Handphone baru sudah berada di tangan Nina. Namun, perempuan itu tidak sepenuhnya bahagia karena memiliki handphone baru bukanlah keinginannya, hanya saja keadaan yang memaksanya untuk membeli ponsel baru. Jika sudah begini, uang tabungannya pun hanya tersisa sedikit dan tidak akan cukup untuk membayar sewa kamar kost di rumah kost yang sama dengan Brina. Nina sudah lama ingin pindah. Walau kualitas dan fasilitasnya hampir sama, tetapi rumah kost Brina terletak tepat di belakang kampus yang membuat harga sewanya jauh lebih mahal, ditambah sewa dihitung tahunan, bukan bulanan seperti kamar kost yang ia tempati sekarang ini. Jika dipikir-pikir memang lelah juga harus berjalan setiap hari, apalagi Nina sering malas berjalan kaki ketika pulang yang menyebabkan ia harus memesan ojek online, dan sama saja hal tersebut merupakan pemborosan.
Handphone dengan logo apel yang tidak utuh yang merupakan model terbaru itu ia geletakkan di meja ruang tamu yang ada di depan kamarnya. Bukan hanya ponselnya saja, tetapi juga dengan tasnya. Kemudian Nina langsung menuju ke dapur untuk mengambil minum.
Sore ini, sepertinya belum banyak yang sudah ada di rumah kost. Hanya ada satu motor saja yang terparkir di ruang tamu ini, yaitu motor milik Areta. Namun, tidak ada juga tanda-tanda kehidupan, sepi sekali, sepertinya Areta sedang tidur siang karena kamarnya yang ditutup rapat. Syukurlah, jika seperti ini Nina bisa leluasa untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu dan menonton televisi sejenak karena ia merasa lelah namun enggan masuk ke dalam kamar. Mumpung ruang tamu terasa luas juga karena beberapa motor yang tidak terparkir. Hal ini juga menjadi alasan Nina ingin pindah. Ia rasa, rumah kost yang memiliki ruang tamu sebesar ini apa gunanya jika tidak memiliki garasi? Seringkali Nina harus menutup pintu kamar supaya aroma bensin atau oli dari motor-motor yang terparkir tidak terhirup oleh paru-parunya. Padahal, Nina adalah tipe orang yang tidak suka main petak umpet di dalam kamar dan ia orangnya memang sangat terbuka.
Tidak terasa, saking lelahnya, perempuan itu bisa tertidur di atas sofa dengan televisi yang menyala-nyala. Bahkan, ia baru terbangun ketika hari sudah malam dan entah mengapa tidak ada yang membangunkannya. Ruang tamu ini juga belum dipenuhi oleh motor yang terparkir. Jadi, kemungkinan besar mereka semua memang belum pulang. Satu hal yang Nina cari-cari, di mana ponselnya? Ia sangat yakin jika menaruh ponselnya di atas meja di samping tasnya. Tetapi, mengapa sekarang tidak ada? Ia terus mencari mulai dari di dalam tas hingga kolong sofa, tetapi tidak ada. Apa benar jika ponselnya tertinggal di tempat makan bakso tadi? Tetapi, ia sangat yakin jika sudah menaruh ponsel seharga satu setengah tahun sewa kamar kostnya itu di meja ini.
Nina tidak panik. Perempuan itu memang selalu nampak tenang jika kehilangan barang-barang. Bukannya tidak sayang, hanya saja tidak ada gunanya untuk panik kecuali memang hal tersebut berkaitan langsung dengan nasibnya seperti ketika ia terlambat kuis pagi tadi. Sekarang ponsel barunya itu tidak ada. Bukannya tidak penting, hanya saja ponsel lamanya lebih berharga karena semua datanya ada di sana dan di ponsel barunya itu masih kosong. Walau begitu, jika memang tidak benar-benar ia temukan, Nina bisa saja berakhir gila.
Perempuan itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamar terlebih dahulu. Ia mengecek ponsel lamanya yang masih tersambung dengan pengisi daya dan ketikan ia tekan lama tombol powernya, beruntung saja bisa menyala dan normal kembali. Banyak pesan yang ia terima termasuk panggilan masuk dari teman sekelasnya pagi tadi. Nina memang biasa ditelefon oleh temannya ketika ia belum juga datang ke kelas. Beberapa pesan dari Brian juga Nina terima yang langsung membuat pipi perempuan itu merona. Lagi dan lagi, Nina belum ingin membalasnya karena saat ini yang ia perlukan adalah menghubungi Brina untuk menanyakan apakah benar Nina meninggalkan ponsel barunya ketika mereka berdua makan bakso.
Satu pesan Nina kirimkan pada Brina.
Nina: Kak, tadi gue ninggalin hp di warung bakso nggak ya? Kok hp gue nggak ada
Tidak lama, Brina langsung membalasnya.
Kak Brina: Tadi kan udah lo masukin ke dalam tas. Gue yang ingetin dan langsung lo masukin juga kan?
Nina: Apa ketinggalan di taksi ya?
Kak Brina: Hah, masa sih? Lo keluarin hp ya tadi?
Membaca pesan dari Kak Brina, membuat Nina kembali mengingat-ingat ketika ia dan Brina berada di taksi online. Mereka memang pulang dari mall tempat mereka pergi membeli handphone menggunakan taksi online, mereka juga pulang dari warung bakso menggunakan taksi online yang dipesan melalui aplikasi milik Brina. Ia memang mengeluarkan ponselnya, tetapi ia sama sekali tidak ingat jika sempat menaruh dan meninggalkan ponselnya di dalam taksi online. Mereka berdua mampir ke warung bakso setelah Nina selesai kelas di siang hari, kebetulan Brina masih di kampus.
Ponsel lamanya bergetar lagi, ada satu pesan lagi dari Brina.
Kak Brina: Udah ketemu belum? Atau gue coba hubungin drivernya yang tadi?
Nina pun segera membalas.
Nina: Tapi gue yakin udah gue bawa pulang, gue taruh di meja ruang tamu, Kak.
Kak Brina: Udah hampir sejam yang lalu kita pulang. Apa lo nggak mainin hape baru lo sama sekali?
Nina: Gue langsung nonton TV dan tidur di ruang tamu, Kak. Ini aja gue baru masuk kamar.
Kak Brina: Di kost aja siapa aja? Coba tanyain.
Nina baru ingat. Di kost, tidak ada siapapun kecuali dirinya dan Areta. Ia tidak mau berprasangka buruk, tetapi hanya Areta lah yang ada di kost bahkan sampai sekarang. Tetapi, jika memang Areta yang mengambil ponselnya, bukankah itu terlalu keterlaluan? Sejengkel-jengkelnya Nina pada Areta, ia tidak pernah mengira jika Areta bisa mencuri ponsel barunya, apalagi ponsel itu harganya memang cukup mahal.
Selanjutnya, ada suara pintu dibuka dan deru motor masuk untuk parkir di ruang tamu. Jika sudah seperti ini, Nina harus menutup pintu kamarnya sesaat setelah ia menyapa siapa yang datang. Lalu, Nina kembali menuliskan balasan untuk Brina.
Nina: Ada satu orang, Kak. Masa iya dia yang ambil?
Kak Brina: Jangan nuduh. Tanyain aja.
Malu bertanya memang sesat di jalan. Tetapi, Nina lebih baik Nina tersesat di jalan saja daripada harus bertanya pada Areta. Toh, Nina juga sudah menduga jika ia bertanya mengenai ponsel barunya pada Areta, bisa jadi Areta malah merasa tersinggung karena dikira ia yang mencurinya.
Nina pun mengembuskan napasnya keras-keras. Dirinya terlalu ceroboh dengan ponsel barunya. Jika tidak ditemukan, maka ia akan kembali pada ponsel lamanya ini dan ia pun juga tidak jadi pindah ke rumah kost yang sama dengan Brina. Double kesialann.
Nina kesal. Sampai-sampai ia lupa jika ada pesan dari Brian yang dari semalam yang belum ia balas. Nina sedang tidak memedulikan hal itu. Yang ia pikirkan hanyalah Areta yang sudah mengambil ponselnya dan bagaimana cara dirinya untuk menanyai perempuan itu. Terlebih, Nina tidak punya bukti dan itu semua hanyalah asumsinya.
Ada pesan lain yang membuat ponselnya kembali bergetar. Beberapa pesan dari grup w******p membuat Nina merasa lega sekaligus bersalah telah menuduh Areta mengambil ponselnya.
Kak Syalaby: Gue nemu iPhone 13 pro nggak sih ini? Masih baru. Ori nih? Baru launching beberapa minggu kan? Widih ... punya siapa nich?? Ada di dalam kulkas anjirrrr ... dikira coklat apa yak hape mahal gini ditaruh kulkas. Eh seriusan ori?
Kak Yunha: Seriusan? Punya siapa woi bisa-bisanya masukin hape ke kulkas
Adelia: Oiya, punya Adel
Adelia: Tapi bohong hikss
Nafa: Siapa yang beli iPhone baru? Makan-makan ....
Adelia: Kalo nggak ada yang punya, kita jual aja buat makan-makan wkwkwk
Kak Devi: Bisa buat makan satu tahun nggak siiii
Kak Devi: Tapi seriusan, punya siapa woii
Kak Syalaby: Ditunggu sampai magrib, kalo nggak ada yang ngerespon bakal gue jual ekekw
Adelia: Coba pap dong, Kak. Jangan-jangan Kak Syala halu nih nemu iPhone 13 Pro di kulkas
Nafa: Ya Allah, halu:(
Kak Syalaby: (send picture)
Adelia: Anjir bener ...
Nafa: ^2
Kak Devi: ^3
Kak Yunha: ^4
Arana: ^5
Saskia:^6
Areta: Kalo gue ngaku itu punya gue, kalian pada percaya nggak?
Arana: Enggak. Lo masih punya utang gue di mie ayam dekat kuburan
Nafa: Kemarin beli cabe dua ribu pake duit gue dulu @Areta
Kak Syalaby: Uang sampah juga belum bayar @Areta
Areta: Astagfirullah ... iya iya hiksss
Kak Yunha: Terus ini iPhone punya siapa????
Nafa: gtw, gamau ngaku-ngaku. Gue android user
Saskia: pegang iPhone aja belum pernah:")
Areta:^2
Kak Syalaby: Ini nggak ada yang di kost ya?
Nafa: Anak rajin mainnya ke perpus, Kak. Sampai tengah malam
Areta: Gue ada diklat alam di daerah Batu, Kak. Dari tadi pagi sampai lusa nggak pulang
Kak Yunha: Gue otw pulang nih. Tahan dulu iPhonenya, nanti kita jual bareng-bareng
Adelia: Ikut, Kak. Tapi aku masih di kampus hikss
Kak Syalaby: Gue tunggu siapapun yang mau ikut jual iPhone ini
Saskia: seriusan mau dijual?? Mau dongg
Setelah membaca banyak pesan itu, Nina pun mengetikkan balasannya.
Nina: Hapenya gue, Kak. Tapi kok bisa di kulkas ya? Kayaknya tadi di meja depan TV pas gue ketiduran deh:((
Adelia: Yah ... ada yang punya ternyata:((
Nafa: Ada bukti punya lo, Nin?
Nina: Salah siapa nggak mau gue ajak beli hape kemarin-kemarin-_- @Nafa
Nafa: Ya lo aja kali yang plin-plan. Antara jadi atau enggak ya jelas bgttttt
Saskia: Makan-makan ....
Kak Yunha: Asyik ... banyak promo gofud lhooo
Arana: Gue juga mau makan-makan, Nin
Kak Syalaby: Hapenya emang punya Nina, dia ada boxnya. Udah gue balikin ke Nina. Buat makan-makan, tagih aja sendiri ke Nina @Nina
Akhirnya, ponselnya kembali. Ia benar-benar tidak ingat telah memasukkan ponselnya ke dalam kulkas. Beruntung Kak Syalaby membuka kulkas. Jika lebih lama lagi di dalam kulkas, Nina tidak tahu apakah ponselnya akan tetap normal atau ada kerusakan. Namun, satu hal yang masih Nina sesali yaitu ia yang sempat mengira bahwa Areta lah yang sudah mengambil ponselnya hanya karena yang ia tahu jika hanya Areta lah selain dirinya yang ada di rumah kost ini. Tetapi, ternyata Areta sedang tidak berada di rumah koat ini bahkan dari tadi pagi sampai lusa.
Nina memang jengkel pada perempuan yang suka playing victim ketika ketahuan mencuri sosisnya di kulkas, tetapi ia tetap merasa bersalah karena telah menuduhnya.
Nina pun kembali mengetikkan sesuatu di grup w******p rumah kost ini.
Nina: Buat makan-makannya, mau gue masakin aja nggak?
Beberapa balasan langsung ia terima.
Kak Yunha: Terima kasih, adek cantik. Lain kali aja ya, gue sibuk banget akhir-akhir ini jadi nggak bakal bisa bolak-balik kamar mandi.
Arana: Gue masih pengen sehat:(
Nafa: Mending gue puasa setahun daripada dimasakin sama lo @Nina
Saskia: Mentahnya aja:)
Kak Syalaby: Ah ... aku lagi diet
Adelia: Masakan lo nggak enak:(
Nafa: Jujur bgt sie, Del @Adelia
Kak Devi: Nggak usah repot-repot, Nin
Nina: Yah ... padahal aku lagi hobi banget masak. Apalagi masak ayam goreng krispi yang lebih enak dari kaefci. Kapan-kapan cobain dong:)
Adelia: Beli langsung di kaefci aja yang udah ketahuan enaknya:)