Ada satu hal yang membuat Nina sampai sekarang tidak bisa tidur. Hawa dingin Kota Malang di malam hari setelah sepanjang sore hujan, dan bahkan sampai sekarang masih meninggalkan setetes demi setetes sisa rintiknya yang terjebak di dedaunan, bukanlah penyebab utama perempuan itu enggan memejamkan matanya. Ia pun tidak peduli dengan cuaca, yang siang tadi panasnya terik sekali, kemudian beberapa jam setelahnya hujan datang dan membuat sejuk seketika.
Ia duduk di bangku belajarnya. Tidak ada aktivitas membuka buku atau laptop untuk mengerjakan sesuatu atau hanya sekadar baca-baca materi perkuliahan, karena tentu saja malam-malam begini tidak cocok untuk belajar kecuali memang menjelang ujian.
Terhitung sudah lebih dari satu jam, Nina menghabiskan waktunya hanya untuk menatap ponselnya yang layarnya tidak menyala. Dan ketika layarnya menyala, perempuan itu bergegas mengecek notifikasi dari siapa yang ia terima. Setelah tahu bukan lah dari seseorang yang ia nantikan, ia kembali meletakkan ponselnya dan berharap untuk mendapatkan setidaknya satu buah pesan dari laki-laki tampan yang ia cintai, siapa lagi kalau bukan Brian yang tadi pagi sempat meminta nomor ponselnya.
Nina memang berharap lebih dengan laki-laki itu. Bagaimana tidak, ia saja masih tidak percaya dengan kenyataan bahwa Brian mengajaknya mengobrol di perpustakaan pagi tadi dan berakhir dengan meminta nomor ponselnya. Entah keberuntungan apa, yang pasti ini semua adalah hasil perjuangannya untuk tetap menyukai laki-laki itu walau belum pernah bersapa sebelumnya. Kini Nina berharap lebih, semoga memang benar jika Brian ingin berteman dengannya. Ia masih menantikan pesan dari laki-laki itu yang ia ketahui juga jika Brian adalah kekasih dari Brina, sahabatnya, kakak tingkat terdekatnya di himpunan.
"Kak Brian, ayolah ... kok belum ada kabar sih!" ucap Nina pada dirinya sendiri. Ia mulai resah karena sudah hampir tengah malam. Walau begitu, ia masih terus berharap jika malam ini juga Brian akan menghubunginya minimal mengirimkan satu bubble pesan.
Akhirnya layar ponsel Nina menyala. Perempuan itu sangat bersemangat untuk membuka kunci layar dan langsung mengecek notifikasi. Setelahnya, senyumannya menurun dan berubah menjadi cemberut. Apa yang ia baca di batang notifikasi tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Padahal ia sengaja sekali menunggu ponselnya untuk mendapatkan pesan, rupanya yang datang bukan pesan dari Brian. Ia juga sedikit kesal, karena tumben sekali ada yang mengirimi pesan malam-malam begini dan yang pasti bukan pesan dari grup w******p, tetapi pesan pribadi, karena ia sudah membisukan seluruh notifikasi untuk grup w******p.
"Tumben banget sih, Kak Brina nge-wa jam segini." Nina sudah berdecak sebal saja. Tetapi ia tetap membaca pesan dari seseorang bernama Brina, padahal yang ia nantikan adalah pesan dari kekasihnya Brina. Nina semakin menghela napasnya saja ketika membaca isi pesan dari Brina. Pesannya tidak penting untuk masalah serius. Brina hanya bertanya pada Nina, apakah dia memiliki daftar anggota baru yang mendaftar sebagai pengurus di himpunan. Nina kesal. Seharusnya hal seperti itu bisa dibicarakan besok pagi tanpa harus mengganggu waktunya malam-malam seperti ini.
Setelah mengetikkan balasan, Nina kembali meletakkan ponselnya di atas menja belajar di hadapannya. Tangannya ia lipat dan setelahnya kepalanya ia letakkan di atas lipatan tangan yang ia jadikan bantalan. Perempuan itu tetap tidak menyerah untuk menunggu barangkali memang Brian masih belum sempat mengiriminya pesan tetapi akan tetap mengiriminya nanti malam. Walau hampir tengah malam, Nina masih berharap.
Ponselnya kembali bergetar singkat dan menyala. Secepat kilat perempuan itu membuka matanya dan langsung menelusuri siapa yang mengiriminya pesan. Pada akhirnya, ia hampir saja dibuat berteriak saking senangnya. Beruntung ia bisa membekap mulutnya sendiri hingga tidak menimbulkan teriakan bahagia di tengah malam yang sudah sunyi seperti ini.
Kedua tangan Nina bergetar saking bahagianya. Ia tidak percaya akhirnya Brian mengiriminya pesan juga. Walau sangat singkat, perasaan Nina berhasil berbunga-bunga setelah mendapatkan pesan dari nomor yang tidak dikenal itu tetapi dalam pesannya sang pengirim pesan sempat memperkenalkan diri.
+6282 1236 1121: Selamat malam, Nina ya? Ini Brian
Hanya pesan seperti itu saja sudah membuat Nina seperti orang gila yang menahan teriakannya di dalam kamar. Perempuan itu sampai meloncat-loncat di atas spring bednya. Semoga saja tidak ada tetangga kamar kostnya yang terganggu dengan sikap Nina yang tidak bisa ia tahan saking senangnya.
"Aaaa ... aku deg-degan banget, ya Tuhan!" ucap Nina pada dirinya sendiri sembari mengelus dadanya dan mengontrol napasnya supaya rasa tremornya sedikit berkurang.
Nina belum sempat mengetikkan jawaban, tetapi Brian sudah mengiriminya pesan lagi. Dan ya, melihat sudut atas di mana Brian sedang mengetik tidak ayal membuat perempuan itu merinding sendiri saking tidak tahu harus menanggapi apa. Dirinya sudah benar-benar gila. Akhirnya, setelah dua tahun, ia bisa mendapatkan pesan dan mungkin mereka akan sering berkirim pesan.
Tidak lama, pesan dari Brian kembali Nina terima dan langsung berubah menjadi centang biru di ponsel Brian.
+6282 1236 1121: Kamu belum tidur, Na?
+6282 1236 1121: Kok dibaca aja? Kenapa nggak dibalas?
Untuk memegang ponselnya saja terasa sulit sekali, apalagi jika Nina harus mengetikkan balasannya sekarang juga. Ia masih belum bisa mengetikkan balasan. Telapak tangannya berkeringat dan ponselnya pun akhirnya terjatuh ke lantai sehingga menimbukkan suara yang cukup keras. Nina tidak langsung mengambil ponselnya. Ia masih harus kembali meredakan getaran yang ada di dalam dadanya.
Sembari rasa deg-degannya mereda, Nina memutuskan untuk rebahan sebentar di atas tempat tidurnya. Awalnya ia menatap langit-langit kamar sembari membayangkan bagaimana hubungan dirinya dengan Brian di waktu yang akan datang. Selanjutnya, seperti biasnaya, menjadi halu dengan memejamkan mata adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk malam ini. Ia masih tersenyum membayangkan semuanya dengan jelas walau matanya tertutup. Sayangnya, Nina tidak menyadari berapa lama ia berhalu ria, sampai-sampai ia tidak sadar jika pesan dari Brian belum juga ia balas dan dirinay sudah hanyut saja di alam mimpi. Perempuan itu tidak sempat membalas langsung pesan dari Brian. Entah ia akan terbangun malam ini atau malah besok pagi, yang pasti Bria masih mengiriminya beberapa pesan.
+6282 1236 1121: Haloo ... Nina?
+6282 1236 1121: Wah, kayaknya tidur beneran nih
+6282 1236 1121:Tapi kok langsung dibaca ya hehe
+6282 1236 1121: Eh maaf kalau spam
+6282 1236 1121: Aku harap kita bisa berteman baik
+6282 1236 1121: Selamat malam, Nina
Entah menyesal atau tidak, sudah pasti Nina harus mencari alasan yang tidak memalukan tentang mengapa dirinya tidak membalas pesan dari Brian tetapi layar ponselnya masih menyala dan menampilkan ruang obrolannya dengan Brian yang bahkan belum ia simpan nomornya, sehingga di ponsel Brian pesannya tersebut sudah ada tanda dibaca oleh Nina.