Berjuang Sendirian

900 Words
Malam tiba, aku masih terbaring lemas di rumah sakit. Mama sedang keluar membeli makanan, ingin rasanya aku berdiri dan duduk di dekat jendela, memandangi langit yang tengah dipenuhi dengan bintang-bintang---namun tak bisa. Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari balik pintu. Suara yang sepertinya tak asing di telingaku. "Yumna" "Papa?" Ternyata papa datang dengan seorang anak kecil yang sangat cantik. "Papa.. Yumna kangen banget sama Papa. Ini siapa, Pa?" Aku dan papa sudah lama tidak bertemu. Papa sudah bahagia dengan keluarga barunya di kota lain. Mungkin karena jalan pikiran papa dan mama sudah berbeda dan tak bisa di satukan lagi. Papa meminta anak kecil cantik itu agar mendekatiku, "ini adik kamu, Na." Aku terkejut, ternyata benar---papa sudah melupakan mama. Keluarga sudah lengkap dengan kehadiran anak kecil yang cantik ini, "ini anak Papa?" tanyaku. Papa tersenyum seraya mengelus keningku,  "Iya ini anak Papa, Na" Sepertinya papa paham dengan ucapanku, aku tak menerima adik baru yang berbeda ibu denganku. "Kakak, namaku Jenna." Anak kecil itu tersenyum ke arahku. Wajahnya sangat mirip dengan papa dan hampir mirip denganku. "Papa kesini berdua saja? Tahu dari siapa kalau aku masuk rumah sakit?" tanyaku pada ayah yang berdiri di samping anak kecil itu. "Iya berdua saja, Na. Tadi pagi papa nelpon nenek, dan katanya kamu lagi sakit. Papa kerumah kamu gak ada, jadi langsung papa cek kesini." "Yumna tuh kangen sama Papa." "Papa juga kangen sama kamu, Na. Udah lama Papa kita gak ketemu, oh ya, mana mama?" "Lagi cari makanan, Pa." Krek... "Yum-" Seketika suasana menjadi hening. Mama berhenti di depan pintu dan terperangah melihat kedatangan papa. Papa mendekat mama dan entah apa yang mereka bincangkan. Jenna, anak kecil itu terus memperhatikanku. "Umur kamu berapa?" aku mencoba menerima bahwa ini adalah anak papa. "Umur aku delapan tahun, kak." Suaranya begitu lembut. "Udah sekolah kan?" "Kelas dua, kak. Jenna boleh cium pipi kakak?" Aku menuruti permintaan Jenna. Ia mencium pipiku, baru kali ini aku merasakan punya saudara kandung. "Yumna, kamu cepat sembuh ya, Papa mau pulang dulu, tadi dapat telpon dari rumah." Tiba-tiba papa izin pulang. Entah apa yang dilakukan mama tadi. "Pa, besok kita kesini lagi ya, Pa." Jenna benar-benar anak yang baik. Ucapannya halus sekali. "Pa? Baru aja datang, udah mau pulang." Aku memasang wajah cemberut pada papa. "Kamu telepon aja Papa, ya sayang." Setelah itu papa pergi dari hadapanku dan mama masuk dengan wajah marah. Mama hanya diam dan memastikan kalau aku baik-baik saja. "Papa datang, Ma. Aku senang banget." "Mama udah beliin kamu makanan, tapi tadi kata dokter kamu harus makan obat dulu dan makanan yang udah disiapin disini." "Ma.." Mama menyimpangkan pembicaraanku tentang papa. "Besok mama mau ke butik karena ada pesanan, lumayan buat jajan kamu. Mama minta Tante Luna jagain kamu. Gak masalah kan?" "Mama pulangnya kapan? Lusa?" "Gak kok, pagi Mama berangkat terus sore nya Mama usahain pulang." "Oke, Ma." *** Pagi ini tubuhku terasa membaik. Perutku tidak begitu sakit dibandingkan kemarin, aku harap hari ini aku bisa pulang ke rumah. "Tante?" Tante Luna tengah duduk di dalan ruanganku. "Mama udah pergi?" "Iya udah, sekitar setengah jam lalu. Kamh mau makan apa, Na?" "Aku mau minum aja, Tan." "Yaudah, ini. Gimana keadaan kamu, Na?" "Lumayan mendingan, Tan. Tante sendirian?" "Nggak kok, tante kesini sama om Juna. Cuma tadi katanya mau keluar sebentar." "Oh gitu, makasih ya, Tante." "Biasa aja, Na. Tante juga gak ada kerjaan di rumah." Aku duduk di atas ranjang dan merapikan rambutku. "Tan, kok semalam agak sakit ya tanganku? Apa reaksi obatnya baru muncul?" "Kan semalam sebelum tidur, dokter kasih cairan vitamin, Na, wajar sih kalo sedikit sakit." Aku ingin sekali pulang dan menjalani hari-hariku dengan normal. Aku tak ingin membuat semua orang resah dan kesusahan karenaku. Perasaan takut selalu menghantuiku, semoga saja tes urine hari ini menunjukkan hasil yang berbeda dari diagnosa dokter ssbelumnya, semoga saja. Ada banyak hal yang menggumpal di pikiranku, tentang papa, mama, dan Arga. Papa selalu punya alasan untuk menjauh dariku, sedangkan mama selalu punya cara intuk menjauhkanku dari papa. Kalau tentang Arga, aku merasa bersalah. Aku telah menjadikannya orang asing yang tak berhak mengetahui kehidupanku lebih jauh, padahal dulu aku sempat berjanji ingin mencurahkan semua keluh kesahku padanya dan tak akan pernah ada yang di sembunyikan. Aku memang salah, pikiranku terlalu pendek tentang masalah ini. Kemelut ini begitu menyiksaku. *** Sebuah pesan masuk dalam notif handphoneku, Arga Na, maaf. Aku tidak akan mengganggu waktumu hari ini. Aku akan menunggu waktu sembuhmu saja. Maaf jika hadirku membuatmu semakin terpuruk. Apa-apaan ini, Arga? Aku membutuhkanmu dan kamu malah menjauh dariku. Apa kau malu mempunyai teman penyakitan seperti aku? Ku mohon, aku butuh kamu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menelpon Arga. Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silahkan coba beberapa saat lagi. Aku menahan air mata yang hampir jatuh dari mataku. Kenapa Arga begitu tega menjauh disaat aku membutuhkannya. Ini pasti ada masalah lain. Kring... Aku kira ini Arga tapi ternyata mama. "Halo, Ma?" "Na? Mama pulangnya agak malam ya. Kamu udah makan belum?" "Iya, belum. Nanti." Rasanya semua orang meninggalkanku disaat aku terpuruk. Tak ada satu orang pun yang berpihak padaku. Ya, baiklah. Jika ini semua keinginan kalian, aku tidak akan membuat kalian susah lagi. Aku akan berjuang sendirian, aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjalani semuanya tanpa kehadiran kalian. Arga Yumna, maaf tadi aku ada latihan futsal. Sekarang ada sedikit waktu biar bisa kasih kamu kabar. Aku membiarkan pesan Arga. Berharap ia sadar atas ucapan yang telah membuat hatiku kecewa. *** Salam kura-kura♥
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD