Saat aku tengah berjemur di bawah terik matahari pagi, aku melihat seorang pria yang juga berjemur sepertiku. Ia terlihat begitu bahagia, sepertinya ia seumuran denganku.
Aku membawa selang infusku dan mendekatnya. Ia melihatku dan memutar kursi rodanya.
"Hai." Sapaku padanya.
Ia memberiku senyumnya yang sangat indah, "hai." Balasnya padaku.
Aku menjulurkan tanganku dan mengajaknya berkenalan.
"Namaku Yumna." Ia mendorong kursi rodanya mendekatiku.
"Namaku Jorgi. Eh kamu ngapain jalan sendirian disini?"
"Aku bosen di dalam kamar, pengin aja berejemur disini."
"Kamu sakit apa? Kalau aku boleh tau sih" ia memperhatikanku dengan seksama.
"Hmm.. Diagnosa sementara sih Lupus Nefritis. Itu baru sementara kok, soalnya baru aja di cek urine."
Ia terngangah, "loh, bukannya penyakit itu sensitif sama sinar matahari ya? Tuh liat kulitmu sudah ruam-ruam gitu."
Aku langsung melihat tanganku yang sedikit memerah, "eh iya, aduh gimana ya. Aku aja gak tau gejala penyakit ini, kok kamu bisa tau?" tanyaku padanya.
"Tau dong, aku udah lama disini, sekitar dua tahun lebih. Jadi, aku banyak tau dong." Ia tertawa kecil melihatku yang kebingungan.
"Hah? Kamu udah lama disini? Ngapain?"
Ia semakin tertawa, "kamu lucu banget sih, kamu gak liat tangan aku ada apanya? Masa' aku cuma numpang tidur disini."
Aku tersipu malu dengan ucapanku sendiri, "hehe, kalo boleh tau, kamu sakit apa?"
Ia menengadahkan kepalanya ke atas, "aku didiagnosa menderita bradikardia."
"b*a-di-kar-di-a? Maksudnya?"
"Hm, bradikardia itu semacam penyakit jantung, dimana jantung berdetak lebih lambat dari normalnya."
Ia menunjuk d**a sebelah kirinya, "disini, ditanam alat pacu jantung. Alat kecil ini membantu jantungku berdetak normal."
Aku terus memperhatikannya sehingga membuatnya berhenti bicara.
"Pasti sakit ya?" tanyaku.
"Ini namanya nikmat. Kalau gak ada penyakit ini, mungkin kita gak bisa ketemu dan mungkin juga temanku cuma sedikit."
Ringan sekali ia berbicara, seolah tak pernah ada beban dalam hidupnya. Ia benar-benar membuatku mengerti bahwa penyakit bukan untuk dikeluhkan, tapi di syukuri.
"Jangankan menikmati, baru beberapa hari aku tahu penyakit ini, sudah banyak masalah yang memenuhi otakku." Ucapku.
Ia menyentuh selang infusku, "kamu baru merasakan selang kecil ini di tanganmu dan kamu sudah pusing, bagaimana denganku? Yang dimasukkan ke dalam rongga tubuh, organ penting lagi. Jantung."
"Aku beruntung bisa ketemu kamu disini." Ucapku seraya mengehal napas panjang.
"Sudah satu minggu ini, teman berjemurku pulang. Ia dinyatakan sembuh dan hanya rawat jalan."
"Kamu tidak sedih? Atau cemburu? Karena temanmu bisa sembuh lebih cepat?" tanyaku.
"Untuk apa? Itu hanya membuat pikiranku kalut dan akhirnya membuatku bisa gila."
"Jadi cara kamu menghadapi itu adalah dengan tetap bersyukur?"
Ia menganggukkan kepalanya.
"Kalau besok aku pulang? Berarti kamu sendirian lagi?"
"Ya begitulah, aku tak akan pernah bersedih. Aku senang dan aku akan berdoa agar kita tak bertemu lagi disini. Yang pasti jangan bertemu disini, di tempat lain aja."
"Hebat sekali kamu." Aku memberikan jempolku padanya.
Ia berusaha memutar kursi rodanya namun ia terlihat begitu kesulitan,
"Aku bantu ya." Aku membantunya dan ia tersenyum ke arahku.
"Terimakasih, Yumna."
"Yumna!" terdengar suara mama dari kejauhan. Mama melambaikan tangannya dan memintaku untuk mendekatnya.
"Jorgi, aku balik ke kamar ya. Kamu masih mau disini?"
"Iya, silahkan. Aku masih mau disini kok."
