Konverensi Ranjang

1133 Words
Tepat pukul jam 2 siang Aron dengan malas menuju ke ruang tamu. Dia sebenarnya sangat malas untuk bertemu Maca saat ini. Entahlah, mungkin perkara sikap Maca tadi yang seolah menolaknya, padahal dia hanya ingin jadi teman saja. "Pasti dia ke GR an, gue mau peluk gitu, dikira udah cinta." Aron berucap monyong-monyong bibirnya. Kalau sudah sebal maka sikap absurdnya bertambah tebal, setebal muka Aron. Aron selonjoran di sofa ruang tamu yang nuansanya sepiii banget! Rumah gaya sederhana tapi aslinya mewah ini bagi Aron sangat-sangat kasian hanya di tinggali berdua. "Sayang banget ya kalau rumah bagus gini cuma ada 4 orang aja. Harusnya ada 10 orang." Ucap Aron sambil menyipitkan mata memandang seluruh sudut ruang tamu juga tangga lantai dua dengan bingkai tangannya yang dia buat iseng dari jari telunjuk dan ibu jarinya yang panjang. Tepat di tengah ruang tamu pindaian netra Aron berhenti. Dia menurunkan tangannya dan mengembalikan netra sipitnya. "Di sana bagus kalau di tempel foto keluarga. Gue, Maca, Papa, Appa, dan anak-anak." Komentar mulut Aron enteng kaya angin, tidka lupa pul senyum lebarnya. Tapi sedetik kemudian dia mengusap wajahnya sendiri. Yah mulai menyadari kalau dirinya memang banyak halu, mana mungkin ada anak-anak sedangkan perjanjian mereka saja tidak boleh punya anak? "Hush hush! Pikiran ngga ngotak, gue jadi kaya orang gila kan. Sana pergi pergi." Aron mengusir pikirannya sendiri. Aneh ya, tapi biarkan saja. Orang kaya mah bebas. Saat sedang mencoba mengusir pikirannya sendiri tiba-tiba suara bi Inah mengagetkan Aron. "Ya elah bi Inah! Kaget tau bi." BI Inah yang melihat wajah Aron bingung sendiri. Dia ingin ketawa tapi takut, ngga ketawa tapi takut kentut. Jadilah bi Inah bungkuk-bungkuk minta maaf sambil menutup mulut agar tidak ketauan menertawakan majikannya. "Udah-udah bi bungkuknya nanti malah encok saya yang repot." Mulut Aron memang ada saja jawabannya. "Baik Den, maaf." Ucap Bi Inah pelan. Arin yang sudah sadar dari kondisinya mengingat tadi bi Inah berasal dari tangga sehingga ketika bi Inah menyapanya Aron jadi kaget sebab tidak melihat sosok wanita paruh baya itu. Dia jadi ingin sedikit question question. "Bi Inah habis dari mana?" Tanya Aron penasaran. "Bibi tadi dari atas, mau bangunin Non Maca, soalnya tadi Non Maca nitip suruh di bangunkan kalau sudah jam 2 tepat. Jadi Bibi ke atas." Jelas Bi Inah dengan jelas padat dan singkat. Tapi bagi Aron dia belum puas. "Terus udah bangun?" Bi Inah menggeleng. "Tadi bibi cuma ketuk pintu aja dari luar ngga kedalam den. Bibi jadi ngga tau Non Maca sudah bangun atau belum. Tapi kalau dari suaranya sih, tadi belum ada sahutan." "Sahutan apa?" Aron bertanya polos lebih jatuhnya ke orang b**o. "Ya sahutan panggilannya bibi den. Kaya misal, iyaa bi.. ini Macam udah bangun, gitu." Aron mengangguk angguk paham. Kok dia merasa sekarang kaya anak TK ya yang ngga paham arti kata sahutan? "Terus bibi turun mau ngapain?" Lanjut tanya Aron terus. Dia benar-benar belum mau diam ternyata. "Anu, bibi mau minta tolong den Aron buat bangunin Non Maca. Takutnya Non Maca ada jadwal penting. Nanti kalau Non Maca telat kan kasihan den." Jawab Bi Inah dengan raut yang memang memelas. Duh Aron jadi teringat pesan Maca yang memintanya untuk rapat penting jam 2 siang. Apa mungkin Maca mau di bangunkan untuk jadwal aneh mereka? "Ya udah bibi ngga usah takut, apalagi sampai nangis guling-guling ya. Nanti biar Aron aja yang bangunin Maca. Bibi urus rumah aja ya." Bi Inah tersenyum senang. "Iya den, bibi mau ke belakang dulu ya." "Okre bibi, makasih ya bi." Bi Inah mengangguk dan langsung pergi ke belakang meninggalkan Aron sendiri di ruang tamu. Suasana kembali sepi. "Kalau dari chat by asih, emang dia ngga bilang di mana tempatnya ya. Mungkin saking ngantuknya Maca dia ngga sadar kirim pesan ambigu." Aron mengusap-usap dagunya sambil berpikir kritis. Ini itu masalahnya ada pada si Maca dan si kamarnya. Kalau Aron masuk berarti Aron melanggar privasi masing-masing. Tapi kalau tidak masuk, Aron ngga bisa. Matanya sekarang saja sudah gatal ingin sekali melihat istrinya. "Ish! Pikiran ngga bener lagi itu. Mana ada gue yang ngga tahan ngga liat dia?" Mulut Aron menye-menye minta di gampar. "Yang ada si Maca itu yang pastinya kangen bangett sama Aron yang tampan ini." Kadar PD Aron itu melebihi kadar garam di laut mati jadi jangan kaget dengan ucapan-ucapannya ya. Mengikuti insting selagi ada celah ternganga lebar membuat kaki Aron dengan segera menapaki tangga yang entah kenapa menurutnya sekarang kok jadi panjang banget. Aron bahkan mengumpat terus. "Yang buat tangga kayaknya lagi ngantuk nih. Ini putarannya ada berapa sih perasaan cuma dua deh, kok lama banget sampenya? Besok besok gue ganti ini tangga sama lift aja. Ngga becus sih jadi tangga." Sampai di tangga terakhir kaki Aron langsung melewati dua undakan sekaligus dan melangkah menuju kamar Maca. Sebenarnya menurut Aron lebih tepat di sebut kamar mereka berdua sebab memang hanya ada dua kamar di rumah mewah ini dan satunya untuk tamu. Jadi tidak ada lagi. Aron tau ini pasti akal akalan dua duda k*****t yang sengaja cuma buat dua kamar. Oke baiklah akhirnya perjalanan Aron sampai juga di tujuan. Tanpa ba bi bu, dia langsung membuka kamar Maca yang ternyata tidak di kunci. Dengan pelan Aron membuka pintu, dan saat netranya melihat Maca tengah berbaring tertidur pulas, hatinya merasa legaa.. Jujur tadi setelah ucapan bini yang mengatakan Maca tidak ada sahutan di khawatir. "Iya wajarlah ya, gue di titipin anak orang. Kan ngga lucu kalau baru satu hari dia is death atau ke rumah sakit. Di sangka gue ngapain lagi." Kembali Aron menjawab pikirannya sendiri. Sekarang perasaan leganya diikuti dengan rasa lelah. Entah kenapa dia jadi sedikit mengantuk juga. Kalau boleh jujur sebenarnya Aron belum tidur sejak semalam. Dia terus terpikirkan soal pernikahannya pun sampai sekarang. "Hoammm kayaknya empuk juga ini kasur." Tanpa sadar Aron menaiki kasur empuk itu dan merebahkan diri di samping Maca. Dia sedikit terlena dengan empuknya kasur tapi masih ingat tugasnya untuk membangunkan Maca. "Ca.. bangun, katanya lo ada janji sama gue jam 2 siang. Ini udah jam nya, hoaammm." Aron menguap lagi. Tapi dia masih mau membangunkan Maca. "Ca.. bangun ih! Lo ada janji jam 2 siang!" Ucap Aron sambil menggoyangkan lengan Maca. Tapi hasilnya anak itu hanya berbalik dan sekarang membelakangi Aron. "Ca.. buat terkahir kali bangun!!" Merasa terusik akhirnya Maca mengerjapkan netranya. Jujur dia sekarang masih sangat mengantuk tapi tangan Aron masih mengganggunya terus. Maca jadi berbalik. Dan.. dia menemukan Aron sedang tidur di depannya. "Aron!!! Ini kamar gue!!!" Sontak Maca berteriak dan membuat Aron kembali membuka matanya yang mengantuk itu. "Aron ini kamar gue, jadi Lo harus pergi, ini pri--" "Sssttt gue ngantuk benget. Lo juga kan? Udah tidur-tidur." Tanpa permisi Aron membawa Maca menempel di bantal lagi. Dia juga mengusap punggung Maca dengan sabar seperti menidurkan anak kecil. "Lo kaya Bunda." Ucap Maca lirih. Netra yang sejak tadi mengantuk akhirnya bisa menutup sejenak untuk istirahat. Bersambung... Selamat bobok macaronn..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD