Nina tidak pernah membalas pesan dari Brian sejak kemarin. Tetapi, siang ini dirinya sudah duduk di hadapan Brian. Atas dasar apa lagi kalau bukan keinginan Brina. Nina memang tidak memiliki kewajiban untuk menerima permintaan Brina, hanya saja dirinya enggan membuat keadaan bertambah lebih runyam. Jika dipikir-pikir, keadaan yang merenggang juga tidak baik untuk hubungan mereka walau sekadar hubungan pertemanan. Nina pun tidak ingin dinilai sebagai perempuan yang gampang marah tanpa alasan yang jelas. Ditambah Brian sudah menemaninya semalaman di hotel ketika dirinya sakit. Brian dan Brina sangat baik kepada dirinya. Jika Nina belum bisa membalas kebaikan mereka, setidaknya ia jangan membuat kerenggangan hubungan.
"Kamu nggak mau pesan makan, Na?" tanya Brian ketika Nina hanya memesan minum saja. Padahal saat ini sudah lewat jam makan siang dan Brian sangat yakin jika perempuan yang ada di sampingnya itu belum makan siang. "Na?" ucap Brian memanggil namanya. Nina tersadar dari lamunan, entah apa yang sekarang sedang ia pikirkan. Nina merasa sedikit tidak nyaman karena ia hanya berdua saja dengan Brian di kafe yang tidak jauh dari kampus.
"Ah, enggak, Kak. Aku udah makan kok," jawab Nina berbohong. Jelas sekali sedari pagi perutnya baru terisi oleh roti dan kopi. Saat ini pun perutnya terasa lapar, tetapi ia enggan makan bersama dengan Brian. Nina tetap mengantisipasi jika ada kejadian yang tidak terduga seperti adan anak kampus yang kenal dan memergoki mereka, semuanya bisa kembali runyam. Jadi, Nina memutuskan tidak usah makan agar tidak terlalu lama dengan Brian di sini.
Brian pun hanya mengangguk dan kembali memilih menu. Setelahnya, ia memberikan pesanannya kepada pelayan yang sudah menghampiri mereka berdua.
"Saya ulangi pesanannya ya, Kak," kata pelayan itu sembari membacakan pesanan mereka. "Jus jeruk satu sama air mineral satu ya, Kak. Ada tambahan?"
Brian menggeleng. "Sudah cukup, Mbak." Setelahnya, pelayan itu pergi dari hadapan mereka berdua.
Dalam hati Nina merasa lega karena ternyata Brian juga tidak memesan makanan. Berarti ia tidak akan kesulitan untuk segera pergi setelah menghabiskan air mineralnya dan Brian yang menghabiskan jus jeruknya. Sungguh, kalau begini caranya Nina lebih suka mengobrol bersama Brian di dalam mobil saja walau kecanggungan akan semakin terasa. Setidaknya mereka atau mungkin hanya Nina saja, tidak perlu merasa was-was kepergok anak kampus dan pada akhirnya akan membuat kehebohan.
"Na ...," ucap Brian yang memanggil nama Nina, berharap perempuan itu mau menatap kedua matanya. "Nina," ucap Brian sekali lagi, sehingga manik cokelat milik Nina itu berhasil ia tangkap.
Nina menatap Brian tanpa membuka mulutnya. Ia tetap diam dan menunggu agar Brian mengucapkan kalimat yang ingin ia ucapkan.
"Na, aku mau jujur sama kamu," kata Brian dengan tenang. Dengan menatap dua mata laki-laki itu dan dengan nada bicaranya, Nina sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Brian, sudah pasti berkaitan dengan hubungannya bersama Brina. "Kemarin aku udah putus sama Brina."
Belum ada tanggapan yang berarti. Keduanya saling diam dan hening menyapa di antara keramaian yang ada. Brian masih tidak mengalihkan pandangannya pada kedua mata Brina, berharap perempuan itu memberikan tanggapan atas ucapannya. Namun, beberapa detik berlalu Nina masih diam saja sampai semuanya terpecahkan oleh pelayan yang mengantarkan pesanan mereka berdua.
"Makasih, Mbak," ucap Brian dan Nina secara bersamaan. Mereka pun kembali saling tatap karena tidak mengira jika ucapan mereka keluar berbarengan.
Brian kemudian tersenyum ketika menyadari hal tersebut, Nina pun juga. Namun, hanya berselang beberapa detik, keheningan kembali menyelimuti mereka berdua.
Brian tidak mau terus-terusan seperti ini. Mungkin bagi Nina mendengar ucapannya yang memberitahu jika ia dan Brina telah putus bukanlah sesuatu yang penting. Tetapi, Brina adalah sahabat dari Nina, sudah seharusnya Nina tidak diam saja dan minimal ia menanggapi karena terkejut mendengar kabar itu.
"Na?"
"Ah iya, Kak?"
"Kamu nggak papa?" tanya Brian. Sebuah pertanyaan yang sangat klise yang sering ditanyakan Brian ketika Nina tidak banyak bicara, tapi sungguh pertanyaan tersebut sangat berharga bagi siapapun walau hanya sebuah pertanyaan yang sangat sederhana.
Nina tergelak. "Eh, aku nggak papa kok, Kak," katanya berkata bahwa dirinya baik-baik saja.
Brian kembali menatap Nina dengan intens. Perlu beberapa detik bagi laki-laki itu untuk kembali berkata setelah ia menghirup dan mengembuskan napasnya.
"Na, aku udah putus sama Brina dan aku cuma mau ngasih tau aja sama kamu kalau ini semua nggak ada hubungannya sama kamu. Kamu sama sekali nggak ngerusak hubungan kami. Memang hubungan kami aja yang udah siap buat selesai dan nggak perlu diperpanjang lagi."
Mendengar ucapan Brian membuat Nina termenung. Sebenarnya apa benar semua yang dikatakan oleh Brian, atau memang dirinya saat ini sedang berbohong dan mengatakan kesiapan untuk menyelesaikan hubungan hanya sebagai alibi. Nina tidak tahu, tetapi Nina jadi teringat ucapan Brina kemarin pagi di hotel di mana perempuan itu mengatakan jika Brian mencintai dirinya. Jika memang benar seperti itu, entah sudah tidak cocok dan siap untuk menyelesaikan hubungan atau apalah itu, tetap saja jatuhnya Nina adalah orang ketiga dari hubungan Brina dan juga Brina yang katanya telah kandas.
Nina menghirup napasnya panjang-panjang dan mengembuskannya secara perlahan. Ia masih diam dan belum berniat untuk menanggapi perkataan Brian.
"Na, aku mohon sama kamu, kamu jangan berhenti temenan sama Brina sama aku ya. Kamu harus percaya kalau hubungan aku sama Brina selesai bukan gara-gara kamu," kata Brian sekali lagi, mencoba untuk meyakinkan Nina.
"Kak Brian ngomong kayak gitu, malah negbuktiin seolah-olah emang aku penyebab selesainya hubungan Kak Brian sama Kak Brina," ucap Nina dengan sekejap, spontan saja bahkan dirinya tidak sadar telah mengatakan hal itu dengan ketus. Selanjutnya, Nina sedang merutuki dirinya sendiri yang asal ceplas-ceplos saja saat bicara, walau emang kalimat itulah yang mengganjal di dalam benaknya sedari tadi.
Brian memundurkan punggungnya dan mengembuskan napas. Ia sudah bisa menebak jika Nina akan mengatakan hal ini.
"Na, kamu harus percaya ya sama aku sama Brina. Toh kita berdua juga masih baik-baik aja kok sampai sekarang." Brian berusaha tersenyum ketika mengatakan hal itu.
Nina pun menggeleng karena tidak cukup paham. "Maksud Kak Brian sebenarnya apa sih? Kenapa juga Kak Brian kayak maksa banget biar aku percaya kalau aku bukan penyebab Kak Brian sama Kak Brina putus? Emang kalau kalian berdua putus, ada hubungannya gitu sama aku? Seharusnya yaudah gitu kalau kalian putus. Tapi dengan Kak Brian ngomong kayak gini, aku jadi ngerasa bersalah. Secara tidak langsung Kak Brian udah nyudutin aku."
"Bukan gitu maksudnya, Na."
Nina terlanjur kesal. Ia sadar jika selama ini ia memang menyukai dan bahkan dekat dengan Brian. Tetapi dirinya juga tidak terima jika Brian mengatakan hal itu karena seolah-olah ia adalah pelakor. Padahal, selama dekat dengan Brian, Nina juga sangat berusaha untuk menjaga jarak.
"Aku mau pulang duluan ya, Kak." Nina langsung bangkit dari duduknya. "Takut dilihat orang yang kenal kita dan semuanya tambah runyam," katanya sarkastik sebelum akhirnya meninggalkan Brina seorang diri di kafe tersebut.