"Daah."
Aku berjalan mendekat mama sembari memegang kantung selang infus.
***
"Ma, mama tau nggak. Tadi pagi tuh, Yumna ketemu Jorgi."
"Siapa dia?" tanya mama sembari menyuapkan makan padaku.
"Namanya Jorgi, Ma. Dia juga di rawat di rumah sakit ini. Dia baik loh, Ma."
"Kamu hati-hati, dia sakit apaan?" tanya mama dengan nada sedikit tinggi.
"Mama gak perlu khawatir, ia sakit apatuh, duh Yumna lupa, yang pasti semacam sakit jantung gitu Ma."
"Jantung?"
"Iya, jantungnya lambat berdetak."
Mama membelai rambutku, "besok kita sudah boleh pulang, Na. Kamu bisa ketemu lagi sama teman-teman kamu."
"Seharusnya, Jorgi juga bisa pulang. Kasihan Jorgi, sendirian lagi dia. Emangnya sakit jantung itu parah ya, Ma?"
"Dia sudah lama dirawat disini?"
"Katanya sekitar dua tahun lebih."
Mama terperangah, "ha? Dua tahun lebih?"
"Iya, Ma. Dia juga cerita kalau ditubuhnya sudah di pasang alat kecil pemacu detang jantung."
Mama berusaha membuatku yakin bahwa penyakitku tidak parah dan bisa di sembuhkan.
"Permisi ibu, ibu dapanggil ke ruang Dokter Rizal sekarang." Ucap seorang perawat kepada mama.
"Oh oke, saya kesana sekarang."
Itu pasti di suruh ambil hasil cek urine. Semoga saja penyakitku tidak separah diagnosa dokter. Amin.
Sebuah pesan masuk ke dalam notid handphoneku,
Saras
Yumna, kita udah di luar rumah sakit nih. Tungguin kita ya.
Aku bergegas merapikan rambutku dan mengusap wajahku. Ku harap kali ini hanya teman-teman sekolahku saja yang datang. Bukan dia.
***
"Hai, Na. Duuh kita kangen nih. Gimana kabar kamu, Na?" Saras merengkuh tubuhku.
"Iya ni, Na. Udah berapa hari ya gak ketemu kamu." Tambah Lara.
"Kamu tau gak, Na, kemarin aku liat Arga jalan sama cewek cantik banget. Aku kira kamu udah pulang, eh ternyata bukan kamu yang di bonceng Arga."
"Siapa, Sar? Cewek cantik? Mungkin pacarnya kali." Tanya Lara yang bisa mewakilkan apa yang ingin kutanyakan.
Aku hanya tersenyum, "heum, mungkin pacarnya."
"Gawat, Na. Jangan sampe dia jadian sama cewek itu." Wajah Saras begitu serius saay mengatakan kalimat itu.
"Lah emang kenapa? Dia berhak loh jadian sama siapa aja yang dia suka." Timpalku.
"Gak! Gak boleh. Dia cocoknya sama kamu doang. Romantis gitu."
Aku terkekeh, "kamu tuh ya, bikin perut aku tambah sakit aja."
"Eh, emangnya kamu sakit apa ya, Na? Kamu belum kasih tau kita loh." Pertanyaan Lara membuatku bingung harus mengatakan apa.
"Oke, aku bakalan kasih tau kalian. Tapi, kalian jangan kasih tau siapa-siapa ya."
"Oke, siap." Saras dan Lara mendekatkan telinganya ke arah wajahku.
"Lupus Nefritis," ucapku sedikit berbisik
"What!? Apa itu?" Suara Saras membuatku sangat terkejut bukan kepalang.
"Kamu serius, Na?" tambah Lara.
Aku menganggukkan kepalaku.
"Kok bisa??" tanya Saras dengan wajah sedih.
"Gak tau pasti apa sebabnya, Sar, La." Jawabku dengan senyum.
"Ya ampun, Na. Arga udah tau tentang ini?"
"Udah kok, karena itu dia jauhin aku."
"Hah? Jauhin gimana, Na?"
"Gak tau, dia bilang, gak mau ganggu aku dulu. Itukan maksudnya dia ngejauh dari aku."
"Gak mungkin, liat aja besok, Na. Aku bakal ajak dia ketemuan dan marahin dia karena udah buat kamu sedih." Gaya Saras membuatku tertawa.
"Siapa sih yang sedih, Sar. Aku gak masalah kok dia begitu."
"Liat aja, Na. Besok kita kesini ajak dia juga."
***
Salam kura-kura♥