Nina Sang Ahli Menyembunyikan Perasaan

1174 Words
"BUSETTTT, KALIAN LAMA BANGET TUH NGAPAIN AJA SIH? BIKIN CANDI?" kata Nina yang baru saja membukakan pintu untuk Brina dan juga Winta. Beruntungnya Brian sudah pergi sebelum Brina dan Winta datang. Walau Nina menduga jika kedatangan Brian ke sini atas seizin Brina, tetapi tetap saja di sini ada Winta dan Nina tidak mau jika Winta menjadi salah paham. Nina kesal, jelas saja, karena dua perempuan itu pergi sangat lama sekali dan bahkan sekarang sudah hampir pukul dua pagi. Perempuan mana yang keluar malam sampai jam segini? Kalau Nina adalah orang tua mereka berdua, sudah pasti butuh berjam-jam waktu untuk menasihati Brina dan Winta agar tak lagi keluar malam dan pulang sangat larut. Brina dan Winta paham jika Nina pasti akan kesal. Makanya, Winta langsung memberikan beberapa kantong plastik yang berisi makanan pesanan Nina bahkan makanan yang tidak dipesan perempuan itu juga Brina dan Winta bawakan. "Nih, pesanan lo," kata Winta. Perempuan itu langsung melewati Nina dan mencuci tangannya sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Winta menghela napas panjang, membuat Nina bingung mengapa tidak ada raut kebahagiaan dari Winta. Padahal, Winta juga cukup suka makan dan katanya mereka tadi pergi ke food court, tetapi mengapa wajah Winta terlihat lelah sekali. Nina tak langsung membuka makanan yang dibawakan oleh Brina dan Winta. Ia memilih untuk meletakkan di atas meja. Entah akan ia makan kapan, yang pasti saat ini ia sedang tidak ingin memakannya dan lebih tertarik pada Winta. "Kenapa sih? Kelihatan capem banget. Beneran habis bangun candi ya?" ucap Nina dengan sindiran penuh rasa penasaran. "Kak Brina, Nin. Untung lo nggak ikut. Kalo lo ikut, apalagi lo tadi nggak enak badan, gue jamin lo bakal pingsan," kata Winta yang terdengar melebih-lebihkan. "Lebay lo, Win." Brina menyeletuk dari dalam kamar mandi. "Emang kenapa?" tanya Nina lagi, benar-benar penasaran. "Lo bayangin deh, dari kita berangkat sampai hampir pulang, Kak Brina nyoba semua makanan. Sampai gue udah enek saking kenyangnya. Gila banget sih itu orang, perutnya karet!" Brina sudah selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi. Ia berjalan menuju kursi goyang untuk merebahkan punggungnya. Karena ia masih merasa sangat kenyang dan begah, jadi ia memutuskan untuk tidak rebahan di kasur tetapi cukup di kursi ini. "Kalo lo jadi gue, lo juga bakal beli semuanya, Nin. Semuanya menggoda!" Brina mulai membela diri. Ekspresinya dibuat seolah perempuan itu sedang menikmati makanannya. "Tapi masih ada hari esok, Kak. Harusnya nggak semuanya dicobain malam ini." Dari obrolan singkat itu Nina bisa mengambil kesimpulan jika memang Brina sengaja berlama-lama di area food court karena Brian yang datang ke sini. Dan perempuan itu baru akan pulang jika Brian juga sudah pergi dari sini. Sebenarnya ada apa? Harusnya Brina tidak pernah mengizinkan Brian untuk datang ke kamar hotel ini, tetapi yang terjadi adalah sebaliknya dan Brian juga yang merawat dirinya. Nina berusaha untuk menepikan pikirannya itu. Ia harus membaur dengan obrolan yang sedang berlangsung. "Terus kalau semua makanan di food court udah kalian cobain, besok kita ke mana dong?" Brina dibuat berpikir sejenak. "Metik stroberi?" Ia memberikan ide. Otomatis Nina dan Winta menggeleng. "Kok kalian berdua nggak mau? Kenapa?" tanyanya terheran-heran. Nina menggedikkan bahunya. "Hari ini hujan, Kak. Pasti becek!" "Gimana kalau di air terjun pelangi?" Kali ini Winta yang memberi ide, tetapi langsung membuat Nina memutar bola matanya dengan malas. "Musih hujan nggak disaranin main ke air terjun. Gitu aja nggak tau sih, Win?" Nina bersungut-sungut. "Ye ... kan gue cuma ngasih ide." "Tapi ditolak." "Daripada nggak ngasih ide, cuma dipendem, malah jadi sakit hati. Kayak lo suka sama orang terus lo pendem bertahun-tahun, eh ternyata doi udah punya pacar." Winta terkikih mengakhiri ucapannya. Sementara Nina sudah siap-siap akan melempar Winta dengan botol air mineral yang ada di tangannya. Brina, perempuan itu berpikir jika orang yang disukai Nina selama beberapa tahun belakangan ini adalah Brian. --- Tidak usah ditanya, satu-satunya orang yang masih terjaga sampai hampir pagi adalah Nina. Karena semalam dirinya sempat pingsan dan kebablasan tidur hingga selama lima jam, maka perempuan itu sama sekali tidak merasakan kantuknya. Heningnya malam pun tidak bisa mengundangnya untuk kembali beristirahat dan menutup matanya agar dirinya dapat merebahkan tubuh dengan nyaman di atas ranjang. Ketika Brina dan Winta sudah tidur sejak satu setengah jam yang lalu, Nina masih asyik menyantap apa saja yang bisa ia makan. Entah tidak kepikiran atau lupa, semalam memang Nina tidak sempat untuk makan dan bahkan Brian pun tidak mengajaknya pergi makan, yah walau tetap membawakannya satu porsi angsle yang dapat mengganjal perutnya. Jangan heran, kalau saat ini Nina sudah mampu menghabiskan dua tusuk corndog, satu tusuk sate tentakel gurita, dan jangan lupakan kali ini ia sedang asyik mengunyah jasuke alias jagung s**u keju dengan televisi yang menyala-nyala, memperlihatkan tayangan drama Korea kesukaannya. Di tengah-tengah serunya menonton tayangan itu, Nina melirik ponselnya. Ia sadar, semalam dirinya dan Brian memang tidak mengobrol banyak, tetapi cukup untuk memperbaiki hubungan mereka. Tanpa banyak pikir lagi, Nina mengambil ponselnya dan menuju ruang obrolannya dengan Brian. Sudah lama sekali rasanya ia dan Brian tidak saling berkirim pesan karena nomor Brian yang Nina blokir. Perempuan itu pun kembali membuka blokir pada nomor itu. Ia tersenyum sejenak. "Menghindar atau enggak dari Kak Brian, gue tetap sayang dan cinta sama lo, Kak." Nina benar-benar mengucapkan kalimat itu. Jika saja Winta dan Brina sedang terjaga, sudah dipastikan bahwa keduanya dapat mendengar kalimat yang baru saja Nina ucapkan. Winta memang tertidur dengan pulasnya. Tetapi, tidak dengan Brina. Perempuan itu sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu tetapi ia masih malas dan ingin melanjutkan tidurnya. Bukan, Brina bukan cemburu dan tidak akan pernah cemburu. Mendengar Nina mengucapkan hal itu, malah membuat Brina tersenyum. Jika memang Nina benar-benar mencintai Brian, Brina sangat rela dan benar-benar rela, apalagi Brian juga memiliki perasaan yang walau tidak sebesar cinta Nina ke Brian, mereka berdua cukup pantas untuk disandingkan. Sekarang, jika memang Brina maunya itu, ada satu hal yang harus benar-benar perempuan itu perhatikan. Apalagi kalau bukan dampak dari menjadi primadona kampus, yaitu semuanya harus disembunyikan atau dibuat seolah-olah wajar jika Nina dan Brian akhirnya berpacaran. Tetapi, untuk opsi yang kedua sampai saat ini Brina tidak pernah menemukan jawabannya. Brina masih melihat Nina yang menunduk memperhatikan ponselnya. Tiba-tiba Nina menggeleng, membuat Brina semakin penasaran saja. "Nggak, Nina cantik, lo nggak boleh sampai kelihatan banget sukanya sama Kak Brian, lo nggak boleh nunjukin kalo lo suka sama Kak Brian apalagi di hadapan Kak Brina. Nggak boleh. Lo selama dua tahun ini bisa kok sembunyi-sembunyi suka sama Kak Brian, jadi untuk selanjutnya lo juga harus sembunyiin perasaan lo ini ke siapapun termasuk Kak Brina. Bagaimana pun juga Kak Brina itu sahabat lo, Nina cantik. Lo cukup suka sama Kak Brian dalam diam. Jangan sampai gara-gara lo, hubungan Kak Brian sama Kak Brina itu berantakan. Lo harus paham, Nina cantik, bisa mencintai Kak Brian itu sudah kenikmatan dari Tuhan, lo nggak boleh merasa harus memiliki Kak Brian." Nina berucap sendirian pada dirinya sendiri, berusaha meyakinkan semuanya akan baik-baik saja tanpa harus saling memiliki. Brina terenyuh mendengarnya, lagi-lagi membuat dirinya tersenyum. Memang tidak salah jika Brian juga memiliki perasaan pada Nina, karena Nina memang setulus itu bahkan rela untuk menyembunyikan perasaannya dari siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD