Saat aku terbangun dari lelap tidurku, aku membuka handphone dan ternyata ada notif dari Arga,
23.28
Yumna, gimana keadaan kamu? Aku harap kamu semakin baik ya:)
Aku mau kasih tau kalau besok udah habis gebyar di sekolahmu, jadi mulai besok mungkin kita gak bisa ketemu dulu.
Tapi kalau kamu butuh aku, telepon saja. Oke.
Selamat malam, Na.
Hah? Berarti Arga tidak datang lagi ke sekolahku. Perasaan kesal selalu menggelayut dalam benakku, kenapa penyakit ini harus datang sekarang.
Tak masalah, masih ada handphone untuk mengetahui kabar Arga. Toh bisa bertemu kapanpun jika saling menghubungi.
Krek..
"Kamu udah bangun, Na? Gimana keadaan kamu? Mau sekolah hari ini?" mama duduk di sebelah kepalaku dan merasakan suhu tubuhku. Sebenarnya aku sangat semangat sekolah hari ini, tapi setelah tahu kalau Arga sudah tidak datang lagi, semuanya terasa membosankan.
"Hm.. Yumna udah baikan kok, Ma. Cuma masih lemas sedikit. Mungkin pengaruh obat ya, Ma?"
"Mungkin saja, kalau begitu kamu jangan sekolah dulu ya hari ini. Nanti Mama kirim surat atau telepon wali kelas kamu."
"Eh tapi, Ma, Yumna pengin sekolah. Bosen di rumah."
Terlihat mama sedang mengetik sebuah pesan, "siapa, Ma?"
"Oh ini dari nenek. Katanya dia kangen kita, pengin ketemu. Terus pas Mama kasih tau kalau kamu sakit, nenek sampe nangis. Semalam Mama mau bangunin kamu, tapi kayaknya kamu udah ngantuk banget."
"Nenek gimana kabarnya, Ma? Udah lama kita gak ke Bandung. Kangen semuanya, Ma."
"Baik kok."
Teringat dulu, aku sering pulang kesana. Semua orang disana sangat baik padaku. Apalagi nenek, dialah yang sering memberitahuku kalau aku melakukan yang seharusnya tidak aku lakukan. Kurang lebih 2 tahun aku disana karena mama harus kerja di luar kota, biasa mengurus butiknya.
Nenek pernah bilang kalau kita hidup bukan untuk mengeluh, bahkan jika cobaan itu sangat besar di depan mata.
Cobaan datang untuk dihadapi bukan untuk ditangisi. Begitulah kata nenekku.
Sebenarnya aku mempunyai saudara kandung tapi ia sudah meninggal sejak dalam kandungan usia 8 bulan. Namanya Bayu Agatha, dia kakakku. Kakak yang tak sempat ku lihat kehadirannya dalam hidupku.
Katanya dulu mama stress karena harus bolak-balik rumah sakit. Kandungan mama lemah, jadi harus minum banyak obat.
Ingin sekali aku melihat kakakku. Ingin juga merasakan hangat kasihnya, dan perhatiannya.
***
"Yumna, Mama udah telepon wali kelas kamu."
"Iya, Ma. Yumna mau istirahat dulu ya, Ma."
"Iya, kalau butuh Mama panggil aja."
Sudah tiga hari aku tak masuk sekolah. Bosan rasanya jika hanya duduk termenung di dalam rumah.
Aku menelpon Arga dan tiga panggilan tak ia jawab. Mungkin ia sedang sibuk belajar atau lainnya.
Kakiku terasa sangat kebas, dan ternyata betisku bengkak. Tak tahu pasti kenapa, bisa jadi ini karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu di atas tempat tidur.
***
Kring..
"Halo, Na?"
"Halo, Ga. Maaf aku ganggu kamu tadi."
"Kenapa, Na? Kamu butuh apa?"
Ingin sekali aku katakan kalau aku butuh dia, butuh hadirnya. Tapi jangan, jangan dulu.
"Enggak kok, Ga. Cuma-"
"Kangen? Sama aku?"
"Hmm bisa aja kamu, Ga."
"Nanti aku kesana, sekitar jam 3."
"Iya, Ga, aku tunggu ya."
"Oke, aku belajar dulu ya."
Semoga saja nanti Arga datangnya sendirian, tanpa Saras ataupun Lara. Tapi mana mungkin Arga berani kesini sendirian, gak akan berani.
Aduh! Kenapa perutku sakit lagi ya?
"Mama!!"
"Kenapa?? Kamu kenapa, Na?"
"Perut aku sakit banget, Ma!" aku mengerang kesakitan, dan mama terlihat sangat cemas.
"Yaudah ayo kita ke rumah sakit."
"Argh!! Mama,"
"Iya bentar, sayang."
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku tak berhenti meringis. Ini sangat sakit bukan main.
Ternyata sakitku kambuh dan harus di rawat di rumah sakit. Cairan selang infus masuk dalam aliran darahku, air mataku jatuh saat melihat mama begitu repot karenaku.
"Yumna, mama mau ambil pakaian kamu dulu di rumah. Kamu ga-pa-pa kan disini sendirian dulu, sebentar kok."
"Iya, Ma."
***
Beberapa jam, aku tertidur. Ternyata sudah jam 3 lewat. Aku lupa kalau Arga mau kerumahku. Bagaimana aku memberitahunya, handphoneku tertinggal di rumah.
"Yumna, tadi ada Arga." Ucapan mama membuatku terkejut dan tersenyum.
"Dimana, Ma?" tanyaku bersemangat.
"Katanya mau jemput temennya dulu, nanti kesini."
"Ma, Arga mau jemput siapa?" tanyaku pada mama yang sedang merapikan pakaianku.
"Ya Mama nggak tau."
Aku menghela napas panjang, berharap Arga datang sendirian. Aku ingin sekali berbicara dengannya secara langsung. Tapi aku juga takut kalau dia memaksaku untuk memberi tahu tentang penyakit ini.
"Ini handphone kamu, Na."
"Makasih, Ma. Untung Mama inget mau bawain."
Tok... Tok.. Tok..
"Yumna?" sapa Arga sambil menyalami tangan mama. Ternyata Arga datang bersama temannya, bukan Saras ataupun Lara.
"Kok bisa, Na? Kamu ngapain aja di rumah?" Arga duduk di kursi yang ada di ruangan itu, mama keluar dan hanya ada aku, Arga dan temannya.
"Biasa, Ga."
"Ini gak biasa lagi, Na. Untung aja aku mau ke rumah kamu dan pas juga ada mama kamu. Kalo nggak, kamu pasti nggak kasih tau aku kalau kamu disini." Arga menatapku dan membuatku tersenyum.
Arga mendekatiku dan memegang tanganku yang tertancap selang infus, "ini akibatnya kalau kamu sok kuat, gak butuh orang lain."
Aku tak berhenti menatap Indah matanya, "sakit, Ga."
Arga terus memperhatikan selang infus itu, "hal yang paling aku takutkan telah terjadi di kamu."
"Maksudnya?" tanyaku bingung,
"Selang ini, aku tak pernah menginginkannya untuk menyentuh tubuhku."
Aku meletakkan tanganku yang satunya diatas bahu Arga, "ini gak seperti yang kamu bayangkan kok. Gak sesakit perasaan aku yang harus terima kalau aku mengidap penyakit ini."
Tanpa aku sadari, pikiranku melantur jauh. Tanpa sengaja, aku memberi tahu Arga---apa yang tengah aku rasakan.
Arga berdecak kaget dan menggenggam erat tanganku yang ada di bahunya, "penyakit? Penyakit apa? Kamu bilang sekarang! Kamu sakit apa?"
Aku menarik tanganku dan berusaha melepaskannya dari genggaman Arga, ku palingkan wajahku dan diam sejenak.
"Yumna, aku gak boleh tahu? Aku bukan orang yang kamu butuhkan? Tolong beri tahu aku, Na."
Air mataku terjatuh dan membuat Arga semakin bingung, "Lupus Nefritis," aku memejamkan mataku, berharap tak akan terjadi apa-apa setelah Arga tahu tentang penyakitku.
"Apa? Sejak kapan?" Arga meraup wajahnya.
"Yumna, ada dokter mau periksa kamu, Nak." Mama masuk bersama seorang dokter dan dua orang perawat. Aku langsung menghapus air mata yang mengalir di pipiku.
Arga berdiri di sisi kamar rumah sakit ini. Terlihat ia begitu kesal karena aku tidak memberitahunya sejak kemarin-kemarin.
"Bu, dia harus istirahat total dan besok akan kita cek ulang urine. Silahkan ibu tanda tangan ini." Ucap dokter seraya memberikan secarik kertas yang harus mama tanda tangani.
Sedang aku, terus memperhatikan Arga dan tak tahu harus bagaimana meminta maaf padanya.
***
Salam kura-kura♥