Mobil hitam itu melaju mulus meninggalkan halaman rumah yang masih dipenuhi tamu. Ban-nya bergerak tanpa suara di atas aspal yang mulai panas terkena sinar matahari. Tidak ada hentakan. Tidak ada keraguan. Seolah apa yang baru saja terjadi di belakang sana, akad yang dipaksakan, air mata yang jatuh, pria yang pergi begitu saja, hanyalah urusan kecil yang sudah selesai. Lembar kerja yang dicentang, lalu ditinggalkan.
Dirgantara Bayuadji duduk di kursi belakang. Tubuhnya bersandar santai, satu tangan bertumpu di sandaran pintu, jari-jarinya menggantung tanpa ketegangan. Jas gelap yang ia kenakan masih rapi, tidak ada kerutan meski ia duduk beberapa menit di kursi pengantin. Tatapannya lurus ke depan, menerawang melewati kaca film gelap, melewati jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan di pagi menjelang siang.
Tapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
Di kepalanya, gambaran itu masih berputar. Undangan pernikahan berwarna krem dengan emboss bunga di sudutnya. Ia menemukannya secara tidak sengaja tiga hari lalu, terselip di laci ruang kerja Zaki saat ia singgah ke rumah kakaknya. Waktu itu ia hanya ingin mengambil dokumen yang ditinggal Salsa. Tapi matanya menangkap nama itu. Zaki Ramanda & Alranita Salim. Tertulis rapi dengan huruf emas. Tanggalnya hari ini.
Ia ingat betapa darahnya mendidih saat itu. Bukan karena cemburu. Bukan karena sakit hati. Tapi karena di balik undangan itu, ada kakak perempuannya yang sedang mengandung anak kedua dan tidak tahu apa-apa.
“Pak … kita ke mana sekarang?”
Suara Arman dari kursi depan memecah keheningan. Asisten itu melirik melalui kaca spion, matanya hati-hati, seperti orang yang berjalan di atas kawat.
“Kantor atau apartemen?”
Dirga tidak segera menjawab. Matanya masih lurus ke depan, tapi bibirnya bergerak tipis.
“Apartemen.”
Jawaban singkat. Tanpa basa-basi. Seperti semua yang ia lakukan hari ini.
Mobil kembali melaju dalam diam. Suara klakson dari jalan raya terdengar sayup, tenggelam oleh pendingin udara yang berdengung pelan. Dirga merasakan dasi di lehernya mulai terasa sempit. Ia menariknya sedikit, melonggarkan, tapi tidak melepasnya.
Ponsel di tangannya bergetar.
Layar menyala. Satu nama muncul di sana. Kakak.
Dirga memandanginya beberapa saat. Tangannya tidak bergerak. Getaran kedua. Ketiga. Baru pada getaran keempat, ia menggeser layar dan menempelkan ponsel ke telinga.
“Dirga!” Suara di seberang terdengar panik, bercampur emosi yang sedang berusaha dikendalikan tapi tidak berhasil. “Kamu di mana sekarang?!”
Dirga tidak langsung menjawab. Ia menunduk sebentar, melihat ujung sepatu mengilapnya yang terkena sedikit debu. Mungkin dari tenda.
“Semuanya sudah diurus,” ucapnya tenang. Suaranya datar, seperti sedang melaporkan progres proyek.
“Apa maksud kamu?!” Suara itu meninggi. Di latar belakang, Dirga bisa mendengar suara TV yang tiba-tiba dikecilkan. Mungkin kakaknya. Atau pembantu yang melakukan itu. “Zaki ternyata tidak pergi dinas. Dia juga tidak bisa dihubungi sejak tadi!”
Rahang Dirga mengeras. Otot di rahangnya menonjol untuk sesaat, lalu hilang.
“Tentu saja tidak bisa dihubungi,” balasnya dingin. Matanya menyipit. “Karena hari ini seharusnya dia menikahi wanita lain di belakangmu.”
Hening.
Dirga mendengar detak jarum jam dari ponselnya. Atau mungkin detak jantungnya sendiri.
“... Apa?” Suara kakaknya berubah. Tidak lagi panik. Tapi melemah. Seperti kehilangan pijakan. Seperti orang yang baru saja dijatuhi vonis tanpa pernah diadili. “Dirga, kamu ngomong apa, sih?”
Dirga memejamkan mata sejenak. Kelopaknya menutup perlahan, dan di balik kegelapan itu, ia melihat lagi undangan krem itu. Nama Zaki. Nama wanita itu. Tanggal hari ini.
“Aku sudah menghentikannya,” lanjut Dirga. Suaranya tidak berubah. Tetap dingin. Tetap terukur. “Dia tidak akan menikah hari ini.”
“Dirga … maksud kamu …” Suara Salsa mulai bergetar. Bukan getar marah. Tapi getar orang yang mulai menyadari sesuatu yang selama ini mungkin ia hindari untuk dipikirkan. “Zaki … selingkuh?”
“Lebih dari itu.” Dirga membuka matanya. Tatapannya jatuh pada gedung-gedung yang melintas di luar jendela. “Dia sudah merencanakan pernikahan. Dengan wanita lain. Di belakangmu.”
“Tapi …” Suara Salsa terputus. Dirga mendengar isak tipis di ujung sana, ditahan, tapi tidak sepenuhnya berhasil. “Kamu bilang kamu menghentikannya? Maksudnya gimana?”
Dirga menarik napas. Pendek. Lalu menghembuskannya.
“Aku yang menggantikannya.”
Kali ini, benar-benar sunyi di seberang sana. Bahkan suara TV yang tadi terdengar samar, kini hilang sama sekali. Mungkin Salsa sudah mematikannya. Atau mungkin suara itu hanya tenggelam oleh keheningan yang begitu pekat.
Dirga bisa membayangkan ekspresi kakaknya sekarang. Mata yang membulat. Bibir yang sedikit terbuka. Tangan yang mungkin memegang dinding agar tidak jatuh.
“Kamu … menikah?” bisik Salsa. Suaranya seperti pecahan kaca yang jatuh di atas karpet. Tidak keras, tapi hancur.
“Iya.”
Satu kata. Datar. Tanpa emosi.
“Dengan wanita itu?”
Dirga terdiam sejenak. Matanya menatap langit-langit mobil. Hitam. Kosong.
“Ya, dengan wanita itu.”
Ara.
Wajah itu sekilas terlintas di benaknya. Mata yang berkaca-kaca. Ekspresi hancur ketika ia membuka mulut dan mengatakan bahwa Zaki sudah menikah. Suara bergetar saat menyangkal, “Itu tidak benar … Zaki bilang dia belum menikah ….”
Tapi tidak ada rasa iba yang muncul di d**a Dirga. Tidak sedikit pun.
“Dirga …” Suara kakaknya semakin lemah. Lembut. Seperti orang yang kehabisan tenaga untuk marah. “Kamu yakin dia tidak tahu semuanya?”
Pertanyaan itu membuat sudut bibir Dirga terangkat tipis. Bukan senyum. Lebih seperti tarikan otot yang menunjukkan skeptisisme murni.
“Menurutmu?” balasnya.
“Aku tidak tahu … tapi—”
“Dia tidak terlihat terkejut seperti orang yang benar-benar tidak tahu,” potong Dirga. Matanya menyipit lagi, mengingat ekspresi Ara ketika ia duduk di kursi pengantin. “Atau mungkin dia memang pandai berakting.”
Ia membuka mata lebar-lebar. Menatap lurus ke depan. Melalui kaca depan, melalui mobil-mobil di depannya, ke titik kosong di kejauhan.
“Kak, aku tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkan rumah tanggamu,” lanjutnya. Suaranya mengeras, bukan karena marah, tapi karena tekad yang dingin dan tak tergoyahkan. “Termasuk dia.”
Suara di seberang terdiam. Lama. Dirga mendengar helaan napas yang panjang, disertai getar kecil di ujungnya.
“Aku … tidak yakin ini semua sesederhana itu, Dirga …,” ucap Salsa lirih. Ada nada ragu di sana. Nada yang tidak Dirga sukai. “Aku takut jika wanita itu telah ....”
“Sudahlah, Kak. Nanti kita bicarakan lagi.”
Mobil mulai melambat. Gedung apartemen dengan fasad kaca gelap mulai terlihat di kejauhan. Dirga menyesuaikan posisi duduknya.
“Ada yang harus aku urus.”
“Dirga—”
Panggilan itu diputus sepihak. Jari Dirga menekan layar merah tanpa ragu, tanpa menunggu jawaban. Ponselnya jatuh ke samping di atas jok kulit, dan ia tidak menatapnya lagi.
Mobil berhenti sempurna di depan lobi.
Dirga membuka pintu sendiri. Tidak menunggu Arman. Kaki panjangnya menyentuh lantai lobi dan ia berdiri dengan tegak. Jasnya dirapikan sekilas, sedikit tarikan di ujung kerah, sedikit tepukan di bahu. Wajahnya kembali seperti biasa. Dingin. Rapi. Tak tersentuh emosi.
Seolah beberapa jam lalu, ia tidak menikahi seseorang.
Seolah di dalam mobil hitam itu, tidak ada pria yang baru saja menghancurkan hidup orang lain tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Arman menyusul di belakangnya, membawa koper kecil. Langkah Dirga mantap memasuki lobi apartemen, melewati satpam yang membungkuk hormat, melewati resepsionis yang tersenyum ramah. Tidak ada yang berubah dari rutinitasnya.
Tapi di dalam dadanya, di tempat yang paling dalam, ada sesuatu yang bergerak.
Bukan penyesalan. Bukan keraguan.
Hanya satu keyakinan dingin yang membeku seperti es,
Ia telah melakukan hal yang benar.
Dan tidak ada seorang pun, termasuk wanita yang hari ini menjadi istrinya yang akan membuatnya berpikir sebaliknya.