Gara-Gara Pesan Brian, Pagi Nina Berantakan

1936 Words
Matahari sudah tinggi, bersinar menembus celah jendela kamar Nina, dan suara siulan burung sudah tidak terdengar lagi yang menandakan bahwa pagi ini sudah lebih dari pukul enam. Nina masih bergumul dengan selimut motif hello kitty hadiah dari mamanya. Matanya terpejam erat seolah tidak peduli dengan suara grusak-grusuk di luar kamarnya pertanda beberapa penghuni kost buru-buru berangkat ke kampus atau tempat kerja karena sudah kesiangan. Hari ini, seharusnya memang ada kelas pagi dan wajib bagi Nina untuk mandi setelah subuh agar tidak antre. Tetapi, sampai sekarang, bahkan motor-motor milik penghuni kost yang terparkir di ruang tamu sudah kosong, dirinya masih enggan untuk tersadar dari mimpinya. Entah apa yang dimimpikan perempuan itu. Sudah pasti sejak semalam, ketika ia hanya berniat rebahan dan malah ketiduran, Nina sama sekali tidak terbangun. Ponselnya yang menyala dengan kondisi baterai tersisa sedikit pun tidak ia pedulikan. Mungkin saja saat ini ponselnya sudah mati dan untuk kembali menyalakannya mungkin butuh waktu seharian sampai baterai ponselnya benar-benar penuh. Beginilah nasib Nina, ponselnya terlalu kentang dan selalu bermasalah jika kehabisan baterai sampai mati. Perlahan, mata perempuan itu berusaha terbuka. Ada sinar matahari yang menyerang tepat di wajahnya yang berhasil mengusik tidur nyenyaknya. Nina berhasil membuka mata. Ia sudah sepenuhnya sadar, tetapi dirinya masih enggan untuk bangkit dari tidurnya. Lampu kamar yang tidak ia matikan membuat dirinya susah untuk mengenali waktu melalui cahaya matahari. Andai saja sinarnya tidak mengganggu, sudah pasti Nina tidak akan sadar jika saat ini sudah menjelang siang. "Mampus ... gue kesiangan!" ucap Nina dalam hatinya. Matanya berhasil membulat dan jantungnya berdebar karena pagi ini ia ada kuis untuk mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan. Nina tidak tahu sekarang sudah jam berapa karena di kamarnya tidak ada jam dinding atau jam beker dan dirinya juga tidak memiliki jam tangan. Perempuan itu langsung mengambil ponselnya yang masih tergeletak di lantai. Sialnya, ponselnya mati. Ia benar-benar tidak tahu sekarang sudah pukul berapa. "s**l banget!!!" Nina merengek meratapi ponselnya yang enggan menyala. Ia sudah paham, jika sudah seperti ini ponselnya harus segera ia sambungkan dengan pengisi daya dan harus dibiarkan sampai penuh. Tetapi, perempuan itu masih berharap ponselnya segera menyala walau ia tahu jika itu tidak mungkin bisa. Jika sudah begini, rasanya memang benar apa yang dikatakan teman-temannya sejak lama, bahwa Nina harus segera mengganti ponselnya dengan ponsel baru. Nina memutuskan untuk bertanya saja pada tetangga kamarnya. Walau ia yakin jika dirinya sudah kesiangan, tetapi tetap saja sangat perlu untuk mengetahui sekarang sudah pukul berapa. Perempuan itu berjalan membuka pintu. Dan benar saja, ia sudah disambut oleh kekosongan ruang tamu di mana seharusnya ada beberapa motor yang terparkir. Nina sudah pasrah saja. Rumah kost ini mendadak nampak sepi dan sunyi yang pada akhirnya membuat Nina urung untuk keluar kamar. Entah sekarang pukul berapa, segera saja perempuan itu pergi mandi dengan kamar mandi yang ada di dalam kamar. Ia tidak buru-buru. Langkahnya, aktivitasnya santai seperti pagi-pagi biasanya ketika ia tidak bangun kesiangan. Walau begitu, tetap saja ada rasa takut yang menghantuinya. Hari ini kuis cukup penting. Jika ia tidak ikut, otomatis Nina akan ikut bersama dengan kelas lain. Satu hal yang menjadi doa Nina adalah masih ada kelas lain yang belum mengikuti kuis mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, sehingga Nina masih bisa bergabung dengan mereka. Bahkan, sinar matahari yang sukse melewati jendela kamar Nina yang terbuka sukses membuat kamarnya terasa hangat. Sesering mungkin Nina lebih suka membuka jendela kamarnya walau terdapat pendingin ruangan. Baginya, angin alami yang berembus jauh lebih sejuk dan menenangkan. Walau harus bekerja ekstra keras membersihkan debu yang masuk, tetapi Nina terlanjur terbiasa dengan ini semua. Toh, jarang menyalakan pendingin ruangan juga membuatnya lebih hemat listrik pasca bayar. Perempuan itu sudah siap berangkat ke kampus. Kalau kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga. Ponsel Nina mati, dirinya bangun kesiangan, ditambah ia yang tidak bisa memesan ojek online karena di rumah kost ini sudah tidak ada orang, kecuali satu orang yang menyebalkan. Namanya Areta. Nina dan Areta pernah mengalami konflik, hingga sekarang Nina enggan untuk menyapa perempuan yang satu angkatan dengannya di Universitas Matahaya. Areta pun sama, ia terlalu gengsi untuk menyapa. Sehingga, sampai sekarang mereka berdua tidak pernah saling sapa dan bahkan sebisa mungkin menghindar satu sama lain, sudah selama dua bulan terakhir ini. Jika mereka terpaksa berbicara, itu pun hanyalah perkataan yang singkat. Padahal, letak kamar mereka saling berhadapan. Daripada meminjam ponsel Areta untuk memesan ojek online, Nina lebih memilih berjalan saja sejauh satu kilo meter untuk sampai di gedung fakultas. Ia benar-benar tidak tahu sekarang jam berapa, tetapi setelah ia merasakan sinar matahari, nalurinya mengatakan jika sekarang sudah lebih dari jam sembilan pagi tetapi belum ada jam sepuluh. Entah benar atau salah, Nina tidak peduli. Yang terpenting sekarang ia harus berjalan kaki seorang diri, menahan peluh dan sengatan sinar matahari, serta sebisa mungkin ia tetap bersemangat walau harinya ini begitu menyedihkan. Hanya dibutuhkan sekitar lima belas menit untuk Nina berjalan kaki. Ya ... perempuan itu tidaj lemah. Ia bisa berjalan dengan cepat tetapi masih terasa santai. Sepatu sneakernya yang seharga biaya kostnya tiga bulan itu memang membuatnya sangat senang sekali berjalan kaki. Sebenarnya, Nina sudah sering berjalan kaki untuk pergi ke kampus. Tetapi, itu semua ia lakukan ketika sinar matahari masih belum terik, bukan seperti sekarang ini saat kulit kepalanya terasa terbakar. Ia lupa memakai topi hitam andalannya. Siaal, lagi-lagi harinya kali ini benar-benar siaal. "Nina!" Nina menghentikan langkahnya. Badannya memutar untuk menyambut seseorang yang memanggilnya dari belakang, di mana suara itu sangat ia kenali walau dari kejauhan. Siapa lagi kalau bukan Brina, satu-satunya kakak tingkat yang paling dekat dengannya walau Nina kenal baik dengan beberapa kakak tingkat lain yang juga sama-sama sebagai pengurus himpunan. Peran Nina di himpunan memang tidak terlalu mencolok, tetapi bukan yang seperti anggota tiri atau anggota yang dianggap jika dibutuhkan saja. Awalnya Nina memang tidak terlalu aktif di himpunan, tetapi setelah mengenal dengan sangat dekat seorang Brina, Nina menjadi lebih aktif lagi, walau dirinya dan Brina tetap saja melabeli diri sebagai mahasiswa kupu-kupu alias kuliah langsung pulang. Memang, sejarang itu himpunan meminta pengurusnya untuk berkumpul di hari efektif dan lebih memilih di akhir pekan. Walau banyak yang protes, tetap saja akhir pekan lebih sering mereka manfaatkan untuk rapat dari pada hari efektif yang melelahkan. Nina menatap Brina dengan bibirnya yang melengkung ke bawah. Sorot matanya juga terlihat sedih alih-alih bahagia karena Brina datang menghampirinya dengan wajahnya yang ceria seperti biasanya. Brina pun sadar dengan Nina yang sepertinya sedang ada yang tidak beres. Perempuan itu langsung mengreyit menatap Nina yang sekarang malah tanpa ekspresi. "Kenapa? Sakit?" tanya Brina, langsung menempelkan punggung tangannya ke dahi Nina. Ia mengecek apakah suhu tubuh Nina lebih hangat dari biasanya atau normal-normal saja. "Normal ... tapi kok lo kelihatan pucet gitu? Terus keringetan. Lo nggak papa, Nin?" Brina masih bertanya karena kekhawatirannya. Brina dan Nina itu sama, sama-sama selalu memamerkan wajah cerianya setiap hari. Jadi, jika salah satu dari mereka terlihat murung apalagi pucat, sudah pasti bukan hanya salah satu dari mereka yang khawatir, tetapi teman-temannya yang lain juga akan menanyakan kondisi mereka. Nina hanya menggeleng dan menepis tangan Brina yang kini berpindah ke lehernya untuk memeriksa suhu. "Gue capek, Kak," kata Nina yang hanya sepotong. Mereka pun memutuskan untuk berjalan bersama menuju gedung fakultas. "Jam berapa sih?" tanya Nina lagi kepada Brina. Ia tidak menunggu jawaban dari Brina, tetapi langsung mengangkat pergelangan tangan Brina dan melihat jam yang melingkar di sana. Setelahnya, Nina hanya bisa mengembuskan napasnya. "Kenapa?" Brina bertanya. Jarang sekali adik tingkatnya itu menanyakan jam. "Udah jam sebelas, berarti kelas udah selesai," kata Nina pelan. "Lo bolos kelas hari ini?" Nina menggeleng. "Bukan bolos, tapi nggak masuk." "Sama aja, Nin." Brina perlu memutar bola matanya untuk menanggapi jawaban Nina. Nina berdecak pelan. "Ck, beda. Bolos itu nggak masuk dengan alasan nyeleneh, tapi gue nggak masuk soalnya bangun kesiangan." "Ya itu tambah nyeleneh, dodol!" Nina tidak menanggapi lagi karena ia pun sebenarnya kesal dengan dirinya sendiri. Kemudian, setelah sampai di depan gedung fakultas, Nina baru berkata jika tidak ada kelas kecuali nanti siang. "Kak, gue nggak ada kelas lagi. Masih siang sih jam dua," katanya. Ucapannya itu menjadi pertanyaan harus ke mana Nina sekarang. "Terus mau ke mana? Mau ke sekre?" tanya Brina.  Memang sudah biasa sekali bagi pengurus himpunan jika sedang tidak ada jadwal, mereka akan mampir ke sekretariat himpunan. Entah mencicil tugas apapun yang ada atau hanya sekadar menyambung silaturahmi antar pengurus. Tidak jarang, mereka juga memilih tidur siang di sekretariat himpunan sambil menunggu jam pulang. Hanya saja Nina tidak terlalu suka di sana. Menurutnya sekretariat himpunan itu terlalu sempit dan pengap. Bagaimana bisa ruangan yang tidak lebih dari sembilan meter persegi itu dijadikan sekretariat dengan satu almari besar dan beberapa barang tidak berguna menurut Nina. Bukan hanya sekretariat himpunannya saja, tetapi semua sekretariat himpunan-himpunan di kampus ini juga menyedihkan sekali ruangannya. "Gue mau ke perpus aja, Kak. Siapa tahu bisa ketemu cowok ganteng," kata Nina dengan enteng. Kini senyumnya sedikit mengembang setelah ia ingat bahwa dirinya masih memiliki alasan untuk tetap bersemangat. Brina tahu siapa yang dimaksud Nina. Ia pun menaikkan sebelah alisnya dan mulai menebak. "Siapa? Cowok gue? Brian?" Walau Nina tidak menjawab, tetapi Brina tahu betul jika memang Brian lah yang dimaksud perempuan itu. Terlihat sekali perubahan wajah Nina yang langsung ceria dan pipinya mendadak memerah. "Sok tahu lo, Kak," kata Nina yang enggan membenarkan ucapan Brina. "Enggak sok tahu. Tapi bener, kan?" Selanjutnya jawaban Nina hanya sebuah deretan giginya yang ia pamerkan pada Brina. Selalu saja seperti itu, tetapi Brina tidak pernah marah. Pertama, Brian bukan pacarnya melainkan kembarannya walau tidak ada seorang pun yang tahu. Kedua, Brina juga tidak masalah jika pada akhirnya Nina akan dekat dengan kembarannya itu. Malahan ia akan senang, karena selama ini ia tahu jika Nina memiliki rasa pada Brian, tetapi Nina tidak seperti mahasiswi lain yang cenderung membuat Brian maupun Brina risih. "Kalau gitu gue ke perpus dulu ya, Kak? Perpustakaan pusat. Boleh kan gue ketemu sama Kak Brian?" Nina sudah menaik-turunkan alisnya saja. Akhirnya ia jujur juga siapa orang yang ingin ia temui. "Emang Brian mau ketemu sama lo?" tanyanya tidak benar-benar meremehkan. "Mau gue kasih nomor handphone Brian?" tanyanya sekali lagi yang malah menawari Nina sebuah nomor handphone milik pacarnya. Membahas mengenai nomor handphone membuat Nina ingat jika dirinya sempat berniat untuk membeli handphone, karena handphonennya yang sudah cukup membuatnya terbebani dengan segala kendala-kendala yang sering ada. Mulai dari baterai yang tidak sehat hingga yang sering lemot. Nina pun berpikir mungkin lebih baik ia mengajak Brina untuk menemaninya membeli handphone. "Sekarang lo ada waktu nggak, Kak?" tanya Nina. "Udah nggak ada kelas lagi sih. Ini juga mau mampir ke sekre sebentar." "Mau temenin gue beli handphone nggak? Handphone gue mati lagi kehabisan baterai. Jadi gue putusin buat beli aja." "Tuh kan, gue bilang juga apa. Handphone udah sering rusak kayak gitu kok masih dipertahanin. Ribet sendiri kan jadinya?" Brina malah mengomel. Ia jelas tahu sekali bagaimana keadaan handphone milik Nina selama ini. "Ya kan gue pengen nabung buat liburan ke Korea, Kak. Terus juga pengen pindah kamar kost ke kost Kak Brina yang lebih deket dari kampus dan lebih bagus juga." "Gaya banget mau ke Korea tapi nggak ada handphone. Mending dibuat beli handphone dulu aja." "Iya iya. Ini juga mau beli handphone. Jadi mau nemenin nggak?" "Sekarang banget?" "Iya. Kan nanti jam dua gue ada kelas. Mumpung masih jam sebelas nih!" "Traktir bakso di depan rektorat ya?" "Hm ... iya." Akhirnya Nina tidak jadi ke perpustakaan. Ia memang ingin melihat wajah Brian yang akhir-akhir ini sering ia temui di perpustakaan. Tetapi, membeli handphone sama pentingnya. Selain penting bagi dirinya sendiri sebagai mahasiswa, handphone juga penting bagi dirinya untuk berkomunikasi dengan Brina sampai laki-laki tampan itu bisa menjadi kekasihnya. Satu harapan yang tidak pernah putus dari ucapan Nina adalah menjadi kekasih Brian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD