Matahari sudah tinggi, tetapi Nina baru saja bisa kembali tidur setelah subuh tadi dan belum bangun hingga sekarang. Padahal, hari ini adalah hari kedua mereka bertiga ada di hotel ini, hari kedua mereka berlibur bersama.
Brina dan Winta walau sudah bangun sejak tadi namun mereka masih belum berganti pakaian apalagi mandi. Mereka masih nyaman dengan piyama masing-masing, bermalas-malasan di atas ranjang dan tidak lupa memanfaatkan benda pipih bernama ponsel.
Rasanya, hari libur di hotel dan di kost sama saja, tidak ada bedanya, hanya tempatnya saja yang sedikit berbeda, dan satu hal lagi yang membedakan yaitu Winta dan Brina sudah sarapan yang merupakan bagian dari fasilitas yang ada di hotel ini. Nina masih tidur, sudah pasti perempuan itu melewati sarapan.
Sebenarnya, liburan yang mendadak ini memang benar-benar mendadak dan tidak ada jadwal khusus. Brina sempat mengajak Nina dan Winta untuk jalan-jalan pagi. Tetapi melihat kondisi malam tadi di mana dirinya dan juga Winta yang tidur cukup larut, membuat keduanya tidak memiliki energi untuk bangun pagi-pagi dan langsung beraktivitas. Nina juga sama, dirinya malah baru bisa tidur lagi setelah subuh dan sampai sekarang pukul sepuluh pun perempuan itu belum juga bangun.
"Jadwal kita hari ini ke mana sih, Kak?" tanya Winta dengan suara lirih, suara khas orang yang tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas.
"Nggak tahu. Lo maunya ke mana?" Brina malah balik bertanya. Setelahnya kembali hening, mereka berdua kembali berfokus pada ponsel masing-masing.
Detik berikutnya, setelah keheningan yang sangat senang menyelimuti kamar hotel ini, terdengar suara Nina yang mengerang. Perempuan itu ternyata sudah cukup mengistirahatkan tubuhnya dan saat ini ia sudah terduduk dengan rambut yang berantakan dan muka bantal khas orang yang baru saja bangun tidur.
"Jam berapa sih ini?" ucapnya dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ia melirik jam yang menempel di dinding dan juga kamar ini yang sudah tidak ada cahaya lampu lagi yang menandakan jika hari sudah cukup siang. "Jam setengah sebelas, pantas aja gue lapar banget!" ucapnya dengan memegangi perutnya. Perempuan itu pun langsung beranjak untuk mengambil air mineral. Satu botol air mineral ukuran 600 ml agaknya cukup untuk membasahai tenggorokannya yang telah mengering.
Setelahnya, Nina menatap Brina dan Winta yang masih asyik di atas kasurnya dengan memainkan ponselnya. Nina pun jadi ingin ikut-ikutan bermain ponselnya. Ia pun mengambil ponselnya yang tadi ada di sebelah ia tidur. Setelah perempuan itu mengaktifkan sambungan Wi-Fi, beberapa pesan langsung masuk ke dalam ponselnya. Bukan pesan yang penting, paling-paling hanya notifikasi dari grup yang memang tidak ia bisukan. Tetapi, ada satu notifikasi yang berhasil membuatnya menarik senyum.
"Cih, bangun tidur kesiangan, habis bangun langsung buka hape, baca w******p sambil senhum-senyum. Benar-benar ciri khas pemalas." Winta yang melirik Nina itu langsung menyindirinya tanpa tanggung-tanggung. Mungkin bagi orang lain sindiran Winta cukup menyakitkan, tetapi Nina sudah sering mendapatkan sindiran itu oleh Winta dan Nina tidak pernah sekalipun merasa sakit hati. Biasa saja, karena Nina sebenarnya sudah tahu watak Winta yang terkadang kalau bicara memang suka ceplas-ceplos. DItambah memang apa yang dikatakan Winta itu ada benarnya. Jika dipikir-pikir, apa yang dilakukan Nina sekarang sudah cukup merepresentasikan perempuan yang sedang ingin bermalas-malasan.
Sementara Brina tidak mau menebak-nebak apa yang membut Nina sampai senyum-senyum seperti itu. Tetapi, Brian telah menghubungi dirinya jika laki-laki itu telah dibuka blokir kontaknya oleh Nina dan Brina yakin sekali jika sumber senyum Nina dalah Brian.
Brina ada benarnya. Memang benar sekali, seutas pesan dari Brian mampu membuatnya tersenyum setelah bangun tidur. Jika sudah seperti ini, Nina merasa tidak menjomlo lagi. Sayangnya, Brian bukan kekasihnya tetapi anehnya ia mengirimi pesan seolah-olah Brian adalah kekasihnya.
Kak Brian: Selamat pagi, Nina. Udah bangun belum nih? Kalau kamu masih sakit, jangan lupa minum teh hangat sama obatnya ya. Sebelumnya sarapan dulu. Tapi semoga aja kamu udah nggak sakit.
Pesan itu Nina harusnya Nina terima sekitar empat jam yang lalu. Tidak apa terlambat, yang penting Nina bisa dibuat tersenyum oleh Brian dan segera saja Nina membalas pesan itu.
Nina: Udah sembuh, Kak.
Setelah mengirimkan balasan itu, senyum Nina menurun. Air mukanya kembali mendatar ketika teringat jika Brian bukanlah siapa-siapa. Ah, yang paling menyakitkan sebenarnya adalah Brian kekasih dari Brina. Seharusnya Nina tidak boleh terbawa perasaan, tetapi bagaimana lagi memang perempuan itu memiliki perasaaan terhadap Brian. Ah, yang paling benar adalah Nina tidak boleh terlalu senang dan terlalu berharap. Nina harus sadar jika apa yang Brian lakukan hanyalah bentuk dari kekhawatiran sesama teman, tidak lebih. Nina harus menyadaari itu.
"Kak, lo weekend gini nggak mau apa main sama Kak Brian? Dari pada liburan sama kita kayak gini tapi nyatanya tetap di kamar doang sampai siang," ucap Nina yang tiba-tiba setelah mengalihkan pandangannya dari ponsel.
Tanpa Nina ketahui, memang itulah kebiasaan Brina yaitu memang snagat jarang menghabiskan waktu libur akhir pekannya bersama dengan Brian. Untuk apa juga, hampir setiap hari ia bertemu dengan kakaknya itu dan daripada liburan berdua saja, lebih baik bermalas-malasan.
"Kan gue udah bilang. Kita liburan bertiga, ngapain liburan sama Brian?" jawab Brina singkat.
"Cie ... marahan ya?" celetuk Winta, membuat Nina tergelak.
Jika memang Brian dan Brina sedang marahan, berarti dirinya cukup jahat karena semalam ia menghabiskan cukup banyak waktu bersama. Tetapi, Nina tidak bisa menduga hal tersebut tanpa alasan. Jika memang Brian dan Brina sedang marahan, tidak mungkin Brian sampai di hotel ini dan merawat dirinya yang sedang sakit. Nina paham sekali jika itu ada sangkut pautnya dengan Brina.
"Aduh, capek banget mata gue ngelihatin hape mulu!" celetuk Winta yang langsung membanting ponselnya di sebelahnya. Perempuan itu langsung bangun dan beranjak dari ranjang. "Gue mau mau ah, biar seger!" Ia pun langsung masuk ke dalam kamar mandi, sejenak kemudian suara gemricik air mulai terdengar. Ini adalah kesempatan Nina untuk menanyakan kejelasan mengenai Brian yang datang tadi malam.
Nina menggeser tubuhnya untuk lebih dekat lagi dengan Brina. Ia ikut merebahkan tubuhnya tepat di samping Brina yang ternyata sedari tadi sedang asyik menyaksikan video mukbang king crab di youtube.
"Kak," panggil Nina. Perempuan itu memeluk Brina layaknya guling. Beruntungnya Brina tidak terganggu dan hanya berdeham saja.
"Kak, gue mau nanya tapi lo jawab dengan jujur ya."
"Nanya apa?" jawab Brina yang tidak melepaskan pandangannya dari ponsel.
"Kak Brian semalam datang ke sini. Lo yang nyuruh ya, Kak?"
Hening cukup lama, hanya terdengar suara gemricik air dari Winta yang sedang mandi. Nina merasa tidak sabar dengan jawaban dari Brina yang cukup lama itu.
"Kak? Berarti benar ya?" tanya Nina lagi, mendongak menatap Brina yang dari matanya terlihat tidak bisa membohongi perempuan itu. Jadi, Nina memang sudah menyimpulkan sejak awal jika kedatangan Brian semalam atas titah dari Brina