Kesalnya Gadis Bar-bar

1448 Words
Satu minggu berlalu Ibunya Sabila yaitu Marni sudah pulang ke rumah tiga hari yang lalu. Kondisinya memang belum pulih sempurna, tetapi ibunya itu sudah memaksakan diri untuk mengambil pekerjaan yang biasa ditekuninya. Tuntutan hidup tidak bisa tunda-tunda, ia pun tak bergantung pada Erip yang tidak bertanggung jawab. *** Sabila dan Abrisam bersikap seperti biasanya, layaknya seorang dosen dan muridnya seolah tidak pernah terjadi apa pun sebelumnya. Sabila merasa kecewa. Jika bisa, ia ingin berpura-pura menjadi kekasih Abrisam setiap hari, ia tidak keberatan dan malah ingin menawarkan diri. Tapi, kenyataannya sikap Abrisam kembali seperti dulu, tidak ada tatapan penuh cinta seperti di hadapan ibunya. Padahal, Sabila merindukan saat-saat malam itu, rindu akan nada lembut serta sikap manis Abrisam terhadapnya. *** Di salah satu koridor dekat ruangan para dosen, ada seorang pria yang tengah duduk seorang diri. Sabila tentu mengenalnya, dia adalah Panji, kekasih Luna. Tapi bukan Panji penakluk ular ya, dia mah Panji penakluk Luna yang terkenal super sombong sejagat kampus, kecuali sama teman-temannya termasuk Sabila, sih. Maklum aja, Luna itu anak tunggal dari pengusaha yang sangat terkenal. Kedua orangtuanya sama-sama memiliki perusahaan besar, wajar kekayaannya terus memuncak. “Ngapain lo di sini?” Sabila ikut duduk tanpa sungkan. “Nunggu Una, lagi dipanggil Pak Abi.” Kepala Panji menunjuk ke arah ruangan dosen. “Ada apaan emang?” Sabila penasaran. “Biasa. Apalagi kalau bukan Una yang gak ngerjain tugas?” jawab Panji malas, wajahnya tak kalah memprihatinkan. Dibalik kelebihan seorang Luna yang memang berwajah sangat cantik dan kaya raya, wanita itu terkenal juga akan kelemotan otaknya, pemalas, dan manja. Mendapat teguran dari seorang dosen sudah sering diterimanya, termasuk dari Abrisam yang kini sedang memberikan wejangan perkara Luna yang tidak mengerjakan tugasnya. Mendengar keluhan Panji, Sabila jadi menyesal telah mengumpulkan tugasnya tadi. Andai ia tahu Abrisam akan memanggil muridnya yang tidak mengerjakan tugas, maka Sabila akan sengaja tidak mengerjakan tugas. Alasan apalagi jika bukan karena ingin Abrisam memanggilnya? Ah, dasar Sabila, emang rada-rada! Benar kata pepatah, sepintar apa pun seseorang, akan bodoh jika mengenal cinta. Contohnya Sabila ini. “Ehem, pacarannya bisa di tempat lain? Kalian ini gak sopan pacaran dekat ruangan dosen.” Abrisam tiba-tiba mengomel yang entah sudah berapa lama berdiri di belakang tubuh Sabila dan Panji. “Loh, Pak. Kami gak pacaran.” Panji jelas membantah. “Gak usah ngeles kamu. Udah jelas kalian berduaan.” Wajah Abrisam semakin muram saja seperti dikejar cicilan. “Bertiga sama Bapak.” Sabila menunjuk Abrisam sebagai orang tambahan. Itu saiton apa gimana dah, ada diantara dua orang. “Lagian pacar saya yang dipanggil sama Bapak tadi, bukan dia,” ungkap Panji tanpa sungkan. Lebih baik jujur daripada disangka pacarnya Sabila yang rada anu itu. “Yakali teman makan teman, mending makan Bapak.” Sabila bergaya genit. Kalau cewek cantik mungkin akan terlihat gemas, tapi ini? Asudahlah, Abrisam lebih baik pergi daripada menyahuti lontaran Sabila. Lagipula, Panji sudah mengonfirmasi bahwa kekasihnya justru yang dipanggil Abrisam. “Bil, sumpah lo. Bisa-bisanya bilang gitu sama Pak Abi.” Panji menggelengkan kepalanya. “Lagian lo bucin banget ampe nungguin bebeb lo disidang.” Sabila berdecih ilfeel, padahal hatinya iri, ingin juga ada pria yang mengorbankan sesuatu untuknya. “Lo tau 'kan penyakit cewek? Una pasti uring-uringannya sama gue ampe nanti malem, padahal yang bikin mood-nya ancur Pak Abi.” Panji mengeluh, yakin Luna akan mengoceh sepanjang hari. Tak lama dari itu, Luna datang dengan wajah kusutnya. Sabila tidak berniat untuk bertanya apa pun, pura-pura tak melihatnya daripada terkena semprotan. Luna sendiri tidak kaget melihat kekasih bersama temannya, sudah terbiasa, dan ia tidak peduli. Selepas Luna dan Panji pergi, Sabila tetap di sana tanpa alasan pasti. Yang ia inginkan adalah bertemu Abrisam, tak peduli dengan cara apa sekalipun mengajak dosennya itu untuk berdebat. Di saat mahasiswa lain mati-matian menghindari ocehan Abrisam, si Sabila malah nyari penyakit. “Ngapain kamu masih di sini?” tegur Abrisam tak santai. Belum apa-apa, ia sudah darting duluan. “Aku gak ngerjain tugas,” kata Sabila tanpa beban. “Terus?” Abrisam bingung. “Bapak gak ada niatan buat manggil aku gitu?” tanya Sabila dengan gayanya yang sok cantik. “Bukannya tadi udah setor tugas?” Abrisam ingat sekali, muridnya itu sudah mengumpulkan tugas. “Tapi aku gak mau ngerjain tugas yang Bapak kasih tadi buat disetor minggu depan,” ujar Sabila dengan santainya. “Kenapa?” Abrisam menatap curiga. “Biar dipanggil sama Bapak.” Sabila menaikan kedua alisnya, memperlihatkan wajahnya yang tampak konyol. “Apa?” Abrisam mengerutkan wajahnya, dan kini kedua manusia itu sama-sama berekspresi konyol. “Ya udah, minggu depan aja saya panggil kamu-nya,” lanjutnya, mengerti dengan maksud wanita di hadapannya. “Mau sekarang, Pak.” Sabila merengek, tetapi Abrisam segera pergi untuk mulai mengajar. “Pak, ih! Bapak Muda!” teriaknya kesal. Wajahnya yang sudah jelek, tambah jelek saja saat cemberut. Tidak ada alasan untuk tetap di sana, Sabila akhirnya memutuskan untuk pulang. Banyak barang-barang yang ia hukum sepanjang perjalanan keluar dari gedung kampus. Misalnya menendang tong sampah hingga terjatuh dan sampah-sampahnya keluar, lalu menendang pot bunga hingga terkena ocehan salah satu dosen. Sayangnya Sabila tetap Sabila, yang hidupnya lempeng tanpa mau mendengar teguran siapa pun atas kekampretan yang dilakukannya. Dari kejauhan, Sabila melihat Sandi dan Bobby yang sedang berboncengan, melaju ke arahnya. Sudah kebiasaan Sabila yang akan menumpang pulang, kepada siapa pun temannya yang bersedia. Tapi, entah apa yang terjadi hingga Bobby yang biasanya membawa mobil tuanya kini malah dibonceng Sandi. Sandi sengaja menghentikan motornya di dekat Sabila, mereka berdua langsung turun, dan salah satunya yaitu Sandi mendorong motornya. “Nong, lo naik angkot aja, ya? Gue bawa beban negara, nih.” Sandi terlihat tak enak, menunjuk Bobby sebagai beban negara. “Ke mana mobil lo?” Sabila ingin tahu. “Lagi mejeng di bengkel. Biasa, nyari janda dia,” sahut Bobby seenaknya. “Terus, ngapa kalian pake turun? Abis bensin?” Sabila tak mengerti. “Duh, elah, 'kan kita bestpret. Sebagai bestpret yang baik, gue pasti temenin lo ampe depan. Capek barengan, panas-panasan juga barengan.” Wah, tumben nih Sandi sok bener. “Suka-suka lo pada, deh.” Sabila tak ingin pusing. “P, kita jemput dulu si Bruno di panti asuhan,” pinta Bobby kepada Sandi. Bruno yang dimaksudnya adalah anjing jenis poodle yang ia titipkan di pet house karena tidak ada orang di rumahnya. “Siap, Papa Bruno.” Sandi mengangguk hormat. Walau bagaimanapun temannya itu yang akan mengisi bensin, jadi ia menurut saja. “Yang lain belum pada keluar?” Sabila celingukan mencari tumpangan lainnya. “Dea sama Feli lagi UKM. Kalo si Oneng lagi ama ayang mbeb-nya tuh di cafe sebrang.” Bobby yang menjawabnya. Tepat di depan kampus, mereka berpisah. Sandi bersama Bobby pergi lebih dulu, sedangkan Sabila menunggu angkutan. “Sabila?” panggil seorang wanita sambil berjalan mendekati. Sontak, Sabila langsung menoleh ke asal suara. Saat itu juga, wajahnya yang semula santai-santai saja menjadi tegang seketika. Bukannya membalas sapaan, ia malah ternganga. Wanita itu adalah Wulan, yang entah sedang apa ada di depan kampus. “Hey, kamu lagi ngapain di sini?” Wulan membuyarkan lamunan Sabila. “Ohhh ... itu Tante ... aku lagi nunggu angkutan buat ... pulang ke rumah.” Sabila tak bisa menutupi kegugupannya, bingung harus bereaksi seperti apa. “Gak diantar sama Abi?” Wulan mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari putranya yang siapa tahu saja ada di sekitarnya. “Pak Abi—” Sabila menghentikan ucapannya, lalu segera mengoreksi, “Ma—maksudnya Mas Abi masih ngajar, Tante.” Wulan tidak terlalu kaget Sabila memanggil 'pak' kepada Abrisam, mungkin sudah kebiasaan saat di kampus. Ia pun mengembuskan napas lelah “Ya udah, masuk ke dalam mobil, yuk. Tante antar kamu pulang,” ajaknya ramah. “Apa?” Sabila makin melongo saja. “Kenapa? Tante juga mau kenal sama ibu kamu, sama keluarga kamu yang lainnya,” kata Wulan jujur, nadanya terdengar membujuk. “Tapi ... Tante—” “Ayok, jangan sungkan sama Tante.” Wulan tak ingin mendengar penolakan, menarik tangan Sabila untuk masuk ke dalam mobil. “Waduh, mampus!” Sabila menggerutu dalam hati. Bukan apa-apa, Sabila khawatir Wulan memberikan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab. Kalaupun dijawab, ia tetap takut jawabannya tidak sama dengan jawaban yang Abrisam berikan. Juga, bagaimana jika wanita itu tahu latar belakang Sabila? Rumah yang ditempati Sabila bukan hanya sangat sempit, tetapi juga kumuh. Ingin menghubungi Abrisam dan mengadu tentang keadaannya saat ini, tetapi ponsel saja ia tak punya. Di samping itu, Viona sempat mengatakan banyak hal tentang Sabila, termasuk pakaiannya yang tidak jelas modelannya. Untuk itu, Wulan juga tidak terlalu kaget melihat penampilan Sabila yang sangat jauh dari pertemuan pertama. Saat ini, Wulan sedang mengesampingkan penilaian-penilaian negatif tentang Sabila. Yang terpenting Abrisam memiliki kekasih dan hidup normal, itu saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD