Hanya Pura-pura

2421 Words
Di dalam sebuah butik, tiga karyawan wanita sedang sibuk mengurus satu pengunjungnya, siapa lagi kalau bukan Sabila? Tidak cukup satu karyawan karena waktunya mendesak, Abrisam meminta butik tersebut mempercantik Sabila secepatnya. Tapi, ia sendiri tidak berniat untuk mempertampan dirinya atau setidaknya berganti pakaian. Entah ibunya akan percaya atau tidak jika Sabila adalah kekasihnya, Abrisam hanya berusaha menghindari perjodohan yang tidak diinginkannya. Ia bosan berpura-pura baik-baik saja saat berumah tangga dengan seorang wanita yang menurutnya sendiri asing. Bukan hanya tidak saling cinta, tetapi sama-sama canggung satu sama lain, padahal mereka adalah suami istri. Rumah tangga macam apa itu? Penampilan Sabila jauh lebih bagus dari sewaktu Nadya yang meriasnya, terlihat lebih dewasa dan berseri. Jelas saja, kali ini yang meriasnya adalah seorang perias profesional. Dress biru muda yang dipilih Abrisam sangat cocok untuk Sabila. Bagian atasnya terdapat manik-manik yang tidak terlalu mencolok, ukurannya tidak ketat ataupun longgar dan hal itu dapat menutupi tubuhnya yang sangat tipis. “Pak.” Sabila mengeratkan genggaman tangannya, merasa tak yakin. “Gak usah gugup.” Abrisam tetap santai, tidak merasa risih dengan genggaman yang ia mulai lebih dulu. “Viona ada di sini juga, gak?” Sabila ingin memastikan. “Hm.” Abrisam mengangguk pelan. “Mampus.” Sabila mengerucutkan bibirnya kesal. “Kenapa?” Abrisam melirik ke sampingnya dengan tatapan bingung. “Dia musuh aku di kampus loh, Pak.” Sabila dengan tenangnya berkata jujur. “Kalian itu mau belajar apa geng-gengan?” gerutu Abrisam tak mengerti, lebih tidak mengerti lagi kepada Sabila yang tanpa sungkan mengatakan bahwa Viona adalah musuhnya kepada kakak wanita itu sendiri. “Dua-duanya.” Lagi-lagi Sabila menjawab santai seolah itu bukanlah hal yang salah. “Pak, kenapa harus pake high heels, sih? Padahal pake flatshoes juga cakep-cakep aja,” sambungnya memprotes. “Lebih bagus pake itu, kamu keliatan dewasa, gak kayak bocil.” Abrisam tak peduli, ia sendiri yang sudah memilih high heels itu. “Siapa juga yang bocil?” Sabila menggerutu. “Ya kamu, masa saya?” Abrisam mendelikkan matanya kesal. “Gini-gini aku udah datang bulan, artinya bukan bocil lagi!” Sabila menegaskan. “Tetep aja, kamu anak kecil bagi saya. Apalagi badan kamu kayak anak SMP gitu, makin keliatan bocah kalo gak pake high heels,” cibir Abrisam tanpa ragu. “Terus, ngapain minta aku pura-pura jadi pacar Bapak? Emangnya ibu Bapak bakal percaya kalo pacar Bapak itu bocil?” sindir Sabila tepat sasaran. “Gak usah mikirin ibu saya bakal percaya atau nggak, soalnya saya juga gak tau.” Abrisam tampak serba salah, karena sejujurnya ia juga tidak tahu rencananya akan berhasil atau tidak. Dari kejauhan, Abrisam menunjuk salah satu meja yang diisi ibunya bernama Wulan, lalu Viona, juga anak laki-lakinya, yaitu Adlan. Ada dua wanita lain, sepertinya merekalah yang akan dikenalkan kepada Abrisam. Abrisam merasa tidak terlalu asing dengan wajah mereka, mungkin pernah bertemu di suatu acara saat dirinya hadir. Entah, ia tak ingin pusing, dan tak ingin mengingat-ngingatnya. “Kak, nggak salah?” Viona menatap kaget, menelisik penampilan Sabila dari atas hingga bawah dengan saksama. “Kenapa, Yon?” Wulan ikut berdiri, ikut bingung juga dengan reaksi anaknya. Viona langsung menunjuk wajah Sabila. “Dia—” “Dia pacar Abi, Mah,” sela Abrisam sebelum Viona banyak bicara. Viona tidak percaya begitu saja, malah terkesan mustahil di telinganya. Ia pun bertanya dengan nada protes, “Sejak kapan? Bukannya Kakak—” “Udah lama, Yon. Itu alasannya kenapa Kakak mau ngajar di kampus kamu, karena ada dia.” Abrisam kembali menyela ucapan, menjawab dengan tenangnya seolah memang itu kebenarannya. Viona tetap tak percaya, berkata kesal, “Ta—tapi, Kakak sama dia gak keliatan pacaran waktu di kampus, gak pernah jalan berdua. Ini anak juga kenapa tiba-tiba sok cantik gini? Biasanya—” “Viona!” Abrisam memperingati, menatap tak suka. “Maaf,” kata Wulan kepada temannya, merasa tak enak karena Abrisam malah membawa 'kekasihnya' ke pertemuan itu. “Nggak apa-apa, kami pulang aja. Kebetulan, ada acara lain setelah ini.” Temannya tak ingin mempermasalahnya, malah tersenyum manis ke arah Sabila. “Sekali lagi, maaf.” Wulan terlihat sangat tak enak. “Selamat malam.” Wanita yang sudah cukup tua itu mengangguk ramah, lalu pergi bersama anaknya tanpa sempat berjabatan tangan dengan Abrisam apalagi Sabila. “Tante.” Sabila maju satu langkah, mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Wulan. “Oh, iya.” Wulan juga mengulurkan tangannya yang segera dicium oleh Sabila. Dari tatapan sinis Viona, Sabila tak sudi untuk berjabatan tangan. Bahkan jika bisa, ia ingin baku hantam saja dengan wanita yang sering membuat onar di kampus. Abrisam tampak tak ingin pusing, segera mengatur kursi untuk diduduki Sabila. Sikapnya sungguh manis, persis kepada kekasihnya. “Adlan?” Abrisam memprotes melalui tatapannya karena anaknya itu hanya diam, tidak menyambut kedatangannya. “Ini pacar Papa?” Adlan, bocah 6 tahun itu menatap Sabila dengan saksama. “Kamu suka?” Abrisam hanya berbasa-basi saja. “Nggak.” Adlan menggelengkan kepala dengan entengnya. Wulan dan Viona menunduk dalam-dalam, menyembunyikan bibirnya yang sedang menahan tawa. Nada bicara Adlan sangat santai, menjawab jujur. Baginya, Sabila tidak ada apa-apanya dengan ibu kandungnya yang sangat cantik. Jelas saja, wanita pilihan Wulan tidak mungkin gagal dalam hal rupa dan penampilan. “Nanti juga kamu suka,” kata Abrisam tetap santai, mulai memesan makanannya juga makanan untuk Sabila. “Cantikan juga Mama,” decih Adlan menatap tak suka. “Lan, jangan gitu.” Wulan menegur, padahal ia sendiri ingin tertawa dengan kepolosan cucunya. “Oh, iya, nama kamu siapa?” tanyanya kemudian. “Sabila,” jawab Sabila singkat. “Kuliah di tempat Abi ngajar?” Wulan bertanya kembali, ingin lebih dekat dengan wanita yang katanya kekasih dari putra sulungnya. “Iya, tapi kita ketemunya di tempat lain, kok. Dan waktu ada tawaran ngajar di sana, Abi langsung terima, karena ada dia di sana.” Abrisam yang menjawabnya. “Waw.” Wulan sedikit tercengang, ternyata putranya itu diam-diam memiliki kekasih. “Ehem, kalau boleh tau, sejak kapan, Kak?” tanya Viona dengan nada tak percaya. “Delapan bulanan kalau gak salah hitung.” Lagi-lagi Abrisam menjawab asal, jawaban yang sudah ia persiapkan sejak tadi. Melirik ke arah wanita yang duduk di sampingnya, ia meminta dukungan saat bertanya, “Iya 'kan, Yang?” Sabila hanya mengangguk tanpa bersuara. Lagipula, Abrisam sudah mewanti-wantinya agar tidak banyak mengeluarkan suara premannya. Jadi ya sudah, Sabila akan diam saja daripada mendapat amukan dari dosennya. “Kamu kapan pacarannya, sih? Giliran ditanya punya pacar apa nggak, jawabnya nggak. Aneh kamu, Bi.” Wulan menggerutu tak mengerti. “Dia masih kecil, Mah, masih kuliah. Sedangkan Mama pasti mau Abi nikah secepatnya. Bener, 'kan?” Abrisam hanya beralasan, malah balik menyudutkan sang ibu. “Ya udah, santai aja. Mama udah seneng kok kamu punya pacar. Artinya kamu normal, Bi.” Wulan tak ingin mempermasalahkannya lagi. “Kalo Abi gak normal, itu anak gak bakal ada di sini.” Abrisam menunjuk Adlan, kesal dengan penilaian sang ibu yang menganggapnya tidak normal. “Apa hubungannya sama aku?” Adlan memprotes. “Abi.” Wulan memperingati, tak suka Abrisam membahas hal intim di hadapan Viona dan Adlan. Hey, padahal ia sendiri yang mancing-mancing. “Yon, jangan bocorin tentang ini di kampus, ya. Kakak sama Sabila udah mati-matian biar gak ketahuan siswa lain,” pinta Abrisam sungguh-sungguh seolah hubungannya bersama Sabila adalah sebuah rahasia negara. “Emangnya kenapa kalo ketahuan?” Viona menyatukan alisnya, terlihat bingung campur ilfeel. “Nanti dia banyak yang musuhin, 'kan kamu tau sendiri Kakak banyak yang mau,” jawab Abrisam seenaknya. “Uhuk ... uhuk .... ” Adlan sengaja batuk berat, geli dengan sok tampannya sang ayah. “Lagian dia bisa main fisik, gak mungkin ada yang berani nyinggung dia.” Viona bicara dalam hati, tahu Sabila sering berkelahi sesama mahasiswa baik pria ataupun wanita. “Banyak yang mau, tapi kamunya yang nggak normal, Bi. Masa punya pacar aja susahnya minta ampun,” cibir Wulan sambil menggelengkan kepalanya. “Pacar Abi di sini, Mama ngomong apa, sih?” Abrisam memprotes, lagi-lagi karena kalimat ‘tidak normal’ yang keluar dari bibir Wulan. “Ya, baru sekarang dikenalin sama Mama, kemarin-kemarin ke mana aja? Padahal 'kan kenalin aja dulu, soal kapan nikahnya, itu bisa diatur nanti.” “Maaf.” Abrisam mengalah, bosan juga membahas tentang wanita. “Ayo, dong, dimakan. Atau mau makanan yang lainnya?” Wulan menawarkan, mengira Sabila tidak nafsu menyantap makanannya. “Nggak usah, Tante.” Sabila menggeleng pelan. Bukan tak ingin menyantapnya, tetapi Sabila sedang berusaha agar terlihat anggun, makan dengan gerakan super lambat yang membuat dirinya sendiri lelah. Jika bisa, ia ingin makan seperti biasanya, makan ala-ala tukang ojek dengan porsi banyak dan cepat. “Oh iya, besok lusa kalau kamu ada waktu, main ke rumah Tante, ya. Abi biarin aja ngajar, jangan sungkan sama Tante cuma karena gak ada Abi,” ujar Wulan kepada Sabila, disertai senyum ramahnya. “Sabila sibuk, Mah. Dia ini rajin banget belajarnya, makanya di kampus terkenal pintar.” Lagi-lagi Abrisam yang menyahuti, seolah tak ingin ibunya mengobrol dengan wanita di sampingnya. “Kalau gitu, belajarnya di rumah Tante aja, ya. Tante itu mau banget kenal lebih dekat sama kamu, sama cewek yang udah berhasil bikin anak tante jatuh cinta.” Wulan tak ingin mengalah begitu saja, tetap pada keinginannya. “Aduh, Mah.” Abrisam menatap kesal, ibunya kembali menyinggung 'cinta' dan ia tak suka! “Mah, kayaknya aku pergi aja, ya. Mau nyusul temen-temen. Kak Abi, aku duluan.” Viona pergi tanpa menunggu jawaban siapa pun, jengah mendengar obrolan yang ada. Entah harus percaya atau tidak tentang hubungan Sabila dan Abrisam, Viona tak tahu. Banyak kejanggalan yang dirasa, tetapi jawaban Abrisam tadi terdengar masuk akal juga. Selama mengajar, kedua manusia itu tidak pernah jalan berdua layaknya pasangan. Ternyata mereka sengaja menyembunyikan? Juga, Abrisam telah mengenal Sabila sebelum mengajar di sana, dan alasan menerima tawaran mengajar di sana karena adanya Sabila? Wulan sebenarnya sedikit keberatan. Selain latar belakang Sabila yang belum diketahui, ia juga tak ingin menerima sembarang wanita sebagai menantunya. Namun, history Abrisam yang tidak mementingkan cinta membuat hatinya mencelos hingga menganggapnya pria tak normal. Jujur saja, selama ini putranya itu tidak pernah membawa wanita ke hadapannya. Bagaimana ia bisa mempermasalahkan Sabila saat ini? Mungkin selera putranya memang gadis muda dan sederhana. Wulan bisa apa? Lupakan tentang siapa yang menjadi kekasihnya, yang terpenting Abrisam memiliki kekasih, dan itu sudah cukup menghibur hati Wulan. Sejak tadi Sabila hanya diam, menjadi pendengar obrolan ibu dan anak. Wulan memberikan banyak pertanyaan padanya tetapi malah Abrisam yang menjawabnya, tentu jawaban ngarangnya. Sabila tak peduli, ia lebih tertarik untuk menikmati detik demi detik sebagai 'kekasih' Abrisam. Bagaimana tidak? Sabila belum pernah diperlakukan seperti itu oleh seorang pria, dan saat-saat ini akan menjadi momen bersejarah dalam hidupnya. Ternyata seperti ini sikap Abrisam terhadap wanita yang dicintainya, sangat manis hingga membuat hati Sabila berbunga-bunga. Nadanya sangat lembut, tatapannya juga penuh cinta dan kehangatan. Andai saja ini bukan pura-pura, ia akan lebih menikmati suasananya. Tapi, mustahil juga pria tampan itu tertarik padanya. Baiklah, jangan main hati, jangan baper. Ingat, ini hanya pura-pura. Sabila terus bergumam dalam hatinya. “Pak, anak Bapak kok udah segede itu?” tanya Sabila saat di perjalanan pulang. “Masa jadi bayi terus.” Abrisam menatap jengah. “Bapak nikah muda, ya?” Mata Sabila menyipit, menggoda. “Sok tau kamu!” Abrisam malas membahas tentang pernikahannya. “Anaknya udah segede gitu, terus Bapak masih muda gini, udah pasti nikah muda dong.” Sabila yakin Abrisam nikah muda, karena menurutnya Abrisam masih terlihat muda hingga sempat tak percaya Adlan adalah anaknya. “Hm.” Abrisam hanya berdeham malas tanpa mau menanggapi lebih. “Bapak nikah umur berapa?” Sabila ingin tahu. “Jangan tanya-tanya soal nikah, bisa, gak?” Abrisam tak tahan lagi, memohon agar Sabila tidak mengungkit pernikahannya. “Nggak, karna aku penasaran.” Sabila menggeleng tegas, tak mau tahu, Abrisam harus menjawab pertanyaannya. “Saya nikah waktu usia 25.” Abrisam menjawab terpaksa. “Adlan usia berapa sekarang?” Sabila lanjut bertanya. “6 tahun.” Sekali lagi, Abrisam menjawab dengan malasnya. “Usia Bapak sekarang 32? Bener, gak?” Sabila menebak, meminta konfirmasi. Abrisam menatap wanita di sampingnya dengan wajah kesal, mengoceh, “Kenapa gak nanya langsung aja berapa usia saya? Malah muter-muter ke sana ke mari! Nanya usia pas nikah, nanya usia anak. Kalo tau mau kamu tambahin, mending saya jawab langsung berapa usia saya!” “Bapak kok ngegas? Biasa aja kali.” Sabila ikut mengomel, memutar bola matanya ke arah lain. “Muter-muter. Kirain mau ngapain.” Abrisam masih saja mengoceh. “Dih, Bapak Muda lagi PMS?” Sabila malah sengaja menggoda pria yang tampak kesal itu. “Bapak muda, bapak muda, saya bikin kamu jadi mama muda baru tau rasa!” umpat Abrisam. “Ya emang masih muda, 'kan? Lebih gak enak dipanggil bapak tua, deh.” Sabila bingung sendiri. “Kesannya saya nikah waktu masih sekolah sampai-sampai dipanggil bapak muda.” Abrisam memprotes tak setuju. “Eh, tadi Bapak ngomong apa? Mau jadiin aku mama muda?” Sabila baru ingat ucapan yang baru beberapa detik Abrisam ucapkan. “Lupakan.” Abrisam malas membahasnya. “Gak mau.” Sabila menggeleng tegas, merengek. “Maksudnya gimana?” tanyanya meminta penjelasan. “Saya cuma asal ngomong. Malah dibahas.” Abrisam mendengus kesal. “Bapak mau nikahi aku?” goda Sabila, tersenyum mengerikan. “Saya gak hamilin kamu.” Abrisam menggeleng pelan, mencoba untuk santai kembali. Sabila mengoceh, “Mesti hamil dulu baru Bapak nikahin? Emang dulu Bapak nikah karena—” “Sabila, tolong jangan bahas pernikahan saya lagi!” Demi apa pun, Abrisam tak ingin diingatkan dengan pernikahan yang pernah ia jalani. “Kalau gitu, bahas pernikahan kita aja, deh. Kayaknya lebih asik.” Sabila kembali menggoda, menatap pria di sampingnya dengan genit. “Kamu mau nikah sama saya?” Abrisam juga menatapnya, kali ini nadanya terdengar lembut seolah bertanya sungguh-sungguh. “Kenapa nggak?” Sabila bergaya menantang. “Mau nggak?” Abrisam meminta jawaban. “Mau, lah. Bapak ganteng, kaya, duren pula. Siapa yang gak mau?” jawab Sabila tanpa sungkan dan tanpa malu. “Saya-nya yang gak mau nikah sama anak kecil kayak kamu!” Abrisam menggeram gemas. “Asal Bapak tau aja, anak kecil ini bisa bikin anak kecil, loh.” Sabila tak peduli dengan kekesalan lawan bicaranya, terus menggoda tanpa tahu malu. Sabar Abrisam, sabar. Umur segitu emang lagi lucu-lucunya. Sabila tidak jauh seperti anak labil yang baru saja jatuh cinta, hatinya sangat tersentuh dan tidak bisa dikendalikan. Tidak pernah memiliki kekasih, sekalinya mengalami posisi menjadi seorang 'kekasih', ia langsung terpana dan klepek-klepek. Ternyata Abrisam tidak sejutek itu, ia sangat manis dan Sabila sangat menyukainya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD