Ajakan Brian

1113 Words
Masalah ponsel yang hilang sudah beres. Masalah Nina yang menuduh Areta juga sudah beres karena ia sudah meminta maaf pada Areta walau hanya dalam hati saja. Karena ponsel lamanya kembali beroperasi, perempuan itu memutuskan untuk tetap memakainya dengan data-data yang dapat diakses keduanya untuk berjaga-jaga. Nina tidak akan meninggalkan ponsel lamanya karena sesungguhnya ia menerima pesan dari Brian di ponsel lama. Sebenarnya tidak terlalu berkorelasi, hanya saja perempuan itu sangat berterima kasih kepada ponsel lamanya karena di sana ia bisa berkomunikasi dengan Brian. Malam harinya, Nina baru menyempatkan untuk membalas pesan dari Brian. Walau pesan tersebut sudah kemarin malam, bagi Nina tidak ada kata terlambat untuk melakukan segala hal apalagi untuk pendekatan pada Brian. Tangannya jelas bergetar. Pipinya memerah dan Nina senyum-senyum sendiri menatap ruang obrolannya dengan Brian. Sejujurnya ada rasa sedikit takut karena sudah cukup lama ia membiarkan pesan dari seseorang yang sangat mencuri perhatiannya itu sejak awal. Tanpa banyak berpikir lagi, Nina buru-buru mengirimkan pesan pada laki-laki itu. Ia juga sudah memastikan bahwa dirinya sedang rebahan di atas kasurnya yang empuk, sehingga mengurangi benturan jika ponselnya terjatuh. Tidak lupa, Nina juga memastikan jika baterai ponselnya masih sangat aman. Nina: Hallo, Kak Brian. Maaf ya baru balas. Handphone aku sempat mati, hehe Balasan yang cukup simpel tetapi butuh beberapa menit bagi Nina untuk mengetiknya. Perempuan itu jadi harap-harap cemas, takut jika Brian tidak membalas atau tidak memedulikan balasan pesan darinya karena sudah terlalu lama. Namun, apa yang dipikirkan Nina sama sekali tidak benar. Ponselnya kembali bergetar ketika menerima satu balasan dari Brian. Ia pikir laki-laki itu memang sangat cepat merespon pesan dari dirinya. Kak Brian: Pantas aja kok balasnya lama banget Kak Brian: Sekarang udah aman kan? Nina: Aman, Kak. Jujur, Nina merasa sangat kaku ketika berkirim pesan dengan Brian. Perempuan itu terlalu menjaga imejnya sebagai mahasiswi kalem pecinta Brian. Padahal, jika ia sudah menghalu tentang laki-laki itu, bisa-bisa Nina sampai tidak makan dan tidak melakukan apa-apa. Kak Brian: Na, besok ada waktu? Kak Brian: Ayo ngobrol. Sebentar ... lagi-lagi Nina dibuat deg-degan. Jantungnya berdegub kencang lebih kencang daripada saat ia menonton film horor atau berada di kost sendirian malam-malam. Ia bukannya takut untuk bertemu dengan Brian, hanya saja selama ini ia selalu memandang Brian dari jauh. Ketika di perpustakaan yang pada akhirnya Nina bisa mengobrol bersama Brian pun rasanya ia ingin pingsan saking tidak kuatnya, apalagi mereka yang benar-benar bersepakat untuk bertemu dan mengobrol. Nina tidak tahu harus melakukan apa, takut salah tingkah setiap kali Brian menatapnya. Tetapi, ini adalah kesempatan yang dimiliki oleh Nina. Perempuan itu harus bisa meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Jika mencintai Brian dalam diam selama dua tahun saja ia bisa, untuk hal sesederhana ini harusnya ia tidak perlu ragu pada dirinya sendiri. *** Sudah pukul empat sore. Tepatnya pukul empat lebih dua belas menit, Nina masih duduk seorang diri di selasar perpustakaan Universitas Matahaya. Dirinya tidak beranjak dari sana sejak satu setengah jam yang lalu. Perempuan itu hanya diam dengan memainkan ponsel barunya sesekali lalu melihat ponsel lamanya untuk membalas pesan yang masuk. Nina enggan beranjak dari sana biarpun perutnya sudah keroncongan dan badannya mulai pegal. Ia rasa perutnya juga cukup kembung karena angin yang berembus cukup kencang ditambah langit yang sedang mendung membuat udara cukup sejuk. Namun, bukannya senang udara sangat bersahabat, tetapi perut Nina malah kembung karena sedari pagi belum makan. Satu-satunya orang yang berhasil membuat Nina bertahan di sini adalah Brian. Kemarin, mereka sudah sepakat akan bertemu di selasar perpustakaan setelah ashar. Namun, sampai sekarang Brian tidak memperlihatkan batang hidungnya. Brian juga tidak mengiriminya pesan apapun sebagai izin atas keterlambatannya yang sudah lebih dari satu jam, atau mungkin izin karena laki-laki itu tidak datang. Nina sendiri enggan untuk mengirimi Brian pesan dan bertanya padanya mengapa sampai sekarang dirinya belum muncul juga. Jujur saja, Nina sedikit takut jika harus menghubungi Brian. Ia takut mengganggu waktu Brian yang barangkali tengah sibuk dengan tugas-tugasnya. Jadi, Nina memilih menunggu saja di tempat mereka sepakat bertemu entah sampai kapan, semoga Brian cepat muncul tanpa membuat Nina lebih lama menunggu. "Nina!" Seseorang memanggil nama Nina, akhirnya perempuan itu menoleh dan ia mendapati temannya yang bernama Winta. Mereka adalah teman satu himpunan dengan dirinya. "Apaan?" jawab Nina dengan ketus. Jujur saja suasana hatinya mulai memburuk karena Brian yang tidak juga muncul bahkan setelah hampir dua jam lamanya perempuan itu duduk sendirian di sini. Winta langsung duduk di samping Nina sembari memberinya sebuah kantong plastik yang berisi nasi kotak. Nina tahu betul nasi itu adalah konsumsi dari himpunan yang tadi sempat rapat bersama dosen pembina. "Makan," kata Winta sepotong. Perempuan itu langsung mengeluarkan ponselnya dan sibuk sendiri. Sementara Nina masih diam saja menatap nasi kotak tersebut. Tidak mau berlama-lama lagi, Nina langsung membuka nasi kotak itu dan langsung saja ia santap. Nina pikir, memikirkan Brian adalah salah satu cara paling ampuh untuk menahan lapar agar dirinya juga sekalian diet. Ternyata semua itu membuat perutnya kembung dan suasana hatinya menurun. Beruntung sekali Winta datang menemui dirinya di sini dengan membawakan nasi kotak. Padahal ia tidak bilang pada siapa-siapa jika dirinya sedang ada di perpustakaan sedari tadi. "Kok lo tahu kalo gue ada di sini?" tanya Nina kemudian. Mulutnya yang sibuk mengunyah nasi dengan ayam bakar itu ia sempatkan bertanya pada Winta. "Awalnya kan emang mau mempir ke kosan lo buat nganterin nasi kotak ini. Gimana pun juga lo juga iuran buat konsumsi, jadi ada hak lo di sini. Terus kebetulan gue lewat sini, eh lo masih ada di kampus ternyata. Kenapa nggak ikut rapat? Katanya ada kesibukan lain. Tapi apa, cuma duduk diem sambil bengong aja di sini." Nina tidak mau terlalu memedulikan ucapan Winta yang benar-benar menyindirnya. Ia harus membuat perutnya terisi terlebih dahulu sebelum akhirnya mengobrol dengan Winta. Awalnya, ia pikir Brian akan datang dan mengajaknya makan siang, ternyata Winta yang menjadi penyelamat perutnya yang keroncongan. Sekarang, di mana Brina? Bukan kah laki-laki itu memang tidak datang? Lantas, mengapa Brian tidak memberi kabar ... dan mengapa pula Nina sangat ingin bertahan menunggunya? Entah. Nina terlalu berharap pada Brian. Bahkan, sampai pada suapan terakhir nasi dengan ayam bakarnya, Brian belum juga memunculkan dirinya di hadapan Nina atau sekadar lewat saja. Mungkin memang hari ini bukan lah hari keberuntungan perempuan itu. "Win ...." "Hm?" Winta berdeham menanggapi panggilan Nina tanpa beralih dari ponselnya. "Apa?" "Lo tadi kan rencananya mau ke kosan gue ya?" "Iya." "Masih ada rencana mau ke kosan kan?" Winta menggeleng dengan santainya. "Kan udah ketemu lo di sini, nasi kotak juga udah lo makan habis kan?" Ia masih sibuk dengan ponselnya. Padahal, Nina ingin menebeng motor Winta untuk sampai ke kosan. Kali ini perutnya sudah kenyang, jadi akan sangat tidak nyaman jika dirinya harus berjalan kaki. Namun, sepertinya Winta tidak tertarik lagi untuk pergi ke rumah kostnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD