke mana. "Itu sudah keterlaluan!" timpal Wina penuh emosi. Ara jarang melihat ibunya marah. Tapi sekarang, pipi ibunya memerah, dan suaranya meninggi satu oktaf. "Apa dia pikir kita ini siapa? Bisa dipermainkan seenaknya?" Ara menggigit bibirnya. Gigi atas dan bawahnya bertemu di daging bibir bawah, menekan sampai hampir menembus. Bukan karena marah pada orang tuanya. Tapi karena ada sesuatu yang terasa sesak di dadanya. Sesak yang tak bisa ia keluarkan. Marah? Mungkin. Tapi juga terluka. Luka yang aneh, karena ia bahkan tak tahu harus membenci siapa. Zaki yang membohonginya? Dirga yang menghakiminya? Atau dirinya sendiri yang terlalu bodoh karena semudah itu percaya. "Ara …." Suara ibunya melunak lagi. Wina menatapnya dengan mata yang masih basah. "Kamu tidak apa-apa, kan?" Pertanyaan itu jatuh di antara mereka. Dan Ara merasakan beratnya. Karena ia bahkan tak tahu jawabannya. Statusnya kini jelas. Seorang istri. Tapi tanpa kejelasan. Tanpa arti. Tanpa pria yang mau mengakuinya sebagai pendamping. Ia terikat pada seseorang yang bahkan tak ingin melihat wajahnya. Dan ia tak tau harus apa setelah ini. "Aku tidak tahu harus bagaimana …," bisiknya. Suaranya hilang di tengah ruangan, lebih pelan dari detak jarum jam di dinding. Ayahnya berhenti mondar-mandir. Beliau berdiri di depan Ara, menatap putrinya yang duduk di tepi kasur dengan kebaya putih yang kini kusut dan wajah yang hancur. Dan di mata ayahnya, Ara melihat sesuatu yang membuatnya tercekat tekad. "Kita akan cari jalan keluar," ucapnya tegas. "Pernikahan ini … tidak bisa dibiarkan seperti ini." Ara menahan napas. Jalan keluar. Kata-kata itu seharusnya melegakan. Tapi entah kenapa, justru membuat dadanya semakin sesak. Karena di satu sisi, ia juga tidak ingin terikat dalam hubungan yang penuh kebencian seperti itu. Namun di sisi lain, status itu sudah terlanjur melekat. Melekat seperti kebaya putih yang tak bisa ia lepas sendiri. Melekat seperti cincin yang masih melingkar di jari manisnya, cincin yang dipakaikan oleh pria yang bahkan tak menatap matanya saat melakukannya. Dan pria yang seharusnya menjadi suaminya, yang telah mengucapkan ijab kabul dengan suara mantap itu, bahkan seolah tak menganggapnya ada. Ara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Telapak tangannya dingin. Dingin seperti kamar pengantin yang tadi pagi terasa hangat. Dan di balik telapak tangannya, di balik kebaya yang kusut, di balik riasan yang mulai luntur, ia menangis lagi. Diam-diam. Hancur. Karena hari ini, hidupnya benar-benar berubah. Dan ia tidak tahu, besok, apa yang akan tersisa dari dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD