Pertemuan Mendadak

2246 Words
“Kamu baru selesai kuliah?” Wulan memulai percakapan. “Iya, Tante.” Sabila mengangguk pelan. Duh, ke mana Sabila yang biasanya berwajah garang? Sekarang malah kikuk kayak orang dongok. “Ngomong-ngomong, kalau Tante sibuk, aku pulang naik angkut aja.” Sabila hanya beralasan, berusaha untuk menggagalkan niat Wulan yang ingin mengantarkannya pulang. “Justru Tante lagi santai, gak ada kerjaan. Tadinya mau ke rumah teman, kebetulan jalan sini. Tapi gak jadi, deh, Tante lebih tertarik sama kamu.” Wulan malah tampak sumringah tak keberatan. “Tante, keluarga aku itu .... ” Sabila menggantung ucapannya, bingung menyerukan. Tapi, ia tetap harus mengungkapkan sesuatu sebelum sampai di rumahnya. “Apa, sih, Sabila? Emang kamu anggap Tante gimana? Kita semua sama kok, gak ada yang beda.” Wulan menegur tak suka. “Justru itu, keluargaku kurang mampu, Tante.” Sabila memberitahu, bahwa keluarganya dan keluarga Abrisam sangatlah tidak sama. “Hus, jangan bilang gitu. Abi udah cerita kok tentang kamu.” Lagi, Wulan tak suka dengan cara bicara Sabila yang terkesan tak percaya diri. Sabila mengembuskan napas lega, ternyata Abrisam sudah memberitahu ibunya tentang keluarganya yang jauh dari kata berkecukupan. Namun, tetap saja Sabila merasa tak percaya diri dan malu membawa Wulan ke rumahnya. Walau tak pernah berkunjung ke rumah Abrisam, ia sudah yakin rumahnya sangat mewah, jauh berbeda dari rumahnya yang terlihat tak layak huni. Wanita yang sudah cukup tua itu memakai pakaian berkelas, riasan wajahnya pun memperlihatkan kehormatan sebagai orang berada. Bagaimana Sabila tidak kena mental? Tapi, mustahil juga ia melarangnya untuk berkunjung. Sabila hanya harus mempersiapkan kata untuk ia ucapkan kepada ibunya. Juga, membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Sepanjang perjalanan, Wulan terus menceritakan tentang Abrisam sejak kecil hingga saat ini. Dari pembahasannya itu, Sabila mendadak mengeluarkan banyak pertanyaan dengan antusias, yang jelas pertanyaan seputar Abrisam. Mulai dari kebiasaan buruk, kebiasaan baik, hobby-nya, makanan kesukaan, dan masih banyak lagi. Meski sempat bingung karena seharusnya Sabila sudah tahu seperti apa Abrisam, Wulan tetap menjawabnya dengan senang hati. “Assalamu'alaikum.” Sabila memasuki rumah dan Wulan ada di belakangnya. “Wa'alaikumsalam.” Marni menoleh ke arah pintu, lalu berdiri sesegera mungkin. “Mah, kenalin, mamanya pacar aku.” Sabila memperkenalkan wanita yang dibawanya dengan tenang. “Pacar?” Marni terlihat bingung, menatap Wulan dengan saksama. “Ibu, salam kenal, ya. Saya mamanya Abi, pacar Sabila.” Wulan mendekati Marni seraya tersenyum ramah, lalu melakukan cipika-cipiki tanpa sungkan. “Salam kenal juga, Bu. Tapi ... saya sendiri gak tau pacarnya Sabila siapa,” celetuk Marni dengan wajah bingungnya. Wulan menatap Sabila heran. Pria memang identik dengan menyembunyikan asmaranya kepada keluarga, tapi wanita bisanya lebih terbuka, bukan? Terlebih, Abrisam tidak memiliki kekurangan untuk diperkenalkan kepada keluarga. “Aku belum pernah kenalin Mas Abi ke Mama.” Sabila terpaksa berbohong, tidak ada pilihan. “Ohhh ... ya ampun, kenapa kalian harus diem-diem, sih?” Wulan terlihat gemas. Melirik ke arah Marni, ia pun mengeluh, “Anak saya juga gitu, Bu, gak mau kenalin Sabila. Cuma kemarin-kemarin aja dia terpaksa bawa pacarnya ini, harusnya dari dulu.” Tidak ada sofa, Sabila dengan mimik malunya meminta Wulan untuk duduk di lantai yang hanya beralaskan karpet plastik. Namun, ternyata Wulan tidak keberatan. Bahkan, ia terlihat santai-santai saja seolah sudah sering mengunjungi rumah sederhana seperti rumah itu. Sabila bergegas melipir ke dapur untuk membuat minuman. Jangan harap minuman berupa jus ataupun sirup, yang pastinya teh manis ataupun air tawar yang biasanya disuguhkan jika ada tamu datang. “Sekarang, anak Ibu di mana?” Marni celingukan keluar rumah, mengira pria yang digadang-gadang kekasih Sabila juga datang. “Dia masih ngajar di kampus,” jawab Wulan apa adanya. “Dosen?” tebak Marni ingin memastikan. “Iya, anak saya dosen di kampus Sabila.” Wulan mengangguk satu kali, memberitahu kebenarannya. “Wah, saya jadi penasaran. Anak Ibu pasti ganteng.” Marni tak henti tersenyum bangga. “Maaf sebelumnya, anak saya sebenarnya udah dewasa banget. Kayaknya setengah abad dari Sabila. Dia duda, punya anak satu. Mungkin Ibu kurang setuju tau soal ini. Tapi, saya harap Ibu bisa terima anak saya,” tutur Wulan tak enak. “Bu, justru saya yang harusnya minta maaf. Sikap Bila mungkin kurang berkenan buat Ibu. Belum lagi Bila orangnya kayak gitu, cuek sama penampilannya.” Marni ikut tak enak, malah tidak keberatan dengan latar belakang Abrisam. Sudah untung masih ada yang mau menjadi kekasih Sabila, pikirnya. “Biasa, anak muda.” Wulan tersenyum canggung, padahal penampilan Viona yang seumuran Sabila sangat modis. Setelah cukup lama berbincang, tangan Wulan meraba isi tas yang dibawanya. Mengeluarkan ponselnya untuk diperiksa, ia melihat nama putra sulungnya sedang melakukan panggilan. “Mama di mana? Gurunya Adlan telepon aku loh, katanya Adlan belum ada yang jemput.” “Ya ampun, Mama lupa, Bi. Mama lagi di rumahnya Sabila, ketemu sama ibunya.” “Apa?” “Mama tadi ketemu Sabila di depan kampus, terus Mama anterin ke rumahnya, sekalian mau kenal sama ibunya juga. Katanya, Sabila juga belum kenalin kamu ke mamanya, ya? Kalian ini kayak anak SMP, pacaran kok sembunyi-sembunyi. Heran, deh.” Abrisam memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Terlepas sesantai apa ibunya bicara, kenyataannya ia tidak baik-baik saja mendengar nama Sabila. Tingkah serta ucapan konyol gadis itu langsung berputar-putar di kepalanya. Entah mengapa, sepertinya keputusannya memilih Sabila sebagai kekasih pura-puranya sangatlah salah, benar-benar salah. Tapi, jika sudah seperti ini Abrisam harus apa? Tak ingin menimbulkan kecurigaan, ia berusaha tetap tenang. “Terus, Adlan gimana nih, Mah?” “Kamu masih lama ngajarnya?” “Udah beres, tapi Abi mau langsung ke cafe.” “Aduh, kebiasaan kamu itu, Abi! Pentingin anak sendiri dong, bukannya cafe aja yang kamu urusin.” “Ya, Abi jemput Adlan sekarang juga.” “Langsung ke sini, ya.” “Hah?” “Kamu belum kenal sama ibunya Sabila, 'kan? Mumpung Mama di sini, kamu juga ke sini, dong.” “Tapi, Adlan nanti ngomel kalau gak langsung pulang. Tau sendiri 'kan ribetnya anak itu?” “Udah, pokoknya kamu ke sini aja sama Adlan.” Wulan mengakhiri sambungan telepon sebelum Abrisam bersuara lagi. Ia pun kembali berbincang dengan Marni. Seolah kehilangan jati dirinya sebagai manusia, Sabila hanya diam saat Wulan dan Marni mengobrol. Ia hanya bisa mendengarkan pembicaraan yang terdengar sangat asyik dari kedua mulut wanita itu. Wulan begitu ramah, tidak ada kesan merendahkan atas rumah yang sedang dikunjunginya, juga tidak banyak bertanya tentang pekerjaan Marni maupun suaminya. “Mah, Tante, aku mau nunggu di depan, ya.” Sabila berdiri, bosan juga lama-lama jadi patung di sana. “Boleh, Sayang.” Wulan mengangguk tak keberatan. “Iya, jemput aja. Pasti gak tau rumah ini, 'kan?” Marni juga mengangguk mengizinkan. Duduk di teras rumah orang, Sabila menoleh ke sembarang arah sambil memakan camilannya. Tepat ketika makanannya sudah tandas, ia melihat mobil Abrisam yang sedang menepi. Saat itu juga, ia meloncat, berjalan dengan girang menghampiri pria itu. “Hai, Bapak Muda.” Sabila menampilkan senyum terbaiknya, tetapi wajah Abrisam tetap saja kaku. “Sun tangan,” titah Abrisam pada bocah di sampingnya. Sabila langsung mengulurkan tangannya ke arah Adlan, tapi .... “Nggak!” Adlan menggeleng tegas, menatap sinis. “Ih, sun tangan dulu cepetan.” Sabila memaksa, membiarkan tangan kanannya berada di udara. “Gak ada sun tangan dipaksa!” Adlan mendelikkan matanya kesal. “Ini ada.” Sabila tak mau tahu, Adlan harus mencium punggung tangannya. “Nggak mau!” Adlan tak sudi dipaksa, apalagi sama modelan Sabila. “Adlan.” Abrisam menatap lelah, memohon. Wajahnya persis kertas kusut, tak tahu lagi harus bereaksi apa. Melirik ke arah Sabila, sudut mata Adlan masih saja sinis seolah menyimpan dendam bertahun-tahun. Dengan sangat terpaksa ia meraih tangan wanita di hadapannya, lalu menundukkan kepalanya. Tapi, yang dilakukannya bukan mencium tangan, melainkan menggigitnya. “Aw!” Sabila memekik, menarik tangannya secepat mungkin. Adlan segera bersembunyi di belakang tubuh sang ayah, sedangkan Sabila mengeluarkan khodam-nya, “Heh, berani-beraninya anak kutil! Sini lo! By one sama gue! Mau main-main sama preman kampung ini?” “Sabila, Sabila, udah.” Abrisam menahan tubuh Sabila yang hendak melayangkan cubitan ke arah Adlan. “Di mana Mama?” Mendengar nada lembut Abrisam serta menatapnya dari jarak dekat, hati Sabila luluh seketika. Wajahnya yang semula muram, tersenyum genit saat berkata, “Masuk, yuk.” “Hey.” Abrisam menepis tangan Sabila yang hendak menggenggamnya. “Kita gak bakal nyebrang,” tegurnya risih. “'Kan kita .... ” Suara Sabila terhenti saat menyadari adanya Adlan. Tadinya, Sabila akan mengatakan ‘Kita harus berpura-pura pacaran’ agar Abrisam mau saja bersikap manis dan romantis terhadapnya. “Sayang, kok gitu, sih.” Sabila merengek, kembali memegang tangan Abrisam dan membawanya ke dalam gang. “Astagfirullahalazim. Ribut, yuk.” Abrisam menggeram dalam hatinya. “Assalamu'alaikum.” Sabila memasuki rumah dengan girangnya. “Wa'alaikumsalam.” Wulan dan Marni menyahuti secara bersamaan. “Nah, ini anak sama cucu saya.” Wulan bangkit dari duduknya, memperkenalkan Abrisam dan Adlan. Walaupun dirasa sungkan, tak mungkin juga Abrisam hanya diam, ia pun bersalaman dengan Marni, begitupun dengan Adlan. Jika tadi menolak Sabila, bocah itu tidak keberatan mencium tangan Marni dengan sopan. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Baik Sabila ataupun Abrisam, sama-sama hanya diam dan mendengarkan orang tuanya bicara. Sesekali menjawab pertanyaan yang mereka layangkan, tetapi lebih banyak diam. Mau bagaimana lagi, Sabila sebenarnya ingin bersikap manis kepada Abrisam, tetapi bocah menyebalkan itu seolah menjadi penghalang besar. Wajahnya sungguh tak enak dipandang, malah membuat tangan Sabila gatal ingin memberikan pelajaran. Tahan Sabila, tahan. Ingat, ada calon mertuamu di sana. “Mama dari mana aja?” tanya Viona saat ibunya datang di meja makan untuk makan malam bersama. “Dari rumah Sabila.” Wulan duduk tepat di samping Viona. “Serius?” Viona berdecih kesal. Terkesan hubungan Wulan dan Sabila sangat dekat, dan ia tak suka. “Iya dong, ngapain bohong? Kamu itu kenapa, sih? Kenapa gak suka sama Sabila?” Wulan tampak tak suka dengan sikap Viona terhadap Sabila. “Mama liat aja penampilannya, semrawut gak beraturan.” Viona menggerutu. “Lagian aku aneh aja, kok bisa-bisanya Kak Abi suka sama cewek itu,” lanjutnya mencibir. “Hus, jangan bilang gitu loh depan kakak kamu. Lagian Mama gak keberatan, yang penting kakak kamu punya pacar kayak orang lain. Hidup normal intinya.” Wulan memperingati dengan sungguh-sungguh. “Tapi gak cocok, Mah. Kak Abi udah tua gitu, masa suka sama cewek seumuran aku.” Viona tetap pada penilaiannya, yaitu tak setuju atas hubungan Abrisam dan Sabila. “Ya nggak apa-apa, mungkin kakak kamu emang suka gadis muda.” Wulan terus membela. Lima belas menit menunggu, akhirnya Abrisam dan Adlan datang juga dan makan malam segera dimulai. “Abi, hp-nya Sabila mati? Kenapa gak kamu beliin yang baru? Kasihan tau. Masa anak kuliahan gak punya hp,” kata Wulan di sela-sela makannya. “Mama tau dari mana?” Abrisam bingung. “Tau lah, Mama minta nomornya tadi, eh katanya hp-nya rusak,” jawab Wulan sesuai yang diketahuinya. “Mama yakin, kamu pasti gak perhatian, 'kan?” tebaknya, menatap was-was. Abrisam diam, pura-pura sibuk dengan makanannya. Wulan memberikan nasehat, “Bi, kamu itu udah dewasa, udah pernah nikah juga. Jadi, Mama harap kamu bisa mempertahankan hubungan kamu, bagaimanapun caranya, termasuk ubah sikap kamu yang cuek itu jadi penuh kasih sayang. Apalagi Sabila itu butuh banyak perhatian, seharusnya kamu bisa jadi pacar yang baik dan pengertian buat dia.” “Abi udah tawarin hp baru kok, tapi dia-nya yang gak mau.” Abrisam berkilah sekenanya. Alih-alih membuat sang ibu lega, malah membuatnya semakin geram saja. “Astaga ... ngapain juga kamu nawarin? Beliin langsung dong. Kamu itu gimana, sih. Kayak gak pernah pacaran aja, gak tau harus ngapain biar—” “Iya, iya, nanti Abi beliin.” Abrisam sengaja memotong ucapan, malas mendengar ceramah yang membuat selera makannya menghilang. Di tempat lain “Bil, pacar kamu pasti orang kaya, 'kan?” celoteh Marni, nadanya terdengar menggoda. “Mama kok matre, sih? Pake bahas materi.” Sabila tak suka ibunya membahas kekayaan. “Bukan matre, Bila. Kalau kamu nikah sama orang yang berkecukupan, Mama udah seneng banget. Mama gak akan minta apa pun, Mama gak akan nuntut ini itu. Liat kamu hidup cukup aja, Mama udah bangga.” Marni membantah pikiran Sabila, meluruskan maksudnya. Ia lanjut berkata, “Maafin Mama, ya. Selama ini Mama gak pernah bisa cukupin kamu. Gak salah 'kan kalau Mama berharap yang terbaik buat kamu?” “Mah, udah, deh. Aku tuh bingung mau ceritain soal dia. Terus, jangan berpikir jauh-jauh ke pernikahan, deh.” Sabila kembali menepis harapan sang ibu. “Kenapa? Mama mau denger cerita kamu, dari awal ketemu sampai dia jadi pacar kamu. Lagian, kamu itu bukan anak SMP lagi, gak mungkin Mama larang kamu buat pacaran. Yang terpenting itu pacar kamu baik, itu aja.” Marni mendesak cerita secara tidak langsung. “Kalo aku ceritain tentang dia, janji Mama gak akan marah?” Sabila minta kesepakatan. “Marah? Jangan bilang kamu udah .... ” Marni malah menelisik tubuh Sabila, mengira putrinya itu sudah disentuh Abrisam hingga terpaksa menjalin hubungan. “Mah, enggak! Mama itu jangan kejauhan mikirnya!” Sabila jelas membantah tuduhan. Karena Marni terus mendesak cerita, akhirnya Sabila menceritakan semuanya. Ya, semuanya, tidak ada satu pun yang terlewat. Sabila harap, ibunya dapat mengerti dengan apa yang dilakukannya. Juga, tidak berharap hubungannya bersama Abrisam adalah nyata, apalagi hingga ke jenjang pernikahan. Sabila sendiri tak tahu, sampai kapan ia harus bersandiwara. Jujur saja, ia tidak akan sanggup jika kepura-puraannya berlarut-larut, tak sanggup menahan hatinya yang semakin tersentuh dan berharap hubungannya bersama Abrisam menjadi nyata. Sedangkan Abrisam, tetap santai-santai saja seolah tak punya hati, tidak terbawa suasana!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD