Menikah Bukan Menjalani Pernikahan

1079 Words
"Tapi boong!" Aron yang akan memeluk Maca kini tidak jadi. Sebab tidak mau malu dia malah membawa kepala Maca ke keteknya. "Nih rasain! Tapi boong tapi boong, enak mamam ketek asem!" Maca tergelak. Dia terus memberontak sambil tertawa sampai perutnya sakit. "Aron.. gue mohon lepasin. Perut gue sakit ketawa terus!" Ucap Maca meminta ampun. Aron tersenyum lebar tapi tentu Maca tidak melihatnya. Dia lega bisa membuat Maca setidaknya tertawa bukan tertekan setelah pernikahan mereka. "Di kasih vitamin malah ngga mau. Ini ketek ajaib tau, coba cium deh lo bakal kaya tujuh turunan." "Kalau ngibul juga harus realistis Aron. Benefit lo kurang meyakinkan." Aron terkikik geli. Bahasa yang Maca gunakan itu loh, tinggi kaya gunung Sampit. "Emm gue bakal lepasin asalkan kita sepakat buat jangan gunain kata lo gue lagi." Aron sebetulnya hanya iseng dengan pemikiran randomnya ini. Sebab tadi sebelum dia masuk rumah kan mereka sudah menggunakan sapaan aku kamu, terlepas entah siapa dulu yang mulai. Dan setelah kejadian minta pelukan tadi baru Aron dan Maca kembali jadi gue lo. Menurut Aron yang sudah pernah dengar mereka saling memanggil aku kamu, lebih enak di dengar itu dari pada gue lo. "Gue mah ngikutin lo. Tadikan lo duluan yang balik ke setelan pabrik." Aron kembali terkikik. Sepertinya bahasa Maca sudah tertular dirinya yang suka sekali mengunakan majas. Entah hiperbola metamorfosa atau apalah. Yang jelas Maca tambah seglek otaknya. "Yaudah gue yang setel ke bahasa ayang, mbeb." Plakkk Tamparan cintah diberikan Maca pada Aron yang PD nya ngga ketulungan. Dia benar-benar ngga malu sama umur. "Ya ampun Maca, lo tau ngga, lo itu udah dua kali kdrt! Jangan sampe ya dapet piring pecah. Sakit tau." Maca bernapas lega sebab lengan Aron kini sudah terlepas dari kepalanya. Dia juga bisa leluasa menghirup udara segar yang seperti seabad dia tidak menikmatinya. "Hemm udara di rumah ini baru gue sadari sejuk banget. Appa emang pinter pilih rumah." Gumam Maca yang kini sedang merem sambil mengambil nafas rakus. Aron terkikik lagi. Duh, belum genap sehari dia tinggal seatap dengan Maca tapi bibirnya sudah di buat kebas duluan sebab senyumm terus! Memang istri impian. Tapi dia dan Maca tidak boleh bercanda terus. Permintaannya tadi yang random minta di sah kan kehalalannya sekarang juga. Aron berdehem dan kini dengan mudahnya mengubah posisi Maca yang tadinya di samping kini menjadi di depannya persis. Sangking cepatnya bahkan Maca juga tidak sadar baru di angkat macam karung. Maca mengerutkan keningnya sambil mempersiapkan napas untuk protes. Tapi sayangnya Aron lebih dulu membuka suara. "Bip bippp! Settingan bahasa aku kamu telah di setel. Pulsa anda akan berkurang setiap bulannya. Mulai dari angka 0 ya!" Netra Maca tertuju pada jari telunjuk Aron yang seolah memencet keningnya sebagai simbol aktifasi bahasa. Anak tua satu ini memang tidak bisa serius kayanya. "Permintaan Anda di terima, tapi.." Maca sedikit menjeda sengaja supaya Aron penasaran. "Tapi jika di depan umum." "Ngga bisa." Aron melepas tangannya dan berpaling tidak menghadap Maca lagi. Maca menghembuskan napasnya panjang. Dia harus tegaskan pada Aron mengenai kesepakatan mereka di awal. Bukannya mereka sudah sepakat tidak mengganggu urusan masing-masing? "Ar kita udah pernah buat kesepakatan untuk ngga saling ganggu privasi. Dan menurut gue lo masuk ke mengganggu privasi dengan ngatur keinginan gue. Inget Ar, kita cuma menikah, bukan menjalani pernikahan." Aron terdiam. Orang extrovert yang suka sekali bicara itu kini bak manekin yang tidak bisa berkata-kata. Maca sendiri tau kalau perkataannya sedikit menusuk. Tapi sejak tadi dia lihat sikap Aron sudah mulai berlebihan dengan dirinya. Dia minta di peluk, terlalu banyak bicara mungkin Maca akan memaklumi sebab itu memang sifat Aron, tapi dia sampai mengangkat Maca dan meminta hal yang harus dia turuti, itu menurutnya sama saja memerintah. Maca tidak suka. Tiba-tiba Aron tertawa keras, "Lo baperan banget sih! Gue juga cuma bercanda sesuai naluri extrovert yang gue punya. Kayanya belum terbiasa tinggal sama orang selain Papa yang pasrah aja sama anaknya." Maca diam melihat tingkah Aron. "Ya udah. Gue mandi sebentar. Untuk sekarang gue pake kamar tamu dulu aja. Oiya thanks buat coklatnya, enka banget dan pastinya gue bakal kangen lo buatin lagi. See U Maca!" Pungkas Aron terakhir sambil tersenyum lebar. "See u!" Maca membalas seadanya. Dia kini lega dengan privasinya yang kembali lagi. Memang seharusnya seperti ini bukan? "Gue mau istirahat dulu sebelum urus lainnya" Sebelum Maca menutup mata untuk sejenak tidur dia mengirimkan Aron pesan agar bersiap rapat membahas semua tentang rumah baru mereka ini. Aron Ar gue tidur dulu, capek. Nanti jam 2 siang kita rapat soal semua yang belum kita bahas. Terutama rumah baru kita. Jangan terlalu berisik ya gue mau istirahat. Maca melihat status pesannya masih pending, ternyata Aron belum melihat ponselnya. Sepertinya anak tua itu memang lagi mandi. "Keteknya ngga bau padahal." Maca tidak sadar dia secara tidak langsung sudah memuji ketek Aron tadi. Sedangkan Aron di kamar tamu yang untungnya ada walau beda lantai sedang mengeringkan rambutnya, dia habis keramas. "Segernya! Gue jadi sedikit waras dengan kehidupan. Hemm produk shampo anti stress emang top!" Aron memuji shampo baru yang dia coba. Tulisannya memang anti stress. Jadi dia tertarik menguji seberapa tahan dia tidak stress menggunakan shampo ini. Aron duduk bersandar di sofa yang nyatanya empuk. Dia kira Ayahnya atau Appa Maca akan memberikan mereka sofa bekas, dan nyatanya ini tidak sekejam pemikiran Aron. Tangannya kini meraih ponsel yang sejak kemarin belum dia pegang. Aron sangat sibuk kemarin, sampai sekarang pun mungkin iya. Secara dia pimpinan perusahaan, jelas banyak sekali tanggung jawab dan tugasnya. Aron menghela napas melihat berbagai pesan yang kini masuk memenuhi aplikasi hijaunya. Sebenarnya pemandangan begini sudah biasa, apalagi dia tidak menghubungkan data ponselnya sejak kemarin. Sekarang pun seharusnya dia istirahat bukan malah mengurusi kantor sebab ayah tercintanya sudah mengurus cuti pernikahan. Bahkan selama satu Minggu. "Papa udah izinin kamu dan Maca untuk libur satu Minggu, jadi Aron anak papa tercinta dan paling tampan, kamu harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin agar cucu papa segera terbentuk." Mengingat itu Aron terkikik geli. Sekarang pun ayahnya menanyakan hal yang sama lewat pesan singkat. Duda menjengkelkan itu bertanya begini, 'udah berapa ronde Ar? Makan dulu jangan di gas terus.' "Duda gila." Aron membalas pesan itu dengan asal. Kemudian dia kembali lagi di deretan chatnya yang sudah berhenti memperbarui. Dan alisnya mengangkat tinggi ketika satu pesan dari seseorang membuat dia sangat penasaran. "Sok sibuk banget, pake pesan buat ngomong, padahal satu rumah, rumah hati gue juga." Aron membuka pesan Maca dengan cepat tentu langsung membacanya. Sedetik setelahnya dia menghempaskan punggungnya ke sofa. "Gue ralat deh, shamponya ngga recommended! Gue mulai stress." Bersambung... Duh Maca dingin banget sihh
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD