Sudah pukul lima sore dan Brian belum juga datang. Winta sudah berpamitan sejak beberapa menit yang lalu, katanya ia harus membeli Royal Cannin untuk kucing-kucing kesayangannya. Padahal, untuk makan dirinya sendiri terkadang Winta masih irit-irit dan seringkali perempuan itu mengajak Nina untuk membeli bakso di belakang kampus yang terkenal murah. Pentol yang cukup besar untuk satu bijinya saja hanya seribu rupiah dan berbagai macam gorengan seperti pangsit mekar dan pangsit gulung hanya lima ratus rupiah saja. Rupanya, Winta banyak mengirit untuk diri sendiri hanya demi kucing-kucingnya yang tidak doyan dry food ecek-ecek alias harus makanan kucing yang bermerek yang harganya pun tidak murah bagi mahasiswi yang tidak berpenghasilan kecuali uang saku dari orang tuanya.
Sekarang Nina memutuskan untuk pulang saja karena khawatir hari akan semakin gelap. Ia tetap memilih untuk berjalan kaki saja karena perutnya sudah tidak terlalu kembung karena ia sudah sempat makan nasi kotak yang dibawakan Winta. Jadi, tidak akan masalah bagi dirinya untuk berjalan sejauh lebih dari satu kilo meter apalagi hari sudah sore dan udara jauh lebih sejuk dari pada berjalan di siang hari.
Dalam perjalanan menuju rumah kostnya, namanya juga jalanan di sekitar kampus, pasti banyak sekali warung makan berjejeran, tempat mengeprint, dan juga tempat foto copy. Walau banyak warung makan di sepanjang jalan menuju rumah kostnya, Nina tidak pernah mampir untuk membeli makan. Ia lebih memilih memasak telur walau lebih sering keasinan. Alasan utamanya adalah kebanyakan yang dijual di sini adalah lauk dengan ayam goreng tepung dan Nina tidak terlalu suka ayam goreng tepung kecuali ayam goreng tepung milik restoran terkenal yaitu kaefci. Jika memang Nina terpaksa harus membeli makan di sepanjang jalan menuju pulang, lebih baik ia membeli nasi dan sayur saja tanpa lauk tambahan atau mungkin lauknya tahu dan tempe saja. Alasan utama dirinya tidak mau membeli ayam goreng tepung lagi karena ia pernah makan ayam goreng tepung yang di dalamnya masih belum matang dan aromanya sungguh tidak sedap. Makanya, Nina sudah kapok untuk makan ayam goreng tepung di warung walau tidak semua warung menyajikan ayam goreng tepung yang seperti itu. Saat itu memang Nina sedang s**l saja, tetapi dampaknya terasa sampai sekarang.
Nina sudah menempuh setengah perjalanannya. Kali ini ia memutuskan untuk mampir ke mini market untuk membeli sabun cuci piring karena ia ingat sekali bahwa sabun cuci piring di mini market sedang diskon dua puluh lima persen. Nina tidak mau menyia-nyiakannya walau sabun cuci piringnya masih cukup untuk satu minggu mencuci piring setiap hari. Nina memang seperti ini, sebagai mahasiswa yang sangat irit ia akan membeli apa saja kebutuhannya yang sedang diskon. Karena bisa-bisa ia akan memjadi mahasiswa yang sangat boros hingga tak jarang akan sering menghambur-hamburkan uang diluar anggaran yang sudah ia rancang setiap awal bulan.
Di luar dugaan, selain berniat untuk membeli sabun cuci piring yang sedang diskon, Nina juga ingin sedikit ngadem di dalam mini market karena biarpun udara sudah tidak sepanas siang tadi, tetap saja dirinya berkeringat karena jalan kaki. Bukannya adem karena ruangan berpendingin, Nina justru dibuat sedikit panas karena ia melihat Brina dan Brian yang sedang ada di mini market juga. Mereka berdua terlihat sedang membayar makanan yang mereka beli di kasir. Seudah pasti Nina tidak mau menyapa mereka berdua karena ada sesuatu yang ia rasakan begitu berat untuk melangkah menghampiri Brina., padahal di mana pun dan kapan pun, Nina tidak segan-segan untuk menghampiri perempuan yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri itu. Hanya saja memang Brina sedang bersama Brian, dengan rasa nyut-nyutan yang ada dalam diri Nina karena Brian sudah berjanji ingin bertemu dengan dirinya di perpustakaan tetapi tidak sampai sekarang, sampai dirinya melihat mereka di kasir mini market ini.
Sebelumnya tidak pernah ada masalah ketika ia melihat Brian bersama dengan Brina jalan berduaan. Namun saat ini kondisinya sudah berbeda. Laki-laki itu sempat meminta dirinya untuk menemui di selasar perpustakaan, tetapi Brian malah tidak hadir bahkan ketika Nina setia untuk menunggunya selama dua jam lebih. Nina rela masuk angin dan merasa pening hanya untuk menunggu kehadiran Brian, seorang laki-laki yang tiba-tiba menginginkan untuk mengobrol dengan dirinya. Nina rela mengalihkan kekhawatirannya ketika sampai bisa bertemu dengan Brian, tetapi rupanya semuanya tidak pernah terlaksana hingga ia melihat laki-laki itu bersama dengan Brina di sini. Memang benar jika Brina adalah kekasih dari Brian dan sangat wajar jika mereka terlihat berduaan. Tapi, ah ... Nina masih belum bisa terima ketika Brian tidak jadi menemuinya bahkan tanpa kabar.
Nina mengembuskan napasnya kasar-kasar dan ia langsung mengambil satu sabun cuci piring. Setelah memastikan Brian dan Brina keluar dari mini market, ia pun segera pergi ke kasir. Suasana hatinya sudah memburuk dan ia ingin segera pulang saja. Namun, setelah ia keluar dari mini market, ia baru sadar dengan harga sabun cuci piring yang ia beli tidak sesuai dengan diskon yang ia lihat di media sosial. Nina kembali melihat sabun cuci piring apa yang ia ambil, dan benar saja jika sabun cui piring itu bukanlah merek sabun cuci piring yang sedang diskon. Nina semakin kesal saja. Kali ini ada dua kesiaalan yang datang menghampirinya yaitu Brian yang tidak datang menemuinya dan ia salah membeli sabun cuci piring. Nina semakin kesal.
"Nina!"
Seseorang memanggil dirinya, membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Nina tidak percaya jika Brina dan Brian ternyata sedang duduk di bangku yang ada di teras mini market ini. Nina pikir keduanya telah pergi, tetapi mereka justru sedang asyik makan camilan.
Nina hanya menoleh saja dan tidak berniat untuk menghampiri mereka. Nina juga tersenyum tetapi sebisa mungkin tidak menatap Brian karena tetap saja laki-laki itu selalu tampan dengan atau tanpa senyumnya yang menawan. Nina tidak mau berlama-lama, ia langsung pergi dari sana tidak peduli dengan Brina yang bertanya-tanya mengapa Nina malah pergi begitu saja tanpa menyapa menghampiri dirinya terlabih dahulu dan malah hanya tersenyum singkat saja.
Brian tidak terlihat terlalu peduli dengan Nina. Laki-laki itu tahu jika yang dipanggil Brina tadi benar-benar Nina yang ia temui di perpustakaan kemarin, tetapi ia memilih untuk diam terlebih dahulu dan tidak memberitahu adik kembarnya itu.
"Itu Nina yang lo temui di perpus kan?" tanya Brina kemudian.
Brian pura-pura tidak dengar dan dirinya malah asyik mengunyah kacang sukro. Brina juga tidak mau memperpanjang karena mungkin saja kakak kembarannya itu memang tidak melihat Nina. Mereka kembali pun kembali menyantap camilannya sebelum Brian mengantar Brina pulang.
Satu hal yang Nina pikirkan, ia sangat yakin jika Brian menatapnya walau ia tidak menatap balik. Tapi, mengapa Brian seolah-olah tidak peduli dan tidak mengenalinya? Apakah karena Brian sedang bersama dengan Brina, yang semua orang tahu jika Brina dalah kekasih dari Brian?
Dalam perjalanan pulang, Nina semakin kesal saja. Harinya saat ini sedang tidak beruntung. Tetapi, Nina yakin jika besok ia akan bertemu dan mengobrol dengan Brian. Nina tidak bisa terus-terusan kesal dengan laki-laki itu. Nina tahu jika Brian adalah kekasih Brina, makanya Brian tidak mau menyapanya karena mungkin saja ia belum cerita ke kekasihnya itu jika Brian mengenal dirinya. Walau sedang kesal, Nina terus berpikir positif bahwa saat ini Brian akan mulai bercerita bahawa dirinya bertemu dengan Nina di perpustakaan dan pernah sepakat untuk bertemu untuk mengobrol bersama. Dengan berpikiran seperti itu, rasa kesal Nina sedikit luntur dan sedikit senyum dapat menghiasi bibirnya.